Mata masih saja bergulat dengan monitor leptop sejak beberapa hari ini. Memandang berita tentang pemimpin di negeri ini. Semua membuatku mual dan malas memilih ketika pilpres 2014. Bupati Ngada memblokir bandara dan yang dijadikan tersangka satpol PP, ada juga Acil M, SBY, Anas Urbaningrum. Semua menjemukan bagiku karena politik dinegeri ini semakin mati dari hati nurani. Tapi apalah itu aku tak sudi membahasnya. Walau begitu masih ada sedikit harapan dari sejarah akan adanya ratu adil. Entah kapan jam tayangnya namun itu membuatku tetap komitmen membaca website berita walau hanya kompas.com dan detik.com. mengapa hanya itu? Ya karena memang hanya bisa membuka situs itu saja. Aku hanya memakai AON .
Kini lembaran-lembaran akan menujukan seorang pemimpin dengan sosok menghibur melebihi Rhoma irama yang akan mencalonkan diri dengan Jokowi. Tak hanya itu lembaran kali ini bercerita tentang kekagumanku pada sahabat dan kisah lucu dari wanita. Semoga saja ini bisa membuka kenangan yang baik.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Siang itu ibu Mela sudah menawarkan pada siswa kelas X D untuk menjadi bakal calon ketua kelas. Suasana hening akhirnya tercipta. aku duduk dideretan terdepan bersama Anisatur. Kini aku sudah sampai ditahap duduk di bangku SMA. Aku lolos masuk sekolah terbaik ke 2 di Purbalingga. Aku masih ingat tutur kepala sekolah saat pertama upacara bendera “ sekolah ini berhasil menjadi mesin manusia yang unggul. Nilai rata-rata yang masuk disekolah ini kalah dengan sekolah lain namun setelah siswa masuk disekolah ini mereka lulus dengan dengan rata-rata meningkat dan sejajar dengan SMA terbaik di kabupaten ini. Kalian harus bangga ” aku nukilkan isi pidatonya seperti itu. Aku dengan minim rasa syukur memang tak bisa membanggakan sekolahku itu. Rasa pesimisme semakin menggerogoti semangat hidupku walau aku tetap tersenyum dihadapan mereka. Kawan-kawanku yang baru.
Masa mos dan kos adalah masa paling konyol. Dari masa bernyanyi ala Agnes monica yang pasti kawan-kawanku masih mengingat itu. Namun itu hanya sebuah guyonan saja dan aku anggap membuat cerita biar seru. Kalau bukan masa ini kita berekspresi haruskah menanti masa berikutnya. Dianggap terlalu percaya diri atau memang aku suka tampil, entah mana yang benar. Padahal jika dirumah aku tetap menjadi wanita pendiam.
Sudah menjadi kebiasaan diberbagai tingkat pendidikan bahwa yang popular di masa orientasi akan menjadi ditunjuk menjadi pemimpin. Ya masa perkenalan seperti itu pun akhirnya di gunakan dalam modus oleh mahasiswa juga. Setidaknya aku sudah mengalami ketika masa OSPEK atau kalau di unnes adalah masa PPA (Program pengenalan akademik) digunakan untuk memperkenalkan pemimpin selanjutnya. Dulu ketika jatuh masaku adalah Riki Kurniawan yang ditonjolkan. Dan saya sangat tak suka dengan proses demokrasi yang menghasilkan manusia popular saja kala duduk di perguruan tinggi. Karena suara mayor bukan suara tuhan, ucapku.
Kembali ke masa KOS dan MOS, akhir masa itu menghasilkan aku ditunjuk oleh kawan sekelas bersama Gilang dan yang satunya lupa namun ada 3 orang saat itu untuk menjadi calon ketua kelas X D. Aku tidak terlalu memikirkan penunjukan itu. Hanya sebuah kecemasan datang. Aku bagai diserang ketakutan melebihi datangnya bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki atau bahkan ketakutanku bagai ibu-ibu menghadapi kenaikan harga BBM.
“Nis pie ??” ucapku cemas pada Anisatur
“dah tenang maju aja. Nek ketahuan aku bisa malu seantero jagad kelas kok”
“ udah-udah maju-maju kan udah ditunjuk”
Akhirnya dengan cepat aku maju dan menutupi rasa cemasku. Aku diantara 2 pria itu berdiri didepan kelas. Satu persatu persatu kawan-kawan kelas XD menuliskan pilihanya di papan tulis itu. Skor tetap gilang yang paling dominan.
Gilang Ramadhan
Gilang adalah sosok pria yang humanis dan cerdas namun slengehannya tinggi. Sosok yang sangat patut menjadi ketua kelas dengen kepemimpinan yang dibuat asik. Kala itu hanya aku mengenal dari guyonannya dan sikapnya yang memang melambai. Jika bisa disandingkan ia tak bisa seperti SBY dengan kealayannya, tak bisa seperti Soeharto dengan sikap tenangnya dan bahkan takkan bisa disandingkan dengan dengan Soekarno. Memang kawanku itu jauh dari sosok hebat itu namun ia memang berbeda.
