Daun
padi hijau tertawa segar pagi ini, hujan yang mengguyur desa tadi sore membuat
kesejukan sampai menentramkan hati. Jangkrik meloncat girang dan beberapa
kawanan burung hilir mudik sembari mengintai biji-biji padi disawah itu. Mak Dar
mulai berjaga padi-padi harapannya itu. Bersama cucunya ia berangkat pagi buta
sembari membawa rantang berisi nasi dan tempe goreng serta Minuman teh tawar.
Cucunya bernama Minah, baru berusia 5 tahun dan belum masuk bangku
sekolah. Jika Mak Dar sibuk mengusir
burung-burung yang mencoba memakan padi maka si Minah asik bermain dengan
gemricik air di dekat pematang sawah. Ia membuat kincir air Dari batang-batang
pohon singkong.
“ Eyang, aku pingin
prahu…”
“ udah Min, jangan
main-main air nanti sakit. Duduk saja sana nanti eyang kasih tebu”
“moh eyang… pokoknya pingin prahu. Bikinin prahu pake kertas”
Mak Dar mengangkat Minah
Dari pematang sawah dan mengedongnya menaruhnya di bagian sawah yang teduh.
“ sudah kamu itu harus
nurut sama Eyang. Kalau kamu sakit, mamamu jauh di Jakarta dan tidak bisa kasih
uang buat berobat. “
“ pokoknya prahu “
jerit Minah sambil menangis
“ udah diam…. Kalo
nangis tidak usah ikut eyang lagi. Sana sama mamamu saja di Jakarta yang panas”
Tangis Minah menimbulkan perhatian beberapa
petani yang sedang beraktivitas di sawah. Tangis Minah memecah suasana sawah
yang tadinya hening.
“ ono opo Ni…..? “ Tanya Marno, pemilik sawah disamping sawah Mak Dar
yang sedang matun sawah miliknya.
“
kiye
bocah kepengine dolanan bayu “
“ owalah…. Sapa arane kiye Ni .. ? Tanya Marno
sambil menghampiri Minah
“ Minah Ki, anake Sarni
“
“ ini buat Minah,…. “
Marno memberikan gejus
“ Moh…. Aku pinginnya
prahu” Tolak Minah dengan manja
“ iya, engko eyang kasih prahu kalo makan ini
dulu. Gejus enak loh… kamu udah
sarapan?” Tanya Marno sambil merayu Minah
“udah… “
“ sarapan pake apa?”
“ Mie..”
“ wah… enak ga mie
nya?”
“enak… aku yang masak
sendiri”
“wah pinternya… masak
pake apa?”
“pake piring sama air”
“hahhahaha ada-ada Minah.
Eh Ni… Sarni anakmu kerja dimana?”
“ dadi pembantu di
Jakarta, No… “
“ bapake neng endi ?”
“ya pada neng Jakarta
dadi buruh bangunan”
“donge ngidep bae ben gampang”
“ bocahe esih cilik, ngidep ya susah. Ya juga matanya rusak
kalau terus ngidep. Sudah seperti itu
gaji sedikit.”
“lah, tetanggaku pada ngidep dan lumayan bisa buat kredit
motor loh Ni, bocah wadone sekiye
sing penting telaten ya bisa urip. Lulus SMP bae bisa”
“ lah… aku wis cukup Sarni
jadi buruh. Anakku yang lain tidak akan aku jadikan buruh. Cukup aku saja yang
jadi petani seperti ini. No… mending anak disekolahkan yang tinggi Daripada
kerja di pabrik. Ga awet sugihe “
“ Bener Ni… kalau sudah
tua ya pasti tinggal bobroke “
“ Iya… lah anake rika
si-Sri dimana sekarang?”
“ sekolah di Jogja Ni…
“
“ bener kuwe, kuliah
ambil apa?”
“guru bahasa inggris”
“ apik kuwe. Jadi guru
supaya pinter lan Minterna wong wong”
“ya kaya kuwe pengarepe
eyong. Jangan kaya aku yang Cuma
disawah”
“ Amin ya No… aku juga
berpikir seperti itu. Rekasa
menyekolahkan anak lebih mending Daripada melihat anak rekasa dihari tua. Aku
juga menyekolahkan anak di SMA. Mugi-mugio bisa kuliah”
“ Bagus ni…sing namanya
Maya kae. sekolah neng endi ??”
