“Aku memiliki mimpi yang besar dan selama masih hidup aku berusaha memberikan cinta yang besar pada mimpiku”. Prinsip yang sebenarnya bagus namun di suatu titik aku menempatkan mimpiku sebagai tuanku, tuan yang berkuasa akan diriku. Mimpi itu membawaku pada cinta buta dan terjerumus ambisius. Aku tersadar ketika aku bercerita pada Ibnu Ramadhany tentang ketidaktertarikanku pada kampus. Semua terasa menjemukan, menjadi mesin penghafal, menjadi orang yang terbentuk oleh system yang beku dan melumpuhkan otakku. Ibnu kemudian menyampaikan pesan singkat “ keinginanmu adalah zona nyamanmu. Keluarlah dari itu jangan menjadi pecundang yang tak mau masuk . “ Perkataannya memang menggambarkan tak memahami perasaanku namun ia sebenarnya telah berhasil meluruskan logikaku untuk tidak terlalu membawa ranah perasaan pada system berpikir. Aku memahami diriku yang memiliki sikap reaktif yang membuat pembelaan akan kemalasanku di kampus dan menyalahkan system yang tidak ideal. Keinginanku menjadi jurang aku terlalu ambisius dan tidak adil serta objektif pada sebuah mimpi. Lebih bijak menggapai mimpi yang mulia memang lebih dewasa daripada menggapai mimpi dengan ambisi. Mimpi memang perlu cinta pada setiap jengkal langkah untuk menggapainya bukan nafsu.
Namun tak semudah itu kemudian terprovokasi oleh saran yang di berikan olehnya. Dalam renungan pagi yang meletihkan aku mencoba memaknai semuanya lebih adil. Bahwa memahami terlebih dahulu lebih baik daripada menuntut sesuatu. Segala kekurangan dalam system wajiblah dipahami dan dibenahi oleh diri kita semampunya. Keeogisanku memang mengandung kebenaran mutlak namun juga kemutlakkan itu tidak tepat. Kebenaran memang harus di lihat dari banyak sisi. Bukan kita nantinya menurunkan ego kita jika memahami banyak orang namun kita sebenarnya sedang memperbaiki ego kita.
4 Januari 2015, aku menuju kota Semarang kembali. Saya bersama Udin Winarno menuju Semarang menggunakan bus ekonomi. Dampak kenaikan BBM membuat tarif bus ekonomi naik sekitar 10- 20 %. Kini berkisaran Rp 45.000,00 - 50.000,00 . Kadang saya merasa heran dengan Udin yang menggunakan bus ekonomi. Padahal harga bus ekonomi memiliki tarif yang tidak terlalu berbeda dengan bus eksekutif AC . Bus dengan ber-AC memiliki tarif Rp 70.000,00 . Kebanyakan kawan-kawannya menggunakan bus ber-AC karena lebih nyaman dan pastinya cepat. Saya sedikit merasa salah mengajak orang untuk bersama menuju Semarang. Dia mungkin sungkan atau tidak enak hati jika menolak ajakanku. Kalo aku memang sudah terbiasa dengan bus ekonomi. Lebih karena kelebihan bus ekonomi membuatku setia mengunakannya. Tarif yang murah, di setiap jam ada jam keberangkatan, tidak repot memesan tiket, dan yang paling jelas bahwa saya bisa menghentikan dengan tidak sungkan ketika aku ingin ke kamar kecil. Semua ada postif dan negatifnya , kita hanya bisa menjadi manusia yang memiliki hak bebas baik itu positif dan negative apa yang kita pilih. Sama ketika keputusanku kembali ke kampus adalah pemilihan yang siap menanggung positif dan negatifnya.
Hari senin aku menuju jurusan Sejarah. Nampak memang ruangan itu sekarang seperti ruang angker, tempat untuk uji nyali. Kadang juga ruangan C2 112 dan C2 111 bagai ruang persidangan. Di ruangan itu menjadi tempat persidangan mahasiswa tingkat akhir. Vonis revisi skripsi, penolakan secara keji dan bahkan vonis bebas pun akan muncul dari ruangan itu. Ruang itu juga bagai padang pasir tempat peperangan . sangat gersang dan pertarungan hidup dan mati. Memang berlebihan menganggap itu semua. Tapi jeritan mahasiswa semester akhir tidak bisa terelakan dari ruang itu.
