Ruang
berukuran 3 X 4 meter yang Nampak seperti gudang penampung peralatan gunung.
Nesting, tas Career, matras dan teda berjubel berebut tempat dengan beberapa
orang yang duduk hening di malam yang penuh kecemasan. Diluar hanya Nampak
lampu yang dikerubuti serangga bersayap, kucing sesekali mengeong memecah
nyanyian jangkrik-jangkrik di rerumputan. Udara malam ini cukup mendung dengan temperature 25 derajat celsuis. Ya,
tepat di derajat itu karena Riska melihat thermometer yang tepat berada
disampingnya. Riska murung dan berusaha membendung semua gejolak perasaannya.
Suasana rapat malam ini pilu dan diselumuti awan pekat berwarna hitam.
“
sudah selesai semuanya…. Sudahlah kita telah melakukan yang terbaik” ucap Doni
“
kadang sebuah perjuangan pembelaan bukan melawan namun mendampingi. Kita sudah
tidak bisa mendampingi kasus ini dan itu realita yang wajib kita terima” tandas
Steven sembari menghembuskan asap rokok pertanda kepasrahan…
“
sebenarnya apa kekurangan kita sampai kalah pada aturan-aturan pemerintah
sehingga besok kita harus menyaksikan desa Dawuhan menjadi lautan sampah? “
Tanya Hari dengan sedikit emosi
“udahlah
Har, kau tak usah membuat pertanyaan pas suasana seperti ini… kau ini tak tahu
kondisi, kalau mau evalusai ya kapan-kapan saja” Doni meninggikan nada suaranya
“
et dah…… gue Cuma Tanya, loe tak usah emosi kaya gitu…. “ Hari pun terpancing
emosinya
“
otakmu itu muatannya cewe doing, jadi kagak bisa mikir “ ucap Doni
“Brrrrrrrrrrrrrrrrraaaaaaaaaaaaagggggg…………….
“ steven memukul meja dengan keras.
“
merokok dan ngopi itu solusi lebih baik dari pada emosi” ucap steven dengan
santai
Suasana
pun kembali diam, Riska tetap dengan tatapan kosong dan pikiran tak tentu.
Steven memahami betapa terpukulnya Riska akan realita ini karena ia adalah
ketua tim advokasi khasus desa Dawuhan yang menjadi target pembuatan TPS (
Tempat pembuangan Sampah).
“
makan coklat itu lebih enak dari pada makan ati ayam ris “ ucap steven dengan
guyon
Riska
pun tetap diam sembari menggambar asal-asalan di buku agendanya
“
Ris, mendengar itu lebih ringan tenaga daripada menggambar loh” ucap steven
lagi
Lalu
barulah Riska menghentikan tangannya menggambar dan menaruh pensil.
“
Bagaimana kawan sekalian, berhenti atau lanjut ?”
“
nah nah gitu donk “ ucap Hari semangat
“
kita sudah kalah, mau ngapain lagi, Ris?” Doni mencoba menegaskan realita
“ya,
sudah… istirahat itu lebih baik daripada balik ke titik awal sebelum mencapai
tujuan” ucap steven dengan santainya sembari menghembuskan asap rokok
“
desa dawuhan cukup menjadi tempat sampah masyarakat karena disana banyak orang
melakukan kriminalitas dan menjadi lautan sampah . disana cukup menjadi tempat
manusia yang dimasukan dalam kelas sosial yang rendahan dan dengan taraf
pendidikan yang rendah. Sudah cukup itu, masih ada yang mau menambahi tempat
itu dengan sampah dihati-hati kalian dan di otak kalian?”
“
maksudnya apa Ris?” Tanya hari
“
orang mikir itu lebih pada orang yang hanya usahanya mencari tahu” ucap steven
lagi sembari meminum kopi
“
mulutmu itu ingin aku cobek, bro………….. “ ucap hari dengan guyon bercampur emosi
“orang
bilang bumi bisa memberikan apa yang kita butuhkan tapi tidak bisa mencukupi
sebuah keserakahan. Saya rasa, kita tak harus serakah akan segala perasaan baik
senang maupun sedih. Kita tata dulu perasaan kita, otak kita lalu langkah kita.
Bersihkan hati kita dulu………… semoga ada jalan” ucap Riska dengan tegas.
“wow
.. “ steven berucap pendek
“
langkah kita hanya ada dua pilihan, memakai kekerasan atau kelembutan”
“yang
jelas donk Ris, maksud loe apa?”
