Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal

SEJARAH PENDIDIKAN KRISTEN ( MASA VOC DAN BELANDA)

A. Deskripsi Keadaan zaman VOC dan pemerintah Belanda
Di  samping  tanahnya  sangat  subur,  Indonesia  juga  mempunyai  kandungan  alam  yang
banyak,  seperti  minyak.  emas,  dan  tembaga.Di  antara  bangsa-bangsa  Barat  yang  datang  di
Indonesia, Belandalah yang paling bernafsu menguasai Indonesia. Untuk melaksanakan tekadnya
itu  Belanda mendirikan VOC. VOC adalah kongsi dagang Belanda yang mencari keuntungan yang
sebesarbesarnya di Indonesia. Oleh karena itu, mereka tidak menghiraukan kemajuan Indonesia.
Setelah  satu  abad  malang  melintang  di  Indonesia,  pada  tahun  1799  VOC  dibubarkan.
Adapun sebab-sebab jatuhnya VOC antara lain karena korupsi yang merajalela di kalangan para
pegawainya. Selain itu, banyak pegawainya yang tidak cakap. Hal ini menyebabkan pengendalian
monopoli  perdagangan  tidak  berjalan  sebagaimana  mestinya.  Sebab  lain  adalah  VOC  banyak
menanggung  hutang.  Hutang  tersebut  akibat  peperangan  yang  dilakukan  baik  dengan  rakyat
Indonesia  maupun  dengan  Inggris  dalam  memperebutkan  kekuasaan  di  bidang  perdagangan.
Selain itu terjadi kemerosotan moral di kalangan para pegawai akibat sistem keuangan yang dinilai
kurang  transparan.  Keserakahan  VOC  membuat  penguasa  lokal  tidak  bersungguh-sungguh
membantu  VOC  dalam  perdagangan.  Akibatnya,  rempah-rempah  yang  diperoleh  VOC  tidak
seperti  yang  diharapkan.  Penyebab  terakhir  adalah  tidak  jalannya  Verplichte  leverantien
(penyerahan paksa) dan Preangerstelsel (aturan Priangan) karena korupsi dan biaya pengeluaran
yang terlalu besar. Kedua aturan itu dimaksudkan untuk mengisi kas VOC yang kosong. Verplichte
leverentien mewajibkan penduduk menyerahkan hasil bumi berupa lada, kayu, kapas, beras, nila,
dan  gula  kepada  VOC  dengan  tarif  yang  ditentukan  VOC.  Preangerstelsel  mewajibkan  rakyat
menanam kopi lalu menyerahkannya kepada VOC dengan tarif yang ditentukan VOC.
Setelah VOC bubar, Indonesia diserahkan kepada pemerintah Belanda (Republik Bataaf).
Pegawai-pegawai  VOC  menjadi  pegawai  pemerintah  Belanda.  Hutang  VOC  juga  menjadi
tanggungan  negeri  Belanda.  Dengan  demikian  sejak  tanggal  1  Januari  1800  Indonesia  dijajah
langsung  oleh  negeri  Belanda.  Sejak  saat  itu  Indonesia  disebut  Hindia  Belanda.  Sejak  itu  di
Indonesia berlangsung masa kolonialisme.
Setelah  Indonesia  menjadi  Hindia  Belanda,  ternyata  nasibnya  juga  tidak  lebih  baik
dibanding masa VOC. Hal ini disebabkan karena karakter pimpinan kolonial  di Indonesia yang
kurang bersahabat dengan rakyat dan tujuan Belanda menguasai Indonesia juga tidak berubah.
