Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal

Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Kapan saya akan diwisuda?

Semilir angin menerpa wajahku
Bercumbu mesra dengan kopi susu
Adik lantai bertanya wisudaku?
Aku jawab asu ..
Dik senyum tersipu malu
Ucapnya lirih asu too
Aku acuh sembari mengaduk kopiku
Kutatap tingkat c 2 yang menkaratkan langkahku
Begitu berbenalu hantu
Teman datang penuh ragu
Mau kuliah nunggu waktu
Duduklah bersama mengisap cerutu
Ucap kita "pingin pinter wajib pinter dulu. Pingin sugih wajib sugih dulu"
Itu kan sangat asu!
seperti orang terlambat tak layak maju
Melawan stigma logika seperti mencari penawar sianida.
Aku berkata "demi dedaunan yang runtuh didepanku. Tak akan ada lagi keruntuhan di tanah ini. Semangat, harga diri, logika dan hidup tak kan runtuh walau gemuruh asu mengatakan kita kalah dalam hidup dikampus nan lugu"

Ahong

9.7.16
Restan restan rindu menggunung asmara # 
Fenomena kosmik debu semesta # 
Bagai peluru menghujam jantung tanpa cucuran darah #
Tapi kadang begitu terbang tanpa arah #
Bebas lepas ....
Aku bertanya mengapa dentuman membuat ngilu hati? #
Penuh ego, tanpa logika namun seindah pelangi imajiner#
Kucoba diam membeku laksana es dipegunungan semeru #
Bertahan beku kala panas mentari menyerbu#
Karena logika berucap itu tiada guna laksana cerutu #
Nyatanya aku kalah dengan syamsu #
Penjara es meleleh membebaskanku#
Aku bercumbu dengan kebebasanku #
Dan aku takut akan menjajah dirimu#
*
Kau bukan thesis, anti thesis bahkan dialekta rasa#
Itu kemurnian dari getar semesta #
Tapi apalah beda menyapamu dengan menyapa embun dikala pagi#
Tak membekas dan aku yakin tak ada yang abadi#
Menguap menguap menguap#
Tak ada beda menyapamu dan menyapa bintang #
Terlalu jauh hingga gema terasa bisu #
Itu hanya laksana gonggongan anjing diluar angkasa #
Aku merintih bertanya pada semesta:
Mengapa getar ini hanya monopoli hatiku saja?#
Mana harmonimu,semesta?#
Jirrr ternyata bertanya padanya laksana bertanya pada tuhan bernama#
Percuma begitu menganga #
Hanya doa tersemat di sudut realita #
Semua menuju pada kemuliaan dalam menjalani hidup #
Berlogika, berasa, bermakna dan dalam cengkraman keluhuran nyawa # 

Kaulah Penemuanku


Bintang  gemerlap  misteri  membuatku  tertegun  di  sudut  keheningan  malam  di  sebuah
pencarianku  tentang  kehidupan.  Keindahannya  membuatku  terpana  hingga  menggetarkan
semesta hatiku.  Aku  tatap bintang dengan segenap  rasa  yang mendalam namun kemudian  aku
termenung. Senandung semesta pun  dengan mesra  mengiringi renunganku. Dingin  malam penuh
halimun dan suara daun tersentuh  angin  bersahutan menjadi sandaranku. Dengan suaraku yang
lirih namun tandas Aku tetap terus bertanya:
” apakah bintang itu bisa menyinari kehidupanku?”.
Bintang hanya membisu dan kerlap kerlip seperti terus menertawakanku.
Dalam  keletihanku  mencari  jawaban  dan  dalam  setiap  ruang  rinduku  yang  penuh
pertanyaan,  aku  tak sengaja  melihat matamu dan menemukan sebuah hal istimewa. Aku  melihat
seluruh  bintang  semesta  ada  di  bola  matamu.  Cahaya  bintang  dimatamu  mengokohkan
keyakinanku  tentang  pengetahuan  baru.  Bahwa  kaulah  realitas  diantara  fantasi  ilmiah  tentang
semesta.  Dan  kaulah realita tak terumuskan dalam matematika.  Hanya  kaulah reaksi menawan
terguyur  cahaya  bintang  di  galaksi  bima.  Biarlah  dunia  menganggap  gemerlap  bintang  itu
kebenaran sejati namun bagiku kaulah kebenaran itu. Kaulah yang terdekat denganku dan kaulah
kenyataan tak terbantahkan.
Dari itu, Aku tak memilih bintang-bintang menawan namun aku memilih bayang bintang di lensa
matamu.  Karena  dengan itu aku tak hanya mendapatkan seluruh bintang di sudut semesta tapi
mendapatkan senyummu dan kehidupanmu. Mendapatkan bintang kehidupanku
Sinar kehidupanku 
Energi tanpa batas dari pagi hingga malamku
Dan kau akan tetap menjadi cahaya diatas cahaya makna
Pagi kehidupan, senyummu perlambang embun yang menyejukan dan kehangatan yang
menentramkan. Bawalah senyummu hingga malam menemukan bintang sebagai latar
kemisteriusan.
Renungan mendalamku tentang :
Pemahaman  masa lampau, sejarah, bukti sejarah dan tugas kehidupan.

Marlina, 14 Agustus 2015

Skripsi menghancurkan silaturahmi

Kalau mahasiswa tingkat akhir, pasti banyak yang terbegal dengan kata satu ini, yaitu skripsi. Mereka kemudian masuk dalam himpunan mahasiswa putus asa atau aku sebut HIMPA. Tingkah laku himpa itu ada ada saja, mereka lebih berkreasi membuat alas an daripada rumusan masalah skripsi. Andai saja boleh membuat rumusan masalah seenaknya pasti mereka membuat rumusan masalah tentang membuat skripsi itu sendiri. Alasan mereka kalau ga komputernya rusak pasti masalah percintaan bahkan biaya. Ya itu alas an dominan yang ada dan kita wajib mengerti itu semua. Walau sebenarnya aku ragu si atas alasan itu. Ngomong ngomong soal skripsi, skripsi itu lahan utama memutus tali silaturahmi dengan awal pertikaian. Awalnya dari teman seangkatan, biasanya yang ga mau membantu skripsi dianggap egois dan musuh. Dan kebencianpun akan muncul… itu baru teman belum lagi, biasanya dosen pembimbing skripsi . dosen itu menjadi objek yang dijadikan kambing hitam dan tak perlu sampai nunggu idul adha pasti dikorbankan. Skripsi telat pasti bilangnya “ dosennya ribet “. Skripsi revisi pasti bilangnya “ dosennya banyak maunnya” nanti kalau skripsi selesai pasti baru bilang “ gue sudah berjuang mati matian melawan dosen “ hahahhahah Namun ada pula yang sampai sampai rusak silaturahminya dengan orang tua mereka. Si anak diusir gara gara ga lulus lulus kuliah. Biasanya si tekanan tetangga yang bikin orang tua nekad tegas sama si anak. Tetangga Tanya sambil menghujat mulu sehingga orang tua menekan anaknya cepat lulus. Orang tua bisa bilang “ pilih dipecat jadi anak atau nyelesaiin skripsi? … Namun tetap skripsi emang paling susah kalau kena virus asmara. Biasanya pacar saat awal awal skripsi menyemangatinya bukan main. Ngingetin sampai ngasih kata kata mutiara lebay untuk menyelesaikan skripsi. Tapi ya itu ga bisa mau membagi waktunya sama skripsi. Lalu cerewet dan menduga yang bukan bukan. Tapi ada sisi positifnya, skripsi biasanya dapat nyambungin silaturahmi lebih erat dengan tuhan . padahal biasanya ga inget sama dia. Bisa nyambung silaturahmi sama petugas perpus sembari searching mahasiswa pinter yang ada dikampus, biasanya mereka ngadem di perpus. Ya begitulah skripsi selalu bikin gejolak sensasi, frustasi sampai senandung silaturahmi. *guyon hahhahahhahahah

Lirik Climb Every Mountain By Sound of Music

Climb every mountain
Search, high and low
Follow every byway
Every path you know

Climb every mountain
Ford every stream
Follow every rainbow
'Till you find your dream

A dream that will need
All the love you can give
Every day of your life
For as long as you live

Climb every mountain
Ford every stream
Follow every rainbow
'Till you find your dream

A dream that will need
All the love you can give
Every day of your life
For as long as you live

Climb every mountain
Ford every stream
Follow every rainbow
'Till you find, your dream!

