Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal

Ku petik madu Bunga di Magelang



Agustus sangat membosankan bagiku. Dunia terasa sudah menguburku dalam-dalam dan membusukan ragaku. Rutinitas membuat bunga memasungku dalam beberapa keasikanku membaca buku. Kadang membuatku malas untuk melanjutkan membaca tapi sering kali aku paksakan sehingga membuatku ketika sampai di sekolah hanya sekedar tidur dan bangun hanya ketika mengajar atau ingin facebookan. Rutinitas di sekolah pun bertarung dengan kegemaranku jogging dan hal itu membuatku sering jatuh sakit di bulan Agustus.
Di bulan Agustus memang cukup padat dari Observasi dan juga karnaval untuk hari kemerdekaan RI. Di sela kesibukan itu kami pun di Undang pak Shokheh ke rumahnya di Rambeanak, mungkid, Magelang. Aku bersama Gunadi dan Yulianto menuju rumah pak Shokheh. Di perjalanan kami kemudian mampir di Mendut dan menikmati senja dengan cerita Gunadi yang panjang lebar. Sehingga barulah setelah Magrib kami sampai di rumah pak Shokheh. Dan hanya 3 orang dari angkatan 2010 yang diampuh oleh pak shokheh, yaitu aku , Gunadi dan Yulianto. 
Disana kami dijamu dengan hangatnya bersama kawan sejarah yang lain pula. Cukup mengasikan bertemu keluarga sejarah dan hal itu membuat kegembiraan itu harus dilanjutkan dengan berkumpul di alun-alun. Kala itu menyenangkan namun harus dibayar mahal olehku karena harus menahan sakit perut berjam-jam. Sempat mau pulang dahulu namun tak enak hati dengan kawan-kawan. Di alun-alun lebih bercerita tentang positif dan negative sekolah masing-masing. Dari sisi cerita itu kami merasa paling beruntung dan makmur. Dan itu yang membuatku membuka mata untuk bersyukur sejenak dan berusaha menikmati .
Acara karnaval kemudian aku berpartisipasi. Walau sebenarnya aku merasa minder secara pribadi. Karena tak pernah diajak baik teman PPL yang lain maupun Gunadi bahkan Yulianto untuk membantu membuat mobil bunga. Hal itu yang membuatku paling merasa lebih mandiri dan tak mau meminta bantuan apapun pada yang lain. Di titik itu membuatku merasa benar acuh akan semuanya. Itu adalah hal yang sangat sentimentil dan paling aku hapus dalam memoriku.
Baru kemudian dua kali kesempatan aku di ajak oleh Azmi untuk membantu membuat mobil karnaval. Itu adalah sentuhan pertamaku mengenal Azmi. Dan ternyata ia seorang yang sangat sabar dan gigih memperjuangkan cintanya. Baru kemudian setelah itu aku sedikit membuka diri mencari tahu karakter Azmi dan belajar dari dia.
Membuat mobil karnaval pun aku lebih sering tak bersama krumunan mahasiswi lainnya, mereka lebih bergerombol dengan Yuvita, Azmi dan Ayu. Sementara aku lebih focus dengan spesialisasi pekerjaan pria dan memisahkan diri dari keuletan pekerjaan wanita seperti membuat bunga kembali. Dalam pembuatan mobil bunga itu, aku akhirnya tahu bahwa Rizki ternyata pernah hidup di Purbalingga juga dan ternyata dia adalah teman mba Pink ( Pend Sejarah, 2008 ) . Kami mengobrol bersama di bawah tiang bendera SMP N 8 Magelang, sembari menikmati rokok dan keletihan kehidupan.
Di sisi ini aku memahami bahwa kita harus tetap menutupi diri kita walau kita belajar dari orang lain tentang kehidupan. Karena kehidupan kita terlalu mahal untuk dibagikan pada sembarang orang. Dari itu saya hanya mencuri ilmu mereka tanpa memberi kesempatan mereka tahu saya. Dan itu menyiksa diri.Dan aku ingin menjadi lebah yang mengambil madu dari kehidupan orang tanpa merusak keindahan kehidupan orang. hahhaha

Related Post



Posting Komentar