“
kita demonstrasi besar-besaran dan hadang truk-truk sampah jika masuk kampong…
itu opsi preman terakhir. Dan opsi pertama bahwa kita menerima kenyataan “
“
gue lebih suka yang terakhir aja Ris….. perang mati-matian sampai titi darah
penghabisan” ucap Doni
“
saya tetap menerima yang pertama , Ris…. Terimalah kenyataan walau kadang ga
ada rasanya” ucap steven
“
saya juga seperti itu……..” ucap Riska
“
berarti kita berhenti?” ucap Hari
“aku
rasa tidak, Har…….kita mendampingi semuanya maka saat hal terburuk pun kita
mendampingi. Kita terima sampah itu seperti kita menerima berlian. Aku rasa
mengapa sampah itu tidak berguna karena dianggap sisa dari kehidupan dan
mengapa sampah masyarakat itupun karena residu dari kemajuan zaman. Aku tak mau
menganggap sampah dan orang terpinggirkan itu sampah. Biarlah kawanan itu
menjadi sampah dari kehidupan namun nantinya tempat itu menjadi tempat suci.
Tempat dikoordinat kehendak tuhan dan kehendak manusia. Kita siapkan manajemen
pengolahan sampah saja”
“
wah… bagus, tapi berat…. Apakah warga bisa?”
“
kadang orang bisa karena keadaan. Bukan hasil dari diri mereka sendiri yang
absolut, kawan”
Pergantian
hari terus berjalan, desa Dawuhan resmi menjadi tempat pembuangan sampah. Warga
desa banyak yang menjadi pemulung dan beberapa diantara mereka menjadi pemasok
sampah. Lingkungan menjadi bertambah kumuh, bau menyengat masuk menembus
jendela-jendela rumah warga. Air semakin berwarna kecoklatan dan
serangga-serangga kecil makin lari dari pusat TPA. Namun ada pula serangga yang
kemudian datang seperti lalat, nyamuk dan serangga pengurai lainnya. Kondisi
semakin parah didesa itu. Riska berjalan menuju kantor kepala desa, menatap
anak kecil yang kotor bermain diselokan, anak-anak lainnya ada yang bermain
bola plastic bekas.
“
Kak, minta uangnya ?” seorang anak kecil menghampirinnya sembari mengadahkan
tangan
“iya,
sayang…. Kenapa minta uang? Ibu mana?” Tanya Riska dengan senyum manisnya yang
membentuk lesung pipi.
“ibuku
lagi kerja dijalan raya kota. Aku belum makan, aku laper…. “
“mmmm…
kakak ga punya uang, punyanya roti. Mau ?”
“ih
kakak cantik tapi pelit… bilang saja ga mau kasih” ucap si anak perempuan itu
dengan judes
Kemudian
Riska meneruskan perjalanannya menuju kantor kepala desa. Disana ia bersama
warga akan membuat koperasi desa untuk para pemulung. Dan memberikan
keterampilan warga untuk mengolah sampah. Semua teori membangun masyarakat yang
berdaya memang mudah namun dalam realitasnya banyak sekali rintangan
menghadang. Dari pendanaan untuk mengolahan sampah secara mandiri, penyadaran
warganya dan perbaikan lingkungan. Bersama Doni, Hari dan juga steven mereka
melangkah dengan pasti. Mereka hijrah dari hanya menyuarakan suatu ketimpangan
realita dan keidealan menjadi penyambung realita dan keidealan.
Singkat
cerita, sudah beberapa bulan. Berangsur-angsur desa mulai berubah menjadi asri,
banyak penduduk desa yang membuat home industry dan beralih pekerjaan menjadi
pengrajin. Manusia dan benda-beda di bumi Dawuhan sekarang lebih bisa menyapa
bumi lebih santun. Tumpukan sampah berubah menjadi tumpukan harapan untuk
warga. Warga yang dulu menjadi sampah masyarakat perlahan menjadi kaum marginal
yang menyedot perhatian publik. Semua tidak menyangka bahwa sampah berubah
menjadi anugerah.
Warga
yang dulu kurang ramah dengan sering melakukan kejahatan pun kini semakin
berkurang. Mereka hidup lebih sehat dan meningkat kualitas hidupnya. Anak-anak
banyak yang sekolah, ibu-ibu yang dulunya mengemis kini sibuk dengan
pekerjaannya dirumah membuat kerajinan, para pria-pria banyak yang memulung dan
mengolah sampah.
Berjalan
dan terus berjalan roda waktu, bumi tak pernah mengalami penuaan ketika
manusianya masih menyadari sebuah kasih sayang. Manusia dibumi bagai vitamin
yang dapat meremajakan bumi. Tangan-tangan mungil manusia dengan segala hati
dan pikirannya.
“
Don, aku membahas untuk mengadaan alat pengolah plastic, kau bisa datang malam ini
?” Tanya Riska melalui telepon
“
kayaknya tidak bisa. Aku ada urusan”
Kemudian
Riska pun menelpon yang lain seperti hari dan steven namun berujung pada hal
yang sama. 3 orang itu kemudian sulit untuk ditemui. Hampir 1 bulan lebih,
kawannya tetap seperti itu. Mereka seperti hilang dari aliran darah perjuangan.
