Nama Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar adalah lelaki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun Khadijah lebih dahulu
masuk Islam daripadanya, adapun dari golongan anak-anak, Ali yang pertama kali memeluk
Islam, sementara Zaid bin Haritsah adalah yang pertama kali memeluk Islam dari golongan
budak.
Ternyata keislaman Abu Bakar paling banyak membawa manfaat besar terhadap Islam dan kaum
muslimin dibandingkan dengan keislaman selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan
semangat serta kesungguhannya dalam berdakwah. Dengan keislamannya maka masuk
mengikutinya tokoh-tokoh besar yang masyhur seperti Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi
Waqqas, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Talhah bin Ubaidillah.
Sebelum masuk Islam, ia dipanggil dengan sebutan Abdul Ka’bah. Ada cerita menarik tentang
nama ini. Ummul Khair, ibunda Abu Bakar sebelumnya beberapa kali melahirkan anak laki-laki.
Namun setiap kali melahirkan anak laki-laki, setiap kali pula mereka meninggal. Sampai
kemudian ia bernazar akan memberikan anak laki-lakinya yang hidup untuk mengabdi pad
Ka’bah. Dan lahirlah Abu Bakar.
Setelah Abu Bakar lahir dan besar ia diberi nama lain; Atiq. Nama ini diambil dari nama lain
Ka’bah, Baitul Atiq yang berarti rumah purba. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya
dengan sebutan Abdullah. Nama Abu Bakar sendiri konon berasal dari predikat pelopor dalam
Islam. Bakar berarti dini atau awal.
Nama Abu Bakar ash-Shiddiq sebenarnya adalah Abdullah bin Usman bin Amir bin Amru bin
Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy atTaimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai.
Dan ibunya adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim.
Berarti ayah dan ibunya berasal dari kabilah Bani Taim.
Ayahnya diberi kuniyah (sebutan panggilan) Abu Quhafah. Dan pada masa jahiliyyah Abu Bakar
ash-Shiddiq digelari Atiq. Imam Thabari menyebutkan dari jalur Ibnu Luhai’ah bahwa anak-anak
dari Abu Quhafah tiga orang, pertama Atiq (Abu Bakar), kedua Mu’taq dan ketiga Utaiq.
B. Perjuangan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Berdakwah
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq Sebelum Masuk Islam
Sosok Abu Bakar As Shiddiq dikenal sebagai shahabat dekat Rasulullah, dan merupakan orang
yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW. Beliau menjadi orang yang sangat berjasa besar
dalam penyebaran risalah Islam.
Abu Bakar dilahirkan setelah tahun Gajah, maka beliau lebih muda dari Rasulullah karena Rosul
dilahirkan di tahun Gajah. Tetapi para ulama bersilang pendapat mengenai jarak waktu antara
tahun gajah denga waktu kelahiran beliau. Diantara ulama ada yang berp endapat bahwa beliau
dilahirkan 3 tahun selepas tahun Gajah, ada yang mengatakan 2 tahun 6 bulan, ada yang
berpendapat 2 tahun beberapa bulan tanpa menetapkan jumlah bulannya.
Beliau hidup dalam lingkungan keluarga yang baik dan mulia di antara kaumnya. Bahkan Abu
Bakar temasuk salah satu pembesar Quraisy dari Bani Taim. Dia menjadi orang yang mulia dan
terkemuka di kaumnya. Bahkan sebelum Islam Abu Bakar terkenal sebagai orang yang mampu
menjaga diri dari perilaku perilaku jahiliyah seperti minum khamr, zina, dan bahkan
diriwayatkan bahwa beliau termasuk orang yang tidak pernah bersujud kepada berhala.
Dalam hal keilmuan pun Abu Bakar terkenal seorang ahli nasab. Dia bahkan menjadi rujukan
dan guru para ahli nasab di zamannya seperti ‘Uqail bin Abi Thalib dan yang lainnya. Beliau
juga terkenal sebagai saudagar kaya yang sering berdagang ke negeri Syam. Beliau menjadi
sahabat Rasulullah sejak dari kecil hingga dewasa, bahkan dalam dunia perdagangan saat
Rasulullah menjadi pedagang.