Untuk Exsara ke 6


Mengembaralah sampai ke penjuru dunia
Walau keindahan dunia tak seindah nirwana
Tetaplah langkahkan kaki kecilmu wahai anak manusia
Langkah kakimu yang mencipta bunga sukma
Getar sukmamu akan menguasai gelombang semesta
Melesatlah semangatmu menembus galaksi bima
Tempuhlah setiap tawa sejauh triliunan tahun cahaya
Berorbitlah hanya untuk sebuah cinta Indonesia
Berotasilah pada rasa keluarga yang sederhana
Kau telah tumbuh sepanjang 12 musim berganti
Semoga kau tetap abadi bersenandung lagu pertiwi
Ditanah ini dan di air ini berjuta luka terpatri
Di tanah ini dan di air ini penjajahan makin menjadi
Bersenandunglah sembari melangkahkan kaki
Menyeka pertiwi dengan sejarah negeri
Genggam Hangat tanganmu tergambar dimemori
Walau kini tuts tuts takdir mencipta spasi
Aku yakin gelombang doa selalu mengiringi
Bahwa kita akan bertemu lagi
Dan menyapa yang menyejukan hulu hati
“ hai dik …. “
Bila tan berkata dari atom menuju semesta
Aku cukup berkata dari kau menuju dunia
Bila Muhammad berkata berhijrahlah
Aku cukup berkata berjelajahlah
Bila eistain berkata berimajinasilah
Maka aku cukup berkata beridealismelah
Oh dik tataplah bintang malam ini dari jendela mataku
Maka kau akan bertemu penjelajahan cinta hatiku
Oh dik tataplah cahaya yang menyusup lewat jendela kamarmu
Maka kau akan bertemu penjelajahan intelektualmu
Oh dik tataplah manusia marjinal di sudut ruangmu
Maka kau akan temui penjelajahan kaki mungilmu
Ah sudahlah sajakku ini terlalu berlebih
Padahal cukuplah sajak ini untukmu
“ Kaulah yang menuangkan secangkir kopi hangat di pagiku sembari berkata tersenyumlah sampai menuju malam tidurmu hari demi hari dan jika terluka kita tetap bersama , jika bersuka cita kabarkanlah padaku karena itu bagian dari surgaku
, tanpa jeda dan kadang tanpa ruang …. Iya kaulah penuang kopi hangat itu exsaraku dan exsara kita semua … “
27 Juni 2015

