Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal
Home » sejarah » MASADA DAN CYRUS
MASADA DAN CYRUS
( Oleh Prof DR. Abu Su'ud )
Pendahuluan
Peringatan peristiwa-peristiwa sejarah dengan menyelenggarakan festival merupakan kebiasaan orang Timur Tengah kuno yang masih dilaksanakan sampai sekarang. Perayaan semacam itu diselenggarakan juga sebagai upacara kenegaraan di masa modern, sementara di masa-masa sebelumnya diselenggarakan dengan cara perayaan keagamaan yang didahului dengan ritus puasa. Dalam masa-masa yang lebih kemudian perayaan-perayaan itu ditambah dengan bentuk baru, yaitu perayaan hari kemerdekaan negara baru di kawasan Timur Tengah maupun perayaan hari ulang tahun atau peringatan kemenangan revolusi maupun pembebasan berupa rentetan kudeta yang terjadi. Hari-hari itu kemudian dikenal sebagai “hari besar nasional”.
Salah satu hari nasional yang diperingati oleh bangsa Turki, misalnya, adalah peristiwa kemenangan Turki atas Konstantinopel yang diperingati terjadi 500 tahun silam. Peringatan ulang tahun ke 500 dirayakan pada tahun 1953. Di Kairo pemerintah Mesir pada tahun 1969 menyelenggarakan upacara peringatan yang ke 1000 tahun berdirinya kota Kairo oleh Khalifah al-Mu'izz dari dinasti Fatimiyah. Pada tahun 1971 bangsa Turki juga memperingati peristiwa penaklukan kaum Muslimin- Turki atas Anatolia yang semula dikuasai kaum Nasrani-Yunani, yang ditandai oleh kemenangan pasukan Turki di Manzikert 900 tahun silam. Di samping peringatan semacam itu masih ada jenis peringatan atas kalahiran, keberhasilan, atau kematian tokoh, baik lokal, maupun nasional. Tokoh itu dipahlawankan oleh manusia, sehingga tempat kelahirannya diperingati oleh mereka.
Peringatan yang ke 1000 tahun hari kelahiran Avicenna juga dirayakan di kawasan-kawasan Muslim seperti Arab, Persia, maupun Turki. Karena tokoh itu dianggap sebagai pahlawan bersama, yang dilahirkan di Bukhara, Uzbekistan.
Di kawasan Timur Tengah peringatan peristiwa-peristiwa historis itu kebanyakan mulai jarang dirayakan. Kita melihat adanya dua kecenderungan dalam bentuk peringatannya. Pada beberapa negeri memang masih diperringati secara besar-besaran sbagai peristiwa utama. Salah satunya adalah peringatan atas perjuangan mati-matian kaum Yahudi menjelang kejatuhan Masada dalam pemberontakan kaum Yahudi melawan penguasa Romawi pada tahun 66 Masehi. Peristiwa yang lain berkenaan peringatan yang diselenggarakan Shah Iran untuk merayakan dibangunnya kekaesaran Persia 2500 tahun silam oleh Cyrus Agung. Keduanya memiliki kesamaan dalam motif penyelenggaraannya. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa perayaan itu diselenggarakan penuh bernuansa politik, dalam artian untuk membangun citra kemegahan secara politik maupun kejayaan militer. Ini menjadi berbeda dengan motivasi yang bersifat keagamaan seperti di masa-masa sebelumnya. Keduanya juga bersandar pada dukungan resmi negara.
Peringatan atas kejayaan Cyrus dimaksudkan untuk kepentingan Shah sendiri dalam membangun citra bahwa Shah Iran, Muhammad Riza Pahlevi adalah penerus kejayaan Cyrus. Hal yang sama juga dilakukan oleh Saddam Hussein yang menempatkan dirinya sebagai penerus kejayaan Kaesar Hammurabi di masa Babylonia. Sedangkan peringatan Masada oleh pemerintah Israel dimaksud untuk membangun citra kepahlawanan bangsa Israel dalam perjuangan melawan dominasi bangsa asing, yaitu Romawi.
