Di samping tanahnya sangat subur, Indonesia juga mempunyai kandungan alam yang
banyak, seperti minyak. emas, dan tembaga.Di antara bangsa-bangsa Barat yang datang di
Indonesia, Belandalah yang paling bernafsu menguasai Indonesia. Untuk melaksanakan tekadnya
itu Belanda mendirikan VOC. VOC adalah kongsi dagang Belanda yang mencari keuntungan yang
sebesarbesarnya di Indonesia. Oleh karena itu, mereka tidak menghiraukan kemajuan Indonesia.
Setelah satu abad malang melintang di Indonesia, pada tahun 1799 VOC dibubarkan.
Adapun sebab-sebab jatuhnya VOC antara lain karena korupsi yang merajalela di kalangan para
pegawainya. Selain itu, banyak pegawainya yang tidak cakap. Hal ini menyebabkan pengendalian
monopoli perdagangan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sebab lain adalah VOC banyak
menanggung hutang. Hutang tersebut akibat peperangan yang dilakukan baik dengan rakyat
Indonesia maupun dengan Inggris dalam memperebutkan kekuasaan di bidang perdagangan.
Selain itu terjadi kemerosotan moral di kalangan para pegawai akibat sistem keuangan yang dinilai
kurang transparan. Keserakahan VOC membuat penguasa lokal tidak bersungguh-sungguh
membantu VOC dalam perdagangan. Akibatnya, rempah-rempah yang diperoleh VOC tidak
seperti yang diharapkan. Penyebab terakhir adalah tidak jalannya Verplichte leverantien
(penyerahan paksa) dan Preangerstelsel (aturan Priangan) karena korupsi dan biaya pengeluaran
yang terlalu besar. Kedua aturan itu dimaksudkan untuk mengisi kas VOC yang kosong. Verplichte
leverentien mewajibkan penduduk menyerahkan hasil bumi berupa lada, kayu, kapas, beras, nila,
dan gula kepada VOC dengan tarif yang ditentukan VOC. Preangerstelsel mewajibkan rakyat
menanam kopi lalu menyerahkannya kepada VOC dengan tarif yang ditentukan VOC.
Setelah VOC bubar, Indonesia diserahkan kepada pemerintah Belanda (Republik Bataaf).
Pegawai-pegawai VOC menjadi pegawai pemerintah Belanda. Hutang VOC juga menjadi
tanggungan negeri Belanda. Dengan demikian sejak tanggal 1 Januari 1800 Indonesia dijajah
langsung oleh negeri Belanda. Sejak saat itu Indonesia disebut Hindia Belanda. Sejak itu di
Indonesia berlangsung masa kolonialisme.
Setelah Indonesia menjadi Hindia Belanda, ternyata nasibnya juga tidak lebih baik
dibanding masa VOC. Hal ini disebabkan karena karakter pimpinan kolonial di Indonesia yang
kurang bersahabat dengan rakyat dan tujuan Belanda menguasai Indonesia juga tidak berubah.
Indonesia yang sejak dahulu telah dikenal sebagai penghasil rempah-rempah, selalu menjadi
incaran banyak bangsa untuk menguasai Indonesia. Tidak heran banyak terjadi perang antarbangsa
untuk memperebutkan Indonesia(Wiharyanto,2007)
B. Penyelenggaran Pendidikan Zaman VOC
Sejak serdadu, pedagang dan imam portugis tiba di Pulau Ternate pada tahun 1538 untuk
pertama kalinya.maka sejak waktu itu dimulailah sejarah pendidikan kristen di Indonesia.sesuai
dengan perintah yang diberikan kepada panglima ekspedisi Portugis oleh rajanya,ia mendirikan
sekolah di Pantai Ternate sebagi sarana untuk memberitakan Injil.tidak lama kemudian lagi
pelaksanaan pendidikan di sana di ambil alih oleh Ordo Yesuit.pendidikan yang disediakan di
tempat itu sederhana sekali tarafnya. Seorang imam mengajarkan Katekismus yang diterjemahkan
ke dalam bahasa melayu oleh Fransiskus Xaverius .seorang anggota kelompok pemuda di bawah
pimpinan Loyola yang turut mendirikan Ordo yesuit .para murid disuruh menghafalkan doa bapa
kami,sepuluh hukum dan pengakuan Imam Rasuli.di samping itu mereka belajar
membaca,menulis,berhitung dan diperkenalkan pada bahasa portugis itu sendiri.pola serupa
diulangi di tempat lain ,umpamanya di ambon ,Solor dan Flores sampai tahun 1605,tatkala
kekuatan Belanda mulai menggantikan kekuasaan Portugis di tanah air ini.