Aku menuju ruang sekertaris jurusan kala itu. Romadi masih menduduki posisi itu setelah Santi P memberikan tempat itu sekitar 2 tahun yang lalu.
“ Punten pak, saya mau Tanya terkait dosen pembimbing skripsi saya. Dulu kan 2 dosbing kemudian berubah menjadi 1 dosbing. Pas perubahan dua menjadi satu saya tidak hadir jadi tidak tahu . “ Ucapku dengan datar
“ ya nanti dulu saya cari filenya” Ucap Romadi
Setelah mencari-cari file tersebut akhirnya ia menyodorkan dua nama yaitu Dr. Hamdan Tri Atmaja, M.Pd dan Muhammad Shokheh, S.Pd.,M.Pd.
“ lalu keputusan jurusan saya mendapatkan dosbing siapa pak ? “ tanyaku dengan cemas
“ khusus untuk kamu pilih sendiri saja ?” kata Romadi dengan senyum khasnya
“ owh kados niku, kalau yang pakarnya buku teks lebih pada siapa ya pak ?”
“ dua duanya bisa kok “
“ yang Lebih ?” tanyaku lebih tegas
“ sama saja . kamu mau cepet atau lama ?”
“ ya lama pak, ngopo cepet-cepet “
Setelah berpikir keras akhirnya aku memilih Muhammad Shokheh.
“ ya bener itu nanti lama kalo bersama pak Muhammad Shokheh ” Ucap Romadi.
Lalu aku pergi dari ruangan itu dan segera mencari pak Muhammad Shokheh. Kemudian romadi memanggilku kembali.
“ oya, Marlina kamu di cari ibumu .”
“owh iya, sudah ketemu pak kemarin. “
“ kenapa kamu menghilang ?” Ucapnya penasaran
“ Sembarang pak hehehehhe “ ucapku sambari tertawa yang dipaksakan
Di hari yang sama aku kemudian menemui Muhammad Shokheh dan mengatakan aku telah memilih dia. Aku memberikan judulku dan kemudian ia merespon dengan baik judul yang aku berikan. Aku tahu karakternya walau judulku jelek pun dia berucap bagus karena takut tidak membangun jiwa optimis di diri mahasiswa. Banyak kemudian yang bertanya kenapa aku memilih dia daripada Dr. Hamdan Tri Atmaja, M.Pd.
Dua dosen yang ditawarkan jurusan padaku memang dosen yang memiliki nama besar karena kualitas dan kredibilitasnya yang tidak bisa di ragukan lagi. Mitos yang berkembang di kalangan mahasiswa tentang mereka berdua pun berragam. Namun intinya kedua dosen tersebut detail ketika bimbingan skripsi. Muhammad Shokheh, S.Pd.,M.Pd terkenal dengan mahasiswa harus memiliki refrensi yang banyak ketika membuat skripsi dan Dr. Hamdan Tri Atmaja, M.Pd terkenal dengan analisinya yang membuat mahasiswa wajib berpikir keras. Dan dua dosen tersebut adalah dosen yang rajin memberikan nilai untuk saya E ( nol ). Dari data yang ada aku mendapatkan sekitar 22 mata kuliah yang E, sumbangan terbesar adalah dari Muhammad Muhammad Shokhe, Dr. Hamdan Tri Atmaj, Sunarjan dan Ibnu Sodiq. Ke empat dosen tersebut merupakan donator setia. Lebih karena tak sempat mengerjakan tugas membuat aku tidak bisa mendapatkan nilai. Jika mendapatkan nilai E dari selain dosen diatas lebih karena saya bosan dengan pembelajaran yang diberikan di ruang kuliah. Jika tidak menarik sama sekali maka saya langsung tidak mau berangkat sama sekali sampai perkuliahan selesai. Tidak mau ada paksaan ketika belajar. Dengan kesombonganku dulu sering aku berkata “ saya tidak mau sudah membayar mahal kuliah, dipaksa-paksa dan paksaan itu untuk hal yang tidak bermutu. Itu bagai orang tolol yang tak pernah merdeka “