Wanita Harus Cantik


Daun padi hijau tertawa segar pagi ini, hujan yang mengguyur desa tadi sore membuat kesejukan sampai menentramkan hati. Jangkrik meloncat girang dan beberapa kawanan burung hilir mudik sembari mengintai biji-biji padi disawah itu. Mak Dar mulai berjaga padi-padi harapannya itu. Bersama cucunya ia berangkat pagi buta sembari membawa rantang berisi nasi dan tempe goreng serta Minuman teh tawar. Cucunya bernama Minah, baru berusia 5 tahun dan belum masuk bangku sekolah.  Jika Mak Dar sibuk mengusir burung-burung yang mencoba memakan padi maka si Minah asik bermain dengan gemricik air di dekat pematang sawah. Ia membuat kincir air Dari batang-batang pohon singkong.
“ Eyang, aku pingin prahu…”
“ udah Min, jangan main-main air nanti sakit. Duduk saja sana nanti eyang kasih tebu”
moh eyang… pokoknya pingin prahu. Bikinin prahu pake kertas”
Mak Dar mengangkat Minah Dari pematang sawah dan mengedongnya menaruhnya di bagian sawah yang teduh.
“ sudah kamu itu harus nurut sama Eyang. Kalau kamu sakit, mamamu jauh di Jakarta dan tidak bisa kasih uang buat berobat. “
“ pokoknya prahu “ jerit Minah sambil menangis
“ udah diam…. Kalo nangis tidak usah ikut eyang lagi. Sana sama mamamu saja di Jakarta yang panas”
 Tangis Minah menimbulkan perhatian beberapa petani yang sedang beraktivitas di sawah. Tangis Minah memecah suasana sawah yang tadinya hening.
ono opo Ni…..? “ Tanya Marno, pemilik sawah disamping sawah Mak Dar yang sedang  matun sawah miliknya.
“ kiye bocah kepengine dolanan bayu “
“ owalah…. Sapa arane kiye Ni .. ? Tanya Marno sambil menghampiri Minah
“ Minah Ki, anake Sarni “
“ ini buat Minah,…. “ Marno memberikan gejus
“ Moh…. Aku pinginnya prahu” Tolak Minah dengan manja
“ iya, engko eyang kasih prahu kalo makan ini dulu. Gejus enak loh… kamu udah sarapan?” Tanya Marno sambil merayu Minah
“udah… “
“ sarapan pake apa?”
“ Mie..”
“ wah… enak ga mie nya?”
“enak… aku yang masak sendiri”
“wah pinternya… masak pake apa?”
“pake piring sama air”
“hahhahaha ada-ada Minah. Eh Ni… Sarni anakmu kerja dimana?”
“ dadi pembantu di Jakarta, No… “
bapake neng endi ?”
“ya pada neng Jakarta dadi buruh bangunan”
“donge ngidep bae ben gampang”
“ bocahe esih cilik, ngidep ya susah. Ya juga matanya rusak kalau terus ngidep. Sudah seperti itu gaji sedikit.”
“lah, tetanggaku pada ngidep dan lumayan bisa buat kredit motor loh Ni, bocah wadone sekiye sing penting telaten ya bisa urip. Lulus SMP bae bisa”
“ lah… aku wis cukup Sarni jadi buruh. Anakku yang lain tidak akan aku jadikan buruh. Cukup aku saja yang jadi petani seperti ini. No… mending anak disekolahkan yang tinggi Daripada kerja di pabrik. Ga awet sugihe “
“ Bener Ni… kalau sudah tua ya pasti tinggal bobroke “
“ Iya… lah anake rika  si-Sri dimana sekarang?”
“ sekolah di Jogja Ni… “
“ bener kuwe, kuliah ambil apa?”
“guru bahasa inggris”
“ apik kuwe. Jadi guru supaya pinter lan Minterna wong wong”
“ya kaya kuwe pengarepe eyong. Jangan kaya aku yang Cuma disawah”
“ Amin ya No… aku juga berpikir seperti itu. Rekasa menyekolahkan anak lebih mending Daripada melihat anak rekasa dihari tua. Aku juga menyekolahkan anak di SMA. Mugi-mugio bisa kuliah”
“ Bagus ni…sing namanya Maya kae. sekolah neng endi ??”
“iya…. itu di SMA Purbalingga”
“ Dapat bantuan apa sekolah neng kana ?”
“ora…. Aku duwe sawah jadi carik tidak mau menggolongkan aku orang miskin. BLT aja tidak dapat”
“lah ni seharusnya kau dapat. Wis tua seharusnya dapat pensiunan Dari Negara”
“ lah… ora No… sapa bae presidene aku ora olih duit. Sing olih duit ya kaya Tarno kae sing wong partai. “
“ pancen kaya kuwe. Lah rika buat menyekolahkan si Maya Dari mana?”
“ rejeki itu banyak No… tinggal kita menjemputnya tiap hari. Di warung, ada dan aku juga nyambi buat kasur lantai. Apapun bisa kalau sehat”
“ padinya rika bagus ini ya. “
“iya, aku seneng lihatnya No. semoga harga beras jangan dulu turun”
“ di tivi mahasiswane malah pingine harga beras turun kok Ni. Anakku Sri malah melu demo agar harga beras turun. Jan… anakke aku picek …. Ramane kon bangkrut nandur padi.”
aja kaya kuwe No, anake rika njikote bahasa inggris ya bener ora ngerti kecuali dia ambil pertanian ya mudheng. Orang pinginnya murah, aku juga iya. Tuku pupuk, tuku endrin, tuku bibit pingine sing murah tapi ora bisa. Dijual beras murah ya wis terima. Mugi-mugi yang makan padiku bisa murahna pupuk-pupuk kalau perlu bisa membuat sejahtera aku dikedepannya. “
“Iya bener Ni, sing penting sehat lan bisa mikir mesti ana jalan. Ora ngeluhan ya ni”
“ Kiye No… Mendoan gawenanku…”
“ Maturnuwun Ni… aku wis digawana gejus karo gethuk  “
“ kiye Min, tebu.,.. enak legi “
Minah mulai asik menangkap belalang disekitar tempat berteduh siang itu. Sembari mulai tergiur dengan batang tebu yang manis.
“ Mikir negera memang ribet ya No…”
“iya Ni… uteke kita ga nyampai. Indonesia terlalu luas. Mending memahami yang bisa dijangkau”
 Dari pinggir jalan terlihat Maya, anak Mak Dar datang. Ia wanita yang cukup jelita dan modis. Ia yang sekolah dipusat kota membuatnya tidak berpenampilan seperti anak desa di sekitarnya. Ia termasuk anak yang pintar karena bisa masuk sekolah negeri dan nomer 1 di kota Perwira itu. Kulitnya putih langsat dan berbadan tinggi langsing.
“wah… Maya, ayu ya Ni…. “
“iya, biyunge bae ayu masa anake ala”
“ hahhahah…. Ya wis ni… aku arep matun lagi “
 Maya semberi menggendong Minah duduk bersama Ibunya. Maya terdiam sejenak dan melihat langit biru dan menikmati semilir angina yang sepoy-sepoy.
“ Mak..”
“iya, kepriwe ?”
“ Minta uangnya buat Kartinian dan juga beli kamus mandarin”
“ buat kapan itu May?”
“ tanggal 21 lah mak, masa Kartinian tanggal 17 agustus. “
“kamusnya bukan Kartiniannya May”
“ kamus kapan kapan bisa. Yang wajib Kartinian?”
loh kok kaya kuwe?”
“ tanggal 21 ada karnavalan. Aku wajib cantik Mak, masa sekolah dikota ga cantik”
“ wajib karnaval itu ?”
“ wajib mak, semuanya juga ikut. Malu kalau tidak ikut mak!!!”
“owh Wajibnya karena antara malu dan tidak malu kaya gitu?”
“ya itukan acara sekolah mak, jadi wajib”
“ah tidak ada uang buat Kartinian. Kalau kamus bisa mak usahakan nanti kalau mak stor kasur lantai”
“ Mak pelit, aku pingin ikut Kartinian. Aku mau foto juga sama Bagus, Mak.”
“ bagus itu siapa? Pokoknya tidak ada uang buat Kartinian. “
“bagus ya bagus. Temenku mak… Mak lah… pokoknya pingin aku menyewa kebaya sama make up juga”
“opo kui …. ? setahu aku saat diceramahi sama pak kiyai pernah ngomong Kartini. Kartini itu bukan karena kebayanya tapi karena tulisannya. Tulisan itu tanda orang mikir May kata  pak Kiyai”