Tujuan utama pendidikan rupanya untuk melenyapkan agama Katolik dengan dengan
menyebarkan agama protestan, Calvinisme. Pada tahun 1632 telah ada 16 sekolah di Ambon, tahun
1945 meningkat menjadi 33 buah dengan murid 1300. Akan tetapi pada abad ke 18
perkembangannya menurun dan orang Belanda tidak mempunyai hasrat sedikitpun untuk
mempengaruhi orang Islam menjadi Kristen. Lagi pula tidak diperlukan tenaga kerja untuk
pemerintahan di sana sedangkan pendidikan demi perkembangan kecerdasan penduduk masih
merupakan gagasan yang belum lahir.
Orang Belanda sebagai anggota gereja Reformasi ,mereka pun merasa perlu bertindak
bertanggung jawab terhadap keadaan jiwa anak-anak pribumi.demikianlah mereka meneruskan
kebijakan pedagogis yang dipelopori kaum Portugis.tetapi ada tujuan pelengkap dengan
mendidikn anak pribumi dalam bahasa Belanda, kekuasaan atas orangtuanya dapat diperkukuh
.tujuan pelengkap ini tersirat dalam perintah umum kepada Gereja tahun 1643,yang menentukan
tugas yang diberi kepada para guru.
Tugas terpenting bagi para guru ialah menanamkan rasa takut akan Tuhan dalm diri anakanak,mengajakan intisari imam kristen,cara berdoa,menyanyi dan untuk mengantar mereka ke
tepat beribadah .kedua,guru wajib mengajar anak-anak untuk taat kepada orang tua,tokoh-tokoh
berkuasa termasuk guru sendiri,Ketiga,anak-anak hendaknya diajar membaca,menulis dan
berhitung.Keempat guru wajib membina anak-anak dalam hal budi pekerti dan untuk bertindak
sopan.Akhirnya hanya penggunaan Bahasa Belanda sajalah yang berlaku di Sekolah.
Pokok terakhir ini menyatakan bahwa para penyusun gagal memahami peranan penting
yang dimainkan oleh bahasa. Pendidikan yang berlangsung dalam bahasa Asing mustahil
mencapai tujuan yang sebenarnya . Oleh karena itu kecuali di Kota, perintah untuk memakai
bahasa Belanda di abaikan.Demikianlah pendapat Kroeskamp.rupanya wakil VOC terlampau
sibuk dengan urusan politik,militer dan perdagangan untuk sungguh-sungguh merencanakan halhal pedagogis.