Masa mengais SKS memang cara barbar karena seperti system kerja paksa. 21-23 SKS mata kuliah diwajibkan di tempuh tiap semester dan itu tidak membuat mahasiswa memahami secara mendalam karena terlalu banyak beban. Belajar sosial bukan perkara mudah bahkan enteng. Perlu kemampuan kognitif yang tinggi ( daya hafal ), kemampuan pemahaman yang mendalam dan pengambilan pemaknaan yang sangat tepat. Dan itu tidak dapat diperoleh dengan kecepatan tinggi namun harus lambat. Jika itu dilakukan cepat pastilah akan berujung pada kesia-siaan karena hanya lupa. Banyak mahasiswa yang tidak memahami manfaat yang di dapatkan dari belajar ilmu sosial. Mereka masih memahami skill yang diperoleh dari kuliah orang teknik, sains, olah raga dan sosial itu sama. Missal teknik, mahasiswa dapat memperbaiki mobil, sains mahasiswa dapat membuat lubang biopori dan olah raga dapat melakukan sprint dengan kecepatan tinggi. Sosial tidak bisa disamakan dengan kemampuan mereka di cabang ilmu lain. Ilmu sosial memang membuat skill mereka tidak terlihat jelas atau lebih tepatnya tidak memiliki keahlian secara nyata. Padahal ilmu sosial sangat nyata dalam skill yang akan di dapatkan. Ilmu sosial bukan kita menjadi orang sosial yang baik di masyarakat. Bagi saya ilmu sosial adalah modal dasar sebelum memahami ilmu lain. Disinilah ilmu kehidupan akan di dapatkan dan bagaimana menaklukan kehidupan ? ya dengan ilmu sosial. Orang kaya, orang rupawan dan bahkan yang memiliki kedudukan pun belum tentu menaklukan kehidupan dan bahkan mereka kadang menjadi budak dari kehidupan mereka sendiri.
Kini tiba masanya menuju masa renaissance ( pencerahan ) dan inilah masa skripsi. Dan masa ini saya dibantu oleh Muhammad Muhammad Shokheh . Saya memilih beliau karena saya lebih paham beliau dari pada Hamdan Tri Atmaja. Walau mungkin pemahamanku tak tepat sasaran. Ia pernah menjadi DOMONG ( dosen pamong) kala aku PPL di SMP N 8 Magelang. Saya memahami cara dia membimbing mahasiswa. Dan paham bagaimana karakternya. Ia sebagai mantan aktivis mahasiswa yang agamis. Menjadi pribadi yang sebenarnya tidak cocok dengan aku dengan tipe frontal, anarkis dan urakan. Kalau bahasa halusnya kadang aku dianggap revolusioner . walau lebih tepatnya aku mungkin masuk dalam involusioner . apalah itu postmodern memang tak ada yang mutlak dalam penilaian apapun.
Perbedaan itu yang aku coba jembatani dengan memahami beliau. Dan tanpa menghilangkan karakterku. Tidak mungkin aku kemudian mengajak bercanda atau berkata yang ekstrim pada orang-orang tipe dia yang lurus dan memegang ketaatan yang tinggi akan komitmennya. Pernah saat di Rambe anak , Muntilan. Sebuah kota di Magelang yang menjadi kediaman beliau, aku melakukan candaan kecil dengan Ibnu Facrudin. Dan raut muka pak Muhammad Shokheh berubah seperti meluapkan emosi kecil.
“ Aku kosnya tutup jam 9 kok jadi wajib pulang cepat “ curhat Ibnu Facrudin pada mahasiswa lain yang ikut bimbingan PPL di rumah Pak Muhammad Shokheh.
“ kok kaya Kos IR ?” Celetuk salah satu kawan
“ mending IR lah daripada PKM FIS, jam 7 malam sudah tutup” ucapku pada Ibnu Facrudin
“ hahahha iya, aku mending jadi anak IR ya “
“ hahhaha iya , anak IR . IR singatan dari inalilahi rojiun “ candaanku kocak yang membuat forum tertawa.
