Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal

MEDIA DAN PESAN ( nukil buku Tiga Keranjang Sejarah Karya Prof DR. Abu Su'ud )

Ungkapan paling awal dari kenangan kolektif tentang masa lampau sesuatu komunitas biasanya berbentuk tak tertulis. Di sejumlah tempat di Afrika misalnya, nyanyian yang disenandungkan oleh suku-suku bangsa pada kesempatan pertemuan tahunan hasil ternak mengandung sejarah suku bangsa yang mencakup sejumlah generasi, dan kadangkala meliputi masa tiga abad lamanya. Biasanya secara kronologis kisah-kisah tentang peristiwa yang terjadi tidak begitu jelas, namun seringkali berbagai persaksian yang diceritakan oleh para musafir asing, seperti dari bangsa Arab maupun Portugis, bisa lebih menjelaskannya yang mendekati akurasi kejadian yang sesungguhnya. Epos tentang Homerus dari Yunani kuno, legenda dari penduduk Iceland, mitologi pertempuran di kalangan bangsa Arab sebelum masa Islam dsb. mengandung maksud yang sama. Syair-syair kepahlawanan di kalangan bangsa primitif itu mengisahkan perjuangan di antara para pahlawan dalam menegakkan kebenaran, yang mengokohkan nilai moral cerita. Tentu saja hal itu tidak hanya berlaku pada kejadian historis yang betul-betul terjadi, melainkan juga pada mitologi agama, maupun cerita yang murni fiktif. Biasanya kisah-kisah itu berkenaan dengan konflik atau pertempuran antara tokoh-tokoh pahlawan yang melawan kekuatan dari luar. Tokoh musuh dari luar itu bisa mewakili dunia manusia biasa, dewa maupun makhluk setengah dewa. Yang menarik adalah bahwa dalam kisah-kisah kepahlawanan itu nilai utama yang ditonjolkan adalah hakekat perjuangan serta kualitas yang yang terkandung di dalamnya, dan bukan hasil akhir perjuangan itu sendiri. Barangkali pahlawan dalam kisah itu justru mengalami kekalahan. Peristiwa kepahlawananitu barangkali justru berakhir dengan kekalahan atau kematia n tokoh pujaan mereka. Hal yang penting dari kisah itu justru harga diri dan keberanian dari sesuatu suku bangsa. Barangkali pemujaan orang Yahudi atas Masada termasuk peristiwa baru, karena mereka tidak mengalami langsung. Berbeda halnya dengan bangsa Serbia yang langsung mengalami peristiwa pertempuran Kosovo pada tahun 1389, yang dirasakan benar sebagai peristiwa heroik bagi bangsa Serbia. Nyata sekali diceritakan dalam sejarah betapa Kosovo mengalami kekalahan oleh serbuan pasukan Turki, yang telah berakibat pada penguasaan Turki atas bangsa Serbia. Bagi para penyair Serbia akhir peristiwa itu tidak menjadi masalah, namun yang lebih penting adalah kepahlawanan para pejuang Serbia serta raja mereka. Kisah mengenai pertempuran Kosovo itu telah berhasil mengobarkansemangat perlawanan bangsa itu terhadap setiap penyerbuan atas negeri mereka selama berabad lamanya. @@@ Kebanyakan masyarakat primitif memiliki kisah-kisah kepahlawanan yang telah menjadi sebuah kenangan kolektif bagi sesuatu kelompok masyarakat, dan telah berhasil mengarahkan terjadinya kesetiaan-kesetiaan bagi anggota dalam sesuatu kelompok tertentu, hingga mampu mendorong terjadinya sesuatu peperangan antar kelompok dan berbagai macam konflik lain. Ternyata jenis kisah-kisah yang berfungsi seperti itu, baik yang bersifat kesejarahan maupun tidak, sama sekali bukan hanya terbatas dimiliki oleh masyarakat primitif. Tampaknya ada perbedaan yang penting yang membedakan antara kisah-kisah yang lahir secara spontan dalam masyarakat, yang disebut ‘epos primer’, maupun ‘epos sekunder’, yang sengaja disusun atas dasar peristiwa-peristiwa yang yang sungguh terjadi dan yang dirayakan setiap saat. Kisah jenis yang kedua yang disebut ’epos sekunder’ itu merupakan jenis yang tersurat, tertulis, dan lebih tersusun sebagai hasil peradaban yang lebih maju. Kita bisa mengambil contoh dalam masyarakat yang lebih kuno, misalnya dalam syair-syair dalam peradaban Yunani dan Romawi, yang mengandung perbedaan yang nyata. Syair-syair tentang pahlawan Homerus terlihat lebih spontan dan primer sementara epos tentang Aeneid dari Virgil dalam masyarakat Romawi terasa lebih menggambarkan kesadaran diri serta bersifat rekaan ulang. Kisah-kisah itu merupakan karya masyarakat kerajaan, dan bukan masyarakat pahlawan. Kisah-kisah itu bukan merupakan tradisi yang hidup, melainkan sebuah temuan berujud sastra. Katya sastra itu lebih merupakan rekaan yang disesuaikan dengan fantasi masa lampau. Lebih dari itu semua karya-kartya sastra