Kesimpulan itu disokong oleh sikapnya terhadap jabatan guru itu sendiri. Gajinya tidak
cukup. Persiapannya minimal sekali sehingga tidak mengherankan bahwa hasilnya tidak
memuaskan. Lambat laun pendeta ditugaskan untuk memberi sedikit bimbingan kepada guru,
tetapi titik beratnya lebih memihak pada pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan guru
untuk menolong pendeta sendiri daripada mempersiapkan ia memenuhi mandat mengajar. Pada
awalnya anak-anak diajar itu berasal dari keluarga kristen.kemudian khususnya di daerah
Maluku,anak-anak dari keluarga bukan kristen disambut pula.walaupun isi kurikulum kebanyakan
berporos pada mata pelajaran kristen ,namun atas kemauan VOC, dan bukan gereja yang
menentukan kebijakan Pedagogis.kalau begitu,jelas sekali bahwa maksud VOC diutamakan di
atas keprihatian injil(Boehlke,1997: 767-768)
C. Penyelenggaran pendidikan zaman Pemerintah Belanda (1800-1920)
Zaman Belanda terdiri dari dua masa yaitu masa liberal dan politik Etis. Pada masa Liberal
dipengaruhi oleh ide-ide Aufklarung yang menaruh keperayaan akan pendidikan sebagai alat
untuk mencapai kemajuan ekonomi dan sosial. Dan pada politik Etis di mulai dari artikel Van
Deventer Berjudul hutang kehormatan. Van Deventer mengajukan program ambisius untuk
memajukan kesejahteraan rakyat. Pendidikan dan emansipasi bangsa Indonesia menjadi inti dari
politik Etis.
Pada masa berakhirnya piagam VOC, pada akhir abad ke-18,pemerintah baru di Belanda
mengambil alih segala urusan di hindia Belanda.diantara sekian banyak prakarsa baru yang dibuat
pemerintah Belanda . perlu disebutkan di sini sikapnya terhadap pendidikan di daerah
jajahannya.Agar tidak menyulitkan hubungan dengan para pemeluk Agama Islam
khususnya,pemerintah tidak lagi memihak pada urusan kristen di sekolah.tetapi ,gereja dan badan
misi atau zending diizinkan mendirikan sekolah swasta di mana vak-vak agama Kristen boleh di
ajarkan kepada anak-anak.walaupun sebagian dari cerita itu mencakup pendidikan Agama
kristen.namun titik beratnya lebih bersifat persekolahan secara umum dan oleh karena itu tidak
masuk ke dalam bab ini (Boehlke,1997:769).
John Fendall yang menggantikan Raffles,menyerahkan Pemerintahan pada tahun 1816
pada 3 orang komisaris Jenderal(di antaranya Van Der Capellen).sejak semula para komisaris
jenderal itu menaruh perhatian juga pada penyebaran pengajaran.dalam hal ini mereka ingin
mengikuti jejak Daendels.Penyelenggaraan sekolah-sekolah di serahkannya kepada C.G.C
Reinwardt,yang menjadi terkenal karena ia mendirikan Kebon Raya Bogor.tugasnya dalam
lapangan pengajaran berat baginya karena hasil-hasil usaha VOC yang sedikit itu hilang sama
sekali.maka usaha pertama dari Reinwardt adalah menghasilkan undang-undang yang dapat
dianggap sebagai dasar bagi pendirian-pendirian sekolah-sekolah.akhirnya pada tahun 1818
keluarlah peraturan pemerintah yang memuat peraturan umum mengenai penyelenggaraan
pengajaran dan tidak menyinggung-nyinggung sedikitpun soal pengluasan pengajaran di kalangan
Indonesia.yang diperhatikan hanya penyelenggaraan sekolah-sekolah rendah bagi Bangsa
Belanda.menurut peraturan itu di sekolah rendah diberikan : membaca,menulis,berhitung,bahasa
Belanda,sejarah dan Ilmu Bumi.
Pada tahun 1826 kegiatan dalam lapangan pendidikan dan pengajaran terganggu oleh
adanya usaha-usaha penghematan.urusan-urusan pengajaran dapat disederhanakan ,tidak heran
sampai waktu itu masih belum juga ada perhatian pada pengajaran rakyat umum.Sekolah-sekolah
yang ada tetap hanya bagi anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia yang memeluk nasrani.