Tergugah oleh kisah sedih berupa kekalahan mereka oleh Romawi, mereka ingin bangkit menemukan harga diri bangsa dalam kejayaan militer. Reruntuhan Masada yang telah mengubur tulang belulang prajurit Yahudi di masa lampau, telah membangun paratrop Israel modern yang bersemboyan sangat imajinatif : “Masada tak akan dikalahkan lagi”. Keduanya telah menjadi momentum strategis untuk diperingati sebagai hari perayaan nasional.
Peristiwa yang diperingati oleh kedua bangsa itu memang bertolak belakang, yang satu sebuah kekalahan dan kehancuran, dan yang lain sebuah kemenangan berupa membangun kerajaan, namun telah menimbulkan sebuah semangat yang sama, yaitu pengabdian dan kepahlawanan.
Kedua peristiwa sejarah tersebut, Masada maupun Cyrus, nyaris sudah dilupakan oleh kedua bangsa itu, Israel maupun Iran, namun peristiwa-peristiwa itu telah ditemukan kembali (recovered) dari sumber lain dari luar tata nilai budaya mereka.
Pengalaman Istrael
Tradisi sistem Rabbi mereka maupun dalam tradisi agama Yahudi lainnya tidak mengenal kata Masada. Dalam literatur kerabbian maupun bahasa Ibrani bahkan tidak menemukan kata itu. Satu-satunya sumber informasi tentang kasus Masada hanyalah sebuah kronik susunan Josephus, seorang Yahudi yang telah murtad. Kronik itu ditulis dalam bahasa Yunani tentang warisan budaya tradisional Yahudi. Dari sebuah adaptasi kronik Josephus yang dilakukan oleh seorang Yahudi Italia samar-samar diketahui cerita tentang Masada. Adaptasi itu memang banyak dikutip dan dibaca masyarakat Yahudi sejak abad 10 Masehi.
Kajian sudah dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu kajian arkhaeologis dan kajian literer terhadap literatur keagamaan. Antara lain kajian terhadap Kitab Taoret, yang dimulai dari cerita tentang perpindahan yang dilakukan nenek moyang bangsa Israel, yaitu Nabi Ibrahim, dari Negeri Ur di Khaldea ke Mesir. Selanjutnya juga dilakukan kajian mengikuti ‘exodus’ atau perpindahan besar-besaran dari Mesir ke Tanah yang dijanjikan, yaitu Kanaan di Palestina. Di Bukit Tursina untuk menerima ‘Perintah Yang Sepuluh’.
Dalam kajian arkhaeologis ditemukan petunjuk penaklukan Kekaesaran Romawi atas tanah orang Israel. Demikian juga mereka yang mati-matian mempertahankan Masada juga telah dilupakan oleh bangsanya, namun dikenang oleh seorang Yahudi yang telah murtad, dan menuliskannya dengan bahasa asing dan untuk orang asing. Namun kedua peristiwa itu, Masada dan Cyrus, kemudian ditafsirkan, dan diberikan peranan baru dalam sejarah modern dari bangsa yang terhormat.
Seperti sudah dikenukakan di depan pemerintah Israel modern telah memanfaatkan peristiwa Masada itu dengan maksud untuk membangun citra kepahlawanan bangsa Israel dalam perjuangan melawan dominasi bangsa asing, yaitu Romawi.
Pengalaman Persia
Apa yang terjadi dengan bangsa Persia tidak jauh berbeda dengan yang terjadi dengan bangsa Israel. Mereka juga nyaris tidak mengenal tokoh bernama Cyrus yang dikenal sebagai pendiri kekaesaran Persia itu, bahkan nama itupun asing bagi bangsa Persia. Cyrus memang sudah tiada sejak dua setengah milenium silam, dan sudah dilupakan oleh bangsa Persia, namun tetap dikenang dengan penuh hormat oleh bangsa lain. Sumber informasi tentang Cyrus berasal dari literatur asing berbahasa Yunani, sementara bangsa Persia memang bukan bangsa yang membaca literatur berbahasa Yunani maupun Injil.