“iya…. itu di SMA
Purbalingga”
“ Dapat bantuan apa
sekolah neng kana ?”
“ora…. Aku duwe sawah
jadi carik tidak mau menggolongkan aku orang miskin. BLT aja tidak dapat”
“lah ni seharusnya kau
dapat. Wis tua seharusnya dapat pensiunan Dari Negara”
“ lah… ora No… sapa bae
presidene aku ora olih duit. Sing olih duit ya kaya Tarno kae sing wong partai.
“
“ pancen kaya kuwe. Lah
rika buat menyekolahkan si Maya Dari mana?”
“ rejeki itu banyak No…
tinggal kita menjemputnya tiap hari. Di warung, ada dan aku juga nyambi buat
kasur lantai. Apapun bisa kalau sehat”
“ padinya rika bagus ini ya. “
“iya, aku seneng
lihatnya No. semoga harga beras jangan dulu turun”
“ di tivi mahasiswane
malah pingine harga beras turun kok Ni. Anakku Sri malah melu demo agar harga
beras turun. Jan… anakke aku picek …. Ramane kon bangkrut nandur padi.”
“ aja kaya kuwe No, anake rika njikote bahasa inggris ya bener ora ngerti kecuali dia ambil pertanian
ya mudheng. Orang pinginnya murah, aku juga iya. Tuku pupuk, tuku endrin, tuku
bibit pingine sing murah tapi ora bisa. Dijual beras murah ya wis terima. Mugi-mugi
yang makan padiku bisa murahna pupuk-pupuk kalau perlu bisa membuat sejahtera
aku dikedepannya. “
“Iya bener Ni, sing
penting sehat lan bisa mikir mesti ana jalan. Ora ngeluhan ya ni”
“ Kiye No… Mendoan
gawenanku…”
“ Maturnuwun Ni… aku
wis digawana gejus karo gethuk
“
“ kiye Min, tebu.,..
enak legi “
Minah mulai asik
menangkap belalang disekitar tempat berteduh siang itu. Sembari mulai tergiur
dengan batang tebu yang manis.
“ Mikir negera memang
ribet ya No…”
“iya Ni… uteke kita ga
nyampai. Indonesia terlalu luas. Mending memahami yang bisa dijangkau”
Dari pinggir jalan terlihat Maya, anak Mak Dar
datang. Ia wanita yang cukup jelita dan modis. Ia yang sekolah dipusat kota
membuatnya tidak berpenampilan seperti anak desa di sekitarnya. Ia termasuk anak
yang pintar karena bisa masuk sekolah negeri dan nomer 1 di kota Perwira itu. Kulitnya
putih langsat dan berbadan tinggi langsing.
“wah… Maya, ayu ya Ni….
“
“iya, biyunge bae ayu
masa anake ala”
“ hahhahah…. Ya wis ni…
aku arep matun lagi “
Maya semberi menggendong Minah duduk bersama
Ibunya. Maya terdiam sejenak dan melihat langit biru dan menikmati semilir
angina yang sepoy-sepoy.
“ Mak..”
“iya, kepriwe ?”
“ Minta uangnya buat Kartinian
dan juga beli kamus mandarin”
“ buat kapan itu May?”
“ tanggal 21 lah mak,
masa Kartinian tanggal 17 agustus. “
“kamusnya bukan Kartiniannya
May”
“ kamus kapan kapan
bisa. Yang wajib Kartinian?”
“loh kok kaya kuwe?”
“ tanggal 21 ada
karnavalan. Aku wajib cantik Mak, masa sekolah dikota ga cantik”
“ wajib karnaval itu ?”
“ wajib mak, semuanya
juga ikut. Malu kalau tidak ikut mak!!!”
“owh Wajibnya karena
antara malu dan tidak malu kaya gitu?”
“ya itukan acara
sekolah mak, jadi wajib”
“ah tidak ada uang buat
Kartinian. Kalau kamus bisa mak usahakan nanti kalau mak stor kasur lantai”
“ Mak pelit, aku pingin
ikut Kartinian. Aku mau foto juga sama Bagus, Mak.”
“ bagus itu siapa?
Pokoknya tidak ada uang buat Kartinian. “
“bagus ya bagus.
