Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal

Maju Makmur Part 1


            Jarak terbentang dari Purwokerto hingga Semarang. Melewati ragam perjalanan bahasa hingga budaya. Semua masih dalam satu ragam bernama jawa. Ujung barat jawa tengah sampai ujung timur jawa tengah tersambung dalam jalan tengah. Ia berjalan penuh toleransi dan membawa banyak kehidupan. Hanya sebuah mesin tua yang bersahaja. Panggil saja ia bis ekonomi bernama Maju Makmur. Ia berkawan dekat dengan Tri sakti dan bahkan Kusuma. Kawan di seberang bernama Nusantara.
            Ia tua renta terlihat dari lekuk tubuhnya yang tak semulus kawannya. Jalan tertatih namun membawa beban kehidupan cukup berat. Tapi namanya tua selalu semakin bijak dalam langkahnya. Aku bersahabat dengannya September 2010. Hingga sekarang ia tetap sama selalu tersenyum getir dengan ketegaran yang tinggi. Kaca-kaca berdebu menuliskan kehidupannya yang suram. Kursi-kursi tua tak empuk apalagi indah dipandang. Namun kursi itu senantiasa penuh terisi oleh pantat pantat manusia. Lihatlah saja mesin yang di gunakan, Nampak sangat ngeri jika di pandang dari segi kelayakan bahkan keselamatan. Jika kau berjumpa dengannya akan merasa bak berolahraga di siang bolong, akan terasa panas dan sedikit angin semilir. Namun tak apa karena dengan bantuan Sindoro dan Sumbing dia akan terasa sejuk. Aku menatapnya penuh keletihan tinggi. Mungkin hatinya jika saja bisa aku dengar sudah berteriak “ aku ingin pensiun, aku ingin istrahat “ . Walau tua namun dasar dia keras kepala, tetap merasa muda senantiasa bekerja . Dan aku bangga bersahabat dengannya.
            Ia mampu membawa orang yang ingin maju dan memakmurkannya. Ia bahkan tak peduli bahwa dia sendiri tak makmur namun ia tetap saja memakmurkan manusia-manusia yang senantiasa mau bersamanya. Di sudut kehidupan ia membantu penyanyi serabutan, pedagang, mahasiswa, orang-orang tua, muda dan anak-anak. Sering kali di Parakan bertemu dengan penyanyi yang sama. Lelaki tua itu tetap bernyanyi lagu kehidupan yang sering kali pun di nyanyikan olehku dalam langkah-langkah bisu di gelap malam “ koyo ngene rasane dadi wong ora duwe, rono rene di ece…” . Iya, sekilah reff lagu yang kadang bermakna dalam. Bercerita tentang kebenaran teori pertentangan kelas, Marx. Kelas borjuis akan menginjak-nginjak kelas proletar. Perbedaan kelas sosial senantiasa melahirkan jiwa revolusioner, hanya butuh satu derajat saja bisa membuat air menjadi uap. Dan aku yakin hanya menunggu sebuah moment saja penyanyi itu dan pendengar-pendengar setia di lorong bis melaksanakan perubahan. Lelaki tua itu tak hanya butuh receh-receh di kantong-kantong penumpang, namun ia membutuhkan kesempatan yang sama seperti orang tua pada umumnya. Bersama anak dan cucu menikmati hari tua. Dan bis tua telah memberikan kesempatan ia tetap hidup dan berjuang menuju kemakmuran. Kadang pula aku jumpai penyanyi di Bawen dan penyanyi di sepanjang jalan. Hampir aku hafal semuanya. Penyanyi di zona Semarang adalah pengancam-pengancam penumpang. Mereka mengancam dengan dalil agama seperti ustad-ustad berganti kostum, mungkin tuhan saja mengancam sehingga tak salah manusia pun saling mengancam. Namun aku tetaplah acuh pada mereka. Selain tak ada uang namun pula kadang karena malas akan sindiran tak pernah berubah. Berbeda dengan penyanyi luar semarang, biasanya disamping ada unsur jawa juga terdapat unsur memelas yang tinggi. Sering kali itu lebih ampuh membuat telinga peduli dan tangan peduli.
            Maju makmur pun memberikan kesempatan untuk para pedagang. Ada pedagang buku agama,  pedagang alat tulis, pedagang perabotan rumah tangga, pedagang gorengan, pedagang minuman dan bahkan pedagang hanya makanan ringan seperti kacang. Di sisi ini Maju makmur sedikit mengadopsi pasar laut di Kalimantan. Berbedanya di Kalimantan perahu ( kendaraan berisi barang dagangan dan penjual) di Maju makmur ( kendaraan berisi pembeli dan pedagang yang menghampiri). Kini mesin tua ini menjadi pasar berjalan. Pasar yang selalu ramai dan pasar dalam bis Maju makmur adalah bagian dari layanan bis yang cukup aku minati.
            Di maju makmur tak hanya berisi tentang tawar menawar antara penjual dan pembeli. Namun antar penumpang dan kernet bis. Entah aku saja atau mahasiswa lainnya, tapi aku rasa Cuma aku yang kurang tahu diri. Sering kali menawar agar tarif di turunkan. Aku hanya sering berlandaskan tulisan daftar tarif di terminal Purbalingga bahwa ada tarif terendah dan tertinggi. Untuk Semarang-Purbalingga memiliki tariff tertinggi Rp 32.500 dan terendah 29.000. pernah pula aku diajari seorang kernet bis untuk menawar dengan cara membawa embel-embel mahasiswa. Dan trik itu berhasil walau hanya digunakan disaat genting saja. Ketika kelabilan kemapanan memang tergoncang.
            Tak hanya yang muda sepertiku yang bersahabat dengan Maju makmur. Aku sering kali berhimpitan dan berdesakan bahkan berebut dengan orang tua dengan fisik rapuh. Mereka tak hanya sendiri namun bersama tangis anak-anak mereka. Dan itu membuat suasana makin ramai. Ada pula kadang para perokok yang keji menambah udara makin keruh. Di situasi ini makin menggila dan membawa pada pilihan utama pura pura tidur. Karena memang kejam ketika melihat realitas itu.
            Itulah maju makmur, yang maju adalah yang membawa semangat dan tak memperdulikan kondisi kekurangan dalam diri. Senantiasa memberi manfaat bagi semua, semampunya. Dan itulah arti makmur sebenarnya.
  

Related Post



Posting Komentar