Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal
Home » sejarah » Jual Beli Pahlawan
Jual Beli Pahlawan
Tegal perlahan memasuki musim hujan. Debu yang berterbangan perlahan sirna tergantikan percikan hujan yang meninggalkan bekasnya di dinding-dinding rumah. Daun pepohonan basah menyegarkan pandangan. Mungkin karena daun pun sumringah terguyur air sehingga kesegarannya menembus hati manusia sekelilingnya. Genangan air memenuhi pelataran, pertanda jenis tanah di daerah ini sulit menyerap air. Aku belum tahu pasti apa jenis tanahnya secara ilmiah namun saya biasa menyebutnya tanah linjad / tanah lempung. Sejenis tanah ini aku temui juga di wilayah purwodadi.
Panas Tegal tak hanya meresahkan tumbuhan yang hanya sedikit di daerah ini namun juga kulitku. Baru beberapa hari muncul Kringet buntut ( bahasa jawa )/ biang keringat yang membuatku gatal. Memang butuh adaptasi udara dan air di sini. Dan hujan sudah membantuku untuk menghadapi kesulitan kemapuan adaptasi fisikku . Kegiatan di posko tak bisa membuatku sumringah, kebanyakan membosankan namun mencekam. Diisi dengan tampil di acara desa dan juga tiduran di posko membuatku ketakutan akan merasa nyaman dalam posisi ini. Keadaan ini dapat meningkatkanku dalam segi kemalasan. Buku hukum Islam karya Al hafidz Ibnu Hajar Al Asqalam dan buku NU vis a vis NEGARA karya Andree Feillard menemani kesunyianku di sini. Sunyi tanpa hape dan sosial media memang membuatku sadar satu hal bahwa saya butuh menyingkir dari keramaian untuk focus sejenak meningkatkan pengetahuan diri. Meningkatkan substansial dari segala tindakan.
Berita dari TV, adalah satu-satunya akses yang membuatku tidak tertinggal dari info politik dan berita Indonesia lainnya. Secara pribadi aku tertarik pada hal itu dari dulu walau tak menguasai secara mendalam perpolitikan bangsa ini. Hari ini kaca layar televisi menampilkan hari sumpah pemuda. Dimana hari ini special bagi bangsa Indonesia terutama aku sebagai mahasiswa jurusan sejarah. Kecintaan terhadap negeri memang bukan sekedar menyembah bergala tanah dan air. Kecintaan pada bangsa ini adalah cinta akan kesatuan dari keragaman nilai kehidupan.
Dulu aku ingin menjadi seorang Hatta yang diam dan religious namun kecintaan pada negerinya tak bisa diduakan. Ingin seperti Tan malaka bahkan sjarir. Menjadi seorang tokoh yang memberikan inspirasi untuk sesama. Namun dulu memang berbeda dengan sekarang. Kini bukan eranya lagi aku seperti mereka. Aku mencintai apa yang diberikan kehidupan untukku. Aku menjadi diriku dengan berusaha memantaskan diri untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Tak bisa kita bermanfaat bagi sesama jika tak memiliki kemampuan apapun.
Pahlawan adalah mereka yang memiliki satu nilai luhur kehidupan yang kemudian dengan konsisten dan dedikasi yang tinggi mereka memperjuangkan nilai itu. Bukan atas dasar jasa yang tercantum untuk bangsa dan masyarakat umum. Karena gelar pahlawan hanya bersifat politis semata. Ingatlah saja sosialisme yang diperjuangkan hatta dari sisi ekonomi koprasi, Soekarno dalam memperjuangkan kebebasan saat bumi nusantara masih ditindas oleh jiwa-jiwa serakah dan dipenuhi jiwa-jiwa miskin persatuan. Ingatlah juga Tan Malaka yang memperjuangkan pergerakan kelas bawah yang walau dianggap Negara bukan pahlawan dulunya namun ia pahlawan yang benar-benar memikirkan rakyat bukan sekedar bapak republik.
Masa kini, bukan hanya kesejahteraan eks pejuang namun nilai-nilai kepahlawanan yang wajib diselamatkan. Nilai-nilai itu kini terjual belikan dengan murahnya oleh manusia-manusia yang gila kenyamanan, uang bahkan gila keindahan. Tak hanya gelar pahlawan yang mudah diperolah namun juga nilai pahlawan yang diperjuangkan kini tak ada nilainya.
Nilai persamaan derajat manusia yang dulu di perjuangkan oleh Nelson mandela dari segi warna kulit pun tak ada nilainya lagi saat ini. Bayangkan saja tiap hari orang berlomba-lomba menjadi putih padahal Nelson sudah berjuang bahwa apapun warna kulitnya manusia wajib mendapatkan hak yang sama. Tak boleh membedakan seseorang dari warna kulit. Bandingkan nilai perjuangan Nelson terjual dengan perjuangan manusia saat ini untuk putih. Oh dik konyol hahahah
Nilai persaudaraan apa lagi kini sudah menjadi barang murah. Saudara sebangsa setanah air hanya kini menjadi pesaingan akan menampilkan keragaman yang lebih memukau. Saudara saat ini tak dilihat dari persamaan sebagai manusia bahkan ditanah yang sama. Persaudaraan terjual oleh kepentingan-kepentingan yang sama untuk pribadi bukan tujuan bersama. Percuma nilai yang dulu diperjuangkan oleh pahlawan namun sekarang entah apa yang membuat kita bersaudara. Kubu KMP dan KIH adalah hal yang goblog dan buang-buang waktu. Persaudaraan diantara mereka jelas hanya main kepentingan belaka. Rakyat tolol pun paham kekonyolan mereka. Dari zaman konstituante mungkin DPR memang takdirnya seperti itu. Oh mbuh lah hahahhaha mumet
Nilai perjuangan mendapatkan hidup yang lebih baik yang dulu pahlawan perjuangkan untuk bangsa ini kini pun melempem. Termasuknya aku yang masih terhinakan oleh realita. Pedih dan rapuh dalam perjuangan. Dan semua itu menciptakan semangatku untuk kembali menata semuanya bahwa kita tak punya waktu menjadi seseorang melebihi para pahlawan namun kita memiliki banyak kesempatan menerapkan nilai-nilai yang diperjuangkan para pahlawan. Hidup adalah jalan pilihan menegakan nilai-nilai luhur walau kadang menjadi orang yang bapak belur dan mini mujur.
Semua orang bisa namun sedikit orang yang konsisten untuk berkeinginan melakukannya dan komitmen melaksanakannya. Ya bisa memperjuangkan nilai yang diperjuangkan pahlawan. Kini wani piro kowe menjual hidupmu tanpa makna ?? robot berdaging hahahhaha ? sesengsara apapun saya memilih sadar dalam hidup daripada nyaman tak sadar dalam hidup. Itulah jiwa brandal sejati
Dalam gelap malam desa pegirikan menanti pagi yang akan mempersembahkan revolusi takdir atau merevolusikan takdir . hahahhahahah hidup memang hanya dagelan belaka :D
Posting Komentar