Dengan diangkatknya Van Den Bosch sebagai Gubernur Jenderal kita memasuki masa baru
dalam lapangan pendidikan di Indonesia.ia mendapat tugas,agar daerah jajahan disunglap menjadi
daerah yanag memberikan keuntungan yang sebanyak-banyaknya bagi Belanda.Hal ini perlu
sekali untuk menutupi kekuranga-kekurangan keuangan di negeri Belanda.Alat untuk mencapai
tujuan itu adalah Cultuurstelsel atau tanam paksa yang sangat mengerikan itu.
Van Den Bosch mengerti bahwa untuk memperbaiki stelsel pembangunan ekonomi (bagi
Belanda) dibutuhkan tenaga-tenaga “ahli” yang banyak .Maka mulai terasa kebutuhan akan
sekolah-sekolah yang harus menghasilkan pegawai.tetapi karena ada kesulitan keuangan untuk
indonesia ,pendirian sekolah terbatas meski hasil tanam paksa terus mengalir dengan deras ke
Negeri Belanda,dan baru pada tahun 1948 kebutuhan pegawai itu terpenuhi dengan mendirikan
sekolah-sekolah di jawa ,terutama untuk mendidik calon-calon pegawai.pendidikan juga masih
terbatas hanya untuk anak-anak bangsawan saja.
Penyelenggaraan sekolah-sekolah di bumiputera sesudah tahun 1950
Mengalami kesulitan-kesulitan mengenai bahasa pengantar yang digunakan di sekolah
serta kekurangan tenaga guru.untuk penyelesaiannnya akhirnya diputuskan mengunakan bahasa
melayu dalam buku pelajaran dan bahasa daerah yang digunakan untuk sehari-hari,untuk
mengatasi kekurangan tenaga kerja guru,dibukalah kweekschool (Sekolah Guru) pertama di
Surakarta,murid-muridnya pun hanya untuk anak-anak bangsawan.
Terdapat perbedaan antara bangunan sekolah di Jawa dengan di luar Jawa,di Jawa
bangunan sekolah didirikan oleh pemerintah sedangkan di Luar Jawa urusan sekolah dibebankan
kepada rakyat,beberapa tempat memiliki bangunan sekolah yang mirip dengan gubug yang
disusun dari dahan-dahan dan kulit kayu.Murid-murid pada waktu itu duduk di tanah,pembagian
kelas tidak dikenal pada abad ke-19,dan menurut tingkat kepandaiannya mereka dibagi-bagi dalam
beberapa kelompok.
Isi rencana pelajarannya terutama sekali disesuaikan dengan keharusan sekolah untuk
mendidik calon-calon pegawai,diberikannya mata pelajaran mengukur tanah.ini dihubungkan
dengan pelaksanaan Tanam paksa,pada waktu menetapkan luas sawah maisng-masing yang harus
ditanami dengan tanaman-tanaman untuk pemerintah.pada semua mata pelajaran tampak adanya
persesuaian dengan keperluan dan kebutuhan kantor-kantor pemerintah,anak-anak banyak diberi
latihan menggambar peta-peta lapangan,soal-soal yang berhubungan dengan pemungutan pajak
tanah,administrasi gudang-gudang garam dan kopi,membuat macam-macam daftar,tata buku yang
sederhana dan sebagianya.
Di pulau Jawa pendidikan hany untuk kaum bangsawan berbeda dengan di luar
jawa,sekolah-sekolah boleh dikunjungi anak pedagang dan anak petani.jumlah murid perempuan
di jawa pun lebih sedikit ketimbang jumlah murid perempuan di luar jawa hal ini dikarenakan
rakyat yang masih kolot,berkeberatan terhadap adanya koedukasi.
Lama belajar tidak ditentukan secara pasti,murid-murid belajar sekehendak hatinya dan
selama Guru menganggap belum cukup pengetahuannya.ada yang 2 tahun,ada pula yang 6 tahun
lamanya.lama belajar yang pasti baru ditentukan pada tahun 1893 ,3 tahun untuk kelas II dan 5
tahun untuk kelas I.