Temenku mak… Mak lah… pokoknya pingin aku menyewa kebaya sama make up juga”
“opo kui …. ? setahu
aku saat diceramahi sama pak kiyai pernah ngomong Kartini. Kartini itu bukan
karena kebayanya tapi karena tulisannya. Tulisan itu tanda orang mikir May kata
pak Kiyai”
“lah… kaya mak tahu
saja soal Kartini. Emak ga tahu apa-apa soal Kartini. Aku yang sekolah Mak”
“ Sontoloyo, aku tidak
bisa baca tapi bisa nonton tv. Kemarin aku nonton di tv yang ngomong Kartini. Kartini
itu turunan ningrat. Ningrat itu ya kaya bupati, gubernur kaya gitu. Dia
menulis surat dan terus surat itu dikumpulkan diterbitkan menjadi buku. Buku
itu habis gelap terbitlah terang. Judul bukunya bukan habis make up terbitlah
rupawan”
“aturan sekolah emak
mau lawan sama acara TV ? pokoknya aku harus Kartinian kalau tidak aku gak mau
sekolah mak. Malu aku mak… disana banyak orang kaya, aku kaya miskin sendiri”
Maya mencoba menggerutu
“ miskin itu bagian Dari
diri kita, May… itu bukan menjadi hal yang memalukan. Itu identitas kehidupan
saja. Yang penting kita berjuang menjadi manusia yang kaya. Kaya ati biar welas
asih, kaya harta biar mensejahterakan manusia, kaya rupa biar orang paham
ciptaan tuhan indah, kaya ilmu agar dunia lebih baik. Soal aturan sekolah emak
ga mau lawan, mungkin sekolah mau melestarikan baju tradisonal tapi itu kan
tidak nyambung”
“ mak, Cuma paham sejarah tidak paham keadaan. Keadaanya kaya gini ya
udah kaya gini. Ga mungkin Kartini terus arak-arakan nulis surat buat
menyerukan aspirasi wanita Indonesia yang tertindak, tidak sejahtera dan
teraniaya. Wis mak terima keadaan”
“lah kuwe anakku pinter
bisa mikir. Kita wajib paham sejarah, orang dulu mikir masa lalu itu kaya apa
dan sekarang orang mikir masa lalu kaya apa. Kalau itu emak dukung. Itu bener….
Tiru nulisnya Kartini bukan pakaiannya. Kalau Kartini lahir jaman sekarang Kartini
pakai apa walau dia menulis?”
“ya pakai baju biasa
mak”
“iya, karena keadaan
juga pake baju kaya gini. Tapi kenapa dia menulis padahal keadaan sekitarnya
wanita ga nulis?”
“ karena dia mikir mak… dia menginginkan kondisi yang baik
bagi dirinya dan juga lingkungannya”
“ lah kata pak kiyai
juga seperti itu. Kita wajib paham sejarah untuk memaksa keadaan sesuai
jalurnya bukan ikut keadaan. “
“wis lah mak, aku
pokoke kepengin kebaya. Biar tidak kelihatan miskin banget aku mak…. “
“ Duh Gusti Pangeran, kau jangan munafik sama keadaan katanya paham
keadaan. Keadaan memang menyakitkan dan itu perlu ada. Kesakitan itu dibutuhkan
untuk oleh rasa. Seorang presiden butuh rasa sakit, seorang milyader butuh rasa
sakit, seorang petani butuh rasa sakit . bukan hati kita sakit tapi butuh rasa
sakit. Hati sakit jika hati tak peka dan butuh rasa sakit agar hati tahu apa
yang disebut memahami penderitaan orang lain. Mak nonton Klik endi kemarin
banyak orang yang butuh rasa sakit”
“jan…. itu kick andy mak …. Ribet ngomong sama mak, selalu keminter
padahal Cuma tahu Dari pak kiyai sama TV. “
“Ya sudah, nanti mak
Tanya dulu sama orang yang jadi guru. Siapa Kartini, pak Soleh itu kayaknya
paham. Emak nanti Tanya sama dia.”
“sekalian Tanya soal
aturan sekolah mak, biar mak paham. “
“iya…. Ini bawa Minah
pulang nanti mak nyusul. Masakan sudah ada di meja”
“iya mak, jangan
kelamaan”
“nanti gentian kamu
jaga ya, manuke akeh banget mbokan mangani padi. “
>>>>>>>>>>>>>
Sehabis
Dhuhur, sawah dijaga Maya dan Mak Dar pergi menuju desa sebelah. Disana ada
penyewaan kebaya, rumah Mbok Yuni menyediakan jasa penyewaan baju-baju adat dan
juga rias pengantin. Biasanya orang menyebut mbok Yuni sebagai dukun penganten.
