Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal

SEJARAH : SEBAGAIMANA YANG SEHARUSNYA TELAH TERJADI

( Tiga Keranjang karya Prof. DR. Abu Su'ud ) Orang kebanyakan di manapun di dunia, termasuk di Amerika, biasa mengatakan agar kita menyampaikan apa adanya. Ungkapan tadi secara tidak sadar seperti menyampaikan pendapat sejarawan terkenal dari Jerman, Leopold von Ranke. Untuk menulis sejarah haruslah apa adanya. Sesuai dengan kalimat aslinya dikatakan "wie es eigentlich gewesen", atau “how it really was”. Namun dalam kenyataannya ungkapan itu sulit dilaksanakan. Ternyata tidaklah sama antara pertanyaan “Apa yang terjadi (hapened?”, “Apa yang kita ingat (recall)?”, “Apa yang dapat kita temukan kembali (recover)?”, “Apa yang dapat kita susun (relate)?”.Sama sulitnya juga bagi kita bagaiamana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Seringkali kita sangat tergoda untuk menyampaikan berbagai peristiwa sebagaimana kita harapkan terjadi, ketimbang apa yang sesungguhnya terjadi. Bernard Lewis menawarkan tiga tipe batasan tentang sejarah, lengkap dengan ilustrasinya dengan peristiwa yang terjadi dalam sejarah di Timur Tengah. Ketiga tipe sejarah itu yaitu “sejarah sebagaimana diingat (history-remembered)”, “sejarah sebagaimana ditemukan kembali (recovered)”, dan “sejarah sebagaimana ditemukan yang belum dikenal sebelumnya (invented)”. Dalam kesempatan ini Bernard Lewis melengkapi pandangannya tentang pengungkapan fakta sejarah dengan ilustrasi yang tepat, yaitu sejarah yang terjadi di Timur Tengah, khususnya dunia Islam. Contoh yang paling jelas adalah tentang penyusunan kembali sejarah hilangnya kejayaan Spanyol Islam. Dengan jatuhnya Granada pada tahun 1492, benteng terakhir kekuatan kaum Muslim di Semenanjung Iberia, berakhir sudah dominasi Muslim di sana. Kekuasaan Muslim di sana telah berlangsung selama lebih dari delapan ratus tahun. Pada tahun yang sama menyusul pengumuman dari para raja Katolik untuk mendirikan kerajaan-kerajaan Kristen di bekas kekuasaan ‘bangsa Moor dan Yahudi’ di seluruh tanah raja-raja Kristen di Spanyol. Kaum Muslim Spanyol banyak yang melarikan diri ke Afrika Utara, dan sebagian kecil saja dari mereka ke Timur Tengah. Dan untuk beberapa lama kenangan dan nostalgia pada tanah Andalusia yang telah hilang, masih bertahan. Pada awal abad ke 17 seorang sejarawan bangsa Maroko bernama al-Maqqari berhasil menyusun sebuah karya ensiklopedia yang cukup lengkap tentang riwayat perjalanan sejarah Spanyol Islam dari awal hingga akhir kajayaannya. Pada bagian terakhir sejarah kerajaan Muslim tersebut, tanah yang hilang tersebut yang telah lama memerintah dengan peniuh kejayaan, telah dilupakan oleh dunia Islam. Barangkali sedikit kenangan masa lampau yang penuh kejayaan itu masih tersisa di kalangan katurunan kaum pelarian yang tinggal di Afrika Utara. Selebihnya semua masa lampau yang jaya dari Spanyol Islam telah hilang dari kenangan. Dan penyusunan kembali sejarah periode ini seluruhnya merupakan hasil kerja sejarawan Eropa, termasuk bangsa Spanyol sendiri serta dari kebangsaan lain. Karya Al-Maqqari tentang kejayaan Andalusia diterbitkan untuk pertama kalinya di London pada 1840, yang merupakan hasil terjemahan ke bahasa Inggris yang tidak begitu baik oleh ilmuan Spanyol bernama Pascual de Gayangos. Sejarah Spanyol Islam sangat memikat perhatian orang Eropa di awal abad 19, karena menyimpan banyak sekali kekhasan Spanyol yang menjadi salah satu komponen karya sastra yang penuh romantika. Dalam salah sebuah karya Washington Irving misalnya, ditulis tentang masa tenggelamnya kejayaan Alhambra dan tenggelamnya kejayaan Spanyol Muslim. Kemudian kita juga bisa membaca karya sejarawan Perancis bernama Louis Viardot, buku berjudul ‘Essai sur I'histoire des arabes et des maures d'Espagne’, atau ‘Esei tentnag sejarah bangsa Arab dan Moor di Spanyol’, yang terbit di Paris pada 1833. Karya kaum