Pembayaran sekolah di jawa berbeda dengan yang di pulau Jawa.Di pulau Jawa :
ditetapkan 6 tingkat pembayaran ,paling tinggi f3-sebulan paling rendah 50 sen.di luar pulau jawa
tidak dipungut uang sekolah,tetapi rakyat diberi tugas mendirikan dan memelihara sekolah serta
mebuat alat-alatnya dengan tidak mendapat upah.
Tenaga guru di jawa mencukupi meskipun sebelum ada kweekschool yang menjadi guru
adalah sembarang orang seperti,mantri gudang dan juru tulis,diambil sekiranya yang dapat
membaca,menulis,berhitung,diluar pulau Jawa kekurangan tenaga Guru sebagai contoh di Pulau
Seram seorang guru mengajar 285 orang murid.
Pengawasan-pengawasan sekolah bumiputera yang timbul sesudah tahun 1850 dilakukan
oleh pembesar-pembesar pemerintah setempat.jadi tidak ada pengawasan sentral .karena
dibutuhkan pengawasan sentral maka dibentuklah inspektur pengajaran bumiputera , pada waktu
itu ada dua inspektur pengajaran bumiputera yang satu bertugas mengatur pengajaran bagi anak anak Belanda dan anak-anak indonesia_nasrani ,dan yang satunya mengatur sekolah-sekolah
bumiputera yang baru.karena adanya keganjilan terdapat dua inspekur maka dibangunlah
departemen khusus pada tahun 1867(Djumhur,1976:121-127).
Usaha Belanda untuk membatasi pendidikan terhadap kalangan pribumi terus
berlanjut,hingga saat muncul kritik dari para kaum humanis Belanda. Sindiran dan kritik para
kaum humanis yang dituangkan dalam tulisan seperti Max Havelaar (Max Havelaar: Or the Coffee
Auctions of the Dutch Trading Company, Multatuli,1860) sedikit banyak telah memaksa Belanda
untuk memberlakukan politik etis (Ethical Policy - ‘Ethische Politiek), atau juga dikenal sebagai
politik balas budi,pada sekitar tahun 1901.
Tiga poin utama dalam politik etis Belanda pada masa itu adalah irigasi, migrasi, dan
edukasi. Dalam poin edukasi, pemerintah Belanda mendirikan sekolah-sekolah gaya barat untuk
kalangan pribumi. Akan tetapi keberadaan sekolah-sekolah ini ternyata tidak menjadi sebuah
sarana pencerdasan masyarakat pribumi. Pendidikan yang disediakan Belanda ternyata hanya
sebatas mengajari para pribumi berhitung, membaca, dan menulis. Setelah lulus dari
sekolah,akhirnya mereka dipekerjakan sebagai pegawai kelas rendah untuk kantor-kantor Belanda
di Indonesia.Pada masa ini pula, pendidikan-pendidikan rakyat juga turut muncul. Sekolahsekolah rakyat seperti Taman Siswa dan Muhammadiyah muncul dan berkembang. Jadi dapat
dikatakan pada masa tersebut terdapat tiga tipe jalur pendidikan yang berbeda. Pertama adalah
sistem pendidikan dari masa Islam yang diwakili dengan pondok pesantren, pendidikan bergaya
barat yang disediakan oleh pemerintah Hindia-Belanda, dan terakhir pendidikan "swasta propribumi" seperti Taman Siswa, Muhammadiyah, dan lain-lain.
D. Sekolah- Sekolah Masa Pemerintahan Belanda
1. Sekolah rendah sebelum tahun 1892
Sekolah rendah dimaksudkan untuk priyai namun kemudian dimasuki oleh golongan rendah.
Sekolah yang masih sederhana. Krisis Ekonomi akhir abad 19 memaksa Belanda untuk
mengadakan diferensiasi dalam pendidikan anak golongan atas dan golongan rendah.