Bukan dukun karena berhubungan dengan hal-hal berbau klenik namun karena rias
pengantin merangkap mengurusi ritual-ritual dalam menikah ala tradisi jawa.
“ Tumben mboke sowan kesini ? ada apa?”
“itu Maya mau ikut Kartinian.
Jadi butuh baju kebaya. Kalau menyewa disini ada ?”
“ada Mak, tapi karena
ini bisnis musiman jadi tidak bisa diutangkan dulu. Setidaknya ada uang muka
dulu.”
“iya Yun, berapa satu
stel kebaya dan riasnya?”
“ 200 ribu Mak untuk
dewasa kaya Maya kalau anak-anak itu lah 100 ribu. Itu sudah termasuk
mengantarkan Mayanya pake mobil”
“ kalau begitu saya
pesan satu ya. Besok saya kasih uang mukanya. “
“ya mboke “
“saya pamit dulu”
“lah langsung pulang
ini?”
“ ga mau ke desa
Srawean. Ada urusan disana”
“jalan kali mbok, apa
tidak cape?”
“ ora pa pa,
itung-itung olah raga ben tua tetep sehat”
Dengan
langkah penuh semangat Mak Dar berjalan kaki menuju desa Srawean. Langkahnya
sedikit dipercepat. Ada perasaan cemas dan terburu-buru dalam langkahnya.
Maklum, dia tak memiliki uang sama sekali untuk menyewa baju padahal hari Kartini
tinggal 3 hari lagi. Dan besok seharusnya sudah memberikan uang muka. Mak Dar
berusaha mencari uang dengan jalan lain. Ia menuju rumah tengkulak padi.
Berharap padinya bisa dijual walau belum panen. Biasanya para tengkulak mau
memberikan uang untuk membeli padi yang siap panen ataupun yang belum.
Negosiasi harga dan pembayaran biasanya dilakukan dengan cara kekeluargaan.
Para petani biasanya ketika membutuhkan uang untuk kondisi mendadak bisa
menjual pada tengkulak. Haji Ali merupakan tengkulak yang terkenal di desa
Srawean dan sekitarnya. Dia sosok yang pengertian pada petani kecil dan kadang
memberikan uang dengan mudahnya. Disana mak Dar mendapatkan uang dengan mudah
biasanya.
“ pak haji, itu
padi-padi saya mau dijual ke njenengan. Kiranya bisa?”
“oya Mbok, bisa… untuk harganya nanti saya
lihat dulu padinya. Yang disebelah rumahnya pak Jadi kan ya mbok?”
“leres pak…. Tapi gini
pak, saya kalau Minta uangnya dulu sebagian atau seper berapanya bisa?”
“ oh ya, berapa Mak ?”
“ 300 ribu buat anak
saya katanya mau beli kamus bahasa cina. “
“ lah mahal sekali
kamusnya? Mau beli dimana memang?”
“ hehehhehe tidak hanya
kamus sebenarnya pak haji. Tapi juga untuk karnaval hari Kartini. “
“owalah,… iya mbok, kapan karnavalnya?”
“ 3 hari lagi pak,
acaranya memakai baju adat jadi harus menyewa”
“jan, sekolah mahalnya
diacara seperti itu ya mbok… ana ana bae acara sekolah”
“leres pak haji, belum
lagi kalau maya ekstra nari sama les bahasa. Wajib beli macam-macam”
“ ora pa apa mbok, nawetun ngibadah. Akeh berkahe “
“AMin… “
“ engko disit ya, aku
ambil uangnya mbok”
Pak
Haji Ali pun mengambil uang dikamarnya. Cukup lama pak haji Ali di kamarnya.
Dan mak Das makin cemas, jika pak haji tak memiliki uang. Entah kemana lagi ia
mencari uang. Masa-masa menuju panen kadang sulit mendapatkan uang karena
banyak petani juga yang menjual padinya atau hasil panennya pada pak haji Ali.
“gimana pak Haji?”
