Tuhan
pernah berkata padaku dalam sudut pilu dunia bahwa selama gunung tegak berdiri
selama itu pula pena tegak menuliskan cerita, air laut kan menjadi tinta dan
perjalanan adalah pencipta rangkian kata. Dari itu aku menulis semua ini.
Malam
Jumat mengais keberuntungan
Malam
kamis Wage yang jatuh tanggal 19 Juni 2014, kami berkumpul sejenak di gedung
C7. Sembari menikmati malam penutupan porsajur yang ramai dengan iringan musik tanpa penonton
yang membludag. Aku hanya datang di penutupan porsajur dengan mendengar Ulul
pidato. Tanpa berjumpa dengannya karena memang aku sudah harus bersama adik
tingkatku kala itu. Musik yang memecah keheningan malam sedikit menutupi keluh
kesah aku dan Bahol. Dari awal aku sudah meng Cancel pendakian bersama mereka, karena banyak pertimbangan dari
finansial, fisik dan kondisi hati yang tak kondusif. Namun karena Bahol begitu
kekeh mengajakku sehingga akhirnya aku luluh untuk bersama mereka mendaki
gunung di perbatasan Jawa Tengah- Yogyakarta.
Keterbatasan
memang tunas dari kreativitas. Dan itu aku rasakan bersama Bahol. Dengan segala
upaya kami mencoba mengolak skill sosial kami, mencoba mencari sponsorship
seadanya. Potensi lingkungan kami coba berdayakan semampu kami. Bahol lebih
lihai dan mendapatkan sponsorship dari kawan kosnya dan sementara aku baru
menghubungi Irma, Elani, Burhan dan banyak kawan lainnya. Irma kondisi
keuangannya tak kondusif untuk meminjamkan uang, Elani yang ada di Jakarta pun
tak ada kabar balasan, Burhan memiliki kondisi yang lebih mengenaskan secara
finansial, Diyah pun tak bisa meminjamkan karena lokasi dia sedang di
perantauan sekaligus aku pun sungkan meminjam
karena hutangku sudah menumpuk padanya. Aku merasa sangat menderita sebagai
mahasiswa. Maha krisis uang, maha meminta, maha berusaha lepas dari semua
belenggu.
Otak
ini guys ada untuk memecahkan solusi bukan untuk menambah beban kehidupan
dengan pusing ria. Aku mencoba menanamkan kata-kata motivasi itu dalam benakku
dan mencoba menenangkan diri. Akhirnya cahaya datang, Bahol langsung
menyarankan untuk meminjam pada Nikmah. Dia salah satu Gerwapur ( Gerakan
Wanita Purbalingga) pula, dan Bahol memang menunjuk orang yang tepat. Akhirnya
setelah kami berusaha keliling fakultas mencari tenda tanpa hasil kemudian kami
menuju kos Griya Kusuma, Patemon. Di situlah Nikmah bermukim.
Aku
dan Bahol sangat dipahami oleh Nikmah sangat kekurangan finansial. Tak hanya
menjadi sponsorship pendakian namun dia pun memberikan banyak bantuan sampai
pagi hari. Dalam malam yang makin mendinginkan suasana, obrolan kami menjadi
api kecil yang memberikan kehangatan dan penerangan untuk saling mengenal. Aku
makin paham isi hati Nikmah yang bersembunyi dibalik praduganya hatinya pada
hatiku. Ia mungkin sedikit salah tangkap akan keakrabanku pada seseorang. Dan
itu wajar karena kami memang jarang bercengkrama atau setidaknya menggosip.
Semua ada hikmahnya selain mendapatkan sokongan dana.
Jum’at
pagi seperti angker untukku. Kuliah Antropologi sudah tak ada kouta untuk bolos
sementara badan tak kunjung ingin bangun. Solusi yang dapat aku bayangkan kala
itu hanya telat masuk satu jam lalu kuliah hanya sekitar 15 menit dan tidur
lagi. Bukankan kuliah hanya berkata presensi dan tugas? Jadi cukup presensi
sudahlah disebut kuliah. Aku hanya bisa sms Ahong, adik tingkatku satu rombel
untuk mengabarkan bila pak Tholib datang. Dan dewi fortuna memang memihak
padaku, ternyata kuliah dikosongkan dan seketika aku tidur kembali.