2. Abu Bakar Ash-Shiddiq Setelah Masuk Islam
Abu Bakar termasuk orang yang menjaga diri di masa jahiliyah. Dia tidak pernah bersujud
kepada berhala dan bahkan berusaha mencari agama yang benar dan sesuai dengan fitrah yang
suci. Dengan profesinya sebagai pedagang, beliau sering melakukan perjalan jauh ke berbagai
wilayah. Dalam perjalananya inilah beliau selalu berhubungan dengan penganut berbagai agama
demi mencari agama yang paling benar sesuai fitrah manusia. Maka banyak penulis yang sering
menuliskan bahwa keimanan Abu Bakar lahir dari perjalanan perncariannya terhadap agama
yang lurus sesuai fitrah.
Dikisahkan pula bahwa beliau sering berbincang dengan orang-orang yang masih berpegang
pada ajaran tauhid semisal Waraqah bin Naufal dkk. Abu Bakar pernah bercerita bahwa ketika
dia duduk di sekitar Ka’bah, saat itu ‘Amru bin Nufail juga sedang duduk. Kemudian lewatlah
Umayyah ibnu Abi As Shalt dan bertanya: “Bagaimana kabarmu wahai pencari kebaikan?”
(maksudnya pencarian agama yang benar) lalu beliau menjawab: “Baik” maka Ibnu Abi Shalt
pun bertanya kembali: “Apa kamu sudah menemukannya?” dan beliau pun menjawab: “Belum”
a. Sampainya Dakwah kepada Abu Bakar Ash Shiddiq
Abu Bakar merupakan orang yang sangat dekat dan memiliki hubungan yang kuat dengan
Rasulullah Muhammad Saw. di masa jahiliyah. Maka ketika Rasulullah mengajaknya kepada
Islam Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang langsung menerima Islam tanpa sedikitpun
keraguan. Adapun kisah keIslaman beliau adalah sebagai berikut:
“Kemudian Abu Bakar menemui Rasulullah Saw. seraya bertanya: “Apakah benar yang
dikatakan oleh kaum Quraisy wahai Muhammad? Bahwa engkau telah meninggalkan tuhantuhan kami, membodohkan akal kami, dan mengkafirkan orang tua kami?” Rasulullah
menjawab: “Benar, sesungguhnya aku adalah utusan Allah dan nabi-Nya, Allah mengutusku
untuk menyampaikan risalahNyadan mengajakmu menunju Allah dengan benar. Demi Allah ini
adalah risalah yang benar. Aku mengajakmu wahai Abu Bakar kepada Allah yang Maha Esa
tiada sekutu bagi-Nya, dan janganlah engkau menyembah selainNya dan agar selalu setia dalam
ketaatan kepada-Nya.” Kemudian Rosul membacakan Al-Quran dan Abu Bakar tidak mengakui
dan tidak pula mengingkari. Kemudian dia masuk Islam dan mengingkari berhala, menanggalkan
sekutu-sekutu Allah dan mengakui kebenaran Islam. Dan Abu Bakar pun pulang dalam keadaan
sebagai seorang mukmin yang membenarkan.”
Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah wa Nihâyah menyebutkan beberapa riwayat yang mengatakan
bahwa Abu Bakar adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki. Beliau juga
merupakan orang yang pertama kali shalat bersama Nabi Saw.
b. Perannya setelah masuk Islam
Setelah menyatakan dirinya masuk Islam, Abu bakar menjadi orang yang sangat besar
peranannya dalam penyebaran risalah dan dakwah Islam. Banyak dari sahabat-sahabat besar
yang masuk Islam melalui Abu Bakar Ah Shiddiq. Diantaranya adalah Zubaeir bin Awwam,
Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqash, Utsman bin Math’un, Abi
Ubaidah bin Jarah, Abi salamah bin Abdul Asad, Al Arqam ibnu Abi’l Arqam. Abu Bakar juga
mengajak keluarganya untk memeluk Islam dan berhasil mengIslamkan putrinya Aisyah dan
Asma’, putranya Abdullah, Istrinya Ummu Rumman, juga pembantunya Amir bin Qahirah.