“lah… kaya mak tahu saja soal Kartini. Emak ga tahu apa-apa soal Kartini. Aku yang sekolah Mak”
“ Sontoloyo, aku tidak bisa baca tapi bisa nonton tv. Kemarin aku nonton di tv yang ngomong Kartini. Kartini itu turunan ningrat. Ningrat itu ya kaya bupati, gubernur kaya gitu. Dia menulis surat dan terus surat itu dikumpulkan diterbitkan menjadi buku. Buku itu habis gelap terbitlah terang. Judul bukunya bukan habis make up terbitlah rupawan”
“aturan sekolah emak mau lawan sama acara TV ? pokoknya aku harus Kartinian kalau tidak aku gak mau sekolah mak. Malu aku mak… disana banyak orang kaya, aku kaya miskin sendiri” Maya mencoba menggerutu
“ miskin itu bagian Dari diri kita, May… itu bukan menjadi hal yang memalukan. Itu identitas kehidupan saja. Yang penting kita berjuang menjadi manusia yang kaya. Kaya ati biar welas asih, kaya harta biar mensejahterakan manusia, kaya rupa biar orang paham ciptaan tuhan indah, kaya ilmu agar dunia lebih baik. Soal aturan sekolah emak ga mau lawan, mungkin sekolah mau melestarikan baju tradisonal tapi itu kan tidak nyambung”
mak, Cuma paham sejarah tidak paham keadaan. Keadaanya kaya gini ya udah kaya gini. Ga mungkin Kartini terus arak-arakan nulis surat buat menyerukan aspirasi wanita Indonesia yang tertindak, tidak sejahtera dan teraniaya. Wis mak terima keadaan”
“lah kuwe anakku pinter bisa mikir. Kita wajib paham sejarah, orang dulu mikir masa lalu itu kaya apa dan sekarang orang mikir masa lalu kaya apa. Kalau itu emak dukung. Itu bener…. Tiru nulisnya Kartini bukan pakaiannya. Kalau Kartini lahir jaman sekarang Kartini pakai apa walau dia menulis?”
“ya pakai baju biasa mak”
“iya, karena keadaan juga pake baju kaya gini. Tapi kenapa dia menulis padahal keadaan sekitarnya wanita ga nulis?”
“ karena dia mikir mak… dia menginginkan kondisi yang baik bagi dirinya dan juga lingkungannya”
“ lah kata pak kiyai juga seperti itu. Kita wajib paham sejarah untuk memaksa keadaan sesuai jalurnya bukan ikut keadaan. “
“wis lah mak, aku pokoke kepengin kebaya. Biar tidak kelihatan miskin banget aku mak…. “
Duh Gusti Pangeran, kau jangan munafik sama keadaan katanya paham keadaan. Keadaan memang menyakitkan dan itu perlu ada. Kesakitan itu dibutuhkan untuk oleh rasa. Seorang presiden butuh rasa sakit, seorang milyader butuh rasa sakit, seorang petani butuh rasa sakit . bukan hati kita sakit tapi butuh rasa sakit. Hati sakit jika hati tak peka dan butuh rasa sakit agar hati tahu apa yang disebut memahami penderitaan orang lain. Mak nonton Klik endi kemarin banyak orang yang butuh rasa sakit”
“jan…. itu kick andy mak …. Ribet ngomong sama mak, selalu keminter padahal Cuma tahu Dari pak kiyai sama TV. “
“Ya sudah, nanti mak Tanya dulu sama orang yang jadi guru. Siapa Kartini, pak Soleh itu kayaknya paham. Emak nanti Tanya sama dia.”
“sekalian Tanya soal aturan sekolah mak, biar mak paham. “
“iya…. Ini bawa Minah pulang nanti mak nyusul. Masakan sudah ada di meja”
“iya mak, jangan kelamaan”
“nanti gentian kamu jaga ya, manuke akeh banget mbokan mangani padi. “
>>>>>>>>>>>>> 
Sehabis Dhuhur, sawah dijaga Maya dan Mak Dar pergi menuju desa sebelah. Disana ada penyewaan kebaya, rumah Mbok Yuni menyediakan jasa penyewaan baju-baju adat dan juga rias pengantin. Biasanya orang menyebut mbok Yuni sebagai dukun penganten. Bukan dukun karena berhubungan dengan hal-hal berbau klenik namun karena rias pengantin merangkap mengurusi ritual-ritual dalam menikah ala tradisi jawa.
Tumben mboke sowan kesini ? ada apa?”
“itu Maya mau ikut Kartinian. Jadi butuh baju kebaya. Kalau menyewa disini ada ?”
“ada Mak, tapi karena ini bisnis musiman jadi tidak bisa diutangkan dulu. Setidaknya ada uang muka dulu.”
“iya Yun, berapa satu stel kebaya dan riasnya?”
“ 200 ribu Mak untuk dewasa kaya Maya kalau anak-anak itu lah 100 ribu. Itu sudah termasuk mengantarkan Mayanya pake mobil”
“ kalau begitu saya pesan satu ya. Besok saya kasih uang mukanya. “
“ya mboke “
“saya pamit dulu”
“lah langsung pulang ini?”
“ ga mau ke desa Srawean. Ada urusan disana”
“jalan kali mbok, apa tidak cape?”
“ ora pa pa, itung-itung olah raga ben tua tetep sehat”
Dengan langkah penuh semangat Mak Dar berjalan kaki menuju desa Srawean. Langkahnya sedikit dipercepat. Ada perasaan cemas dan terburu-buru dalam langkahnya. Maklum, dia tak memiliki uang sama sekali untuk menyewa baju padahal hari Kartini tinggal 3 hari lagi. Dan besok seharusnya sudah memberikan uang muka. Mak Dar berusaha mencari uang dengan jalan lain. Ia menuju rumah tengkulak padi. Berharap padinya bisa dijual walau belum panen. Biasanya para tengkulak mau memberikan uang untuk membeli padi yang siap panen ataupun yang belum. Negosiasi harga dan pembayaran biasanya dilakukan dengan cara kekeluargaan. Para petani biasanya ketika membutuhkan uang untuk kondisi mendadak bisa menjual pada tengkulak. Haji Ali merupakan tengkulak yang terkenal di desa Srawean dan sekitarnya. Dia sosok yang pengertian pada petani kecil dan kadang memberikan uang dengan mudahnya. Disana mak Dar mendapatkan uang dengan mudah biasanya.
“ pak haji, itu padi-padi saya mau dijual ke njenengan. Kiranya bisa?”
“oya Mbok, bisa… untuk harganya nanti saya lihat dulu padinya. Yang disebelah rumahnya pak Jadi kan ya mbok?”
“leres pak…. Tapi gini pak, saya kalau Minta uangnya dulu sebagian atau seper berapanya bisa?”
“ oh ya, berapa Mak ?”
“ 300 ribu buat anak saya katanya mau beli kamus bahasa cina. “
“ lah mahal sekali kamusnya? Mau beli dimana memang?”
“ hehehhehe tidak hanya kamus sebenarnya pak haji. Tapi juga untuk karnaval hari Kartini. “
“owalah,… iya mbok, kapan karnavalnya?”
“ 3 hari lagi pak, acaranya memakai baju adat jadi harus menyewa”
“jan, sekolah mahalnya diacara seperti itu ya mbok… ana ana bae acara sekolah”
“leres pak haji, belum lagi kalau maya ekstra nari sama les bahasa. Wajib beli macam-macam”
“ ora pa apa mbok, nawetun ngibadah. Akeh berkahe “
“AMin… “
“ engko disit ya, aku ambil uangnya mbok”
Pak Haji Ali pun mengambil uang dikamarnya. Cukup lama pak haji Ali di kamarnya. Dan mak Das makin cemas, jika pak haji tak memiliki uang. Entah kemana lagi ia mencari uang. Masa-masa menuju panen kadang sulit mendapatkan uang karena banyak petani juga yang menjual padinya atau hasil panennya pada pak haji Ali.
“gimana pak Haji?”
“ pangapuntene  mbok, adanya 150 saja. Ibunya Nur lagi pengajian dan saya kurang paham dia menaruh uangnya. Dan besok juga saya mau ke kebumen untuk beberapa hari. Nanti kalau membutuhkan lagi bisa nembung sama ibunya Nur, mbok”