Indonesia  yang  sejak  dahulu  telah  dikenal  sebagai  penghasil  rempah-rempah,  selalu  menjadi
incaran banyak bangsa untuk menguasai Indonesia. Tidak heran banyak terjadi perang antarbangsa
untuk memperebutkan Indonesia(Wiharyanto,2007)
B.  Penyelenggaran Pendidikan Zaman VOC
Sejak serdadu, pedagang dan imam portugis tiba di Pulau Ternate pada tahun 1538 untuk
pertama kalinya.maka sejak waktu itu dimulailah sejarah pendidikan kristen di Indonesia.sesuai
dengan perintah yang diberikan kepada panglima ekspedisi Portugis oleh rajanya,ia mendirikan
sekolah  di  Pantai  Ternate  sebagi  sarana  untuk  memberitakan  Injil.tidak  lama  kemudian  lagi
pelaksanaan pendidikan  di sana di  ambil alih oleh Ordo Yesuit.pendidikan  yang disediakan di
tempat itu sederhana sekali tarafnya. Seorang imam mengajarkan Katekismus yang diterjemahkan
ke dalam bahasa melayu oleh Fransiskus Xaverius .seorang anggota kelompok pemuda di bawah
pimpinan Loyola yang turut mendirikan Ordo yesuit .para murid disuruh menghafalkan doa bapa
kami,sepuluh  hukum  dan  pengakuan  Imam  Rasuli.di  samping  itu  mereka  belajar
membaca,menulis,berhitung  dan  diperkenalkan  pada  bahasa  portugis  itu  sendiri.pola  serupa
diulangi  di  tempat  lain  ,umpamanya  di  ambon  ,Solor  dan  Flores  sampai  tahun  1605,tatkala
kekuatan Belanda mulai menggantikan kekuasaan Portugis di tanah air ini.
Tujuan  utama  pendidikan  rupanya  untuk  melenyapkan  agama  Katolik  dengan  dengan
menyebarkan agama protestan, Calvinisme. Pada tahun 1632 telah ada 16 sekolah di Ambon, tahun
1945  meningkat  menjadi  33  buah  dengan  murid  1300.  Akan  tetapi  pada  abad  ke  18
perkembangannya  menurun  dan  orang  Belanda  tidak  mempunyai  hasrat  sedikitpun  untuk
mempengaruhi  orang  Islam  menjadi  Kristen.  Lagi  pula  tidak  diperlukan  tenaga  kerja  untuk
pemerintahan  di  sana  sedangkan  pendidikan  demi  perkembangan  kecerdasan  penduduk  masih
merupakan gagasan yang belum lahir.
Orang  Belanda  sebagai  anggota  gereja  Reformasi  ,mereka  pun  merasa  perlu  bertindak
bertanggung jawab terhadap keadaan jiwa anak-anak pribumi.demikianlah mereka meneruskan
kebijakan  pedagogis  yang  dipelopori  kaum  Portugis.tetapi  ada  tujuan  pelengkap  dengan
mendidikn anak pribumi dalam bahasa Belanda, kekuasaan atas orangtuanya dapat diperkukuh
.tujuan pelengkap ini tersirat dalam perintah umum kepada Gereja tahun 1643,yang menentukan
tugas yang diberi kepada para guru.
Tugas terpenting bagi para guru ialah menanamkan rasa takut akan Tuhan dalm diri anakanak,mengajakan  intisari  imam  kristen,cara  berdoa,menyanyi  dan  untuk  mengantar  mereka  ke
tepat beribadah .kedua,guru wajib mengajar anak-anak untuk taat kepada orang tua,tokoh-tokoh
berkuasa  termasuk  guru  sendiri,Ketiga,anak-anak  hendaknya  diajar  membaca,menulis  dan
berhitung.Keempat guru wajib membina anak-anak dalam hal budi pekerti dan untuk bertindak
sopan.Akhirnya hanya penggunaan Bahasa Belanda sajalah yang berlaku di Sekolah.
Pokok terakhir ini menyatakan bahwa para penyusun gagal memahami peranan penting
yang  dimainkan  oleh  bahasa.  Pendidikan  yang  berlangsung  dalam  bahasa  Asing  mustahil
mencapai  tujuan  yang  sebenarnya  .  Oleh  karena  itu  kecuali  di  Kota,  perintah  untuk  memakai
bahasa  Belanda  di  abaikan.Demikianlah  pendapat  Kroeskamp.rupanya  wakil  VOC  terlampau
sibuk dengan urusan politik,militer dan perdagangan untuk sungguh-sungguh merencanakan halhal pedagogis.