2. Sekolah Kelas Satu
Dikhususkan untuk kaum Bangsawan, lamanya sekolah 5 tahun. Namun pada tahun 1912 bahasa
Belanda diajarkan sejak kelas 1 dan lamanya belajar menjadi 7 tahun. Sejak saat itu yang darinya
sekolah kelas satu kalah jauh dengan HCS akhirnya sama dan diubah menjadi HIS.
3. . Sekolah Kelas Dua
Kurikulum yang sederhana kemudian diperluas dan mengakibatkan perpanjangan lama belajar dari
tahun menjadi 5 tahun. Namun tidak sama dengan sekolah kelas satu, hanya ada guru bantu dan
tidak menggunakan bahasa Belanda menjadi penyebab perbedaan. Tidak berbahasa Belanda
menjadi siswa tidak bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi
4. Sekolah Desa
Walaupun kurikulum Sekolah Desa sangat sederhana namun masih di rasa kurang relevan dengan
kebutuhan rakyat desa. Walaupun ada saran untuk memperluas kurikulum Sekolah Desa Dengan
pekerjaan tangan, pengetahuan tentang gejala-gejala yang dihadapi petani dalam kehidupan seharihari, dan sebagainya namun kurikulumnya tetap sangat sederhana..Di Jawa sekolah ini disesuaikan
dengan kondisi setempat, dengan menggunakan bahasa setempat sebagai pengantar. Bahasa
Melayu tidak termasuk mata pelajaran. Kesulitan keuangan pemerintah (1922-1923) mempercepat
perpaduan itu dengan menjadikan Volksschool sebagai substructur Sekolah Sambungan
(Vervolgschool) dengan mengadakan perbaikan kurikulum Sekolah Desa. Akhirnya Sekolah Desa
menjadi bagian dari Sekolah Kelas Dua, sesuatu yang semula ingin dielakkan oleh pemerintah.
5. ELS (Europeesche Lagere School)
Pendidikan ELS berlangsung tujuh tahun. Mata pelajaran yang diberikan sama dengan mata
pelajaran sekolah dasar di Belanda, kecuali mata pelajaran Sejarah Belanda yang diganti dengan
Sejarah Belanda dan Hindia Belanda. Mata pelajaran Sejarah ini lebih menekankan Ilmu Bumi
Hindia Belanda daripada Ilmu Bumi Belanda. Pelaksanaan pendidikan dilaksanakan dalam dua
tingkat, yaitu tingkat pendidikan dasar umum dan pendidikan lanjutan
6. HCS (Hollandsch-Chineesche School)
Sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk
anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali
didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasaMandarin
yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
7. HIS
Sekolah Kelas I juga mengalami pergeseran. Setelah mengalami reorganisasi dan peningkatan
mutu pada tahun 1914, Sekolah Kelas I beralih nama menjadi Hollandsch Inlandsche School.
Peraturan yang lebih ketat diterapkan. Berdasarkan keputusan pemerintah (stbld 1914 no. 359),
ada empat dasar penilaian yang memungkinkan seseorang menyekolahkan anaknya ke HIS, yakni
keturunan, jabatan, kekayaan, dan pendidikan. Seorang bangsawan tradisional atau pejabat
pemerintahan, seperti wedana, dapat menyekolahkan anaknya ke HIS. Seseorang yang
berpendidikan serendah-rendahnya MULO atau sederajat, atau yang berpenghasilan rata-rata 100
gulden per bulan juga dapat menyekolahkan anaknya ke HIS.
8.MULO
MULO (singkatan dari bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah Sekolah
Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs
berarti pendidikan dasar lebih luas. MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa
pengantar.