Di samping itu ternyata ada kesamaan dalam cara maupun jalannya mereka menemukan kembali sejarah masa lampau yang nyaris tidak diketahui di antara dua bangsa itu, bahkan elemen-elemen dari peristiwa itupun mitip. Yang jelas mereka menggunakan kajian arkhaeologis maupun kajian kepustakaan. Mereka melakukan penggalian atas berbagai situs yang diperkirakan berkaitan dengan pembantaian di Masada. Di Persia para peneliti melakukan penggalian atas peninggalan yang berkaitan dengan kegiatan Cyrus sebagai pendiri Persia. Para ahli sejarah dan linguistik yang berebeda juga melakukan kajian atas literatur yang berkaitan dengan peristiwa terkait, terutama yang ditulis oleh para pemimpin agama.
Dari kajian-kajian itu berhasil ditemukan (discovered) dan disusun (recovered) sejarah masa lampau, setelah melakukan pendekatan kajian sejarah kritis yang dikembangkan oleh ilmuan modern Eropa. Kajian semacam itu tidak pernah dilakukan oleh para ilmuan lama sampai abad renaisanse. Temuan (invention) sejarah itu bukan merupakan temuan sesungguhnya, sebab yang ditemukan (invented) hanyalah peristiwa yang telah terjadi di masa lampau.
Nama Cyrus sebenarnya sudah sangat dikenal di Eropa Abad Pertengahan, dan bahkan nama itu dikenal dalam kisah-kisah kuno di Eslandia. Dalam masyarakat Islam nama itu tidak pernah dimunculkan dalam masyarakat Persia, Bahkan nyaris semua peristiwa yang berkaitan dengan masa-masa sebelum Islam telah disingkirkan dan secara harfiah dikuburkan dalam sejarah mereka.
Di Iran atau Persia situasi seperti yang terjadi di Mesir, dengan berbagai temuan arkhaeologis yang spektrakuler, meskipun agak terlambat diketahui oleh bangsa Iran sendiri. Berbeda halnya yang terjadi di banyak negeri berbahasa Arab, karena identitas mereka telah tenggelam dalam bangsa Arab Islam. Sebaliknya dari sekian banyak bangsa-bangsa yang dibebaskan oleh Arab Islam, merekalah yang bisa tetap bertahan dengan kondisi mereka. Bangsa Persia telah memeluk Islam, dan menggunakan huruf Arab, meski tetap berbicara dengan bahasa Persia. Mereka tetap mempertahankan bahasa asli mereka serta mempertahankan corak budaya asli secara terpisah. Kesadaran itu masih sebatas corak budaya dan belum sampai menjadi gerakan politik.
Sekitar satu atau dua abad kemudian setelah pembebasan oleh Arab Islam, bangsa Persia mulai berusaha untuk menghidupkan kembali tradisi penulisan sejarah nasional mereka, namun tidak banyak yang diperoleh. Kejayaan bangsa Sasanid di masa lampau hanya menjadi kenangan, namun hampir semua tokoh cikal bakalnya nyaris terlupakan. Bangsa Persia nampaknya mulai jatuh kembali pada sebuah mitologi yang kemudian berhasil membangun landasan bagai terbentuknya kisah kepahlawanan agung tentang Firdawsi, Sang Shahnama. Mereka juga berhasil menyusun penulisan sejarah Persia Muslim sebagai sejarah Iran kuno hingga masa kini. Agak bertentangan dengan kecenderungan itu adalah, bahwa kenangan bersama itu hanya meninggalkan dua nama tokoh besar dari kegelapan masa lampau, sementara nama-nama seperti Cyrus, Xerxes, sama sekali terlupakan
Nama Darius memang diingat dalam sejarah mereka, namun posisinya masih membingungkan, karena dirancukan dengan nama tiga kerajaan. Tokoh yang paling diakrabi oleh rakyat Iran justru Alexander, yang dianggap pahlawan dalam legenda bangsa Persia. Tokoh itu lebih dikenal dengan nama Iskandar. Sebagai seorang penakluk asing dari Makedonia tokoh itu justru diakui sebagai tokoh seorang pangeran pribumi Persia yang datang untuk merebut kembali tahta yang telah direnggut orang.