Kesimpulan itu disokong oleh sikapnya terhadap jabatan guru itu sendiri. Gajinya tidak
cukup.  Persiapannya  minimal  sekali  sehingga  tidak  mengherankan  bahwa  hasilnya  tidak
memuaskan.  Lambat  laun  pendeta  ditugaskan  untuk  memberi  sedikit  bimbingan  kepada  guru,
tetapi  titik  beratnya  lebih  memihak  pada  pengetahuan  dan  keterampilan  yang  diperlukan  guru
untuk menolong pendeta sendiri daripada mempersiapkan ia memenuhi  mandat mengajar. Pada
awalnya  anak-anak  diajar  itu  berasal  dari  keluarga  kristen.kemudian  khususnya  di  daerah
Maluku,anak-anak dari keluarga bukan kristen disambut pula.walaupun isi kurikulum kebanyakan
berporos  pada  mata  pelajaran  kristen  ,namun  atas  kemauan  VOC,  dan  bukan  gereja  yang
menentukan kebijakan Pedagogis.kalau begitu,jelas sekali bahwa maksud VOC diutamakan di
atas keprihatian injil(Boehlke,1997: 767-768)
C.  Penyelenggaran pendidikan zaman Pemerintah Belanda (1800-1920)
Zaman Belanda terdiri dari dua masa yaitu masa liberal dan politik Etis. Pada masa Liberal
dipengaruhi  oleh   ide-ide  Aufklarung  yang  menaruh  keperayaan  akan  pendidikan  sebagai  alat
untuk mencapai kemajuan ekonomi dan sosial. Dan pada politik Etis di mulai  dari artikel Van
Deventer   Berjudul  hutang  kehormatan.  Van  Deventer   mengajukan  program  ambisius  untuk
memajukan kesejahteraan rakyat. Pendidikan dan emansipasi bangsa Indonesia menjadi inti dari
politik Etis.
Pada masa berakhirnya piagam VOC, pada akhir  abad ke-18,pemerintah baru di Belanda
mengambil alih segala urusan di hindia Belanda.diantara sekian banyak prakarsa baru yang dibuat
pemerintah  Belanda  .  perlu  disebutkan  di  sini  sikapnya  terhadap  pendidikan  di  daerah
jajahannya.Agar  tidak  menyulitkan  hubungan  dengan  para  pemeluk   Agama  Islam
khususnya,pemerintah tidak lagi memihak pada urusan kristen di sekolah.tetapi ,gereja dan badan
misi atau zending diizinkan mendirikan sekolah swasta di mana vak-vak agama Kristen boleh di
ajarkan  kepada  anak-anak.walaupun  sebagian  dari  cerita  itu  mencakup  pendidikan  Agama
kristen.namun titik beratnya lebih bersifat persekolahan secara umum dan oleh karena itu tidak
masuk ke dalam bab ini (Boehlke,1997:769).
John  Fendall  yang  menggantikan  Raffles,menyerahkan  Pemerintahan  pada  tahun  1816
pada  3  orang  komisaris  Jenderal(di  antaranya  Van  Der  Capellen).sejak  semula  para  komisaris
jenderal  itu  menaruh  perhatian  juga  pada  penyebaran  pengajaran.dalam  hal  ini  mereka  ingin
mengikuti  jejak  Daendels.Penyelenggaraan  sekolah-sekolah  di  serahkannya  kepada  C.G.C
Reinwardt,yang  menjadi  terkenal  karena  ia  mendirikan  Kebon  Raya  Bogor.tugasnya  dalam
lapangan pengajaran berat baginya karena hasil-hasil usaha VOC  yang sedikit itu hilang sama
sekali.maka  usaha  pertama  dari  Reinwardt  adalah  menghasilkan  undang-undang  yang  dapat
dianggap  sebagai  dasar  bagi  pendirian-pendirian  sekolah-sekolah.akhirnya  pada  tahun  1818
keluarlah  peraturan  pemerintah  yang  memuat  peraturan  umum  mengenai  penyelenggaraan
pengajaran dan tidak menyinggung-nyinggung sedikitpun soal pengluasan pengajaran di kalangan
Indonesia.yang  diperhatikan  hanya  penyelenggaraan  sekolah-sekolah  rendah  bagi  Bangsa
Belanda.menurut peraturan itu di sekolah rendah diberikan : membaca,menulis,berhitung,bahasa
Belanda,sejarah dan Ilmu Bumi.
Pada  tahun  1826  kegiatan  dalam  lapangan  pendidikan  dan  pengajaran  terganggu  oleh
adanya  usaha-usaha  penghematan.urusan-urusan  pengajaran  dapat  disederhanakan  ,tidak  heran
sampai waktu itu masih belum juga ada perhatian pada pengajaran rakyat umum.Sekolah-sekolah
yang ada tetap hanya bagi anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia yang memeluk nasrani.