Riskapun terasa sendiri dalam keberlangsungan memandirikan masyarakat.
Ketika
malam menyambut di kantor “ green fighter” , Riska sendiri menata perlangkapan
gunung yang berdebu dan lama tak dijamahnya. Akhir-akhir ini memang ia tak
pernah rapat ditempat ini seperti dulu. Keberhasilan dirinya membawa desa
Dawuhan menciptakan sendi cerita yang ngilu. Kawannya pergi disaat sebuah mulai
ada titik terang kesuksesan. Kadang keberhasilan seseorang menaklukan dunia
akan menjadi percuma bila tidak dinikmati bersama orang-orang terdekat. Semua
berjalan seperti lorong gelap namun penuh bintang. Sinar-sinar terang menghiasi
perjalanan namun tak bisa menjadi penerang. Bintang timur Venus yang benderang
pun tak kunjung datang dan hanya ada bintang-bintang membentuk rasi menampakan
lukisan semesta.
Sunyi
yang semakin mengiringi lamunan pikiran Riska semakin jauh dan membuatnya untuk
pulang. Dia mengendari sepeda motor menyusuri jalan yang remang-remang, jalan
pinggiran kota memang tidak sebaik pada umumnya. Lubang-lubang aspal
dimana-mana dan penerangan menjadi hal yang tidak selalu ditemui. Dari kejauhan
tiba-tiba ada beberapa orang menghadapnya. Berbadan tegap dan tinggi serta
kekar. Nampak seperti binaragawan.
“
turun kau !!!” bentak laki-laki berjaket hitam dengan menodongkan pisau dimuka Riska
Riskapun
hanya diam dan menahan takutnya. Wajah mereka tertutup dengan penutup muka dan
hal itu sulit untuk mengenali identitas mereka. Riska hanya pasrah menghadapi
mereka.
“
Hai, kau kalau masih mau hidup, tidak usah lagi kau datang ke desa Dawuhan”
“kalian
siapa? Terserah saya mau kemana ?” Tanya riksa sembari memberontak karena
tangannya mulai diikat oleh beberapa orang
“
dasar wanita jalang, tak usah banyak Tanya kalau mau selamat” ucap pria
satunya. Mereka berjumlah 5 orang…
Tiba-tiba
dari kejauhan terdengar suara orang yang memanggil warga.
“
tolong…tolong ada begal-begal ,…”
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Kepada
bintang yang menjadi saksi langkah di puncak ini, ranting-ranting tua yang
terbungkus embun beku dan pada krikil-krikil berdebu yang berkawan dengan
rerumputan. Ingin riko sampaikan pada Riska, bahwa tangan yang riko genggam adalah tangan
wanita sederhana yang akan membuat langkah kehidupan riko bermakna. Cahaya dari
perapian di pos pendakian ke 9 membuat riko dapat menatap wajah Riska yang
letih karena menemaninya menyapa alam. Riko pun meneguk kopi hangat buatan Riska
secara perlahan.
“
rasanya enak, Mas ?” Tanya Riska dengan lembut
“
tidak enak Ris” ucapku datar
“wah
apa yang salah ya Mas, kayaknya aku sudah membuatnya dengan benar, toh juga itu
kopi saset. Pasti takarannya pas”
“mungkin
karena kamu lebih enak jadi kopi ini terasa biasa saja”
“ah…
Mas, bisa saja…” ucap Ris dengan tersipu malu.
“
saya mau bilang sesuatu Ris..”
“ya
bilang saja Mas, kenapa harus Ijin dulu…. “
”
terima kasih atas pertalian kasih selama ini denganku. semoga tanganmu ini
setia disetiap paginya menuangkan air bening padaku sembari mendengar
cerita-ceritaku tentang dunia, semoga tanganmu ini akan membesarkan anakku
kelak. Tanganku ini Ris, tidak akan pernah menyakitimu, dan selalu siap
membalas uluran tanganmu”
“
hehehhehe “
“
lah kok Cuma tertawa? Aku bisa puitis loh Ris”
“
Mas, ini kenapa? Tumben bertutur padaku seperti itu, tapi Ris hanya bisa bilang
kembali kasih”
“Aku
memandang bahwa aku kurang memperlakukanmu dengan baik. Sering meninggalkanmu
untuk mendaki gunung, mengurusi komunitas peduli lingkungan dan urusan bersama
teman-temanku”
“
aku rasa memang benar, Mas. Aku tidak seperti pasanganmu. Aku seperti tempat
transit saja kala kau punya waktu luang. Aku mendapatkan sisa saja hehehehhe
tapi saya mencoba pahami itu kok Mas…. Ketika seharusnya kau ada tapi malah tak
bisa dihubungi. Aku kadang ingin kau menjadi satu-satunya orang yang juga bisa
mengurusi masalahku bukan mas hanya mengurusi masalah orang lain. Namun semua
itu sudah tidak menjadi masalah bagiku”
“oh…….