Baru
jam 13.00 wib aku packing dan jam 16.00 WIB kami berangkat. Kami berangkat
berenam. Ada Ajeng, Rizki Amaliah, Sulton, Obet, Bahol dan aku. Ini seperti
salam perpisahan aku pada Bahol sebelum nantinya aku dipasung oleh sistem PPL.
Aku cukup nantinya harus menahan diri untuk tak berpetualang. Dalam perjalanan
kami mencari kaleng bekas untuk tempat spirtus. Kami seperti pemulung elit yang
mengamati tiap tumpukan sampah di sepanjang jalan untuk mencari kaleng bekas
dari kendaraan. Sempat kami meminta kaleng cat pada penjual bahan bangunan di
sekitar Gunungpati. Namun kaleng tersebut terlalu besar untuk tempat spirtus. Dan
di wilayah Cepogo, Boyolali baru kami menemukan kaleng bekas. Kami pun dibantu
mendapatkan garam oleh pedagang di pasar tradisional itu. Dan itu sungguh
kenikmatan orang tak punya. Namun kami tak ada niat untuk mengemis hanya
kemudian diberi oleh orang.
Aku : Bu beli garam, ada ?
Ibu
pedagang : Ada Mba tapi belinya per pack besar ga eceran?
Aku : nggih sampun bu, maturnuwun.
Nek tumbas eceran teng pundi nggih
Ibu
pedagang : di sana mba ( menunjuk toko di sebrang jalan )
Aku : Nggih mpun, suwun,,
Ibu
pedagang : kalo mau garam ini ambil aja mba, tapi dicuci dulu
Aku : siap bu, maturnuwun ( tanpa
basa basi menerima bantuan )
Kami
mendapatkan garam yang belum di olah. Kalau ditempatku garam seperti ini adalah
garam krosok atau garam yang belum diberi Yodium dan masih dalam bentuk butiran
besar. Hanya sekitar 1 setengah jam kemudian kami sampai di camp Merapi.
Camp Merapi
Langit
senja kala itu menunjukan romanitsme penuh kedamaian. Warna biru muda
berbenturan dengan warna oranye serta awan kecoklatan membentang membuat
gradiasi langit indah dan kata-kata ini pun sulit menterjemahkan secara
sempurna karnia Tuhan itu. Tegaknya gunung-gunung menjulang seperti mengajak
kami untuk cepat-cepat mendaki. Merbabu terkena cahaya surya dan menampakan
lekukannya yang seksi namun gagah. Sementara Merapi tertutup awan masih tetap
memukau dengan rangkaian mistismenya dari cerita-cerita manusianya.
Kami
kemudian memasak sederhana untuk persiapan mendaki. Telur satu biji, mie instan
dan nasi cukup menjadi nutrisi yang baik. Dan yang terpenting tawa kebersamaan
yang tercipta. Dalam cela senyum mereka sebenarnya ada sedikit ketidaknyamanan
yang muncul dari hatiku. Karena rasa aku mahasiswa tua dan belum akrab dengan
mereka secara bersama. Hanya bersama Bahol aku sering bersama dan memahami
karakternya lebih dalam. Ajeng dan Rizki hanya beberapa kali bersama dalam satu
acara dan itu pun dengan intensitas
komunikasi yang tak tinggi. Dengan Sulton dan Obet baru pertama kalinya.
Kami
mendaki bersama sekitar pukul 20.00 WIB. Baru mendaki beberapa jam, aku barulah
tahu semuanya baru pertama mendaki Merapi kecuali aku. Padahal aku sangat
sungkan kembali ke gunung Merapi. Secara historis 2 kali mendaki gunung Merapi
2 kali pula air mata harus menetes. Dan hanya gunung Merapi yang menciptakan
benih kesedihan disetiap pendakianku. Padahal untuk Slamet dan gunung lainnya
yang lebih tinggi tak pernah membuatku luka. Namun perjuangan memang harus
terus dilanjutkan. Aku mencoba menurunkan kadar pesimisme menjadi optimisme
menyerempet munafik. Balung tou yang kadang keropos dan balung muda yang sering
kali lunak membuat kami kadang mengeluh pada keadaan.