Dengan diangkatknya Van Den Bosch sebagai Gubernur Jenderal kita memasuki masa baru
dalam lapangan pendidikan di Indonesia.ia mendapat tugas,agar daerah jajahan disunglap menjadi
daerah  yanag  memberikan  keuntungan  yang  sebanyak-banyaknya  bagi  Belanda.Hal  ini  perlu
sekali untuk menutupi kekuranga-kekurangan keuangan di negeri Belanda.Alat untuk mencapai
tujuan itu adalah Cultuurstelsel atau tanam paksa yang sangat mengerikan itu.
Van Den Bosch mengerti bahwa untuk memperbaiki stelsel pembangunan ekonomi (bagi
Belanda)  dibutuhkan  tenaga-tenaga  “ahli”  yang  banyak  .Maka  mulai  terasa  kebutuhan  akan
sekolah-sekolah  yang harus menghasilkan pegawai.tetapi karena ada kesulitan keuangan untuk
indonesia  ,pendirian  sekolah  terbatas  meski  hasil  tanam  paksa  terus  mengalir  dengan  deras  ke
Negeri Belanda,dan baru pada tahun 1948 kebutuhan pegawai itu terpenuhi dengan mendirikan
sekolah-sekolah di jawa  ,terutama untuk mendidik calon-calon pegawai.pendidikan juga masih
terbatas hanya untuk anak-anak bangsawan saja.
Penyelenggaraan sekolah-sekolah di bumiputera sesudah tahun 1950
Mengalami  kesulitan-kesulitan  mengenai  bahasa  pengantar  yang  digunakan  di  sekolah
serta kekurangan tenaga  guru.untuk penyelesaiannnya akhirnya diputuskan mengunakan bahasa
melayu  dalam  buku  pelajaran  dan  bahasa  daerah  yang  digunakan  untuk  sehari-hari,untuk
mengatasi  kekurangan  tenaga  kerja  guru,dibukalah  kweekschool  (Sekolah  Guru)  pertama  di
Surakarta,murid-muridnya pun hanya untuk anak-anak bangsawan.
Terdapat  perbedaan  antara  bangunan  sekolah  di  Jawa  dengan  di  luar  Jawa,di  Jawa
bangunan sekolah didirikan oleh pemerintah sedangkan di Luar Jawa urusan sekolah dibebankan
kepada  rakyat,beberapa  tempat  memiliki  bangunan  sekolah  yang  mirip  dengan  gubug  yang
disusun dari dahan-dahan dan kulit kayu.Murid-murid pada waktu itu duduk di tanah,pembagian
kelas tidak dikenal pada abad ke-19,dan menurut tingkat kepandaiannya mereka dibagi-bagi dalam
beberapa kelompok.
Isi  rencana  pelajarannya  terutama  sekali  disesuaikan  dengan  keharusan  sekolah  untuk
mendidik  calon-calon  pegawai,diberikannya  mata  pelajaran  mengukur  tanah.ini  dihubungkan
dengan pelaksanaan Tanam paksa,pada waktu menetapkan luas sawah maisng-masing yang harus
ditanami dengan tanaman-tanaman untuk pemerintah.pada semua mata pelajaran tampak adanya
persesuaian dengan keperluan dan kebutuhan kantor-kantor pemerintah,anak-anak banyak diberi
latihan menggambar peta-peta lapangan,soal-soal yang berhubungan dengan pemungutan pajak
tanah,administrasi gudang-gudang garam dan kopi,membuat macam-macam daftar,tata buku yang
sederhana dan sebagianya.
Di  pulau  Jawa  pendidikan  hany  untuk  kaum  bangsawan  berbeda  dengan  di  luar
jawa,sekolah-sekolah boleh dikunjungi anak pedagang  dan anak petani.jumlah murid perempuan
di jawa pun lebih sedikit ketimbang jumlah murid perempuan di luar jawa hal ini dikarenakan
rakyat yang masih kolot,berkeberatan terhadap adanya koedukasi.
Lama belajar tidak ditentukan secara pasti,murid-murid belajar sekehendak hatinya dan
selama Guru menganggap belum cukup pengetahuannya.ada yang 2 tahun,ada pula yang 6 tahun
lamanya.lama belajar yang pasti baru ditentukan pada tahun 1893 ,3 tahun untuk kelas II dan 5
tahun untuk kelas I.