9.HBS dan AMS
Pada level yang tertinggi, kebijakan Kolonial Belanda menjelang pertengahan abad ke-20 mulai
mendirikan sekolah setingkat SLTA sekarang dengan sebutan AMS (Algemens Middlebars
School) dan HBS (Hoogere Bourgere School). Minimal anak bangsawan tinggi yang
diperbolehkan memasuki jenjang sekolah ini. Untuk AMS ditempuh selama 3 (tiga) tahun,
sedangkan untuk HBS ditempuh 5 (lima) tahun. Siswa yang bersekolah di HBS secara sosial ia
adalah pribumi yang sudah disamakan derajatnya dengan bangsa Eropa/Belanda. Pada pendidikan
tingkat ini, kualitas menjadi sebuah ukuran mutlak. Oleh karena pola pendidikannya yang disiplin
dengan kurikulum yang jelas maka dengan sendirinya menghasilkan alumni yang disegani oleh
siapa saja.
E. Pengaruh pendidikan bagi perjuangan bangsa Indonesia
Dengan adanya pendidikan yang diselenggarakan baik oleh VOC maupun Belanda sangat
berperan bagi munculnya perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia untuk
melepaskan diri dari belenggu Pemerintah kolonial Belanda.hal ini seperti menjadi bumerang bagi
bangsa Belanda yang tak menyadari sebelumnya bahwa pendidikan yang diselenggarakannya
melahirkan sebuah organisasi pertama yang membangkitkan semangat kabangkitan
Nasional.Organisasi tersebut ialah Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Wahidin
Sudirohusodo,beliau merupakan lulusan sekolah Dokter STOVIA di Jawa.
Tentang Budi Utomo, Hugiono (2008:73) mengemukakan bahwa Budi Utomo sebagai
pelopor Pergerakan Nasional Indonesia memiliki semboyan hendak meningkatkan martabat
rakyat. Mas Ngabehi Wahidin Sudiro Husodo, seorang dokter di Yogyakarta dan termasuk
golongan priyayi rendahan. Dalam tahun 1906 dan 1907 mulai mengadakan kampanye di kalangan
priyayi di pulau Jawa.
STOVIA yang merupakan tempat kelahiran Budi Utomo, mulai bergerak ke luar
mempengaruhi orang-orang Jawa yang berkedudukan, baik kedudukan sebagai pegawai
pemerintah.Pada tanggal 5 Oktober 1908, Budi Utomo mengadakan kongresnya yang pertama di
Yogyakarta. Dalam kongres pertama ini terbentuk Pengurus Besar Budi Utomo yang terdiri dari
R.A. Tirtakusuma (Bupati Karanganyar) sebagai ketua, dan Dr. Wahidin sebagai wakil ketua, dan
anggota pengurus lainnya adalah M. Ng. Dwijosowojo serta beberapa pegawai Pakualaman.
Kongres yang pertama juga menetapkan tujuan perkumpulan, yaitu kemajuan yang selaras
(harmonis) buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan
dan dagang, teknik dan industri, kebudayaan.Menurut Mr. A.K. Pringgodigdo (dalam Z. Tulie
1984:137).
Budi Utomo nampak bercita-cita meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia melalui usaha
peningkatan kecerdasan bangsa melalui perluasan pengajaran, meningkatkan taraf hidup rakyat
melalui peningkatan ekonomi, dan mengembalikan bangsa Indonesia kepada kepribadian bangsa
melalui peningkatan kesadaran dan kecintaan kepada kebudayaan sendiri. Pada saat permulaan
berdirinya, Budi Utomo lebih tepat dikatakan sebagai organisasi sosial kultural dari pada
organisasi politik . Budi Utomo masih merupakan organisasi yang bersifat kedaerahan, karena
anggotanya terbatas hanya pada suku bangsa Jawa dan Madura.Pada bulan April 1931 dalam
kongres yang diadakan di Jakarta ditetapkan bahwa Budi Utomo terbuka bagi semua golongan
bangsa Indonesia. Sifat kebangsaan Budi Utomo lebih jelas lagi terlihat dengan melakukan fusi
bersama Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). PBI didirikan oleh Dr. Sutomo pada tahun 1930 di
Surabaya. Fusi antara Budi Utomo dengan PBI pada tahun 1935 melahirkan Partai Indonesia Raya,
(Z. Tulie 1984:138)
Posting Komentar