Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal

MASUKNYA AHMADIYAH DI INDONESIA



            Oleh karena keyakinan yang berbeda antara Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore, maka mubalig yang bertugas di Indonesia pun berbeda. Ahmadiyah Qadian mengutus Maulana Rahmat Ali sementara pihak Lahore mengutus Maulana Ahmad dan Mirza Ahmad Baig.
Datangnya para mubalig Ahmadiyah baik Qadian maupun Lahore ke Indonesia berawal dari perginya dua pemuda Padang Panjang yang bernama Abu Ayyub dan Ahmad Nuruddin ke India dalam rangka mencari tempat belajar agama setelah keduanya menamatkan pendidikan yang cukup modern di jamannya yang diasuh oleh seorang tokoh karismatik yang bernama Haji Rasul. Di pilihnya India karena dengan pertimbangan mereka mendapatkan pencerahan, mengingat sebelumnya sudah banyak pemuda yang belajar ke tempat lain khususnya Mesir. Dorongan untuk mengalihkan tempat pendidikan dari Mesir ke India tidak lepas dari nasehat berkas guru mereka ketika belajar di dinniyah yaitu Zainuddin Labai El Tunusiah dan Syeich Musa Parabek.
Ajaran Ahmadiyah yang mereka temukan di dalam pengembaraan mencari ilmu ternyata mampu menjadi magnet dan daya tarik keduanya untuk mendalami seluk beluk Ahmadiyah secara komprehensif. Tanpa disadari akhirnya keduanya menjadi pengikut yang militant. Mereka pun belajar bahasa Urdu untuk memperdalam ajaran dan kemudian pemuda Islam Indonesia semakin meningkat jumlahnya  untuk mempelajari Ahmadiyah. Setelah sekian lama dan menetap di Qadian merekapun memberanikan diri meminta kepada Khalifah II Bashiruddin Mahmud Ahmad untuk mengirimkan mubalig ke Indonesia. Permintaan itu pun dipenuhi oleh Khalifah II yang kemudian menunjuk Maulana Rahmat Ali H.A.O.T sebagai mubalig yang bertugas di Indonesia.
B
Banyak tokoh Muhammadiyah yang bergabung lalu kemudian menjadi anggota Ahmadiyah. Antara lain R. Ahmad Sarido, Sukarsono, Soewindo, HM. Djojosoegito, Erfan Dahlan dan lain sebagainya. Dan sekertariat pertama ada di jalan Atmisukarto. Muhammadiyah dan NU memberikan ruang gerak pada saat itu karena adanya semangat beragama dalam rangka mengembalikan kejayaan umat Islam sangat bergelora.
Untuk menjawab kebutuhan atas perkembangannya Ahmadiyah, mubalig-mubalig Ahmadiyah mulai dikirim secara rutin ke Indonesia. Dan masjid Ahmadiyah Qadian cabang Yogyakarta pun didirikan tanggal 11 Maret 1959. Adapun alas an para mubalig datang juga adanya factor penyebaran agama Nasrani di pulau jawa semakin meningkat.
Dan pada tanggal 4 April 1930 pemerintah mengeluarkan surat keputusan pemerintah no 1, dimana secara dejure Ahmadiyah Lahore telah diakui sebagai organisasi sah.
            Ada factor dipilihnya Yogyakarta karena daerah ini menyimpan potensi sangat besar bagi pengembangan Ahmadiyah Yogyakarta sebagai pusat pelajar dengan berbagai penjuru negeri .
 Ahmadiyah diantara Organisasi lain
Masuknya Ahmadiyah di tanah air disambut gembira. Fenomena ini disebabkan pengaruh reformasi yang dipelopori oleh reformer Islam yeng telah bekerja dengan begitu gigihnya dalam usaha mengembalikan citra Islam di mata dunia. Serikat Islam, NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, dan persis merupakan organisasi social keagamaan yang lahir di waktu itu yang tak hanya pada bidang keagamaan namun juga pergerakan.
Sumatra Thawalib merupakan jembatan penghubung dari Islam tradisional menuju Islam yang menerima ide-ide reformasi. Kesadaran untuk maju menjadi suatu kebutuhan bagi umat Islam waktu itu. Oleh karena ketidaktahuan pera anggota Muhammadiyah maka dalam muktamar tahun 1924 untuk pertama kalinya ajaran Ahmadiyah diperkenalkan kepada utusan muktamar. Sehingga ada yang kemudian beralih dari Muhammadiyah ke Ahmadiyah.
Ajaran Ahmadiyah yang dianggap sangat membahayakan aqidah dan tauhid umat Islam, maka pemimpin pusat Muhammadiyah merasa perlu mengambil langkah yang organisasinya dipengaruhi Ahmadiyah. Sebagai realisasinya tanggal 5 Juli 1928 dikeluarkanlah maklumat yang berisi larangan mengajarkan paham Ahmadiyah  di lingkungan Muhammadiyah.


Related Post



Posting Komentar