itu menjadi media yang berisi pesan untuk mempromosikan kebijakan penguasa baru, yaitu Kaesar Agustus dari Romawi. Perbedaan seperti tersebut di atas bisa kita samakan dengan yang terjadi antara kisah-kisah yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama dengan peristiwa dalam masa terkini. Kisah-kisah tentang Exodus yang dialami Bani Israil di bawah kepemimpinan Nabi Musa dalam Perjanjian Lama masih selalu diperingati orang Yahudi di masa modern sekarang. Dalam masyarakat Nasrani juga diperingati setiap tahun peristiwa-peristiwa utama yang berkaitan dengan sejarah perkembangan agama. Lambang palang salib misalnya, merupakan salah satu lambang yang senantiasa diyakini sebagai pengakuan akan kebenaran peristiwa ‘penyaliban’ atas Yesus Kristus. Demikian juga peringatan Hari Natal, yang merupakan hari kelahiran Nabi Isa, diyakini terjadi dalam bulan Desember tanggal 25, meskipun sebenarnya di kalangan ahli sejarah masih diragukan kebenarannya. Demikian juga yang terjadi dengan peringatan Paskah yang dilakukan berkaitan dengan Hari Wafat dan Kenaikan Yesus Kristus atau Nabi Isa. Peristiwa yang terakhir ini dianggap tidak diragukan kebenarannya dan keasliannya, dan bukan rekayasa. Di samping itu penganut agama Nasrani masih juga memperingati hari-hari besar yang berkaitan dengan hari wafatnya para orang suci (santo) atau para martir (syuhada) yang meninggal sebagai tumbal. Sebagaimana dalam agama Yahudi dalam agama Nasranipun kebaktian atau liturgi merupakan wujud peringatan kepahlawanan yang terjadi di masa lampau. Islam sebagai agama lebih memiliki sejarah yang terbuka, termasuk proses kelahirannya di banding agama-agama serumpunnya, yaitu Yahudi maupun Nasrani. Misalnya, kita tidak tahu secara jelas siapa pendiri agama Yahudi, demikian juga dengan agama Nasrani. Yang jelas adalah bahwa pendiri agama Nasrani telah wafat di tiang salib, dan pengikutnya mengalami nasib buruk selama awal perkembangan, yaitu menjadi golongan minoritas dalam dominasi Romawi selama berabad-abad. Tidak demikian halnya dengan agama Islam. Pendirinya, yaitu Nabi Muhammad, selama hidupnya bergelut dengan penyebaran agama Islam. Lebih dari itu nabi pendiri itupun telah menghabiskan umurnya untuk mempraktekkan ajaran agamanya dalam raranan masyarakat, baik sebagai kepala negara, panglima tentara maupun sebagai hakim agung. Sejarah tentang perkembangan agama Islam menyatu dengan sejarah hidup Nabi Muhammad. Oleh karenanya barangkali peringatan-peringatan keagamaan yang utama tidak berkaitan dengan peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan nabi, melainkan berkaitan dengan hal lain, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Ad-ha. Hari Raya Idul Fitri dirayakan seusai melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan. Sedangkan Hari Raya Idul Ad-ha merupakan upacara ritual yang dilaksanakan untuk mengenang peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim, istrinya dan anaknya, Nabi Ismail. Peringatan itu juga dilakukan oleh mereka yang melaksanakan ziarah ke dua tempat paling suci, yaitu Mekah dan Medinah. Peringatan yang lebih kecil dilakukan untuk mengenang kematian para orang suci atau wali. Dalam masyarakat Yahudi kebiasaan menuliskan kalender sejarah dikenal dengan nama ‘taqwim’, yang memasang rangkaian ulang tahun peristiwa penting di masa lampau. Adapun maksud peringatan-peringatan itu dipasang adalah untuk membantu penyelenggaraan peringatan sekaligus untuk membantu melakukan prediksi masa depan. Sampai masa modern sebagian besar peringatan-peringatan itu diselenggarakan dengan cara keagamaan. Termasuk yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang sekuler, di sana para pendeta memegang peranan besar dalam penyelenggaraannya, misalnya yang berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Amerika maupun Hari Penjebolan Penjara Bastille di Perancis. Gerakan yang berbau romantisme, yang penuh gambaran kejayaan di masa lampau, seperti tertera dalam novel-novel sejarah, telah melakukan sejumlah upaya yang berhasil mempengaruhi bentuk citra masa lampau yang terkenal. Selama abad ke 19 dan awal abad ke 20 para penulis novel sejarah bangsa Yahudi, Arab, Persia, maupun Turki telah berhasil membangun citra diri pada masyarakat sebagai pembaca yang terdidik secara sekuler, yang berguna bagi pencapaian konsekuensi politik.

Related Post



Posting Komentar