Abu Bakar menjadi pendamping Rasulullah dalam perjalanan dakwah beliau. Abu Bakar belajar
bahwa Islam adalah amal, dakwah dan jihad. Keimanan baginya tak hanya cukup dengan sekedar
percaya belaka, namun lebih dari itukeimanan takkan pernah sempurna sehingga seorang muslim
menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah SWT
Dan Abu Bakar pun menjadi sahabat Rasulullah yang berperan sangat besar dalam penyebaran
risalah Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA. Bahwa ketika umat
Islam masih berjumlah 38 orang, Abu Bakar mendesak Rasulullah agar umat Islam tidak lagi
menyembunyikan keIslamannya. Meski Rasul sendiri awalnya menolak usulan ini, namun Abu
Bakar terus mendesak hingga Rosul pun menerima usulan ini. kemudian ketika berada di
Masjidil Haram Abu Bakar pun berpidato sedang Rasulullah duduk. Maka dari itu Abu Bakar
adalah orang yang pertama kali berpidato mengajak kepada Islam. Ketika itu orang-orang
musyrik segera mengeroyok beliau hingga beliau pun babak belur, tapi beruntung Bani Taim
segera datang dan menyelamatkannya dari amukan kaum musyrikin. Ketiak itu bani Taim yang
melihat luka-luka Abu Bakar yang parah menghawatirkan kalau Abu Bakar akan meninggal.
Sehingga mereka kembali ke Masjid dan memberikan pengumuman bahwa kalau sampai Abu
Bakar meninggal maka mereka akan membunuh Uqbah bin Rabi’ah.
Saat abu bakar siuman, bani Taim pun berusaha menanyainya namun Abu Bakar terus
menyanyakan bagaimana keadaan Rasulullah. Dan Ummu Khair (ibu Abu Bakar) diminta untuk
membujuknya agar mau makan. Namun ia tetap saja terus menanyakan Nabi Muhammad Saw.
karena ibunya memang tak tau menahu tentang keadaan Rosul, maka Abu Bakar memintanya
untuk menayakannya kepada Ummu Jamil binti Khattab. Ummu Jamil pun datang menemui Abu
Bakar dan mengabarkan padanya bahwa Rasulullah selamat, baik-baik saja dan sekarang sedang
berada di Darul Arqam. Ketika itu Abu bakar pun meminta untuk menemui Rasulullah di Darul
Arqam. Rasulullah dan kaum Muslimin menyambut hangat kedatangan beliau. Saat itulah ia
meminta agar Rasulullah mengajak ibunya untuk masuk Islam dan mendoakannya agar bisa
terselamatkan dari siksa neraka. Kemudian Rosulpun mendoakan dan mengajaknya kepada
Islam. Ummu Khair pun masuk Islam.
Itu hanyalah salah satiu contoh kecil dari ribuan kisah perjuangan Abu Bakar dalam dakwah dan
penyebaran Risalah Islam bersama Rasulullah. Masih ada banyak lagi kisah-kisah perjuangan
Abu Bakar dalam membela Islam dan Rasulullah Saw. mulai dari siakpnya yang selalu membela
dan pendamping Rasulullah dari berbagai intimidasi dan hinaan kaum musyrikin, pengorbanan
beliau dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah, membebaskan budak muslim dari siksaan
kaum musyrik, infak beliau dalam persiapan Jihad di jalan Allah, keberaniannya dalam berbagai
pertempuran dan peperangan, perjalanan beliau menemani Rosululah dalam hijrahnya menuju
Madinah yang penuh tantangan sekaligus hikmah dan pelajaran.
Keteguhan beliau dalam membela dan mendampingi Rasulullah ini menjadikan beliau menjadi
orang yang paling dekat dan dicintai oleh Rasulullah. Sehingga tak heran ketika kabar Isra’
Mi’raj sampai kepadanya tak ada keraguan sedikitpun dalam hatinya seraya mengtakan “Jika
yang mengatakannya adalah Nabi Muhammad maka itu pasti benar”. Tak heran ketika QS. AnNasr turun, beliau menjadi orang pertama yang menangis karena menyadari bahwa sahabat
dekatnya akan segera meninggalkannya menghadap sang Khaliq. Tak heran juga jika Rasulullah
pun menjadikan belaiu sebagai Imam mengantikan Rasulullah saat terbaring sakit. Dan tak heran
pula, jika umat islam pun membaiat beliau menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah Saw.
