Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal

Agustus merasa mampus di Magelang



Aku masih duduk menikmati angin senja yang mesra membawa anganku pada proses 3 bulan yang telah aku lalui. Berlumur kemunafikan dalam setiap langkah sangat menyiksa batin. Tak ada satu jengkal niatku untuk mengikuti PPL. Di samping bukan keinginanku juga bukan hal yang aku kehendaki. Semua atas dasar formalitas belaka. Karena system kampuslah yang membuat aku melakukan itu semua. Keangkuhanku memudar bahkan prinsipku melunak untuk mengikuti PPL karena seorang ibu.
Aku merasa malu untuk bahagia akan kemunafikan yang aku perbuat sendiri. Hal itu yang membuatku tak ada satu kesan yang istimewa di SMP N 8 Magelang. Semua atas dasar terpaksa menjalankan hari-hariku. Tak ada senyum yang sumringah di tiap detiknya. Bahkan untuk kesedihan meninggalkan merekapun tak ada. Hatiku membatu untuk merasakan kebahagiaan bahkan kesedihan di sudut-sudut kelas itu.
Bulan agustus, menjadi bulan penuh kebebasan tanpa beban. Sekolah menjadi tempat membuat bunga untuk karnaval semata. Aku acuh akan semuanya, hanya beberapa kali bercerita atau menyapa teman sejurusanku yaitu Gunadi dan Yulianto. Aku lebih banyak diam di sudut bangkuku. Mengamati mahasiswa yang lain dalam ruang PPL. Mahasiswa PPL di SMP N 8 Magelang terdiri dari 12 mahasiswa. Mereka berasal dari Fakultas bahasa dan seni, FIS dan Fakultas Teknik.
FBS ada Refi dan Ayu dari seni music. Refi dengan perawakannya yang tinggi dan hitam biasanya menari konyol. Dia nampak mengalami kestresan di awal beradaptasi dengan kegiatan sekolah. Namun pria asal Wonogiri itu merupakan mahasiswa PPL yang sering sekali identic dengan menJAWAkan diri. Beberapa kesempatan dari bahasanya lebih Njawa dari yang lain. Sikapnya pun sebenarnya tenang dan kalem. Berbeda dengan Ayu, wanita kebumen ini lebih seringnya heboh sendiri. Aku duduk disampingnya persis. Kegiatan utamanya selalu berbau dengan korea. Dari bahasa sampai muatan yang ada di leptopnya semua adalah korea. Aku pun mendiagnosis bahwa otaknya pun hanya berisi korea dengan sel-sel penyambung otaknya made in korea. Di sisi lain ia menjadi wanita terrajin soal administrasi dan paling giat soal mengajar. Dia tipe yang patuh peraturan apapun. Di awal aku tak terlalu akrab dengan Ayu. Namun hanya mengikuti kabar dia yang cinta lokasi dengan staff sekolah saja.
Dari FBS yang lain adalah berasal dari jurusan Seni rupa. Mereka adalah kawan-kawan dari Mushofi niam. Ada Kahfi Salahudin, Rizki M, dan Azmi. Dari ke 3 nya yang terlihat identic dengan seni rupa hanya Kahfi, sering kali aku temui dia hanya bersama pensil-pensil warnanya menggambar di sudut ruangan. Menepi dari keramaian ruang PPL. Tentang Rizki dan Azmi pun aku kurang memahami namun yang aku tahu mereka adalah pasangan yang solid walau tak setabil di beberapa moment.                 Jurusan bahasa inggris, ada Alan. Selain dengan mahasiswa jurusan Sejarah, sering kali aku ngobrol hanya dengan Alan. Merasa senasib dalam kemunafikan di sekolah yang membuat aku merasa ada kawan. Dia sebenarnya sangat menyukai biologi namun kemudian menepi ke bahasa Inggris karena desakan orang tuanya. Cerita kami hampir sama. Dan kesamaan ini yang sering kali membuat di sela hiruk pikuknya kesibukan mahasiswa PPL mengajar aku lebih sering bertukar pendapat dengan Alan. Namun topiknya sebenarnya hanya satu : Tergilas kehendak demi takut dosa menentang orang tua. Pribadinya sebenarnya ceria namun kecenderungan di awal dia sosok yang diam.
Sejarah ada aku dan Yulianto serta Gunadi. Aku dimasa awal hanya berkutat dengan e book dan facebook. Tidak tumbuh niat untuk akrab dengan mahasiswa yang lain. Yang jelas aku tak mau merugikan mereka saja walau aku acuh. Sementara Yulianto dan Gunadi merupakan sosok yang sebenarnya tak asing namun aku pun secara pribadi belum mengenal mereka berdua. Asal rombel yang berbeda membuat aku tak pernah komunikasi selain masalah kuliah. Komunikasinya pun ketika kami satu rombel mata kuliah di semester 8. Bahkan aku baru tahu Yulianto angkatanku ketika aku semester 7. Sedangkan Gunadi sekedar mengenal dia merupakan mantan dari sintia, teman serombelku.
Geografi aku bertemu dengan Didik dan Yuvita. Didik sudah taka sing lagi bagiku karena memang satu kegiatan di organisasi kemahasiswaan di FIS. Pribadi yang kaku dan aneh memang identic dengan dia sejak awal bertemu di tahun 2011 kala PEMIRA FIS, aku menjadi KPU dan dia Panitia Pelaksana Pemilu ( PPU ). Dia pun mungkin yang paling memahamiku di awal masa di SMP N 8 Magelang. Aku pribadi yang keras dan tak peduli banyak hal. Yuvita hanya sekedar tahu nama dan selebihnya kesan negative pada dia aku kubur mendalam di memoriku.
Ada pula Agung dari TIK. Dia mungkin mirip kegiatannya denganku hanya bahagia di depan leptop. Dan bergurau hanya dengan siswa di kelas. Dia sering kali menjadi manusia ke dua yang sampai di ruang PPL dan selanjutnya Kahfi. Dia rajin dan juga suka mengomentari orang dibeberapa kesempatan.
Kegiatan di Sekolah yang menjemukan dan adaptasi dengan rekan PPL ku merupakan tahap yang cukup buruk bagiku. Tidak menaruh minat apapun di sekolah dan hanya sekedar berangkat saja. Hal itu membuat aku sangat asik menikmati hidupku di luar sekolah. Sepulang sekolah biasanya istirahat sejenak dan setelah ashar jogging sampai alun-alun Magelang. Di alun-alun tempat yang aku tuju adalah masjid yang berada di kompleks alun-alun. Ada kedamaian sendiri ketika beribadah disana, disamping menghapus letih juga kegiatan di masjid itu biasanya berisi dengan anak-anak yang belajar membaca Al quran. Hingga pukul 6 biasanya aku baru pulang kos. Dan baru setelah isya aku menikmati buku-buku sampai bosan sendiri dan membuka facebook dengan wifi gratis dari Speedy.
Beberapa orang menganggap hidupku membosankan namun padahal kesunyian itu adalah surge bagiku. Buku dan jogging menjadi dua hal yang menggembirakan di Magelang. Selebihnya adalah siswa yang kadang memampir ke kosku untuk belajar bersama.
 CATATAN BULAN AGUSTUS


Related Post



Posting Komentar