Pembayaran  sekolah  di  jawa  berbeda  dengan  yang  di  pulau  Jawa.Di  pulau  Jawa  :
ditetapkan 6 tingkat pembayaran ,paling tinggi f3-sebulan paling rendah 50 sen.di luar pulau jawa
tidak dipungut uang sekolah,tetapi rakyat diberi tugas mendirikan dan memelihara sekolah serta
mebuat alat-alatnya dengan tidak mendapat upah.
Tenaga guru di jawa mencukupi meskipun sebelum ada kweekschool yang menjadi guru
adalah  sembarang  orang  seperti,mantri  gudang  dan  juru  tulis,diambil  sekiranya  yang  dapat
membaca,menulis,berhitung,diluar pulau Jawa kekurangan tenaga Guru sebagai contoh di Pulau
Seram seorang guru mengajar 285 orang murid.
Pengawasan-pengawasan sekolah bumiputera yang timbul sesudah tahun 1850 dilakukan
oleh  pembesar-pembesar  pemerintah  setempat.jadi  tidak  ada  pengawasan  sentral  .karena
dibutuhkan pengawasan sentral maka dibentuklah inspektur pengajaran bumiputera , pada waktu
itu ada dua inspektur pengajaran bumiputera yang satu bertugas mengatur pengajaran bagi anak anak  Belanda  dan  anak-anak  indonesia_nasrani  ,dan  yang  satunya  mengatur  sekolah-sekolah
bumiputera  yang  baru.karena  adanya  keganjilan  terdapat  dua  inspekur  maka  dibangunlah
departemen khusus pada tahun 1867(Djumhur,1976:121-127).
Usaha  Belanda  untuk  membatasi  pendidikan  terhadap  kalangan  pribumi  terus
berlanjut,hingga  saat  muncul  kritik  dari  para  kaum  humanis  Belanda.  Sindiran  dan  kritik  para
kaum humanis yang dituangkan dalam tulisan seperti Max Havelaar (Max Havelaar: Or the Coffee
Auctions of the Dutch Trading Company, Multatuli,1860) sedikit banyak telah memaksa Belanda
untuk memberlakukan politik etis (Ethical Policy  -  ‘Ethische Politiek), atau juga dikenal sebagai
politik balas budi,pada sekitar tahun 1901.
Tiga  poin  utama  dalam  politik  etis  Belanda  pada  masa  itu  adalah  irigasi,  migrasi,  dan
edukasi. Dalam poin edukasi, pemerintah Belanda mendirikan sekolah-sekolah gaya barat untuk
kalangan  pribumi.  Akan  tetapi  keberadaan  sekolah-sekolah  ini  ternyata  tidak  menjadi  sebuah
sarana  pencerdasan  masyarakat  pribumi.  Pendidikan  yang  disediakan  Belanda  ternyata  hanya
sebatas  mengajari  para  pribumi  berhitung,  membaca,  dan  menulis.  Setelah  lulus  dari
sekolah,akhirnya mereka dipekerjakan sebagai pegawai kelas rendah untuk kantor-kantor Belanda
di  Indonesia.Pada  masa  ini  pula,  pendidikan-pendidikan  rakyat  juga  turut  muncul.  Sekolahsekolah  rakyat  seperti  Taman  Siswa  dan  Muhammadiyah  muncul  dan  berkembang.  Jadi  dapat
dikatakan pada masa tersebut terdapat tiga tipe jalur pendidikan yang berbeda. Pertama adalah
sistem pendidikan dari masa Islam yang diwakili dengan pondok pesantren, pendidikan bergaya
barat  yang  disediakan  oleh  pemerintah  Hindia-Belanda,  dan  terakhir  pendidikan  "swasta  propribumi" seperti Taman Siswa, Muhammadiyah, dan lain-lain.
D.  Sekolah- Sekolah Masa Pemerintahan Belanda
1. Sekolah rendah sebelum tahun 1892
Sekolah  rendah  dimaksudkan  untuk  priyai  namun  kemudian  dimasuki  oleh  golongan  rendah.
Sekolah  yang  masih   sederhana.  Krisis  Ekonomi  akhir  abad  19  memaksa  Belanda  untuk
mengadakan diferensiasi dalam pendidikan anak golongan atas dan golongan rendah.
2. Sekolah Kelas Satu
Dikhususkan untuk kaum Bangsawan, lamanya sekolah 5 tahun. Namun pada tahun 1912 bahasa
Belanda diajarkan sejak kelas 1 dan lamanya belajar menjadi 7 tahun. Sejak saat itu yang darinya
sekolah kelas satu kalah jauh dengan HCS akhirnya sama dan diubah menjadi HIS.