Kebangkitangairah untuk mendambakan kehadiran masa lampau dalam alur sejarah nasional Persia terlihat dalam karya-karya sejarawan modern, para novelis maupun para penyair yang berorientasi pada kepentingan sesuatu dinasti yang tengah berkuasa. Langkah-langkah tersebut memiliki beberapa maksud. Pertama, untuk mengokohkan semangat perlunya kesinambungan Persia dan identitas nasional bagi sebuah tanah air. Kedua, untuk menghubungkan hal di atas dengan institusi kerajaan sebagai sebuah daya pengikat maupun pusat kesetiaan. Selanjutnya, dimaksudkan juga untuk memperkuat kesadaran nasional, dan dalam waktu bersamaan, melemahnya pengaruh keagamaan seseorang. Dan tidak bisa dilupakan sebagai upaya untuk membuat bangsa Persia lebih dahulu merasa sebagai orang Persia, baru kemudian sebagai umat Muslim.
Pengalaman Mesir
Keberhasilan dunia menemukan kembali sejarah masa lampau Persia tampaknya merupakan hasil upaya yang tidak kenal lelah bangsa Eropa. Belakangan memang para ilmuan Rusia maupun Amerika terlibat juga dalam upaya itu. Sedangkan dalam masyarakat Muslim di Timur Tengah baru setapak demi setapak dimulai, termasuk yang dialami oleh Mesir.
Proses penggalian dan pencarian akar sejarah Mesir itu diawali dengan penggalian dan temuan Batu Rosetta. Setelah itu kajian juga dilakukan atas buku-buku sejarah masa lampau. Di sana diketemukan sebuah ketegangan antara dua buah kepribadian dalam masyarakat Mesir, antara yang Arab-Muslim dan yang Mesir asli. Di antara mereka terdapat sejumlah perbedaan, baik aspek identitas diri, aspek kenangan, maupun aspek sejarah masa lampaunya. Ketegangan itu seperti didramatisasikan oleh versi Quran dalam penceritaan tentang kisah ‘exodus’ Bani Israil. Dalam versi Quran Firaun digambarkan sebagai tokoh antagonis, sementara Bani Israil di bawah bimbingan Nabi Musa digambarkan sebagai pahlawan, bahkan lebih dari itu digambarkan sebagai ‘bangsa terpilih’ serta mendapat bimbingan Tuhan. Ketegangan itu berujung pada berkobarnya peperangan antara para pewaris Firaun dengan pewaris Bani Israil.
Dalam masa modern seorang penulis perempuan bangsa Mesir, menggunakan nama samaran Bint al- Shati’, yang berarti ‘Anak Perempuan Bengawan Nil’, telah menulis sebuah artikel yang amat atraktif dan provokatif beberapa hari menjelang Perang Enam Hari, antara Mesir dengan Israel. Tulisan itu seolah-olah menyalahkanversi Quran, dengan mengatakan bahwa Firaun (yang dimaksud adalah pasukan Mesir) adalah benar, dan Bani Israil (yang dimaksud pasukan adalah pasukan Israel) salah.