Malam
gelap menyerap segala warna dalam hati kami. Gelap yang melindungi kami dalam
lelah masih mesra bersama bintang menghiasi atap misteri. Kami tersenyum bak
rembulan sabit digelap langit malam. Menikmati segala karunia Tuhan yang hanya
bisa didokumentasikan melalui sel-sel pengingat kami. Bahwa masa muda ini kami
masih tetap menapak tanah Indonesia yang ramah dan bersahaja dan masih menikmati
tegukan air Indonesia yang bening sebening wajah putri-putri kerajaan nusantara
yang tak ada duanya.
Kadang
aku merasakan penjelajahan tak hanya sekedar menjelajah tempat namun menjelajah
rasa-rasa yang lain. Seperti waktu yang memilihi ruh berbeda setiap detiknya
dan tempat pun memiliki nyawan tersendiri. Dan tempat itu entah mengapa
memberitahuku untuk bersedih dan menciumnya penuh dengan rendah hati. Kadang
merasa menodai embun-embun pagi, kadang menantang matahari dengan angkuhnya dan
menghujat tanah dengan mudahnya.
Sepanjang
jalan kami gemakan lagu anak-anak sampai lagu kebangsaan dan kadang lagu
bermental tempe lagu cinta tak membangun motivasi. Namun semuanya indah
melebihi simponi erwin gutawa. Sahabat seperti dentuman dram penyemangat, hembusan
angin bagai seruling nakal yang membuat kami bergoyang menghapus dingin, dan
kaki kami seperti ketukan piano yang menghasilkan nada-nada optimisme.
Dengan
penerangan sederhana dan tak optimal kami berjalan perlahan. Kadang kala sakit
menggapai pundak kami membawa beban bawaan, dan rasa perut yang terkena maag
begitu menyiksaku perlahan. Tawa mereka kadang bisa menghapus segala asa yang
ada. Namun kadang sangat menyadarkanku bahwa semua akan berakhir ketika status
mahasiswa tidak disandang. Namun apalah semua itu yang pasti pendakian hanya
untuk bersenang-senang.
Pasar Bubrah dan Kawah
yang Eksotis
Sekitar
pukul 02.00 WIB kami sampai di pasar Bubrah. Kami mendirikan tenda di sana
untuk melindungi kami dari dingin yang menguasai atmosfer pagi itu. Namun tak
sedingin seperti biasanya. Masih dalam keadaan normal seperti dingin promasan,
Ungaran. Semua tertidur dengan lelap dan hanya ada rasa syukur semua mencapai
puncak tanpa halangan apapun. Baru kemudian pagi datang dengan cahaya indah
dari balik tenda membangunkan para pemuda pemudi itu dan aku masih senang untuk
tidur sampai matahari menghangatkan ragaku.
Seperti
pendakian umumnya, narsis tetap paling dominan dilakukan dengan dalil bahwa
anak sejarah harus mendokumentasikan segala ciptaan waktu berupa momentum.
Sarapan pagi itu pun sarapan anti kapitalis. Artinya sarapan seperti bukan
pemilik modal yang kaya, kami sok sosialis yang sederhana dan semua sama rata
padahal memang sok sosialis kami untuk dalil ketidakmapanan kami secara pasokan
logistik.
Apalah
semua itu, tegaknya gunung seperti keteguhan keinginan kami mendaki puncak
merapi. Kami tak akan patah hanya keterbatasan yang sepele. Kami tetap berjuang
menapak bumi ini dan menikmati rangkaian gunung yang berjajar. Gunung Sindoro,
Sumbing, Merbabu serta gunung Ungaran jelas terlihat diantara hamparan awan
lembut.