Muslim tentang masa Spanyol Muslim yang pertama diterbitkan di Istanbul, pada 1863- 1864. Buku itu merupakan terjemahan dalam bahasa Turki dari buku berjudul ‘Bangsa Maghribi terakhir’ yang diterbitkan di Aljazair. Perhatian bangsa-bangsa Arab untuk menulis tentang masa lampau Spanyol Muslim tampaknya terangsang oleh dua hal. Pertama dan terutama, adalah kehadiran utusan Muslim dalam sebuah kongres kaum orientalis internasional. Di sana mereka berkenalan dengan kaum orientalis Eropa yang banyak memaparkan sejarah masa-masa Spanyol Muslim. Yang kedua adalah keputusan Sultan Abdulhamid II dari Kesultanan Turki Bani Usmani pada 1886 untuk mengirim utusan ke Spanyol para ahli untuk mencari naskah-naskah berbahasa Arab di sana. Maka segera beruntun datang para utusan dari Turki, Mesir, dan berbagai negeri Muslim lainnya, bahkan dari India. Di sana mereka menekuni daerah-daerah penggalian purba di masa Spanyol Muslim. Dan segera karya-karya tentang Spanyol diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Arab, Turki maupun bahasa penduduk Muslim lainnhya, termasuk karya-karya sastra tentang romantika masa lampau di Spanyol Muslim, seperti mislanya tentang legenda Cordoba di masa keemasan. Kenangan akan Andalusia membangkitkan emosi yang mendalam yang dibutuhkan oleh kaum intelektual Muslim. Sebagai salah satu pengaruh dari proses pendidikan yang mereka peroleh dari Eropa, mereka makin menyadari betapa kelemahan maupun kemunduran yang mereka alami. Selanjutnya mereka telah mendapatkan dukungan dan kenyamanan dari kenangan akan kehadiran sebuah negeri Muslim di Eropa yang besar, kaya beradab, dan kuat, Mereka meyakini bahwa negeri itu telah menjadi pembimbing dan pemimpin bagi peradaban Eropa. Pada saat-saat ketika dunia Islam mengalami kemunduran dan kekalahan mereka justru mendapatkan peluang untuk menyamakan kondisi mereka dengan senjakala yang semarak dari Alhambra. Kejayaan Andalusia telah menjadi tema yang digemari para pesyair maupun novelis dalam mengungkapkan nostalgia. Keberhasilan,yang sesungguhnya maupun yang hanya diangan-angankan, tentang peradaban Arab-Spanyol yang besar digunakan sebagai dalih dalam penulisan romantika sejarah peradaban Islam ketika menyaksikan kemunduran Islam serta timbulnya perasaan kurang percaya diri yang disebabkan oleh pengaruh tekanan Barat. Kenyataan bahwa sejarah maupun peradaban bangsa Spanyol Islam itu diketahui oleh mereka karena jerih payah Barat tak ayal dirasakan bagaikan menelan pil pahit. Itu sebabnya kenyataan sejarah itu pada umumnya tersembunyi dan sejumlah “sejarawan” Muslim bersikap agak berlebihan, dengan mengatakan bahwa semua kejayaan masa lalu dalam sejarah Islam maupun sumbangan Spanyol Muslim bagi peradaban Eropa telah sengaja disembunyikan karena rasa kedengkian dan penuh prasangka dari sejarawan Eropa. Bagi para sejarawan Muslim dari bangsa Arab Spanyol, Spanyol Islam merupakan sumber mata air kesenian dan ilmu pengetahuan yang menjadi sumber perkembangan peradaban Eropa yang asli dan terbaik. Keyakinan seperti itu mempunyai dua manfaat. Di satu sisi, membangkitkan kebanggaan yang telah hancur yang dialami masyarakat Muslim yang telah ditaklukkan. Pada sisi lainnya, lebih meyakinkan akan kebenaran anggapan bahwa peradaban Islam yang berkembang di Spanyol Islam telah diterima masyarakat Eropa sebagai sumber asli. Peradaban itu telah menganjarkan semangat toleransi. Salah satu makna toleransi itu adalah hilangnya saling permusuhan di antara komunitas yang berbeda. Itulah yang dikemukakan sebagai toleransi yang diajarkan Islam. Pengertian lain dari toleransi adalah tidak adanya diskiminasi, serta kesamaan hak dan kewajiban di antara sesama warga masyarakat, tanpa memandang perbedaan suku bangsa, asal usul, keprcayaan. Bagi ahli hukum Islam toleransi dalam Islam dimaknakan sebagai kesamaan setiap warga masyarakat di muka hukum.

Related Post



Posting Komentar