Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal

Surat dari Tinjomoyo

Teruntuk Marlina tahun 2044
Di Tanah air Indonesia

Salam,
Apa kabar Mar? Lama sekali kau tak menengokku sekedar bercerita kini kau sudah menjadi seperti apa? Kini dalam kisah-kisahku akan aku kabarkan padamu keadaanku saat ini. aku hanya ingin kau tak melupakanku lalu seperti angin yang lupa akan sumber ia berhembus. Pasti ada sebuah jeda dalam benakmu untuk mengingat kembali apa yang aku ceritakan di lembaran kertas ini. Bagiku itu tak masalah selama kau mau membacanya dan ini sangat detail aku ceritakan padamu sehingga kau bisa membayangkan seperti menonton film pendek.
Senja mendung terisi kesunyian perlahan menyingkir berganti gema adzan di bulan Febuari. Langit sedari pagi murung dan mencekam, wajahnya pilu terkena semburan Kelud yang memuntahkan apapun yang ada di perut bumi. Abu vulkanik putih keabuan menyelimuti dedaunan, atap-atap rumah dan menenggelamkan gerakan manusia dalam diam dan tercengang bahwa betapa jika dibandingkan kuasa Tuhan bila sudah terjadi manusia hanyalah manusia tanpa daya. Sebagian jawa dipaksa berselimut putih abu, manusia mana yang bisa melakukan itu. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh sabda alam.
Aku sampaikan padamu bahwa kini aku menjadi mahasiswa tingkat akhir. Menjadi tua di kampus ternyata tak mengasyikan. Betapa kadang menjadi kolot, jadul dan bahkan belajar lebih bijak. Aku merasa terhenti tak bisa tumbuh lagi dalam berbagai hal. Namun semua itu aku nikmati sebagai manusia yang tak dapat menentang waktu. Semoga saja kau tak lupa moment pertama di bulan Januari. Ada sebuah pesan yang aku sampaikan padamu dan kawan-kawanku. Di diksar Exsara ke 5 itu aku bersama kawan exsara menyampaikan beberapa cerita tentang keluarga, sahabat bahkan mimpi.
Tepat dini hari, aku bersama Febi Widhi U, Agung W dan Gesang serta Intan serta masih banyak lainnya. Kami mengumpulkan 19 orang calon keluarga baru Exsara. Riwan membangunkan peserta dengan garangnya. Gebrakan tangannya pada pintu dan hentakan suaranya membuat semua peserta terbangun dengan jantung berdendang lebih keras dan mata yang lelah dipaksa berjuang melihat tingkah kami.
Malam tanpa bintang dengan dingin yang mencoba membekukan embun itu Nampak seperti malam di neraka bagi peserta. Tiap lubang di lapangan itu hanya terisi air yang selama beberapa hari tak kunjung reda. Suara lantang yang aku dan Febi gemakan pun dalam rasa sungkan yang tinggi. Beberapa rumah yang berjejer itu akan terganggu dengan suara kami. Lelap tidur mereka yang indah penuh damai harus kami hancurkan. Angin pagi pun akan menjadi seperti tukang pos mengabarkan keresahan menganggu kehidupan alam bawah sadar orang.
Agung lebih tetap tenang tanpa menyalakan bara geloranya. Mungkin ada sejuta rasa ragu yang dia rasakan, aku bahkan Febi rasakan. Pesan kami sampaikan memang tak ada keraguan namun dilain sisi memang seperti ada kabut yang menutupi pencerahan kami berpikir. Kami yang disebut stressor adalah manusia yang dianggap tak memiliki perasaan. Ia kejam tanpa ampun dan bagai hantu yang selalu mengincar para hati yang terisi ketakutan dan rasa ragu melangkah. Tombol off di hati kami tekan dengan tegas, bahwa segalanya wajib tanpa rasa dendam, benci, cinta bahkan sakit. Tiap langkah yang diisi pertimbangan ilmiah. Kami bagai penganut A. Comte yang menggunakan landasan ilmiah dalam menciptakan sikap manusia yang kami inginkan, itu seperti proses mengajar manusia dengan sistem mengajar batu ( benda mati). Apa boleh buat dosen-dosen kami pun mengajarkan itu. Mereka mengajarkan kami bagaimana mendidik manusia dengan paham Darwin dan comte. Menilai manusia dengan keilmiahan sains dengan statistika. Semua diukur dengan angka dan kebenaran ilmiah. Namun kami kemudian memadukan keilmiahan dengan psikologi. Kami berusaha berpikir manusia berjumalah 19 orang adalah layak dimanusiakan. Kami pertimbangkan lelah mereka, perasaan mereka dan suhu udara dan lainnya. Kami melakukan itu karena kami bukan pembunuh berdarah dingin yang seenaknya menghantam orang.