“ aku tercengang mendengar luapan hati Riska yang selama ini tak pernah aku
ketahui
“aku
dulu menerimamu bukan karena hanya hatimu mas, namun ide-ide besarmu membuat
dunia lebih indah, kebiasaanmu yang mengagumkan dan juga kehidupanmu. Aku
mencoba menjadi bagian dari semua itu. Aku merasa beruntung karena dengan
menaruh namamu di janjiku dan doa-doaku, aku juga bisa bersamamu membangun
dunia walau aku hanya bisa diam dan tidak bisa tampil didepan umum sepertimu.
Aku berharap keberadaanku bisa memperlancar ide-ide besar yang ingin kau
wujudkan” Riska mencoba menjabarkan semua kesungguhannya
“ oh dik…… ditempat tinggi seperti ini kata
orang bersemayam para dewa-dewa. Ini menjadi tempat suci. Kau tahu dik, batasan
tempat suci itu apa ? tempat suci itu pertemuan garis imajiner di koordinat nol
derajat garis lintang yang menghubungkan nilai kemanusiaan dan nol derajat
garis bujur hubungan dengan tuhan. Dan kenapa nol derajat, seperti angka nol
ris, angka nol itu ada tapi kadang bisa membuat angka lainnya lebih kecil
ataupun lebih besar. Angka antara ada dan tiada. Semua didunia ini angka nol,
Ris. Bahasa hurufnya itu menjadi titipan sang pencipta. Semoga saja cinta kita
seperti pertemuan garis itu dan terus diberikan titipan itu oleh tuhan. “
ungkap Riko dengan syahdunya
“hehheheh
Insya Allah Mas, ucapanku yang ku utarakan padamu sebagai manusia aku pun
mempertanggungjawabkannya dengan tuhan.”
“oya,
dik Ris…. Esok aku tidak akan meninggalkanmu. Jika meninggalkanmu juga Ris,
kala di langit tak ada bintang yang berkedip padaku dan tak ada rembulan yang
senyum padaku. ingatlah Ris , bahwa aku tak akan mencari mereka. Aku hanya
mencarimu seorang. Berjanjilah Ris kau setia selalu padaku “
“iya
iya….. “
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>.>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Riska
kemudian terbangun dan menatap kawan-kawannya serta keluarganya berkumpul.
Ruang kenanga no 12 menjadi penuh senyum menyambut tersadarnya Riska dari masa
kritisnya.Riska ditusuk oleh kawanan pembegal yang ternyata bos pengemis
pengemis dari warga desa Dawuhan yang merasa terusik akan perubahan yang
dialami warga desa Dawuhan akibat tindakan Riska membangun desa.
Bumi
tidak hanya diselamatkan dari pencemaran terhadap lingkungan namun juga
diselamatkan dari manusia-manusia yang patut dikubur dalam bumi akibat
penjajahan,dan kebiadaban pada manusia, alam dan semesta. Riska memahami itu
semua ketika terbangun dari tidurnya yang membawanya pada memori 10 tahun silam
ketika ia bersama kekasihnya yang dulu telah tiada akbiat kecelakaan di gunung
Slamet sehabis mendaki bersama Riska.
“
selamat Riska, kau baik-baik saja kan” ucap Ibunya kuatir
“iya,,…
“ jawabnya lemas..
Sehabis
kejadian itu, Riska menjadi terkenal karena kejadian dia dibegal membuat media
masa melihat langkah-langkahnya memajukan desa. Kini Riska menjadi terkenal
sebagai aktivis lingkungan yang sukses. Dan kemudian ia menghampiri ketinggian
Slamet kembali, menatap pilu cinta dirinya yang pernah di raih. Cinta pada
nilai kehidupan Riko, ide-ide besar Riko dan kehidupan riko. Disanalah Riska
menaruh bunga Wijaya kusuma.
Bumi
tak hanya dirawat secara fisik namun harus diisi dengan manusia-manusia dengan
penuh cinta, nilai-nilai kesetaraan, kemanusiaan dan kebebasan. Jika manusia
tak memiliki sikap itu, merekalah sampah masyarakat bumi yang hanya akan
menghasilkan masyarakat sampah.
Terinspirasi
dari sebuah nyawa di pos 9 Slamet, tertanggal 17 Agustus 2013
Semarang,
22 April 2015
Marlina
SALAM
BRANDAL :D
Posting Komentar