Cinta
itu seperti alat komunikasi. Cinta membuat yang jauh terasa dekat.
Menghubungkan pesan hati melalui sinyal-sinyal abadi. Ia menyampaikan segala
hal dengan cepat melebihi kilatan petir. Dan kadang cinta seperti teleskop, ia
mampu memperlihatkan yang jauh seperti bintang Nampak lebih dekat. Ya, seperti
bintang yang jauh disana. Hari ini aku bertemu dengannya setelah sekian lama
tak berjumpa. Kami di pisahkan oleh mimpi yang berbeda dan kelas yang berbeda.
Pucuk daun : lama aku tak jumpa kau, kau tetap sama
Embun : Ah, kau ini bercanda terus
Pucuk
daun : ih… serius, beribu detik kita
tak berjumpa dan berapa jarak yang sudah membentang memisahkan langkah
embun : hehehhe kau itu alay, aku sering
berjumpa denganmu di setiap malam dan getar alam semesta yang menyatu dengan
getar hati berhasil mempertemukan aku denganmu walau lewat mimpi.
Pucuk
daun : wah kau ini, curang. Kok kau
tak muncul dalam mimpiku ya?
Embun
: itu sudah aku rencanakan.
Kau saja yang terlalu bodoh menyadarinya
Pucuk
daun : rencana apa??
Embun
: hahahhahag saya malu untuk
mengungkap big planku padamu ..
Pucuk
daun : apa si?? Bikin penasaran
Embun
: sengaja aku tak muncul agar
aku menjadi sebuah rindu yang dapat menyiksamu. Dan nantinya aku bisa menjadi
obat penghilang penyakitmu
Pucuk
daun : iya, nampaknya obat ini manjur
adanya
Embun : terkadang kita terlalu pusing
berbicara pertemuan padahal banyak kemesraan saat jarak membentang.
Pucuk daun : iya karena aku terlalu menempatkanmu
dalam tempat bernama istimewa.
Embun : itu bukan istimewa namun kau
terlalu umum memahami apa itu cinta. Jika kau masih berpikir mendapat balasan,
merasakan sakit dan merasakan tersiksa, itu bukan cinta. Karena cinta itu hanya
memberikan ruang dalam hati sebuah kebahagiaan. Selebihnya tak memuat apapun.
Pucuk
daun : sekalipun aku menjadi jodoh
sementaramu bukan selamanya?
Embun : pasti…. ( sambil memberikan
senyumnya)
Pucuk
daun : kenapa ? kok kamu ga yakin sama
aku ya…
Embun :
kita tak bisa membongkat kotak misterius milik ilahi. 3 hal yang
dirahasiakan, jodoh, rejeki dan mati. Lalu apa yang bisa memberikan penjelasan
pasti bahwa kau jodohku?? Ini bukan masalah yakin dan tidak yakin.
Pucuk
daun : bagaimana kau tahu bahwa kau
telah bertemu jodohmu?
Embun : seperti rejeki bukan untuk di
cari namun kita wajib belajar menerima. Karena kita memang sudah diberikan
rejeki tanpa batas, hanya penerimaan kita yang terbatas. Kau tak akan
menganggap oksigen yang membuatmu hidup adalah rejeki, jika kau tak memahami
atau mempersempit rejekimu sendiri. Itu baru oksigen belum rejeki waktu, rejeki
matahari, rejeki perasaan dan masih banyak. Dan jodoh, jodoh itu adalah
pertemuan dengan semua orang. Saya di jodohkan bertemu dengan orang yang
melahirkanku dan jodohku bersama wanita itu adalah ibu dan anak.. jodoh aku
bertemu denganmu nanti aku bertemu dengan yang lain. Jodoh itu frekunsi
gelombang semesta yang tak terputus.
Pucuk
daun : bagaimana kita tahu kau bertemu
jodohmu??
Embun : ikuti gelombang itu tanpa sebuah
definisi apapun. Maka tuhan sebenarnya bukan merahasiakan namun hati kita yang
menyembunyikan.
Pucuk
daun : bagaimana hati
menyembunyikannya?
Embun : kadang hati menyembunyikannya
namun selebihnya hati itu dipenjara oleh logika sebuah makna dari otak manusia.
Pucuk
daun : berarti cinta tak boleh
berlogika karena memenjarakan hati?
Embun : ya tidak namun cinta itu
berbanding lurusnya hati dengan logika bukan berbading terbalik saling membagi
atau mengurai. Karena semakin cerdas seseorang semakin ia paham mencintai, jika
semakin cerdas seseorang namun kedangkalan cintanya keterlaluan maka ia
memiliki gejala gangguan jiwa
Pucuk
daun : hahahhahahg kau bisa saja, kau
belajar dari mana semua itu?
Embun
: dari sebuah perpisahan yang
mendalam antara embun dan pucuk daun, dipisahkan dalam penutupan malam.
Tergantinya wujud air namun di vonis mengilang selamanya. Cinta itu selalu
berubah wujudnya seperti air namun yakinlah muatan di dalamnya tetap sama
Hidrogen dan oksigen. Dan mereka tak terpisahkan dalam ikatan molekul.
:::Terinspirasi
dari sebuah senyuman yang selalu bisa menggerakan jemariku
Posting Komentar