“ pangapuntene mbok, adanya 150 saja. Ibunya Nur lagi
pengajian dan saya kurang paham dia menaruh uangnya. Dan besok juga saya mau ke
kebumen untuk beberapa hari. Nanti kalau membutuhkan lagi bisa nembung sama
ibunya Nur, mbok”
“iya sudah tidak
apa-apa. Maturnuwun pak haji”
Mak
Dar pun pulang rumah dengan membawa langkah optimis yang cukup tinggi. Hujan
deras yang menutup sore dan menemani langkahnya turun Dari langit dengan gerak
selaras dengan angin. Dalam langkahnya itu, Ia semakin memahami betapa menjadi
ibu harus melakukan apapun sampai diluar batas kemampuan. Keadaan mengajarkan
itu padanya. Keadaan menunjukan perkembangan jaman yang harus tetap ditaklukan
oleh dia yang tak bisa menamatkan sekolah dasar. Ia paham bahwa jaman makin
kejam pada orang yang tak sekolah, orang yang goblog dan para manusia yang tak
mengenal dunia. Ia tidak ingin maya merasakan kerasnya dunia yang diperuntukan
bagi orang yang tolol dan miskin. Cukup si maya merasakan rasa sakit sebagai
orang miskin namun tidak merasakan betapa menjadi orang bodoh itu menyakitkan
sampai kadang tak bisa merasakan sakit itu karena bodohnya. Maya belum paham bagaimana wanita itu
berjuang, maya masih terlalu dini memahami cara mencetak sejarah dimasa depan.
Butuh air mata, keringat dan keiklasan hati serta kerasnya berpikir untuk
membuat sejarah dimasa depan. Sejarah tercipta indah bagi manusia yang berani
dan berpikir. Seorang wanita siapapun Ia dan Dari kasta apapun wajib berpikir
melampaui masanya dan wajib mengetahui sejarah bangsanya. Ketika itu bisa
dilakukan seorang wanita maka ia akan tampil menjadi orang yang teguh akan
langkahnya dikeadaan masa kini. Ia berharap anaknya si Maya hidup menjadi sosok
manusia bukan menjadi sosok miskin atau kaya, pandai atau bodoh, jelek atau
baik tapi ia menjadi sosok manusia seadanya manusia yang diciptakan tuhan.
Menjadi manusia yang bisa memahami sebagai debu yang bermanfaat bagi semesta.
Dalam lamunan yang berisi harapan membuat langkahnya sudah membawanya pada
rumahnya yang sederhana.
“ bagaimana sawah tadi
May?”
“ iya burung banyak
sekali. Minah udah tidur mungkin dia kecapean tadi hujan-hujanan juga”
“ ya sudah…. Mak mau
masak dulu buat makan malam”
“ mak tadi Dari mana?”
“ Dari rumah pak kiyai,
Tanya soal Kartini “
“ lah mak, masih ngeyel
saja tahu Kartini. Cuma tinggal kasih uang kan beres. kan aku tidak membodohi
juga ”
“hust… aku percaya sama
anakku. Dan kau juga seharusnya percaya sama ibumu, Cuma punya ibu sekarang
kamu May. Kita itu sudah dipaksa sengsara oleh keadaan jangan lagi mau dipaksa
oleh hal-hal seringan karnavalan. Kalau tidak penting mending tidak”
“iya iya…. Terserah mak
lah”
“eh terus gimana dengan
kebayanya mak?”
“ nanti mak pikirkan
ulang, kata pak kiyai Kartini itu berteman sama bule bule. Kamu juga harus
seperti itu May, belajar bahasa cina kok ga pernah ketemu orang cina. Tiap hari
ketemu orang jawa ga mau belajar bahasa Jawa”
“idih………. Kan sekolah
memang mengajarkannya itu. Belajar juga bahasa Jawa “
“ ya bagus kalau gitu,
namanya hidup itu harus tetap menginjak bumi sebelum dimasukan ke bumi “
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Ketika
sang fajar mulai menampakan cahaya di ufuk timur. Sang surya mulai menyebarkan
kehangatan sepi di desa kecil ini. Daun basah yang sudah kuning dan kecoklatan
turun dengan selaras bersama kehangatan, kecepatan angin dan perasaan damai.
Sembari memasak dan mengurus Minah, pagi di dunia Mak Dar tak ada cerita lain.
Ia wanita tua pada umumnya di desa, sederhana dan melakukan atkivitas layaknya
petani cilik. Petani yang memiliki sepetak tanah yang tidak terlalu luas jika
dibandingkan dengan petani lain di desanya yang memiliki sawah. Hidup baginya
tidak ada kata pasrah karena dia satu-satunya yang harus melawan keadaan.