Kami
pendaki terakhir dipagi itu yang melakukan tracking menuju puncak Merapi dari
start pasar Bubrah. Cukup 2 jam kami mendaki dan penuh dengan perjuangan berat.
Nampak Ajeng bahkan Bahol memang kesulitan. Hanya Obet yang sangat lincah
dengan semangat cintanya yang bergelora pada sang kekasih yang membuat
tenaganya seperti ditopang minuman berenergi. Obet menuliskan kata-kata ulang
tahun untuk sang kekasih dan mengenakan slayer Persijap kebanggaanya, demikian
dengan Bahol bahkan Rizky dengan inisial yang di cintainya. Ajeng dengan
Powerranger hijaunya yang tak aku pahami dan Sulton dengan tulisan kegagahanya
di puncak gunung bahwa kakinya lebih tinggi dari puncak Merapi. Sementara aku
sangat mengenaskan tulisan yang aku lampirkan diketinggian hanya caci maki pada
diriku yang tak bisa menyapa dosen pembimbing skripsi sampai mereka menjadi
bakal mantan calon dosen pembimbing. Ya mereka pak Shokheh dan Hamdan. Pilihan
yang pelik jika mereka yang benar-benar menjadi penentuku diakhir pelepasan
gelar Mahasiswa. Dan tulisan lain hanya sebuah pesan nakal pada sang Ibu yang
masih belum mengizinkan aku mendaki gunung. Tak memiliki pasangan membuat sulit
menulis love someone, dan tak mungkin pula menulis love Indonesia apalagi love
god. Bagiku itu terlalu mainstream dan soal agama pun aku tipe orang yang masih
sulit memaknai hal itu. Miris sekali aku menjadi pendaki semester sepuh yang
tak tahu diri. Untuk menulis kesukaan pun aku bingung, tak ada lagi hasrat
menyukai tim sepak bola bahkan basket. Mungkin seharusnya aku menuliskan
sesuatu untuk Rain namun sering kali orang sepertiku tak pantas menyukai artis
korea.
Siang
itu, di puncak Garuda Merapi kami hanya berenam tanpa pendaki lain. Asap dari
kawan menambah keeksotisan dan kadang menjadi kengerian tersendiri. Bau
belerang sangat terasa. Ingin aku tidur lelap sampai senja ditempat itu.
Menikmati awan yang hilir mudik melintas dan cahaya matahari yang memberikan
penerangan langit biru yang bersih. Panji Merah putih berkibar dengan gagah.
Kecintaan pada bangsa yang hanya bisa diekspresikan dengan sederhana. Sempat
terbesit niat aku dan Bahol akan melakukan aksi pencurian di DPC PDIP maupun
Gerindra mencuri sang Merah putih atau lebih halusnya kami mengambil Merah
putih di DPC disepanjang jalan yang kami lewati. Jika ada penghuninya kami
meminta secara halus namun jika tak ada penghuninya maka itu artinya kami
mengambil tanpa izin. Guys kami ingin menempatkan sang Merah putih pada tempat
yang tepat bukan ditempat-tempat ladang empuk koruptor dan sang penguasa haus
kedudukan. Namun kami masih dilindungi tuhan untuk tidak melakukan aksi itu.
Bukan kami tidak nekat bahkan bukan karena kami takut menjadi setan kecil yang
nakal. Namun memang di DPC itu tak ada sama sekali sang bendera Merah putih
yang berkibar. Karena memang kecintaan pada negeri sudah diganti pada partai.
Sempat
ada niat aku mengibarkan bendera Gerindra dengan mengenakan baju PDIP atau
bahkan memakai baju PKS dengan ikat kepala bertulis “ Saya kader PKI tulen “ .