3. . Sekolah Kelas Dua
Kurikulum yang sederhana kemudian diperluas dan mengakibatkan perpanjangan lama belajar dari
tahun menjadi 5 tahun. Namun tidak sama dengan sekolah kelas satu, hanya ada guru bantu dan
tidak  menggunakan  bahasa  Belanda  menjadi  penyebab  perbedaan.  Tidak  berbahasa  Belanda
menjadi siswa tidak bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi
4. Sekolah Desa
Walaupun kurikulum Sekolah Desa sangat sederhana namun masih di rasa kurang relevan dengan
kebutuhan rakyat desa. Walaupun ada saran untuk memperluas kurikulum Sekolah Desa Dengan
pekerjaan tangan, pengetahuan tentang gejala-gejala yang dihadapi petani dalam kehidupan seharihari, dan sebagainya namun kurikulumnya tetap sangat sederhana..Di Jawa sekolah ini disesuaikan
dengan  kondisi  setempat,  dengan  menggunakan  bahasa  setempat  sebagai  pengantar.  Bahasa
Melayu tidak termasuk mata pelajaran. Kesulitan keuangan pemerintah (1922-1923) mempercepat
perpaduan  itu  dengan  menjadikan  Volksschool  sebagai  substructur  Sekolah  Sambungan
(Vervolgschool) dengan mengadakan perbaikan kurikulum Sekolah Desa. Akhirnya Sekolah Desa
menjadi bagian dari Sekolah Kelas Dua, sesuatu yang semula ingin dielakkan oleh pemerintah.
5. ELS (Europeesche Lagere School)
Pendidikan  ELS  berlangsung  tujuh  tahun.  Mata  pelajaran  yang  diberikan  sama  dengan  mata
pelajaran sekolah dasar di Belanda, kecuali mata pelajaran Sejarah Belanda yang diganti  dengan
Sejarah Belanda dan Hindia Belanda. Mata pelajaran Sejarah ini lebih menekankan Ilmu Bumi
Hindia Belanda daripada Ilmu Bumi Belanda. Pelaksanaan pendidikan dilaksanakan dalam dua
tingkat, yaitu tingkat pendidikan dasar umum dan pendidikan lanjutan
6. HCS (Hollandsch-Chineesche School)
Sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk
anak-anak  keturunan  Tionghoa  di  Hindia  Belanda  saat  itu.  Sekolah-sekolah  ini  pertama  kali
didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasaMandarin
yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
7. HIS
Sekolah  Kelas  I  juga  mengalami  pergeseran.  Setelah  mengalami  reorganisasi  dan  peningkatan
mutu  pada  tahun  1914,  Sekolah  Kelas  I  beralih  nama  menjadi  Hollandsch  Inlandsche  School.
Peraturan yang lebih ketat diterapkan. Berdasarkan keputusan pemerintah (stbld 1914 no. 359),
ada empat dasar penilaian yang memungkinkan seseorang menyekolahkan anaknya ke HIS, yakni
keturunan,  jabatan,  kekayaan,  dan  pendidikan.  Seorang  bangsawan  tradisional  atau  pejabat
pemerintahan,  seperti  wedana,  dapat  menyekolahkan  anaknya  ke  HIS.  Seseorang  yang
berpendidikan serendah-rendahnya MULO atau sederajat, atau yang berpenghasilan rata-rata 100
gulden per bulan juga dapat menyekolahkan anaknya ke HIS.
8.MULO
MULO  (singkatan  dari  bahasa  Belanda:  Meer  Uitgebreid  Lager  Onderwijs)  adalah  Sekolah
Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs
berarti  pendidikan  dasar  lebih  luas.  MULO  menggunakan  Bahasa  Belanda  sebagai  bahasa
pengantar.
9.HBS dan AMS
Pada level yang tertinggi, kebijakan Kolonial Belanda menjelang pertengahan abad ke-20 mulai
mendirikan  sekolah  setingkat  SLTA  sekarang  dengan  sebutan  AMS  (Algemens  Middlebars
School)  dan  HBS  (Hoogere  Bourgere  School).  Minimal  anak  bangsawan  tinggi  yang
diperbolehkan  memasuki  jenjang  sekolah  ini.  Untuk  AMS  ditempuh  selama  3  (tiga)  tahun,
sedangkan untuk HBS ditempuh 5 (lima) tahun. Siswa yang bersekolah di HBS  secara sosial ia
adalah pribumi yang sudah disamakan derajatnya dengan bangsa Eropa/Belanda. Pada pendidikan
tingkat ini, kualitas menjadi sebuah ukuran mutlak. Oleh karena pola pendidikannya yang disiplin
dengan kurikulum yang jelas maka dengan sendirinya menghasilkan alumni yang disegani oleh
siapa saja.