C. Proses Pengangkatan Abu Bakar Ash-Shiddiq Menjadi Khalifah
Wafatnya Rasulullah Saw. mengejutkan seluruh umat Islam bahkan banyak dari kalangan
shahabat yang tidak mempercayai kabar ini. sehingga banyak yang bingung menyikapi peristiwa
besar ini. banyak dari para Shahabat yang tertunduk lesu tak mampu menegakkan kakinya,
banyak yang lidahnya kelu tak bisa berkata-kata, bahkan ada yang mengingkari hal ini dan
bahkan ada pula yang sampai mengatakan bahwa Rasulullah tidaklah meninggal, beliau hanya
pergi untuk menemui Rabbnya sebagaiman Musa AS menemui Rabbnya selama 40 hari. Bahkan
Umar pun mengangkat pedangnya dan bersumpah akan menebas siapapun yang mengatakan
Rasulullah meninggal.
Bahkan Imam Qurthuby mengisahkan betapa besarnya musibah ini, seraya menjelaskan bahwa
sebesar-besar musibah adalah musibah yang menimpa agama. Dan wafatnya Roslullah
merupakan musibah besar yang menimpa agama ini.
Dan sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw ini, karena umat Islam ketika
ditinggalkan oleh beliau mulai menghadapi musibah besar yang tiada henti. Karena dengan
wafatnya Rasulullah maka terputuslah wahyu, berakhirlah kenabian, dan merupakan awal
munculnya para nabi palsu, banyak umat Islam yanng murtad, dan ini menjadi titik kemunduran
pertama setelah sebelumnya umat Islam berhasil mencapai puncaknya.
1. Pertemuan di Saqîfah Bani Sa’idah
Setelah berita wafatnya Rasulullah menyebar, para sahabat mulai bertanya-tanya mengenai
siapakah yang akan menggantikan kepemimpinan umat Islam nantinya. Mengingat bahwa ini
merupakan masalah yang penting bagi kaum Muslimin. Maka di hari itu pula, berkumpullah
kaum Anshar di Saqîfah atau tempat pertemuan Bani Sa’idah. Saat kaum Muhajirin mengetahui
hal ini, mereka pun segera menyusul untuk mengikuti pertemuan ini.
Di dalam perjalanannya menuju Saqîfah Bani Sa’idah ini Umar menceritakan bahwa mereka
bertemu dengan dua orang laki-laki shalih. Dua orang ini bertanya: “Hendak kemanakah kalian
wahai kaum Muhajirin?” kami menjawab: “Kami hendak menemui saudara-saudara kami di
Saqîfah bani Sa’idah.” Keduanya pun mengingatkan agar kaum Muhajirin mengurungkan
niatnya untuk pergi ke saqîfah ini. Namun kami tetap bersikukuh untuk pergi kesana. Ketika
sampai kami melihat seseorang yang sedang terbaring berselimut berada dalam majlis itu. Aku
(Umar) bertanya: “Siapa ini?” mereka menjawab: “Dia adalah Sa’ad bin Ubadah.” Setelah kami
duduk sejenak salah seorang dari mereka berrpidato dengan menyatakan akan keutamaan kaum
Anshar yang telah menjadi penolong Rasulullah dan membawa Islam menuju kemajuan seraya
mengingatkan agar kaum Muhajirin tidak mengeluarkan kaum Anshar dalam masalah khilafah.
Saat itu aku telah menyiapkan kata-kata yang menurutku paling indah untuk aku sampaikan.
Namun saat itu Abu Bakar mencegahku dan dia menyampaikan kata-kata yang jauh lebih indah
dari yang hendak kusampaikan. Kemudian ia menyampaiakan hadits nabi tentang siapa yang
berhak dalam perkara ini. Maka Kaum Anshar pun menerimanya.
Setelah Abu Bakar selesai berpidato dalam saqîfah Bani Sa’idah dia pun mengajukan Umar dan
Abu Ubaidah sebgai Khalifah. Tapi Umar juga menolaknya dan membenci hal itu. Umr juga
mengatakan bahwa jikalau lehernya dipenggal, itu tidaklah cukup untuk dibandingkan jika dia
harus menjadi pemimpin dimana Abu Bakar ada di dalam kaum tersebut. Maka ketika itu Umar
pun membaiat Abu Bakar dan kaum Muhajirin pun mengikutinya, kemudian kaum Anshar
berikutnya.