Mungkin akan lebih “greget” . ada bayangan pula menuliskan pilih no satu, satu
langkah berani kejurang penderitaan atau pilih no dua, dua langkah menuju
perlambatan penderitaan. Siapapun presidennya, hanya kaum menengah yang tak
nasionalis yang menikmati bersama kaum elit. Kaum papa sepertiku yang masih
mengais pekerjaan bahkan tertatih mengasah otak di bangku pesakitan kuliah
hanya menjadi manusia yang selalu dalam waktu 5 tahun bersiap menanggulangi
mendapatkan dampak derita. Derita melihat orang yang dengan mudahnya
mendapatkan bantuan dan mereka dengan sombong bangga akan ketidakpunyaan
mereka, derita melihat kekayaan yang membuat hati merasa menjadi orang miskin.
Sumber derita utama di negeri ini guys, bagiku adalah kesenjangan yang terlalu
curam. Dan hanya mental yang kuat yang membuat dunia tak nampak kejam. Dan
kesenjangan yang nyata yang merasuk kala itu adalah kesenjangan semester 8 yang
pemalas, nakal, liar dan semester 4 yang depersi akan tugas. Mahasiswa seperti
kami sulit mengemban tugas negara membangun masyarakat guys, tugas dosen sering
kali menutup kesempatan kami hanya mengasah otak kami agar tajam dan dapat
memikirkan kepentingan kami pribadi.
Hingga
kemudian siang makin ditegaskan oleh sudut bayangan yang dicipta matahari. Aku
dan bersama kawan semua pulang menuju Semarang dengan kondisi terburu-buru
karena berburu waktu untuk mengembalikan tenda. Aku melihat sedikit muka
keheranan adik tingkatku dapat melewat jalan terjal itu. Gelap semalam sangat
membantu mereka tak melihat realitas yang terjadi. Ya, perlindungan tuhan
kadang dalam bentuk apa saja termasuk pandangan yang terjaga.
Awal
kepulangan biasa saja. Gelak tawa sembari memakan buah-buah yang disediakan
alam. Suasana cukup mulai mencair dan aku mulai akrab dengan mereka serta
mengenal mereka. Obet sosok suporter sejati dengan kesetiaan pada sang kekasih,
Sulton yang terobsesi menjadi presenter jejak si gundul. Ajeng dan Rizki yang
layaknya seperti cewe pada umumnya sulit aku mengerti, Bahol sang wanita takut
petir.
Hingga
kemudian aku jatuh setelah melewati watu Gajah. Kaki kiriku terkilir dan aku
pahami dulu kaki ini pernah cidera engkel. Mungkin akan dua kali lipat sakit
yang akan aku rasakan dari sakit yang dulu aku rasakan. Secara reflek aku
menangis namun memang orang perawakan sepertiku dianggap tak pernah menangis.
Menangispun dianggap tertawa. Pedih guys... Beberapa jam aku masih sanggup
berdiri namun akhirnya kakiku tak sanggup menopang tubuhku. Setengah dari
telapak kaki mati rasa dan setengahnya lagi jika menopang raga sangat
memunculkan rasa perih. Semua perasaan menghantui dan menggerogotiku bagai asam
klorida 5 Molar ber-ph 1 yang melepuhkan sel kulit hatiku. Aku menjadi orang
yang tidak berdaya. Ranting-ranting seperti menertawaiku bahkan tiap turunan
tanah seperti menjadi tanjakan tajam. Sungguh menyakitkan aku menjadi beban
para juniorku sendiri. Tak pernah sedikitpun jatuh dari gunung membuat kejadian
itu adalah kejadian pertamaku.
Mental
awalnya sangat kuat dan percaya akan sampai dengan lancar. Kata cacian pada
keadaan selalu lantang aku gemakan dari menganggap keadaan yang menimpaku
adalah seperti gonggongan anjing yang berlalu dengan mudah. Setiap kata kotor
yang aku ucap adalah pertanda aku masih baik-baik saja. Kata Jan*uk, as* bahkan
kakeanae terucap tanpa ragu. Aku tak pernah menganggap bahwa yang menimpaku itu
semua adalah kutukan setan padaku atau bahkan sang Merapi marah padaku. Jika
memang iblis atau jin mengutukku lalu tuhan kemana? Aku hanya menyakini ini
bimbingan tuhan langsung tanpa perantara padaku. Ia mengajarkan derita orang
disabilitas padaku.