( Kawan PPL yang diampuh Muhammad Shokheh, S.Pd.,M.Pd di Rambeanak Muntilan)
Dan tawaku lebih keras lagi karena melihat rangkaian plakat di atas rak buku yang merupakan plakat hasil mengisi acara KAMMI. Organisasi di mahasiswa yang kebanyakan menggunakan kos IR atau kadang disebut kos basmalah. Dalam hati aku Cuma berkata “ brandal berani ngece langsung di sarang lawan hahahha “
Atau ketika aku menyidir secara kasar tentang beliau di status FB. Ia pun komentar bahwa harus bertutur kata yang baik untuk menunjukkan intelektualitas. Dan aku pun tak terima itu dengan membalas komentar lebih pedas padanya. Dan kata beberapa mahasiswa itu seperti peperangan mahasiswa dengan dosen. Namun menurutku itu hanya forum diskusi yang dibumbui sedikit gaya brandal yang bebas berpikir.
Mungkin pun beliau memahami karakterku yang memang suka blak-blakan, tidak mau diatur dan nakal. Dan pemilihan terhadap beliau sebagai dosen pembimbing lebih karena sebagai bentuk terima kasih karena beliau membimbing saya dengan cara berbeda.
( Kawan PPL yang diampuh Muhammad Shokheh, S.Pd.,M.Pd di Rambeanak Muntilan)
Dan tawaku lebih keras lagi karena melihat rangkaian plakat di atas rak buku yang merupakan plakat hasil mengisi acara KAMMI. Organisasi di mahasiswa yang kebanyakan menggunakan kos IR atau kadang disebut kos basmalah. Dalam hati aku Cuma berkata “ brandal berani ngece langsung di sarang lawan hahahha “
Atau ketika aku menyidir secara kasar tentang beliau di status FB. Ia pun komentar bahwa harus bertutur kata yang baik untuk menunjukkan intelektualitas. Dan aku pun tak terima itu dengan membalas komentar lebih pedas padanya. Dan kata beberapa mahasiswa itu seperti peperangan mahasiswa dengan dosen. Namun menurutku itu hanya forum diskusi yang dibumbui sedikit gaya brandal yang bebas berpikir.
Mungkin pun beliau memahami karakterku yang memang suka blak-blakan, tidak mau diatur dan nakal. Dan pemilihan terhadap beliau sebagai dosen pembimbing lebih karena sebagai bentuk terima kasih karena beliau membimbing saya dengan cara berbeda.
Saya yakin masa skripsiku sangat baik jika dibimbing beliau. Masa dimana aku memberikan segenap cintaku untuk hal yang aku sukai. Dan Muhammad Shokheh pun pasti paham aku dan apa yang aku inginkan tidak bisa di ganggu gugat.
Skripsiku itu adalah 3 gambaran utama kuliah yang sudah aku jalani. Aku sebagai manusia kontroversial, aku sebagai penulis di Exsara dan aku sebagai orang yang pernah ingin masuk sastra dan pernah berkecimpung di dunia analisis untuk pencarian makna kebenaran yang harus di lakukan, Advoksi BEM FIS. Dan sejarah merupakan pertemuan dari muara 3 gambaran utama yang aku gambarkan.
Aku kini dalam pengasingan paling menyenangkan seperti pengasingan yang dirasakan M. Hatta. Senantiasa bermesraan dengan buku dan menulis. Walau di sisi lain kini banyak kawan yang mencari keberadaanku karena aku lenyap dari peredaran komunitas-komunitas kecil. Aku dianggap tergilas zaman tak mau memikirkan hal sederhana yang berdampak besar. Padahal aku masih disini dan tetap sama. Aku menjadi DPO oleh kawanku dan aku pun menjadi manusia yang tiba-tiba hadir kembali.
NANTIKAN CATATAN YANG MENGULAS BIMBINGAN ALA MR SHOKHEH
SALAM MERDEKA !
Posting Komentar