Berlari-larilah 19 orang itu di lapangan depan SD N 2 Tinjomoyo, mengamati perlahan siapa diantara mereka dengan fisik terkuat dan terlemah. Mencoba memahami yang suka sendiri dan suka bersama kawannya. Kebersamaan ego atau ego kebersamaan. Mungkin yang kedua yang kami inginkan. Nantinya mereka adalah orang dengan rasa ego untuk tetap bersama tinggi. Menjadi manusia sosial yang bahagia. Keringat lelah mereka bercucuran terkena sinar lampu neon. Tak hanya itu kaki merekapun wajib melangkah di pagi itu menyusuri jembatan merah, pemakaman dan perkampungan.
Jangkrik dan suara-suara disekeliling kadang mencipta imajinasi. Gelap disudut-sudut pepohonan menciptakan rasa ketakutan. Dan suatu saat ketakutan akan akan dioleh dengan jiwa seni menjadi cerita horror atau film horror. Dalam langkah kaki itu aku sempat berpikir menciptakan cerita horror berjudul jelajah dunia iblis; nyari brondong ketemu pocong; pelatihan hantu brondong dan bahkan ke19 manusia 20 tanda Tanya. Aku menyadari dipagi itu banyak intel dari dunia hantu menatap sinis kami. Aku mencoba cuek akan sikap mereka yang malu-malu bersembunyi dibalik gelap.
Kami hanya menyampaikan beberapa pesan Mar di pagi itu. Bahwa rasa saudara itu wajib ditumbuhkan, kekeluargaan yang diutamakan serta menjadi manusia unggul adalah modal membesarkan keluarga. Exsara sebenarnya tak apapun, ia kosong walau tak hampa. Semua organisasipun seperti itu. Karena Exsara dan lainnya adalah hanya sebuah wadah. Ia akan ada sesuatu didalamnya ketika pelaku didalamnya memberi warna, karya dan suasana.
Kami tak mendikte para penerus mau melakukan apapun dalam exsara. Kami seperti malaikat yang menaruh ruh dalam kekosongan Exsara 2014. Ruh Exsara 2014 adalah 19 orang di depanku. Ruh kekelurgaan, persahabatan, kesamaan dan nasionalisme menjadi pokok yang ditawarkan. Karena memang semuanya bukan terserah kami namun terserah para punggawa itu. Kami pastinya hanya orang yang tua, orang lembam, orang dengan pemikiran yang usang. Namun kami yakin semuanya adalah orang yang mencintai ruang waktu masa lalu yang tinggi dan tak akan mungkin menganggap yang usang adalah hal yang tak berarti.
Beberapa kali dalam rintik hujan yang mulai datang, suara Gesang mengelegar. Suaranya memecah sunyi. Lantang dan tak dapat dielakan oleh telinga-telinga itu untuk didengar. “ salah rumah atau tidak?” ia pasti ingin menyadarkan manusia didepannya untuk berpikir, merenung dan memutuskan. Berpikir apakah benar-benar mereka memahami Exsara, mau merenung apa yang mereka harus lakukan untuk Exsara dan memutuskan mereka mau berjuang atau tidak untuk Exsara. Keputusan tetap ada ditangan mereka.
Ada wajah-wajah lugu, acuh, mengamati dan bahkan kosong membuat setetes ragu di benak kami. Maukah mereka berjuang? Ada niatkah? Tanpa kemampuan pun tak masalah karena semua dititik awal yang paling harus ditanamkan adalah niat.
Niat itu yang nantinya mereka tepati disetiap langkah waktu berjalan. Niat adalah janji dan niat seperti air hulu yang jernih dan suci dan air wajib menjaga kejernihannya sampai samudera membuatnya asin. Dan hanya sebuah harapan dan harapan yang akhirnya bisa disampaikan semuanya. Harapan bahwa mereka melanjutkan cita-cita kami melalui Exsara untuk membangun negeri dengan cabang ilmu Sejarah.
Bagaimana Mar, ingat itu? Jika kau sudah ingat di ruang waktu itu kabarkanlah padaku. Tulislah rangkaian cerita tentangmu, tentang Exsara dan bahkan kawan-kawan Exsara. Apakah mereka masih ada ? atau pernah ada? Semoga saja semua masih ada.
Cukup kali ini aku kirimkan suratku, dan maaf rangkaian kata-katanya yang terucap. Semoga kita bertemu di lain waktu.
Salam manis,
Marlina 2014

Related Post



Posting Komentar