Disinilah mulai terlihat kepiawaian Abu Bakar Ash Shidiq yang dengan tenang mampu
menghadapi musibah besar ini. beliau segera berpidato membacakan ayat Allah menenangkan
kaum muslimin. Beliau pun mengatatkan dalam pidatonya bahwa sesungguhnya barang siapa
menyembah Nabi Muhammad Saw. maka sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. telah meninggal
dan barang siapa menyembah Alla SWT maka sesungguhnya Allah adalah Maha Hidup dan tak
akan pernah mati, kemudian beliau membacakan QS. Ali Imran [3]: 144
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa
orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?
barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada
Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
2. Baiat ‘Ammah terhadap Abu Bakar
Setelah Abu Bakar mendapat baiat dalam pertemuan di saqîfah Bani Sa’idah, di hari berikutnya
umat Islam pun melaksanakan baiat Ammah terhadap Abu Bakar. Dalam riwayat dari Annas bin
Malik ia mengatakan bahwa saat itu Umar berdiri sedang Abu Bakar duduk, dia berpidato
seraya menyebutkan keutamaan Abu bakar yang telah menjadi orang terdekat Rasulullah, yang
menemani beliau dalam gua, yang menggantikan beliau sebagai iman saat beliau sakit.
Kemudian Umar pun meminta agar kaum muslimin untuk membaiat Abu Bakar sebagai
pemimpin umat Islam. Saat itulah kaum muslimin membaiat Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar
pun ganti berpidato di hadapan seluruh kaum muslimin saat itu. Dan bersatulah seluruh umat
Islam dalam kepemimpinan Abu Bakar RA.
D. Permasalahan dan Langkah-Langkah Abu Bakar Ash-Shiddiq
1. Kebijakan dalam Urusan Keagamaan
Ada beberapa kebijakan Khalifah Abu Bakar yang menyangkut terhadap Agama antara lain :
a. Memerangi Nabi palsu,orang-orang yang murtad (Riddah) dan tidak mengeluarkan
zakat
Pada awal pemerintahannya, ia diuji dengan adanya ancaman yang datang dari ummat Islam
sendiri yang menentang kepemimpinannya. Di antara pertentangan tersebut ialah timbulnya
orang-orang yang murtad (kaum Riddah),orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat,
orang-orang yang mengaku menjadi Nabi seperti Musailamah Al Kazzab dari bani Hanifah di
yamamah, Sajah dari bani Tamim, Al Aswad al Ansi dari yaman dan Thulaihah ibn Khuwailid
dari Bani Asad, serta beberapa pemberontakan dari beberapa kabilah.
Untuk mengembalikan mereka pada ajaran Islam, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq membentuk
sebelas pasukan dengan pemimpinnya masing-masing. Setiap pemimpin pasukan mendapat tugas
untuk mengembalikan keamanan dan stabilitas daerah yang ditentukan. Abu Bakar
menyampaikan wasiat kepada pasukan untuk tidak berkhianat, tidak menipu, tidak melampaui
batas, tidak mencincang musuh, tidak membunuh anak-anak atau wanita atau orang lanjut usia,
tidak memotong kambing atau unta kecuali untuk dimakan.
Di antara wasiat yang disampaikan Abu Bakar kepada mereka ialah; “Jika kalian melewati suatu
kaum yang secara khusus melakukan ibadah di biara-biara, biarkanlah mereka dan apa yang
mereka sembah.”Pasukan ini dibaginya menjadi sepuluh panji, masing-masing pemegang panji
diperintahkan untuk menuju ke suatu daerah.
Adapun sebelas panglima dan tugasnya adalah sebagai berikut :
1) Khalid bin Walid diperintahkan untuk memerangi Tulaihah bin Khuwailid yang mengaku
sebagai Nabi dan Malik bin Nuwairah yang memimpin pemberontakan dai al-Battah, suatu
daerah di Arab tengah.
2) Ikrimah bin Abu Jahal diberi tugas untuk memerangi Musailamah al-Kazzab seorang kepala
suku yang mengaku sebagai nabi. Gerakan ini muncul di daerah bani Hanifah yang terletak
dipesisir timur Arab (Yamamah).
3) Syurahbil bin Hasanah mendapat tugas membantu Ikrimah, sebagai pasukan cadangan. Jika
tugasnya selesai, ia dan tentaranya diperintahkan langsung menuju pusat wilayah Yamamah.