Menjadi seorang janda dan harus memikirkan masa depan anak perempuannya. Ia
berjuang memetakan masa depan, menyiapkan modal untuk melangkah anaknya dan
juga harus tetap bisa bertahan hidup. Kadang sangat lara melihat anaknya harus
terkena percikan kemiskinan. Takut anaknya tersingkir pada krumunan pergaulan
masa kini yang berbiaya mahal. Bergaul masa kini cukup mahal, Dari pakaian yang
harus modis, sampai uang untuk sekedar makan di tempat mewah. Menghidupi anak
wanita tidak sesederhana menghidupi anak pria. Kadang jenis kelamin menentukan
segalanya, wanita dipaksa indah dengan standart dunia dan wanita wajib
bertingkah laku sebaik mungkin agar wanita diterima. Wanita harus memiliki
nilai jual tinggi kalau mau diterima. Laki-lakipun demikian namun nilai wanita
yang ditetapkan dunia kadang menjijikan wanita masih dipandang baik jika
bertutur kata baik, wanita bisa dikatakan baik jika dia memakai pakaian
sebagaimana wanita pada umumnya dan wanita dipandang sempurna jika ia lemah
lembut. Namun mak Dar tak menginginkan Maya seperti itu, ia berharap anaknya
kelak bisa membuat dunia tidak menilai sesuatu Dari fenomena luar namun fenomena
dalam. Fenomena dalam yang berisi akan nilai dan karya manusia bukan konsumsi
manusia. Setiap orang harus berkarya bukan mengkonsumsi saja. Wanita tidak
hanya berkarya seorang anak saja namun menghasilkan hal-hal yang bermanfaat
lebih luas. Ya semua itu system yang dibuat manusia, dan apapun system adanya
seperti system penilaian orang atau pandangan orang itu kejam. System yang
dibuat manusia sering kali kejam dan
system yang dibuat tuhan selalu baik. Karena tuhan tak pernah keji pada
ciptaannya . 1
Hari
ini ia menuju rumah mbok Yuni untuk menyewa kebaya yang sudah di pesan kemarin.
Dan berharap itu bisa menjadi kejutan untuk anaknya.
“ mbok, saya mau ambil pesanan kemarin.”
“ wah, mboke sudah telat. Udah dipesan orang
lain juga”
“lah bagaimana si njenengan? Kan saya sudah pesan juga”
“lah orang lain pesan
sambil kasih uang muka, sampean tidak”
“lah ini saya bawa uang
buat uang muka “
“kemarin kan tidak
mboke, pangapuntene bae”
“wah rika ora bisa kaya
kui, saya butuh sekali kebaya itu buat anak saya”
“lah aku juga sedang
butuh uang segera mbok, buat jalan usaha saya”
“ ya wis aku pamit Yun,
“
“ ya… pangapuntene loh
mbok sekali lagi”
“ora pa pa”
Mak Dar kemudian mencari akal untuk mendapatkan kebaya
untuk anaknya. Ia berpikir untuk membeli baju kebaya di pasar. Walau tak bagus
sekali tapi pastinya layak pakai untuk anaknya. Ia menuju pasar tradisional di
kota purbalingga. Dan untunglah ia kemudian mendapatkan kebaya itu dengan
mudah. Mungkin karena musim Kartini sehingga banyak penjual yang menjual
kebaya.
“ mbak saya beli
kebayanya…”
“iya bu…. Pilih yang
mana?”
“ model yang bagus
untuk anak SMA yang seperti apa? “
“owh buat remaja… yang
warna cerah saja bu. Warna kulit dan tingginya seberapa?”
“ tingginya 165 dan
langsing anaknya. Warna kulitnya putih kok”
“ mungkin ini cocok”
“wah… iya bagus. Berapa
harganya? “
“150 ribu bu… “
“ada yang lain yang
murah mbak?”
“wah tak ada bu, stanDarnya
dimana-mana segitu harganya. Ibu bisa cek sendiri di toko yang lain “
“mbak… tolonglah mba,
harganya diturunkan sedikit”
“ga bisa bu, saya Cuma
pelayan toko disini tidak bisa melakukan tawar menawar. Harganya sudah pas
segitu”
“ saya Cuma punya uang
145 ribu. Tolonglah mba… “
“ya sudah 145 ribu bu,
nanti kurangannya sama saya saja. Masalahnya majikan saya sudah mematok harga
segitu. Pelayan hanya bisa manut manjikan bu…”
“iya mba… saya paham
itu. Nanti kalau ada rejeki saya akan mengembalikan uang itu, anggap saja saya
utangnya sama njenengan mbak “
“ga usah bu… saya
iklas… tenang saja bu, kalau Cuma 5 ribu saya bisa kok….”