“iya sudah tidak apa-apa. Maturnuwun pak haji”
Mak Dar pun pulang rumah dengan membawa langkah optimis yang cukup tinggi. Hujan deras yang menutup sore dan menemani langkahnya turun Dari langit dengan gerak selaras dengan angin. Dalam langkahnya itu, Ia semakin memahami betapa menjadi ibu harus melakukan apapun sampai diluar batas kemampuan. Keadaan mengajarkan itu padanya. Keadaan menunjukan perkembangan jaman yang harus tetap ditaklukan oleh dia yang tak bisa menamatkan sekolah dasar. Ia paham bahwa jaman makin kejam pada orang yang tak sekolah, orang yang goblog dan para manusia yang tak mengenal dunia. Ia tidak ingin maya merasakan kerasnya dunia yang diperuntukan bagi orang yang tolol dan miskin. Cukup si maya merasakan rasa sakit sebagai orang miskin namun tidak merasakan betapa menjadi orang bodoh itu menyakitkan sampai kadang tak bisa merasakan sakit itu karena bodohnya.  Maya belum paham bagaimana wanita itu berjuang, maya masih terlalu dini memahami cara mencetak sejarah dimasa depan. Butuh air mata, keringat dan keiklasan hati serta kerasnya berpikir untuk membuat sejarah dimasa depan. Sejarah tercipta indah bagi manusia yang berani dan berpikir. Seorang wanita siapapun Ia dan Dari kasta apapun wajib berpikir melampaui masanya dan wajib mengetahui sejarah bangsanya. Ketika itu bisa dilakukan seorang wanita maka ia akan tampil menjadi orang yang teguh akan langkahnya dikeadaan masa kini. Ia berharap anaknya si Maya hidup menjadi sosok manusia bukan menjadi sosok miskin atau kaya, pandai atau bodoh, jelek atau baik tapi ia menjadi sosok manusia seadanya manusia yang diciptakan tuhan. Menjadi manusia yang bisa memahami sebagai debu yang bermanfaat bagi semesta. Dalam lamunan yang berisi harapan membuat langkahnya sudah membawanya pada rumahnya yang sederhana.
“ bagaimana sawah tadi May?”
“ iya burung banyak sekali. Minah udah tidur mungkin dia kecapean tadi hujan-hujanan juga”
“ ya sudah…. Mak mau masak dulu buat makan malam”
“ mak tadi Dari mana?”
“ Dari rumah pak kiyai, Tanya soal Kartini “
“ lah mak, masih ngeyel saja tahu Kartini. Cuma tinggal kasih uang kan beres. kan aku tidak membodohi juga ”
“hust… aku percaya sama anakku. Dan kau juga seharusnya percaya sama ibumu, Cuma punya ibu sekarang kamu May. Kita itu sudah dipaksa sengsara oleh keadaan jangan lagi mau dipaksa oleh hal-hal seringan karnavalan. Kalau tidak penting mending tidak”
“iya iya…. Terserah mak lah”
“eh terus gimana dengan kebayanya mak?”
“ nanti mak pikirkan ulang, kata pak kiyai Kartini itu berteman sama bule bule. Kamu juga harus seperti itu May, belajar bahasa cina kok ga pernah ketemu orang cina. Tiap hari ketemu orang jawa ga mau belajar bahasa Jawa”
“idih………. Kan sekolah memang mengajarkannya itu. Belajar juga bahasa Jawa “
“ ya bagus kalau gitu, namanya hidup itu harus tetap menginjak bumi sebelum dimasukan ke bumi “
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<< 
Ketika sang fajar mulai menampakan cahaya di ufuk timur. Sang surya mulai menyebarkan kehangatan sepi di desa kecil ini. Daun basah yang sudah kuning dan kecoklatan turun dengan selaras bersama kehangatan, kecepatan angin dan perasaan damai. Sembari memasak dan mengurus Minah, pagi di dunia Mak Dar tak ada cerita lain. Ia wanita tua pada umumnya di desa, sederhana dan melakukan atkivitas layaknya petani cilik. Petani yang memiliki sepetak tanah yang tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan petani lain di desanya yang memiliki sawah. Hidup baginya tidak ada kata pasrah karena dia satu-satunya yang harus melawan keadaan. Menjadi seorang janda dan harus memikirkan masa depan anak perempuannya. Ia berjuang memetakan masa depan, menyiapkan modal untuk melangkah anaknya dan juga harus tetap bisa bertahan hidup. Kadang sangat lara melihat anaknya harus terkena percikan kemiskinan. Takut anaknya tersingkir pada krumunan pergaulan masa kini yang berbiaya mahal. Bergaul masa kini cukup mahal, Dari pakaian yang harus modis, sampai uang untuk sekedar makan di tempat mewah. Menghidupi anak wanita tidak sesederhana menghidupi anak pria. Kadang jenis kelamin menentukan segalanya, wanita dipaksa indah dengan standart dunia dan wanita wajib bertingkah laku sebaik mungkin agar wanita diterima. Wanita harus memiliki nilai jual tinggi kalau mau diterima. Laki-lakipun demikian namun nilai wanita yang ditetapkan dunia kadang menjijikan wanita masih dipandang baik jika bertutur kata baik, wanita bisa dikatakan baik jika dia memakai pakaian sebagaimana wanita pada umumnya dan wanita dipandang sempurna jika ia lemah lembut. Namun mak Dar tak menginginkan Maya seperti itu, ia berharap anaknya kelak bisa membuat dunia tidak menilai sesuatu Dari fenomena luar namun fenomena dalam. Fenomena dalam yang berisi akan nilai dan karya manusia bukan konsumsi manusia. Setiap orang harus berkarya bukan mengkonsumsi saja. Wanita tidak hanya berkarya seorang anak saja namun menghasilkan hal-hal yang bermanfaat lebih luas. Ya semua itu system yang dibuat manusia, dan apapun system adanya seperti system penilaian orang atau pandangan orang itu kejam. System yang dibuat  manusia sering kali kejam dan system yang dibuat tuhan selalu baik. Karena tuhan tak pernah keji pada ciptaannya . 1
Hari ini ia menuju rumah mbok Yuni untuk menyewa kebaya yang sudah di pesan kemarin. Dan berharap itu bisa menjadi kejutan untuk anaknya.
mbok, saya mau ambil pesanan kemarin.”
“ wah, mboke sudah telat. Udah dipesan orang lain juga”
“lah bagaimana si njenengan? Kan saya sudah pesan juga”
“lah orang lain pesan sambil kasih uang muka, sampean tidak”
“lah ini saya bawa uang buat uang muka “
“kemarin kan tidak mboke, pangapuntene bae”
“wah rika ora bisa kaya kui, saya butuh sekali kebaya itu buat anak saya”
“lah aku juga sedang butuh uang segera mbok, buat jalan usaha saya”
“ ya wis aku pamit Yun, “
“ ya… pangapuntene loh mbok sekali lagi”
“ora pa pa”
            Mak Dar kemudian mencari akal untuk mendapatkan kebaya untuk anaknya. Ia berpikir untuk membeli baju kebaya di pasar. Walau tak bagus sekali tapi pastinya layak pakai untuk anaknya. Ia menuju pasar tradisional di kota purbalingga. Dan untunglah ia kemudian mendapatkan kebaya itu dengan mudah. Mungkin karena musim Kartini sehingga banyak penjual yang menjual kebaya.
“ mbak saya beli kebayanya…”
“iya bu…. Pilih yang mana?”
“ model yang bagus untuk anak SMA yang seperti apa? “