Betapa
kekhasan mereka terlahir di dunia atau oleh keadaan dianggap suatu
kelemahan. Pandangan yang sangat
melumpuhkan rasa kemanusiaan mereka. Mereka benar-benar bukan orang catat namun
memiliki kebutuhan khusus karena kebutuhan kebanyakan yang dipenuhi hanya untuk
orang pada umumnya. Sebut saja tangga C2 tak di rancang untuk memenuhi
kebutuhan orang berkebutuhan khusus. Bahkan gedung megah lainnya di UNNES.
Ingat kala dulu ada anak yang setengah tidak bisa melihat sangat kesulitan
turun tangga di C2. Bahkan menatapku pun kesulitan. Dan yakinlah guys fakta
yang tergambar jelas tak menunjukan UNNES ini memiliki konservasi sosial
apalagi konservasi alam. Itu hanya lelucon dan dalil untuk kampus ini menutupi
keterbatasannya. Terbatas tak memiliki lahan parkir, terbatas gak bisa bangun
kemudian nanam pohon, terbatas kemampuan membangun mental mahasiswanya sehingga
ceramah seperti KAP dijadikan konservasi murahan. Kampus saja tak bermental
bertanggungjawab akan peraturan yang dibuat apa lagi mahasiswanya.
Menjadi
orang cacat mungkin seperti ini. Tak berdaya dan dunia serasa tak sudi menerima
kita. Aku rasa satu kaki tak berfungsi menciptakan keterpaksaan otak berpikir
dan memang otak wajib dipaksa kalo tidak hanya dengkul menjadi tumpuan
satu-satunya berpikir. Satu fungsi organ lumpuh maka organ lainnya akan
berfungsi diatas rata-rata dan itu keadilan dari sebuah keseimbangan.
Dan
menjadi orang tak berdaya membuatku tak setegar biasanya. Menjelang senja
akhirnya aku hanya bersama dua pria itu dan Bahol. Berkali-kali mentalku runtuh
seperti ketika merapi meruntuhkan bebatuan kala erupsi. Hanya sebuah tangis
yang tercipta kala itu. Aku tak peduli lagi pikiran yang ada diotakku bahkan
aku sadari saat itu aku sudah lose
control. Rasa letih bercampur kelaparan dan perihnya maag membuatku tak
berdaya. Bahol selalu menyemangatiku dan Sulton serta Obet diam penuh tanda
tanya. Mungkin mereka bingung atau bahkan mencoba tetap tenang dan tak panik.
Apapun itu mereka menemaniku dan itu sudah menjadi poin plus serta pertimbangan
utama aku akan mendaki bersama mereka lagi. Walau aku yakini tangisku menjadi
poin negatif bagi mereka untuk berpetualang bersamaku lagi. Di sisi kejadian
itu memang sangat jelas terlihat aku sangat manja dan memang itu adanya diriku
selain tingkat egoisku tinggi.
Sempat
aku berpikir tak penting bahwa petualangan ini menimbulkan pandangan publik
yang tak baik. Pandangan yang tercipta diangkatan 2012 Sejarah adalah aku
memiliki pandangan spesial pada Sulton. Sempat angin berhembus yang memang
konyol bahwa aku menyukai Sulton karena kealimannya. Padahal secara historis
pandangan itu tak selamanya sempurna kebenarannya. Dan pandangan yang kemudian
tercipta membuat rasa pekewuhku bahkan kecanggungan bertindak. Secara rentetan
waktu saja aku hanya 4 kali SMS dirinya. 3 kali saat idul adha dan 1 kali pun
baru kemarin. Bertatap muka saja hanya saat dia mengambil sertifikat PPA FIS.
Apa itu menggambarkan cinta yang mendalam? Sangat pelik kadang penilaian umum.
Namun itu adanya, hanya mengidolakan kemudian dianggap sangat mencintai.
Memanglah dulu selalu tertarik pada pria berkacamata seperti Tamtam dan Sulton.