“ terima kasih ya mbak…
saya Cuma bisa mendoakan mbak banyak rejekinya “
“iya sama-sama bu,
semoga putrinya juga sukses Kartininya ya bu”
Sembari menggendong Minah
kemudian si Mak Dar pulang. Ia menanti lama angkutan kota lewat. Uang di
kantongnya hanya 3 ribu rupiah. Dan ada harapan uang itu cukup. Beberapa menit
ia menanti dipertigaan gang Mayong, sebuah pertigaan dekat alun-alun kota ia
menemukan angkutan kota.
“ pak kalau 3 ribu bisa
sampai jengkolan pak “
“ wah bu…. Tarifnya
sudah naik. BBM sudah naik bu”
“tolonglah pak, uang
saya tinggal segini masalahnya”
“tarifnya itu 6000
sekali jalan”
“tolonglah pak… “
“iya sudahlah bu… “
Mak
Dar merasa lara harus memelas namun membayangkan anaknya tidak bisa Kartinian
membuat tidak ada pilihan lain untuknya. Jiwa raga bahkan harga diri haruslah
dikerahkan untuk anaknya. Ia paham bahwa orang miskin untuk bisa maju harus
membuang sejenak harga dirinya dikondisi tertentu.
Di
perjalanan tiba-tiba, angkutan mogok, semua penumpang diturunkan dijalan.
Disitulah kemudian mak Dar kebingungan untuk pulang. Tidak ada lagi uang yang
ia miliki. Ketika meMinta uang pada supir angkutan pun tidak mungkin karena dia
pun kurang dalam membayar angkutan. Akhirnya ia berjalan kaki menuju rumahnya.
Masih sangat dia menuju rumah. Butuh 30 menit waktu yang diperlukan angkutan
untuk menuju kerumahnya dan entah berapa jam yang dibutuhkan untuk menempuh
jarak dengan melangkah.
Ia
akhirnya melangkah sembari menggendong Minah. Jalan perkotaan menuju pedesaan
ditempuh mak Dar dengan sekuat tenaga. UDara panas yang kemudian mulai
tersingkir menjadi hujan pun begitu menambah suasana menjadi dramatis. Ada
tangis ketidakberdayaan diraut muka mak Dar yang sudah keriput. Raganya yang
tua dipaksa untuk tetap tangguh menempuh jarak sejauh itu. Cucunya berusaha
dihibur dalam perjalanan. Tak ada payung kala itu dan akhirnya Minah di hibur
dengan hujan. Sembari melangkahkan kaki, mak Dar menghibur cucunya yang lama
kelamaan merasakan dingin. Mak Dar pun merasakan dingin hujan sore itu. Hujan
dipertengahan April menjadi saksi hati perih yang dirasakan mak Dar. Setiap
wanita perih akan ketidakmampuan dirinya untuk membahagiakan anaknya.
Setelah sampai dirumah,
Maya tertegun melihat ibu dan keponakannya yang basah kuyup.
“ mak Dari mana?”
“ini Minah dimandikan
dengan air hangat terus dikasih Minuman yang hangat. Kasihan kehujanan”
“mak Dari mana tadi ?
padi disawah banyak yang dimakan burung, kenapa mak ga jaga sawah hari ini?”
“
mak cape,,,
nanti saja jelaskannya. Nanti kamu buat masakan sendiri”
“kok mak ga jawab
pertanyaanku? Mak marah?”
“apa si May, menjawab
pun kau selalu tak mau peduli jawabanku karena mak mu ini bodoh Cuma tahu Dari
TV dan pak Kiyai”
“ ya udah. Ga usah
nyolot mak, maya tahu “
Barulah
ketika pagi datang, saat maya akan berangkat sekolah sang Ibu memberikan kebaya
untuk Maya. Dan maya pun terlihat cukup sumringah. Esok ia sudah dipastikan
bisa mengikuti karnaval hari Kartini cukup bahagia.