Pengalaman Negeri-Negeri Arab
Di negeri-negeri berbahasa Arab di Timur Tengah tanggapan atas temuan sejarah masa lampau mereka agak lamban, bahkan agak tidak bersemangat, karena dianggap kurang memiliki makna politik yang meyakinkan. Berbeda dengan yang lain adalah penguasa Irak yang agak memberi sedikit perhatian pada Assyria maupun Babylonia, meskipun tidak sampai mengidentikkan diri mereka dengan masa lampau yang penuh kejayaan itu. Ketika karya Bernard Lewis ini diterbitkan pada tahun 1987 Saddam Hussein belum berkuasa di Irak. Seperti halnya Shah Iran Muhammad Reza Shah Pahlevi yang berkuasa di Iran dan mengklain dirinya sebagai penerus Kaesar Cyrus, Saddampun pernah menyatakan dirinya sebagai penerus Kaesar Hammurabi dari Babylonia. Waktu Presiden Saddam digulingkan oleh Presiden Bush dengan serangan militer bersama sekutunya pada tahun 2003 masyarakat dunia menyaksikan patung-patung Saddam yang digambarkan sebagai Hammurabi ditumbangkan dengan traktor sebagai lambang penggulingan atas Saddam Hussein.
Di Lebanon lain lagi yang terjadi, yaitu kaum Maronit di sana merasa mereka sebagai penerus bangsa Phoenisia. Dengan sendirinya mereka dianggap oleh kaum Muslimin sebagai kekuatan yang anti-Arab ataupun anti pan-Arab. Situasi yang sama terjadi pula di Syria. Di sana Partai Rakyat Syria yang tidak mendukung gagasan ‘nasionalisme Arab’, karena mereka mengaku sebagai keturunan bangsa Aram Purba dan menghendaki pembangunan kembali peradaban Aram di Syria. Sayang sekali partai tersebut kemudian dinyatakan sebagai partai terlarang.
Sepanjang masa berkobarnya semangat pan-Arabisme telah ditemukan cara untuk mengatasi gejolak itu. Caranyta dengan melarang semua kecenderungan untuk kembali pada semangat kejayaan masa lampau, kecuali yang berorientasi pada Arab. Nampaknya ada beberapa jenis akibat yang terjadi pada beberapa daerah yang berbeda dengan kebijakan itu. Pertama, makin menguatnya penonjolan identitas ‘kearaban’, dan sekaligus menolak semangat “firaunisme’ seperti yang berkembang di Mesir. Kedua, semangat Arabisme yang telah berkembang sedemikian cepat, telah memberikan sumbangan besar bagi kemanusiaan. Dunia Arab bahkan mengklaim bahwa semua kemajuan yang dicapai merupakan hasil kerja keturunan Semitis di masa lampau. Ketiga, munculnya tuntutan bahwa bangsa Kanaan merupakan bagian dari bangsa Arab di Timur Tengah. Mereka menuntut Palestina sebagai milik bangsa Arab, sebelum Israel membangun permukiman di sana. Bukti sejarah menunjukkan bahwa ekspansi bangsa Arab sampai ke Afrika Utara bukan merupakan sebuah rangkaian penaklukan, melainkan sebuah proses pembebasan atas tanah-tanah yang telah dikuasai bangsa-bangsa Persia, Byzantium dan kaum penjajah lainnya.