4) Muhajir bin Umayyah diutus untuk menundukkan sisa-sisa pengikut Aswad al-Ansi (orang
yang pertama mengaku sebagai nabi) di Yaman. Selanjutnya ia harus menuju Hadramaut
untuk menghadapi pemberontakan yang dipimpin Kais bin Maksyuh di Jazirah Arab selatan.
5) Huzaifah bin Muhsin al-galfani diperintahkan untuk mengamankan daerah Daba yang
terletak diwilayah tenggara, dekat Oman sekarang, juga karena pemimpin mereka mengaku
Nabi.
6) Arfajah bin Harsamah ditugaskan untuk mengembalikan stabilitas daerah Muhrah dan
Oman yang terletak dipantai selatan Jazirah Arabia. Mereka membangkang terhadap Islam
dibawa pemimpinan Abu Bakar.
7) Suwaib bin Muqarin diperintahkan untuk mengamankan daerah Tihamah yang terletak
sepanjang pantai Laut Merah. Mereka juga membangkang terhadap pimpinan Abu Bakar.
8) Al-Alla’ bin Hadrami mendapat tugas ke daerah kekuasaan kaum Riddah yang yang murtad
dari Islam.
9) Amru bin Ash ditugaskan ke wilayah suku Kuda’ah dan Wadi’ah yang terletak di barat laut
Jazirah Arabiyah. Mereka juga membelot terhadap kepemimpinan Islam.
10) Khalid bin Sa’id mendapat tugas menghadapi suku-suku besar bangsa Arab yang ada
diwilayah tengah bagian utara sampai perbatasan Suriah dan Irak yang juga menunjukkan
pembangkangan terhadap Islam.
11) Ma’an bin Hijaz mendapat tugas untuk menghadapi kaum Riddah yang berasal dari suku
Salim dan Hawazin di daerah Ta’rif yang membangkan terhadap kepemimpinan Islam.
Sementara itu, Abu Bakar sendiri telah siap berangkat memimpin satu pasukan ke Dzil Qishshah,
tetapi Ali Rodhiyallahu ‘anhu berkeras untuk mencegah seraya berkata, “Wahai Khalifah
Rasulullah, kuingatkan kepadamu apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam pada Perang Uhud, ‘Sarungkanlah pedangmu dan senangkanlah kami dengan dirimu.’
Demi Allah, jika kaum Muslimin mengalami musibah karena kematianmu, niscaya mereka tidak
akan memiliki eksistensi sepeninggalanmu.”
Abu Bakar kemudian kembali dan menyerahkan panji tersebut kepada yang lain. Allah
memberikan dukungan kepada kaum Muslimin dalam pertempuran ini sehingga berhasil
menumpas kemurtadan, memantapkan Islam di segenap penjuru Jazirah, dan memaksa semua
kabilah untuk membayar zakat.
b. Pengumpulan Al-Qur’an
Selama peperangan Riddah, banyak dari penghafal Al-Qur’an yang tewas. Karena orang-orang
ini merupakan penghafal bagian-bagian Al-Qur’an, Umar cemas jika bertambah lagi angka
kematian itu, yang berarti beberapa bagian lagi dari Al-Qur’an akan musnah. Karena itu,
menasehati Abu Bakar untuk membuat suatu “kumpulan” Al-Qur’an kemudian ia memberikan
persetujuan dan menugaskan Zaid ibn Tsabit karena beliau paling bagus Hafalannya. Para ahli
sejarah menyebutkan bahwa pengumpulan Al-Qur’an ini termasuk salah satu jasa besar dari
khalifah Abu Bakar.
c. Ilmu Pengetahuan
Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi
maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan
tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya. Menurut Ahmad Syalabi
lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan Kuttab. Kuttab merupakan lembaga
pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa
Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada
masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat
Rasul terdekat.
Lembaga pendidikan Islam masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat
pertemuan, dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Alqur’an dan lain sebagainya.