E.  Pengaruh pendidikan bagi perjuangan bangsa Indonesia
Dengan adanya pendidikan yang diselenggarakan baik oleh VOC maupun Belanda sangat
berperan  bagi  munculnya  perjuangan-perjuangan  yang  dilakukan  oleh  Bangsa  Indonesia  untuk
melepaskan diri dari belenggu Pemerintah kolonial Belanda.hal ini seperti menjadi bumerang bagi
bangsa  Belanda  yang  tak  menyadari  sebelumnya  bahwa  pendidikan  yang  diselenggarakannya
melahirkan  sebuah  organisasi  pertama  yang  membangkitkan  semangat  kabangkitan
Nasional.Organisasi  tersebut  ialah  Budi  Utomo  yang  didirikan  oleh  Dr.  Wahidin
Sudirohusodo,beliau merupakan lulusan sekolah Dokter STOVIA di Jawa.
Tentang  Budi  Utomo,  Hugiono  (2008:73)  mengemukakan  bahwa  Budi  Utomo  sebagai
pelopor  Pergerakan  Nasional  Indonesia  memiliki  semboyan  hendak  meningkatkan  martabat
rakyat.  Mas  Ngabehi  Wahidin  Sudiro  Husodo,  seorang  dokter  di  Yogyakarta  dan  termasuk
golongan priyayi rendahan. Dalam tahun 1906 dan 1907 mulai mengadakan kampanye di kalangan
priyayi di pulau Jawa.
STOVIA  yang  merupakan  tempat  kelahiran  Budi  Utomo,  mulai  bergerak  ke  luar
mempengaruhi  orang-orang  Jawa  yang  berkedudukan,  baik  kedudukan  sebagai  pegawai
pemerintah.Pada tanggal 5 Oktober 1908, Budi Utomo mengadakan kongresnya yang pertama di
Yogyakarta. Dalam kongres pertama ini terbentuk Pengurus Besar Budi Utomo yang terdiri dari
R.A. Tirtakusuma (Bupati Karanganyar) sebagai ketua, dan Dr. Wahidin sebagai wakil ketua, dan
anggota  pengurus  lainnya  adalah  M.  Ng.  Dwijosowojo  serta  beberapa  pegawai  Pakualaman.
Kongres  yang  pertama  juga  menetapkan  tujuan  perkumpulan,  yaitu  kemajuan  yang  selaras
(harmonis) buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran,  pertanian, peternakan
dan dagang, teknik dan  industri, kebudayaan.Menurut Mr. A.K. Pringgodigdo (dalam Z. Tulie
1984:137).
Budi Utomo nampak bercita-cita meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia melalui usaha
peningkatan kecerdasan bangsa melalui perluasan pengajaran, meningkatkan taraf hidup rakyat
melalui peningkatan ekonomi, dan mengembalikan bangsa Indonesia kepada kepribadian bangsa
melalui peningkatan kesadaran dan kecintaan kepada kebudayaan sendiri. Pada saat permulaan
berdirinya,  Budi  Utomo  lebih  tepat  dikatakan  sebagai  organisasi  sosial  kultural  dari  pada
organisasi politik . Budi Utomo masih merupakan organisasi  yang bersifat kedaerahan, karena
anggotanya  terbatas  hanya  pada  suku  bangsa  Jawa  dan  Madura.Pada  bulan  April  1931  dalam
kongres yang diadakan di Jakarta ditetapkan bahwa Budi Utomo terbuka bagi semua golongan
bangsa Indonesia. Sifat kebangsaan Budi Utomo lebih jelas lagi terlihat dengan melakukan fusi
bersama Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). PBI didirikan oleh Dr. Sutomo pada tahun 1930 di
Surabaya. Fusi antara Budi Utomo dengan PBI pada tahun 1935 melahirkan Partai Indonesia Raya,
(Z. Tulie 1984:138)

Related Post



Posting Komentar