Jika aku ibaratkan ia adalah perbaduan antara Jokowi dan Gus dur. Sosok yang suka blusukan untuk mengetahui apa yang terjadi pada kawan-kawannya. Sosok ini pun merakyat dan sangat humoris seperti gus dur dengan banyolan intelektualnya. Sehingga selama satu tahun kepemimpinannya keadaan kelas asik dan tak ada beban apapun. Sikapnya yang humanis itu membuat aku akrab dengan dia dan kadang kala curhat padanya. Walau dilain sisi ada sikap-sikapnya yang malas untuk aku bahas.
Sikapnya yang sangat kewanitaan itu kadang membuatku geli sendiri. Ketika jalan ia bak seorang model papan atas. Sungguh bergaya dan stylist belum ditambah ketika menggosip sungguh heboh. Saya bisa membayangkan ia kelak akan melebihi ruben onus atau bahkan Olga. Bakatnya menjadi karakter yang seperti itu. “yang penting jangan banci beneran, aku paling takut sama banci” ucapku dalam hati. Sikap yang membuatku cocok dengan sahabatku ini adalah dirinya yang berbicara jujur dan blak-blakan. Sampai hal yang sensitifpun ia utarakan. Pernah suatu ketika ia dengan jujur mengkritiku “ kalo pake tas slempangnya jangan ditaro di antara dada Mar, itu membuat kelihatan “ mungkin memang ini begitu tabu untuk di ucapkan kala itu diumur yang masih menginjak SMA dan diceritakan dalam catatan ini namun ini mencerminkan sikap terbuka dan apa adanya dari kawanku itu. Dia sosok anti munafik.
Menerwang Kejantanan Gilang kala Upacara Bendera
Sosok ia benar-benar laki-laki hanya terlihat saat dia menjadi inspekur upacara. Sangat tegas dan tegap bak anggota kopasus maju ke medan perang. Kulit yang hitam dan perawakan arab ini memang kelihatan garang dan jantan. Dan saya beruntung pernah menikmati sisi dia menjadi pria kala upacara itu.ia seperti sosok pria yang sangat bertanggungjawab dan tangguh. Aku hanya terpaku sambil memegang teks Pembukaan UUD 1945. Memang spesialisasiku kala upacara bendera hanya membaca teks pembukaan UUD 1945 dari masa SD sampai SMA.
Kala siang itu sungguh tegang dan hikmat dilapangan upacara depan perpustakaan. Sosok didepanku bukanlah pria setengah matang lagi yang memanggilku ijah dan aku memanggilnya nyonya. Bukan juga sosok yang selalu menyarankan aku modis dan bermake up. Dia tampil luar biasa walau hanya akhirnya kembali menjadi gilang yang sebenarnya kala upacara selesai.
Upacara kala itu berlangsung lancer walau benar sedikit memalukan karena menyanyikan lagu Indonesia raya dengan fals dan ibu Mela sebagai wali kelas akhirnya mengutarakan kekecewaanya dan Gilang pun merasa bersalah kala itu. Benar kata Diyah “ biduannya hilang semua sehingga padus gagal “.
Lalu kala aku maju didepan saat pencalonan ketua kelas. Giliran para calon memberikan hak suara. Aku membujuk Gilang dahulu untuk memilih dan aku masih cemas akan nasibku ini. Takut merasa malu dan ditertawakan. Yang aku takutkan hanya satu berbalik badan dan nanti anak sekelas melihat noda yang tidak patut dilihat umum.
Dengan susah payah akhirnya aku memiliki akal dan tetap bisa menutupi noda di rokku itu dengan membuka tutup spidol dengan mulut. Dan tanganku yang kiri menutupi noda itu. Aku sedikit bergaya agar pusat perhatian pada tingkahku dan bukan pada tangan yang satunya yang berusaha menutupi noda itu. Aku memilih Gilang kala itu dan aku bangga pernah dipimpin kawanku itu. Dan aku sadar bahwa pemimpin yang besar bukan pemimpin yang harus memiliki sikap pria dan wanita namun memiliki sikap apa adanya dangan memberikan jati diri seutuhnya untuk orang lain. Jika kau kemayu ataupun tomboy itulah caramu dan kehidupanmu untuk memimpin kehidupan yang lain. Dan pemimpin memang harus yang paling Indonesia bukan yang kearab-araban dengan keislamannya dan bahkan dengan pemimpin dengan kejawaanya. semoga saja pemimpin indonesia tidak diimport.
Kawanku guru kehidupanku dan semua tetap dikenang dalam kisah klasik di masa ini.
Aku kemudian memakan roti dan menikmati kehidupan yang telah terjadi lalu tersadar kawanku hanya berwujud kabar-kabar di beranda Facebookku.
Semarang, 25 Desember 2013
Catatan putih abu-abu
Posting Komentar