2. Kebijakan dalam Urusan Kenegaraan
Ada beberapa kebijakan Abu Bakar dalam pemerintahan atau kenegaraan, yang dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Bidang eksekutif
Pendelegasian terhadap tugas-tugas pemerintahan di Madinah maupun daerah. Misalnya untuk
pemerintahan pusat menunjuk Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, dan Zaid bin tsabit sebagai
sekretaris dan Abu Ubaidah sebagai bendaharawan. Serta Umar bin Khathab sebagai hakim
Agung. Untuk daerah kekuasaan Islam, dibentuklah provinsi-provinsi, dan untuk setiap provinsi
ditunjuk seorang amir. Antara lain ;
Itab bin Asid menjadi Amir dikota Mekkah, amir yang diangkat pada masa Nabi
Ustman bin Abi Al-Ash, amir untuk kota Thaif, diangkat pada masa nabi
Al-Muhajir bin Abi Umayyah, amir untuk San’a
Ziad bin Labid, amir untuk Hadramaut
Ya’la bin Umayyah, amir untuk khaulan
Abu Musa Al-Ansyari, amir untuk zubaid dan rima’
Muaz bin Jabal, Amir untuk Al-Janad
Jarir bin Abdullah, amir untuk Najran
Abdullah bin Tsur, amir untuk Jarasy
Al-Ula bin hadrami, amir untuk Bahrain, sedangakn untuk Iraq dan Syam (Syria)
dipercayakan kepada para pemimpin Militer.
Para Amir tersebut bertugas sebagai pemimpin agama, juga menetapkan hukum dan
melaksanakan undang-undang. Artinya seorang amir di samping sebagai ppemimpin agama, juga
sebagai hakim dan pelaksana tugas kepolisian. Namun demikian, setiap amir diberi hak untuk
mengangkat pembantu-pembantunya, seperti katib, amil, dan sebagainya.
b. Pertahanan dan Keamanan
Dengan mengorganisasikan pasukan-pasukan yang ada untuk mempertahankan eksistensi
keagamaan dan pemerintahan. Pasukan itu disebarkan untuk memelihara stabilitas di dalam
maupun di luar negeri. Di antara panglima yang ditunjuk adalah Khalid bin Walid, Musanna bin
Harisah, Amr bin ‘Ash, Zaid bin Sufyan, dan lain-lain.
c. Yudikatif
Fungsi kehakiman dilaksanakan oleh Umar bin Khathab dan selama masa pemerintahan Abu
bakar tidak ditemukan suatu permasalahan yang berarti untuk dipecahkan. Hal ini karena
kemampuan dan sifat Umar sendiri, dan masyarakat dikala itu dikenal ‘alim.
d. Sosial Ekonomi
Sebuah lembaga mirip Bait Al-Mal, di dalamnya dikelola harta benda yang didapat dari zakat,
infak, sedekah, harta rampasan, dan lain-lain. Penggunaan harta tersebut digunakan untuk gaji
pegawai negara dan untuk kesejahteraan ummat sesuai dengan aturan yang ada.
Jadi dapat disimpulkan bahwa khalifah Abu bakar diangkat menjadi Khalifah dengan jalan
Musyawarah, walaupun diantara Sahabat ada yang tidak ikut dalam pembai’atan dan pada
akhirnya mereka melakukan sumpah setia. Dengan demikian, secara nyata, pengangkatan Abu
bakar sebagai khalifah disetujui.
E. Kemajuan Kebudayaan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar
1. Penyebaran dan Kekuasaan Islam
Islam pada hakikatnya adalah agama dakwah, artinya agama yang harus dikembangkan dan
didakwahkan. Terdapat dua pola pengembangan wilayah Islam, yaitu dengan dakwah dan
perang. Setelah dapat mengembalikan stabilitas keamanan jazirah Arabiah, Abu Bakar beralih
pada permasalahan luar negeri.
Pada masa itu, di luar kekuasaan Islam terdapat dua kekuatan adidaya yang dinilai dapat
menganggu keberadaan Islam, baik secara politisi maupun agama. Kedua kerajaan itu adalah
Persia dan Romawi. Rasulullah sendiri memerintahkan tentara Islam untuk memerangi orangorang Ghassan dan Romawi, karena sikap mereka sangat membahayakan bagi Islam. Mereka
berusaha melenyapkan dan menghambat perkembangan Islam dengan cara membunuh sahabat
Nabi. Dengan demikian cikal bakal perang yang dilakukan oleh ummat Islam setuju untuk
berperang demi mempertahankan Islam.
Pada tahap pertama, Abu Bakar terlebih dahulu menaklukkan persia. Pada bulan Muharram
tahun 12 H (633 M), ekspedisi ke luar Jazirah Arabia di mulai. Musanna dan pasukannya dikirim
ke persia menghadapi perlawanan sengit dari tentara kerajaan Persia. Mengetahui hal itu, Abu
Bakar segera memerintahkan Khalid bin Walid yang sedang berada di Yamamah untuk
membawa pasukannya membantu Musanna. Gabungan kedua pasukan ini segera bergerak
menuju wilayah persia. Kota Ubullah yang terletak di pantai teluk Persia, segera duserbu.