“owh buat remaja… yang warna cerah saja bu. Warna kulit dan tingginya seberapa?”
“ tingginya 165 dan langsing anaknya. Warna kulitnya putih kok”
“ mungkin ini cocok”
“wah… iya bagus. Berapa harganya? “
“150 ribu bu… “
“ada yang lain yang murah mbak?”
“wah tak ada bu, stanDarnya dimana-mana segitu harganya. Ibu bisa cek sendiri di toko yang lain “
“mbak… tolonglah mba, harganya diturunkan sedikit”
“ga bisa bu, saya Cuma pelayan toko disini tidak bisa melakukan tawar menawar. Harganya sudah pas segitu”
“ saya Cuma punya uang 145 ribu. Tolonglah mba… “
“ya sudah 145 ribu bu, nanti kurangannya sama saya saja. Masalahnya majikan saya sudah mematok harga segitu. Pelayan hanya bisa manut manjikan bu…”
“iya mba… saya paham itu. Nanti kalau ada rejeki saya akan mengembalikan uang itu, anggap saja saya utangnya sama njenengan mbak “
“ga usah bu… saya iklas… tenang saja bu, kalau Cuma 5 ribu saya bisa kok….”
“ terima kasih ya mbak… saya Cuma bisa mendoakan mbak banyak rejekinya “
“iya sama-sama bu, semoga putrinya juga sukses Kartininya ya bu”
Sembari menggendong Minah kemudian si Mak Dar pulang. Ia menanti lama angkutan kota lewat. Uang di kantongnya hanya 3 ribu rupiah. Dan ada harapan uang itu cukup. Beberapa menit ia menanti dipertigaan gang Mayong, sebuah pertigaan dekat alun-alun kota ia menemukan angkutan kota.
“ pak kalau 3 ribu bisa sampai jengkolan pak “
“ wah bu…. Tarifnya sudah naik. BBM sudah naik bu”
“tolonglah pak, uang saya tinggal segini masalahnya”
“tarifnya itu 6000 sekali jalan”
“tolonglah pak… “
“iya sudahlah bu… “
Mak Dar merasa lara harus memelas namun membayangkan anaknya tidak bisa Kartinian membuat tidak ada pilihan lain untuknya. Jiwa raga bahkan harga diri haruslah dikerahkan untuk anaknya. Ia paham bahwa orang miskin untuk bisa maju harus membuang sejenak harga dirinya dikondisi tertentu.
Di perjalanan tiba-tiba, angkutan mogok, semua penumpang diturunkan dijalan. Disitulah kemudian mak Dar kebingungan untuk pulang. Tidak ada lagi uang yang ia miliki. Ketika meMinta uang pada supir angkutan pun tidak mungkin karena dia pun kurang dalam membayar angkutan. Akhirnya ia berjalan kaki menuju rumahnya. Masih sangat dia menuju rumah. Butuh 30 menit waktu yang diperlukan angkutan untuk menuju kerumahnya dan entah berapa jam yang dibutuhkan untuk menempuh jarak dengan melangkah.
Ia akhirnya melangkah sembari menggendong Minah. Jalan perkotaan menuju pedesaan ditempuh mak Dar dengan sekuat tenaga. UDara panas yang kemudian mulai tersingkir menjadi hujan pun begitu menambah suasana menjadi dramatis. Ada tangis ketidakberdayaan diraut muka mak Dar yang sudah keriput. Raganya yang tua dipaksa untuk tetap tangguh menempuh jarak sejauh itu. Cucunya berusaha dihibur dalam perjalanan. Tak ada payung kala itu dan akhirnya Minah di hibur dengan hujan. Sembari melangkahkan kaki, mak Dar menghibur cucunya yang lama kelamaan merasakan dingin. Mak Dar pun merasakan dingin hujan sore itu. Hujan dipertengahan April menjadi saksi hati perih yang dirasakan mak Dar. Setiap wanita perih akan ketidakmampuan dirinya untuk membahagiakan anaknya.
Setelah sampai dirumah, Maya tertegun melihat ibu dan keponakannya yang basah kuyup.
“ mak Dari mana?”
“ini Minah dimandikan dengan air hangat terus dikasih Minuman yang hangat. Kasihan kehujanan”
“mak Dari mana tadi ? padi disawah banyak yang dimakan burung, kenapa mak ga jaga sawah hari ini?”
“ mak cape,,, nanti saja jelaskannya. Nanti kamu buat masakan sendiri”
“kok mak ga jawab pertanyaanku? Mak marah?”
“apa si May, menjawab pun kau selalu tak mau peduli jawabanku karena mak mu ini bodoh Cuma tahu Dari TV dan pak Kiyai”
“ ya udah. Ga usah nyolot mak, maya tahu “
Barulah ketika pagi datang, saat maya akan berangkat sekolah sang Ibu memberikan kebaya untuk Maya. Dan maya pun terlihat cukup sumringah. Esok ia sudah dipastikan bisa mengikuti karnaval hari Kartini cukup bahagia.
“ ini bajunya dan nanti sore ibu kerumah pak haji ali untuk mengambil uang lagi. Nanti bisa buat rias kamu besok”
“iya bu… makasih, nanti maya pulangnya sorean. mau pergi sama temen-temen buat latihan renang di Owabong. “
“ibu tidak punya uang buat ke sana, makan saja paling nanti memetik sayur di kebun”
“ temenku ada yang rumahnya dekat sana mak. Gratis masuknya”
Singkat cerita, hari Kartini tiba. Maya mengikuti karnaval dengan sumringah. Wajahnya terias cantik dengan kebaya yang cukup anggun seperti wanita keraton jawa. Keramaian disepanjang jalan makin berwarna dengan berbagai hiburan music tradisional. Barisan pemain kentongan, pemain kuda lumpung dan para seniman lainnya memadati kawasan kota.
“kamu kelihatan cantik sekali, May”
“ makasih, ta… “
“kebayanya menyewa atau beli ? kamu Nampak anggun dengan kebaya itu”
“ hehehheheh ibuku membelikan itu kemarin”
“wah, senangnya. Aku malah Cuma menyewa kemarin “
“ aku kemarin melihat ibumu hujan-hujanan sama anak kecil, may… “
“hah? Dimana ? kapan?”
“itu dekat kantor kecamatan. Jam 2 siangan. Itu pas pulang sekolah. Pakai baju hijau kala itu”
Hati maya tiba-tiba merangsang air matanya untuk jatuh. Ia baru menyadari perjuangan ibunya. Sang ibu kemarin sampai dirumah sekitar jam 5 sore. Dan ia memahami ibunya berjalan kaki menuju rumahnya. Maya seketika lemas dan merasa bersalah. Ia bagai seperti mengeksploitasi ibunya sendiri untuk menuruti kehendaknya. Ia terlalu memaksakan kehendak.
“kenapa may ?”
“ga pa pa… aku merasa cape saja”
Mayapun pulang dengan terburu-buru. Rasa hatinya diselimuti ketidakenakan yang luar biasa. Ibunya yang ada disawah selalu letih berjuang untuk dirinya dan dia terus memaksakan ibunya memiliki kemampuan seperti ibu yang lain Dari segi keuangan.
“wah… cantiknya anakku… gimana karnavalnya ? ramai ?”
“ ramai mak, Alhamdulilah”
“syukur kalau gitu. Dirumah sudah ibu masakan makanan cukup enak buat kamu. Tadi pak Haji Ali memberikan uang buat membeli gabah kita. 3 Minggu lagi panen”
“ mak kemarin membeli kebaya dimana?” Tanya Maya sembari menahan air matanya yang berkaca-kaca
“ beli di pasar purbalingga May, kenapa?”
“mak jalan Dari mana ?”
“ jalan? Ya Dari rumahnya Haji Ali kemarin. Habis membeli itu aku mampir disana cukup lama.”
“kenapa?”
“mak berarti basah kuyup di rumahnya pak haji ?”
“ basah kuyup? Ya ga lah may”
“ lalu ngapain mak hujan-hujanan di kecamatan?”
“ga mungkin ga basah kuyup ke rumah pak …. “ maya pun menangis memeluk Ibunya
“ga pa pa may. Mak Cuma jalan dan jangan dibesar-besarkan. Toh Cuma jalan beberapa jam”
“ maafkan Maya,… “
“ udah jangan menangis. Nanti tidak cantik lagi