Ketika semangat pan-Arabisme mulai menurun, mulai merebaklah gejala perlawanan terhadap semangat itu. Di Mesir misalnya, mulai menggeliat gerakan revivalisme Mesir yang berbeda dengan identitas Arab. Bahkan di negeri-negeri yang dikenal sebagai kawasan Bulan Sabit Sejahtera maupun di Afrika Utara pun, mereka cenderung mendambakan kembalinya kejayaan masa kekuasaan Phoenisia, Armenia, maupun Karthago di masa lampau. Meskipun demikian semangat itu hanya merupakan gerakan budaya dan tidak mempunyai kekuatan sebagai gerakan politik. Hal itu disebabkan karena pan-Arabisme tetap merupakan satu-satunya ideologi yang mapan dam efektif di kalangan rakyat. Satu-satunya gerakan penolakan terbuka terhadap semangat pan-Arabisme hanyalah dari kelompok kaum penyair yang menamakan dirinya sebagai ‘al-Rafidun’ atau kaum pembangkang. Syair-syair mereka menunjukkan kerinduan mereka akan datangnya kembali kejayaan masa-masa sebelum ‘Penaklukan Arab’, yang hendak dijadikan sebagai identitas bangsa. Gerakan itu mirip dengan gerakan kaum “Kanaanisme” yang muncul dalam periode Israel modern. Mereka merindukan kejayaan bangsa Israel yang dikenal sebagai ‘kaum jahiliah Yahudi yang sekuler’, sebelum kebangkitan “Yahudi yang bersejarah”.
Pengalaman Turki
Di Turki corak kerinduan pada masa lalu lebih unik lagi, karena bukan hanya dua melainkan ada tiga macam kecenderungan. Pertama, kerinduan akan kembalinya kejayaan masa Kekaesaran Turki di bawah Bani Usmani di abad pertengahan. Kerinduan ini paling merata di kalangan rakyat Turki, yang terungkap dalam buku-buku sekolah, syair-syair, maupun dalam kesadaran umum rakyat. Dari sejarah yang berhasil disusun tentang negeri-negeri Muslim abad 19 dan 20 dapat dilacak adanya dua arah yang berbeda, selain satu yang pertama di muka. Yaitu, yang menunjukkan sejarah Turki lokal sebelum kedatangan bangsa Turki dari Asia Tengah. Sejarah yang tersusun menunjukkan arah ke-kejayaan bangsa-bangsa dan peradaban kuno, seperti bangsa Anatolia, dan menjurus ke masa Hitttte. Tentu saja mereka tidak memasukkan bangsa Yunani maupun Armenia, yang tercatat bekerjasama dengan kaum Yahudi.
Yang ketiga, sejarah Turki yang mengarah pada uraian mengenai bangsa-bangsa Turki sebelum menetap di negeri Turki sekarang, artinya ketika mereka masih menetap di tanah leluhur mereka di Asia Tengah. Kembali kita menjumpai dua arah yang berbeda dalam arah uraian sejarah. Di satu sisi sejarah mengarah ke semangat patriotisme bangsa Turki yang senantiasa menunjukkan kesetiaan pada tanah yang mereka tinggali. Sebagaimana kita ketahui bangsa Turki telah mengembangkan diri di negeri-negeri baru dalam perjalanan hidup mereka, yang disebut sebagai ‘tanah air kedua’. Pada sisi lain sejarah mengarah pada semangat pan-Turkisme sebagai doktrin kebangsaan mereka atas dasar kesamaan identitas orang-orang dari berbagai negeri yang berbahasa Turki.
Di kalangan bangsa Arab semangat pencarian identitas diri mereka lebih menyukai yang berbau pan-Arabisme ketimbang yang berbau patriotisme lokal. Namun lama-kelamaan semangat yang lebih mementingkan lokalisme makin menonjol. Contoh yang paling menonjol adalah yang terjadi di Turki. Kemal Ataturklah yang mengobarkan semangat patriotisme lokal dan menolak membangkitkan semangat pan-Turkisme. Semangatnya itu dituangkan dalam program ‘Partai Rakyat Republik’ yang dipimpinnya pada tahun 1935. Dengan tegas semangatnya itu dinyatakan dalam penonjolan identitas politik dalam penulisan sejarah Turki. Dalam program partai dinyatakan, bahwa “tanah tumpah darah merupakan negeri yang suci dalam wadah batas-batas politik, tempat bangsa Turki hidup dalam pasang surutnya sejarah masa lalu, serta kejayaan masa lampau yang masih hidup di kedalaman tanah air.”
Posting Komentar