“ ini bajunya dan nanti
sore ibu kerumah pak haji ali untuk mengambil uang lagi. Nanti bisa buat rias
kamu besok”
“iya bu… makasih, nanti
maya pulangnya sorean. mau pergi sama temen-temen buat latihan renang di
Owabong. “
“ibu tidak punya uang
buat ke sana, makan saja paling nanti memetik sayur di kebun”
“ temenku ada yang
rumahnya dekat sana mak. Gratis masuknya”
Singkat
cerita, hari Kartini tiba. Maya mengikuti karnaval dengan sumringah. Wajahnya
terias cantik dengan kebaya yang cukup anggun seperti wanita keraton jawa.
Keramaian disepanjang jalan makin berwarna dengan berbagai hiburan music
tradisional. Barisan pemain kentongan, pemain kuda lumpung dan para seniman
lainnya memadati kawasan kota.
“kamu kelihatan cantik
sekali, May”
“ makasih, ta… “
“kebayanya menyewa atau
beli ? kamu Nampak anggun dengan kebaya itu”
“ hehehheheh ibuku
membelikan itu kemarin”
“wah, senangnya. Aku
malah Cuma menyewa kemarin “
“ aku kemarin melihat
ibumu hujan-hujanan sama anak kecil, may… “
“hah? Dimana ? kapan?”
“itu dekat kantor
kecamatan. Jam 2 siangan. Itu pas pulang sekolah. Pakai baju hijau kala itu”
Hati
maya tiba-tiba merangsang air matanya untuk jatuh. Ia baru menyadari perjuangan
ibunya. Sang ibu kemarin sampai dirumah sekitar jam 5 sore. Dan ia memahami
ibunya berjalan kaki menuju rumahnya. Maya seketika lemas dan merasa bersalah.
Ia bagai seperti mengeksploitasi ibunya sendiri untuk menuruti kehendaknya. Ia
terlalu memaksakan kehendak.
“kenapa may ?”
“ga pa pa… aku merasa
cape saja”
Mayapun
pulang dengan terburu-buru. Rasa hatinya diselimuti ketidakenakan yang luar
biasa. Ibunya yang ada disawah selalu letih berjuang untuk dirinya dan dia
terus memaksakan ibunya memiliki kemampuan seperti ibu yang lain Dari segi
keuangan.
“wah… cantiknya anakku…
gimana karnavalnya ? ramai ?”
“ ramai mak,
Alhamdulilah”
“syukur kalau gitu.
Dirumah sudah ibu masakan makanan cukup enak buat kamu. Tadi pak Haji Ali
memberikan uang buat membeli gabah kita. 3 Minggu lagi panen”
“ mak kemarin membeli
kebaya dimana?” Tanya Maya sembari menahan air matanya yang berkaca-kaca
“ beli di pasar
purbalingga May, kenapa?”
“mak jalan Dari mana ?”
“ jalan? Ya Dari
rumahnya Haji Ali kemarin. Habis membeli itu aku mampir disana cukup lama.”
“kenapa?”
“mak berarti basah
kuyup di rumahnya pak haji ?”
“ basah kuyup? Ya ga lah
may”
“ lalu ngapain mak
hujan-hujanan di kecamatan?”
“ga mungkin ga basah
kuyup ke rumah pak …. “ maya pun menangis memeluk Ibunya
“ga pa pa may. Mak Cuma
jalan dan jangan dibesar-besarkan. Toh Cuma jalan beberapa jam”
“ maafkan Maya,… “
“ udah jangan menangis.
Nanti tidak cantik lagi
BLT = Bantuan Langsung Tunai ( Subsidi Untuk Rakyat Di Indonesia)
Moh = tidak
Gejus= makanan tradisional yang terbuat dari
singkong
Ngidep= kegiatan membuat bulu mata palsu
Rika = kamu ( untuk orang yang lebih tua atau pun
yang dihormati dan akrab)
Owabong = objek wisata bojongsari
Eyong = Aku
Rekasa= susah
Matun= kegiatan mencabut rumput yang tumbuh liar di
tanaman padi
Mboke = ibu atau sebutan untuk wanita
Nawetun= niat
System yang dibuat manusia sering kali kejam dan system yang
dibuat tuhan selalu baik. Karena tuhan tak pernah keji pada ciptaannya (
Aditiorespati, 2015 )
Terinspirasi dari
sebuah reuni kecil dipagi buta bersama roni dan adit
CATATAN ISENG-ISENG DAN
MINIM DATA AKURAT
Purbalingga,
21 April 2015
Marlina
Bj
Salam Brandal :D
Posting Komentar