BLT = Bantuan Langsung Tunai ( Subsidi Untuk Rakyat Di Indonesia)
Moh = tidak
Gejus= makanan tradisional yang terbuat dari singkong
Ngidep= kegiatan membuat bulu mata palsu
Rika = kamu ( untuk orang yang lebih tua atau pun yang dihormati dan akrab)
Owabong = objek wisata bojongsari
Eyong = Aku
Rekasa= susah
Matun= kegiatan mencabut rumput yang tumbuh liar di tanaman padi
Mboke = ibu atau sebutan untuk wanita
Nawetun=  niat

System yang dibuat  manusia sering kali kejam dan system yang dibuat tuhan selalu baik. Karena tuhan tak pernah keji pada ciptaannya ( Aditiorespati, 2015 )
Terinspirasi dari sebuah reuni kecil dipagi buta bersama roni dan adit
CATATAN ISENG-ISENG DAN MINIM DATA AKURAT
                                                                        Purbalingga, 21 April 2015
                                                                        Marlina Bj

Salam Brandal :D 

Sampah Masyarakat VS Masyarakat Sampah


Ruang berukuran 3 X 4 meter yang Nampak seperti gudang penampung peralatan gunung. Nesting, tas Career, matras dan teda berjubel berebut tempat dengan beberapa orang yang duduk hening di malam yang penuh kecemasan. Diluar hanya Nampak lampu yang dikerubuti serangga bersayap, kucing sesekali mengeong memecah nyanyian jangkrik-jangkrik di rerumputan. Udara malam ini cukup mendung  dengan temperature 25 derajat celsuis. Ya, tepat di derajat itu karena Riska melihat thermometer yang tepat berada disampingnya. Riska murung dan berusaha membendung semua gejolak perasaannya. Suasana rapat malam ini pilu dan diselumuti awan pekat berwarna hitam.
“ sudah selesai semuanya…. Sudahlah kita telah melakukan yang terbaik” ucap Doni
“ kadang sebuah perjuangan pembelaan bukan melawan namun mendampingi. Kita sudah tidak bisa mendampingi kasus ini dan itu realita yang wajib kita terima” tandas Steven sembari menghembuskan asap rokok pertanda kepasrahan…
“ sebenarnya apa kekurangan kita sampai kalah pada aturan-aturan pemerintah sehingga besok kita harus menyaksikan desa Dawuhan menjadi lautan sampah? “ Tanya Hari dengan sedikit emosi
“udahlah Har, kau tak usah membuat pertanyaan pas suasana seperti ini… kau ini tak tahu kondisi, kalau mau evalusai ya kapan-kapan saja” Doni meninggikan nada suaranya
“ et dah…… gue Cuma Tanya, loe tak usah emosi kaya gitu…. “ Hari pun terpancing emosinya
“ otakmu itu muatannya cewe doing, jadi kagak bisa mikir “ ucap Doni
“Brrrrrrrrrrrrrrrrraaaaaaaaaaaaagggggg……………. “ steven memukul meja dengan keras.
“ merokok dan ngopi itu solusi lebih baik dari pada emosi” ucap steven dengan santai
Suasana pun kembali diam, Riska tetap dengan tatapan kosong dan pikiran tak tentu. Steven memahami betapa terpukulnya Riska akan realita ini karena ia adalah ketua tim advokasi khasus desa Dawuhan yang menjadi target pembuatan TPS ( Tempat pembuangan Sampah).
“ makan coklat itu lebih enak dari pada makan ati ayam ris “ ucap steven dengan guyon
Riska pun tetap diam sembari menggambar asal-asalan di buku agendanya
“ Ris, mendengar itu lebih ringan tenaga daripada menggambar loh” ucap steven lagi
Lalu barulah Riska menghentikan tangannya menggambar dan menaruh pensil.
“ Bagaimana kawan sekalian, berhenti atau lanjut ?”
“ nah nah gitu donk “ ucap Hari semangat
“ kita sudah kalah, mau ngapain lagi, Ris?” Doni mencoba menegaskan realita
“ya, sudah… istirahat itu lebih baik daripada balik ke titik awal sebelum mencapai tujuan” ucap steven dengan santainya sembari menghembuskan asap rokok
“ desa dawuhan cukup menjadi tempat sampah masyarakat karena disana banyak orang melakukan kriminalitas dan menjadi lautan sampah . disana cukup menjadi tempat manusia yang dimasukan dalam kelas sosial yang rendahan dan dengan taraf pendidikan yang rendah. Sudah cukup itu, masih ada yang mau menambahi tempat itu dengan sampah dihati-hati kalian dan di otak kalian?”
“ maksudnya apa Ris?” Tanya hari
“ orang mikir itu lebih pada orang yang hanya usahanya mencari tahu” ucap steven lagi sembari meminum kopi
“ mulutmu itu ingin aku cobek, bro………….. “ ucap hari dengan guyon bercampur emosi
“orang bilang bumi bisa memberikan apa yang kita butuhkan tapi tidak bisa mencukupi sebuah keserakahan. Saya rasa, kita tak harus serakah akan segala perasaan baik senang maupun sedih. Kita tata dulu perasaan kita, otak kita lalu langkah kita. Bersihkan hati kita dulu………… semoga ada jalan” ucap Riska dengan tegas.
“wow .. “ steven berucap pendek
“ langkah kita hanya ada dua pilihan, memakai kekerasan atau kelembutan”
“yang jelas donk Ris, maksud loe apa?”
“ kita demonstrasi besar-besaran dan hadang truk-truk sampah jika masuk kampong… itu opsi preman terakhir. Dan opsi pertama bahwa kita menerima kenyataan “
“ gue lebih suka yang terakhir aja Ris….. perang mati-matian sampai titi darah penghabisan” ucap Doni
“ saya tetap menerima yang pertama , Ris…. Terimalah kenyataan walau kadang ga ada rasanya” ucap steven
“ saya juga seperti itu……..” ucap Riska
“ berarti kita berhenti?” ucap Hari
“aku rasa tidak, Har…….kita mendampingi semuanya maka saat hal terburuk pun kita mendampingi. Kita terima sampah itu seperti kita menerima berlian. Aku rasa mengapa sampah itu tidak berguna karena dianggap sisa dari kehidupan dan mengapa sampah masyarakat itupun karena residu dari kemajuan zaman. Aku tak mau menganggap sampah dan orang terpinggirkan itu sampah. Biarlah kawanan itu menjadi sampah dari kehidupan namun nantinya tempat itu menjadi tempat suci. Tempat dikoordinat kehendak tuhan dan kehendak manusia. Kita siapkan manajemen pengolahan sampah saja”
“ wah… bagus, tapi berat…. Apakah warga bisa?”
“ kadang orang bisa karena keadaan. Bukan hasil dari diri mereka sendiri yang absolut, kawan”
Pergantian hari terus berjalan, desa Dawuhan resmi menjadi tempat pembuangan sampah. Warga desa banyak yang menjadi pemulung dan beberapa diantara mereka menjadi pemasok sampah. Lingkungan menjadi bertambah kumuh, bau menyengat masuk menembus jendela-jendela rumah warga. Air semakin berwarna kecoklatan dan serangga-serangga kecil makin lari dari pusat TPA. Namun ada pula serangga yang kemudian datang seperti lalat, nyamuk dan serangga pengurai lainnya. Kondisi semakin parah didesa itu. Riska berjalan menuju kantor kepala desa, menatap anak kecil yang kotor bermain diselokan, anak-anak lainnya ada yang bermain bola plastic bekas.
“ Kak, minta uangnya ?” seorang anak kecil menghampirinnya sembari mengadahkan tangan
“iya, sayang…. Kenapa minta uang? Ibu mana?” Tanya Riska dengan senyum manisnya yang membentuk lesung pipi.
“ibuku lagi kerja dijalan raya kota. Aku belum makan, aku laper…. “
“mmmm… kakak ga punya uang, punyanya roti. Mau ?”
“ih kakak cantik tapi pelit… bilang saja ga mau kasih” ucap si anak perempuan itu dengan judes
Kemudian Riska meneruskan perjalanannya menuju kantor kepala desa. Disana ia bersama warga akan membuat koperasi desa untuk para pemulung. Dan memberikan keterampilan warga untuk mengolah sampah. Semua teori membangun masyarakat yang berdaya memang mudah namun dalam realitasnya banyak sekali rintangan menghadang. Dari pendanaan untuk mengolahan sampah secara mandiri, penyadaran warganya dan perbaikan lingkungan. Bersama Doni, Hari dan juga steven mereka melangkah dengan pasti. Mereka hijrah dari hanya menyuarakan suatu ketimpangan realita dan keidealan menjadi penyambung realita dan keidealan.
Singkat cerita, sudah beberapa bulan. Berangsur-angsur desa mulai berubah menjadi asri, banyak penduduk desa yang membuat home industry dan beralih pekerjaan menjadi pengrajin. Manusia dan benda-beda di bumi Dawuhan sekarang lebih bisa menyapa bumi lebih santun. Tumpukan sampah berubah menjadi tumpukan harapan untuk warga. Warga yang dulu menjadi sampah masyarakat perlahan menjadi kaum marginal yang menyedot perhatian publik. Semua tidak menyangka bahwa sampah berubah menjadi anugerah.
Warga yang dulu kurang ramah dengan sering melakukan kejahatan pun kini semakin berkurang. Mereka hidup lebih sehat dan meningkat kualitas hidupnya. Anak-anak banyak yang sekolah, ibu-ibu yang dulunya mengemis kini sibuk dengan pekerjaannya dirumah membuat kerajinan, para pria-pria banyak yang memulung dan mengolah sampah.