Tak sepenuhnya menyalahkan publik karena sumbernya pun karena tingkahku yang
selalu sulit dipahami. Ini bukan seperti klarifikasi secara utuh ataupun
pembelaan namun memang fakta yang wajib diketahui publik. Aku yang selalu
menyukai orang yang lebih muda dariku dianggap pedofil. Padahal selama
mengemban amanah dulu tak ada niat sedikitpun memperdaya adik tingkat di FIS.
Jelajah asmara cukup diluar fakultas FIS. Isu cinta memang lebih merisaukan
daripada isu politik bagiku. Selain tak penting tapi juga menghasilkan benih musuh
selebih banyak dan itu biasanya lawannya adalah wanita. Dan melawan wanita itu
lebih memusingkan kepala daripada pria. Wanita dilawan aku merasa banci namun
jika tak dilawan mereka keji. Hati wanita guys seperti sayap kupu-kupu mudah
patah namun indah. Sekali luka mereka menjadi iblis tak berperasaan. Itu adanya
dan makanya aku memilih mencintai pria daripada wanita. Dan sering kali asmara
menciptakan haters dalam selimut. Para wanita yang sakit hati secara diam-diam
terbukti banyak. Saya makin kebal banyak wanita memblokir Fbku bahkan FB kawan
priaku pun membatalkan pertemanan FB karena kecemburuan pacar mereka. Ya,
itulah wanita.
Sakit
yang menusuk di engkelku pun kemudian hanya menciptakan kata “ asu “ pada pandangan konyol
itu. Pandangan seperti itu tak bisa membunuhku apalagi pandangan itu jika
ditanggapi pun tak akan menyelamatkanku pada kondisi kritis seperti ini.
Menjelang
malam kondisi makin mencekap, hujan perlahan turun bersama petir yang
menghampiri. Kondisi makin pilu, aku basah kuyup ngesot ditanah yang basah itu
dan tetasan air hujan sengaja menutupi air mataku yang tak henti bercucuran.
Suhu makin menurun, angin berhembus dengan lebih kencang. Dalam kondisi normal
sekalipun naik gunung bahkan turun gunung dalam kondisi hujan adalah hal yang
berbahaya. Di ketinggian seperti itu, muatan positif dan negatif awan yang
menghasilkan petir sangat dekat dengan tanah yang dipijak. Itu membuat sangat
potensial mudah tersambar petir dan mati dengan mudah karena manusia salah satu
konduktor yang baik untuk listrik. Dan itu fakta ilmu pengetahuan yang aku
dapatkan dari pak Adi, guru Fisikaku saat SMA. Jika terus berjalan kaki tak
kuat namun jika berhenti semakin parah karena kondisi dingin kaki makin
membeku. Jika terus berjalan akan bahaya akan petir namun jika berhenti dan
makin malam, senter sudah mulai meredup. Semakin malam maka semakin sulit
berjalan. Dalam kondisi hujan tak ada penerang alam seperti bulan apa lagi
bintang. Secara mental aku mendengar Bahol sudah meringik dan tak kuat. Orang
yang memotivasiku sudah tak ada motivasi. Aku mencoba berpikir seharusnya apa
yang harus dilakukan. Dengan pertimbangan kebaikan semuanya akhirnya aku
berucap “ plis panggil tim SAR ( Search and Rescue ) aku tak mampu lagi “ .
namun kemudian Obet memotivasi untuk sampai di dekat plang “Welcome taman
nasional” . beberapa menit aku kemudian bertahan ngesot seperti Nova Ariyanto (
Pemain PERSIB dulu ). Semangat, motivasi serta fisik patah dan akhirnya aku
memaksa memanggil tim SAR. Ponsel dengan perjuangan diaktifkan dan mencari
sinyal tak kunjung membuahkan hasil. Akhirnya si Banaspati Obet melakukan
tindakan turun mencari tim SAR.