Pasukan Persia berhasil diporak-porandakan. Perang ini dalam sejarah Islam disebut dengan
Mauqi’ah Zat as-Salasil artinya peristiwa untaian Rantai.
Pada tahap kedua, Abu Bakar berupaya menaklukkan Kerajaan Romawi dengan membentuk
empat barisan pasukan. Masing-masing kelompok dipimpin seorang panglima dengan tugas
menundukkan daerah yang telah ditentukan. Kempat kelompok tentara dan panglimanya itu
adalah sebagai berikut :
Abu Ubaidah bin Jarrah bertugas di daerah Homs, Suriah Utara, dan Antiokia
Amru bin Ash mendapat perintah untuk menaklukkan wilayah Palestina yang saat itu
berada di bawah kekuasaan Romawi Timur.
Syurahbil bin Sufyan diberi wewenang menaundukkan Tabuk dan Yordania.
Yazid bin Abu Sufyan mendapat perintah untuk menaklukkan Damaskus dan Suriah
Selatan.
Perjuangan tentara-tentara Muslim tersebut untuk menaklukkan Persia dan Romawi baru tuntas
pada mas ke khalifaan Umar bin khathab.
2. Peradaban Islam
Bentuk peradaban yang paling besar dan luar biasa dan merupakan satu kerja besar yang
dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah penghimpunan Al-Qur’an. Abu Bakar
Ash-Shiddiq memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Qur’an dari pelepah
kurma, kulit binatang, dan dari hapalan kaum muslimin. Hal yang dilakukan sebagai usaha untuk
menjaga kelestarian Al-Qur’an setelah Syahidnya beberapa orang penghapal Al-Qur’an pada
perang Yamamah. Umarlah yang mengusulkan pertama kainya penghimpunan ini. Sejak saat
itulah Al-Qur’an dikumpulkan pada satu Mushaf.
Selain itu, peradaban Islam yang terjadi pada praktik pemerintahan Abu Bakar terbagi pada
beberapa Tahapan, yaitu sebagai berikut :
Dalam bidang penataan sosial ekonomi adalah mewujudkan keadilan dan kesejahteraan
sosial masyarakat. Untuk kemaslahatan rakyat ini, ia mengelola zakat, infak, dan sedekah
yang berasal dari kaum muslimin, serta harta ghanimah yang dihasilkan dari rampasan
perang dan jizyah dari warga negara non-muslim, sebagai sumber pendapatan baitul Mal.
Penghasilan yang diperoleh dari sumber-sumber pendapatan negara ini dibagikan untuk
kesejahteraan para tentara, gaji para pegawai negara, dan kepada rakyat yang berhaq
menerimanya sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an.
Praktik pemerintahan khalifah Abu Bakar yang terpenting adalah suksesi kepemimpinan atas
inisiatifnya sendiri dengan menunjuk umar sebagai penggantinya. Ada beberapa faktor Abu
Bakar menunjuk atau mencalonkan Umar menjadi Khalifah. Faktor utama adalah
kekhawatiran akan terulang kembali peristiwa yang sangat menegangkan di Tsaqilah Bani
Saidah yang nyaris menyulut umat Islam kejurang perpecahan, bila tidak merujuk seorang
untuk menggantikannya.
Dari penunjukan Umar tersebut, ada beberapa hal yang perlu dicatat :
Abu Bakar dalam menunjuk Umar tidak meninggalkan asa musyawarah. Ia lebih dahulu
mengadakan konsultasi untuk mengetahui aspirasi rakyat melalui tokoh-tokoh kaum
muslimin.
Abu Bakar tidak menunjuk salah seorang putranya ataupun kerabatnya, melainkan
memilih seorang yang mempunyai nama dan mendapat tempat dihati masyarakat serta
disegani oleh rakyat karena sifat-sifat terpuji yang dimilikinya.
Pengukuhan Umar menjadi khilafah sepeninggal Abu Bakar berjalan dengan baik dalam
suatu baiat umum dan terbuka tanpa ada pertentangan di kalangan kaum muslimin.
Posting Komentar