Berjalan dan terus berjalan roda waktu, bumi tak pernah mengalami penuaan ketika manusianya masih menyadari sebuah kasih sayang. Manusia dibumi bagai vitamin yang dapat meremajakan bumi. Tangan-tangan mungil manusia dengan segala hati dan pikirannya.
“ Don, aku membahas untuk mengadaan alat pengolah plastic, kau bisa datang malam ini ?” Tanya Riska melalui telepon
“ kayaknya tidak bisa. Aku ada urusan”
Kemudian Riska pun menelpon yang lain seperti hari dan steven namun berujung pada hal yang sama. 3 orang itu kemudian sulit untuk ditemui. Hampir 1 bulan lebih, kawannya tetap seperti itu. Mereka seperti hilang dari aliran darah perjuangan. Riskapun terasa sendiri dalam keberlangsungan memandirikan masyarakat.
Ketika malam menyambut di kantor “ green fighter” , Riska sendiri menata perlangkapan gunung yang berdebu dan lama tak dijamahnya. Akhir-akhir ini memang ia tak pernah rapat ditempat ini seperti dulu. Keberhasilan dirinya membawa desa Dawuhan menciptakan sendi cerita yang ngilu. Kawannya pergi disaat sebuah mulai ada titik terang kesuksesan. Kadang keberhasilan seseorang menaklukan dunia akan menjadi percuma bila tidak dinikmati bersama orang-orang terdekat. Semua berjalan seperti lorong gelap namun penuh bintang. Sinar-sinar terang menghiasi perjalanan namun tak bisa menjadi penerang. Bintang timur Venus yang benderang pun tak kunjung datang dan hanya ada bintang-bintang membentuk rasi menampakan lukisan semesta.
Sunyi yang semakin mengiringi lamunan pikiran Riska semakin jauh dan membuatnya untuk pulang. Dia mengendari sepeda motor menyusuri jalan yang remang-remang, jalan pinggiran kota memang tidak sebaik pada umumnya. Lubang-lubang aspal dimana-mana dan penerangan menjadi hal yang tidak selalu ditemui. Dari kejauhan tiba-tiba ada beberapa orang menghadapnya. Berbadan tegap dan tinggi serta kekar. Nampak seperti binaragawan.
“ turun kau !!!” bentak laki-laki berjaket hitam dengan menodongkan pisau dimuka Riska
Riskapun hanya diam dan menahan takutnya. Wajah mereka tertutup dengan penutup muka dan hal itu sulit untuk mengenali identitas mereka. Riska hanya pasrah menghadapi mereka.
“ Hai, kau kalau masih mau hidup, tidak usah lagi kau datang ke desa Dawuhan”
“kalian siapa? Terserah saya mau kemana ?” Tanya riksa sembari memberontak karena tangannya mulai diikat oleh beberapa orang
“ dasar wanita jalang, tak usah banyak Tanya kalau mau selamat” ucap pria satunya. Mereka berjumlah 5 orang…
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang yang memanggil warga.
“ tolong…tolong ada begal-begal ,…”
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<< 
Kepada bintang yang menjadi saksi langkah di puncak ini, ranting-ranting tua yang terbungkus embun beku dan pada krikil-krikil berdebu yang berkawan dengan rerumputan. Ingin riko sampaikan pada Riska,  bahwa tangan yang riko genggam adalah tangan wanita sederhana yang akan membuat langkah kehidupan riko bermakna. Cahaya dari perapian di pos pendakian ke 9 membuat riko dapat menatap wajah Riska yang letih karena menemaninya menyapa alam. Riko pun meneguk kopi hangat buatan Riska secara perlahan.
“ rasanya enak, Mas ?” Tanya Riska dengan lembut
“ tidak enak Ris” ucapku datar
“wah apa yang salah ya Mas, kayaknya aku sudah membuatnya dengan benar, toh juga itu kopi saset. Pasti takarannya pas”
“mungkin karena kamu lebih enak jadi kopi ini terasa biasa saja”
“ah… Mas, bisa saja…” ucap Ris dengan tersipu malu.
“ saya mau bilang sesuatu Ris..”
“ya bilang saja Mas, kenapa harus Ijin dulu…. “
” terima kasih atas pertalian kasih selama ini denganku. semoga tanganmu ini setia disetiap paginya menuangkan air bening padaku sembari mendengar cerita-ceritaku tentang dunia, semoga tanganmu ini akan membesarkan anakku kelak. Tanganku ini Ris, tidak akan pernah menyakitimu, dan selalu siap membalas uluran tanganmu”
“ hehehhehe “
“ lah kok Cuma tertawa? Aku bisa puitis loh Ris”
“ Mas, ini kenapa? Tumben bertutur padaku seperti itu, tapi Ris hanya bisa bilang kembali kasih”
“Aku memandang bahwa aku kurang memperlakukanmu dengan baik. Sering meninggalkanmu untuk mendaki gunung, mengurusi komunitas peduli lingkungan dan urusan bersama teman-temanku”
“ aku rasa memang benar, Mas. Aku tidak seperti pasanganmu. Aku seperti tempat transit saja kala kau punya waktu luang. Aku mendapatkan sisa saja hehehehhe tapi saya mencoba pahami itu kok Mas…. Ketika seharusnya kau ada tapi malah tak bisa dihubungi. Aku kadang ingin kau menjadi satu-satunya orang yang juga bisa mengurusi masalahku bukan mas hanya mengurusi masalah orang lain. Namun semua itu sudah tidak menjadi masalah bagiku”
“oh……. “ aku tercengang mendengar luapan hati Riska yang selama ini tak pernah aku ketahui
“aku dulu menerimamu bukan karena hanya hatimu mas, namun ide-ide besarmu membuat dunia lebih indah, kebiasaanmu yang mengagumkan dan juga kehidupanmu. Aku mencoba menjadi bagian dari semua itu. Aku merasa beruntung karena dengan menaruh namamu di janjiku dan doa-doaku, aku juga bisa bersamamu membangun dunia walau aku hanya bisa diam dan tidak bisa tampil didepan umum sepertimu. Aku berharap keberadaanku bisa memperlancar ide-ide besar yang ingin kau wujudkan” Riska mencoba menjabarkan semua kesungguhannya
“  oh dik…… ditempat tinggi seperti ini kata orang bersemayam para dewa-dewa. Ini menjadi tempat suci. Kau tahu dik, batasan tempat suci itu apa ? tempat suci itu pertemuan garis imajiner di koordinat nol derajat garis lintang yang menghubungkan nilai kemanusiaan dan nol derajat garis bujur hubungan dengan tuhan. Dan kenapa nol derajat, seperti angka nol ris, angka nol itu ada tapi kadang bisa membuat angka lainnya lebih kecil ataupun lebih besar. Angka antara ada dan tiada. Semua didunia ini angka nol, Ris. Bahasa hurufnya itu menjadi titipan sang pencipta. Semoga saja cinta kita seperti pertemuan garis itu dan terus diberikan titipan itu oleh tuhan. “ ungkap Riko dengan syahdunya
“hehheheh Insya Allah Mas, ucapanku yang ku utarakan padamu sebagai manusia aku pun mempertanggungjawabkannya dengan tuhan.”
“oya, dik Ris…. Esok aku tidak akan meninggalkanmu. Jika meninggalkanmu juga Ris, kala di langit tak ada bintang yang berkedip padaku dan tak ada rembulan yang senyum padaku. ingatlah Ris , bahwa aku tak akan mencari mereka. Aku hanya mencarimu seorang. Berjanjilah Ris kau setia selalu padaku  “
“iya iya….. “
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>.>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Riska kemudian terbangun dan menatap kawan-kawannya serta keluarganya berkumpul. Ruang kenanga no 12 menjadi penuh senyum menyambut tersadarnya Riska dari masa kritisnya.Riska ditusuk oleh kawanan pembegal yang ternyata bos pengemis pengemis dari warga desa Dawuhan yang merasa terusik akan perubahan yang dialami warga desa Dawuhan akibat tindakan Riska membangun desa.
Bumi tidak hanya diselamatkan dari pencemaran terhadap lingkungan namun juga diselamatkan dari manusia-manusia yang patut dikubur dalam bumi akibat penjajahan,dan kebiadaban pada manusia, alam dan semesta. Riska memahami itu semua ketika terbangun dari tidurnya yang membawanya pada memori 10 tahun silam ketika ia bersama kekasihnya yang dulu telah tiada akbiat kecelakaan di gunung Slamet sehabis mendaki bersama Riska.
“ selamat Riska, kau baik-baik saja kan” ucap Ibunya kuatir
“iya,,… “ jawabnya lemas..
Sehabis kejadian itu, Riska menjadi terkenal karena kejadian dia dibegal membuat media masa melihat langkah-langkahnya memajukan desa. Kini Riska menjadi terkenal sebagai aktivis lingkungan yang sukses. Dan kemudian ia menghampiri ketinggian Slamet kembali, menatap pilu cinta dirinya yang pernah di raih. Cinta pada nilai kehidupan Riko, ide-ide besar Riko dan kehidupan riko. Disanalah Riska menaruh bunga Wijaya kusuma.
Bumi tak hanya dirawat secara fisik namun harus diisi dengan manusia-manusia dengan penuh cinta, nilai-nilai kesetaraan, kemanusiaan dan kebebasan. Jika manusia tak memiliki sikap itu, merekalah sampah masyarakat bumi yang hanya akan menghasilkan masyarakat sampah.
 
Terinspirasi dari sebuah nyawa di pos 9 Slamet, tertanggal 17 Agustus 2013

Semarang, 22 April 2015
Marlina
SALAM BRANDAL :D