Aku
bersama Bahol dan Sulton kala itu. Entah apa yang akan terjadi, aku merasa
cemas dikurung hujan, petir serta gelap. Bahol tetap akan ketakutannya pada
petir dan Sulton terlihat sudah kedinginan. Sementara aku masih menahan sakit
di kaki dan lambung sampai mencoba tetap tenang agar tak mempengaruhi organ
vital lainnya. Jika itu sampai kena sudah tamat riwayatku. Dan mati di kondisi ketinggian serendah itu
aku kira akan menjadi aib yang tak bisa diperbaiki. Sampai dikondisi paling
dasar kemampuan aku membentak Bahol “ Aku wis ora kuat Hol nek kuat mesti aku
tetep mlaku. Aku juga ora gelem dadi beban” ya , sebuah statement ketidakmampuan
yang penuh sentimen.
Bagai
seperti di sinetron bahkan film horor. Kondisi makin menjadi seperti kutukan
iblis. Obet tak ada kabar begitu pula tim SAR. Aku yang lebih tua dari mereka
tak berguna apapun. Mencoba untuk memotivasi mereka namun jujur aku tak ada
motivasi. Baru kala itu aku sadar bahwa LARANGAN MENINGGALKAN KAWAN dalam
petualangan memang benar adanya. Ketika tak ada motivasi, tak ada daya, dan tak
ada logistik namun ada teman. Akan menjadikan kawan bagai cahaya lilin kecil
digelapnya sudut di bumi. Masih ada cela selamat. Itu yang aku yakini. Aku
hanya cidera dan tak menyerempet pada organ dalamku. Aku merasa beruntung ini
digunung, bayangkan saja jika ini di kampus. Meninggalkan kawan lulus duluan
dalam prestasi tertinggi walau skripsinya entah model seperti apapun. Namun ini
di gunung Guys, meninggalkan kawan adalah hal paling memalukan walau manusianya
model apapun.
Lama
menunggu akhirnya ada pendaki dan bukan tim SAR. Kami coba tetap tenang
mendengar kabar dari pendaki bahwa Obet terus berlari mencari tim SAR. Beberapa
pendaki iba pada kondisi kami dan memberi bara semangat. Baru kemudian jam
21.00 obet datang bersama pendaki dari Salatiga. Mereka memberikan bantuan
menghubungi tim SAR dan akhirnya sekitar 30 menitan tim SAR datang. Aku ditandu
menuju camp Merapi. Kala itu sekitar 8 orang membawa tubuhku yang berbobot 70
kg. Sungguh kasihan sampai tenaga mereka terkuras. Jalur pendakian pun ditutup
sementara. Semua jalur steril dari pendakian. Aku hanya bisa terus meneteskan air
mata menatap bintang yang mulai terlihat setelah hujan reda.
Mungkin
kalo mati dan dalam kondisi di gotong seperti ini. Oh bintang malam begitu
mencekam lambat laun berakhir. Dan kemudian Bahol bersama tim SAR menaiki
sepeda motor dan kemudian disusul aku. Para pria tangguh memahami air mata
wanita cukup berjalan kaki sampai Camp.
Sesampainya
di Camp cukup manis dengan nasi rames dan rokok Djarum Super. Asap rokok begitu
berbicara bahwa hidup harus rileks, dan hidup tak boleh menyerah pada keadaan.
Kita wajib menjadi orang-orang super dalam kondisi sakit yang menusuk seperti
ketika Jarum menembus kulit kita. Petualangan yang sungguh nikmat dan tak
terlupakan. Selalu ada luka untuk menguji cinta, cinta akan petualangan bahkan
pencarian jodoh, rejeki bahkan tuhan. Dan luka itu akan hanya bisa dibasuh oleh
hangatnya persahabatan bersama alam, hewan dan manusia. Bersyukurlah yang muda
yang berpetualang. Hanya petualang yang mampu berbicara dengan kepemahaman yang
mendalam tentang alam, makhluk hidup serta tanah air.
Ingat
guys kata-kata alay penutup semuanya ini
“
satu getaran cinta lawan jenis bisa menghancurkan dunia namun satu getaran
persahabatan dapat meruntuhkan tebing surga menutup jalur neraka”
Singkat
cerita kami sampai di Semarang dengan selamat.
Merapi,
19-21 Juni 2014.
Posting Komentar