Aku melihat wanita yang sedang berorasi. Aku melihatnya yang tomboy, ditangannya megaphone untuk menyuarakan suara mahasiswa, melihat ia terdiam di ruang BEM dan melihatnya terlalu letih di puncak gunung. Kadang aku juga melihat dia yang tertawa lepas menikmati kopi pahit dan mie saat petualangan. Wanita yang bebas dan sesukaanya sendiri. Dosen pun mengakui hal itu. Sampai tak heran dosen sepakat memberi label wanita itu terlalu menyepelkan kuliah dan pemalas serta tak rajin. Wanita yang senantiasa menghabiskan malam bersama kawan-kawannya di kucingan dan menghabiskan siang untuk tidur atau berkelana. Ya, wanita itu angkuh, keras dan berkawan banyak orang.
Aku pun melihat wanita itu, wanita di semester 3 yang menangis mengenal apa kejamnya dunia. Melihat dirinya yang mulai dewasa dan mengenal makna politik yang menjenuhkan. Suaranya makin lantang beda dengan dirinya di masa semeter satu yang periang dan lugu. Kini ia lebih bisa berpikir dan mendapatkan pencerahan untuk bertindak sebagai mahasiswa dan manusia seutuhnya.
Aku kemudian bercerita wanita itu adalah diriku yang aku rindu. Namun lebih jauh lagi aku pun merindukan aku jauh sebelumnya. Bercerita tentang aku tak lengkap bercerita tentang sahabatku. Bagiku sahabat adalah pelangi delapan warna, keindahanya melebihi keindahan yang dihadirkan dunia. Sahabat memberimu segalanya bahkan yang tidak diberikan dunia. Ia memberikan cermin, memberikan ketenangan dan memberikan warna kehidupan. Sahabatku aku kini sudah berbeda namun tetap tali yang kau sematkan di hati tetap terikat walau waktu berganti dan ruang menjauhkan.
4 Sekawan SMA
Kelas X D, kelas yang tidak hanya bercerita tentang Ijah ( aku) dan Nyonya ( Gilang R). Kelas pertamaku dimasa putih abu-abu yang asik dan tempat adaptasi yang baik. Bercerita tentang tempat transit untuk berpikir menjadi orang eksat yang makin songong dan orang sosial yang minder dengan ilmu yang digeluti. Bagaimana tidak belajar evolusi berkiblat pada darwin, fisika pada kesaklekan bukan ESQ dan matematika dianggap ilmu pasti. Sungguh menjemukan. Orang sosial makin tak tahu dasyatnya guru bumi, guru kehidupan dan guru negara, serta budaya. Itu yang aku rasakan sekarang beda dengan dulu. Dulu aku merasakan anak IPA pasti akan kaku dan berkutat dengan tugas serta anak IPS yang bebas, tidak jelas dan madesu ( masa depan suram). Pilihan yang tak mengenakan.
Aku ingat pagi itu, pagi dimana pematang sawah aku injak dengan kasar dan keringat dipagi hari yang makin membasahi kulit hitamku dan membuat rambut hitam bobku makin berantakan.pagi yang biasa aku lakukan. Itu semua berhulu pada kebiasaanku tak bisa bangun pagi, orang tuaku pun acuh akan kebiasaanku karena memang sulit di rubah dan itu terbawa sampai bangku kuliah. Aku kemudian berbaris bersama para siswa yang telat di dekat pos satpam, aku wanita sendiri dan kala itu push up menambah olah ragaku. Aku tetap saja acuh akan semua itu dan yang terpenting aku bisa masuk sekolah walau tak ada penyemangat hidup sama sekali.
“duh nis, kesele pol” aku duduk disamping anis yang sedang membaca buku
“jan mar mar, telat maning. “ keheranan Anis
“iya kowh, angkote londog miki” ngelesku padanya
Dibelakangku ada Ari Musodah dan Sri Wahyuni. Posisi tempat duduk tak hanya mempengaruhi nilai saja dan prestasi namun persahabatan. Akhirnya 4 orang menjadi sahabat dan agak mirip dengan geng ala anak remaja lainnya namun ini versi kami. 4 sekawan ini tak bisa disandingkan dengan 4 serangkai zaman Jepang tahun 1943, ada Ir Soekarno sang ploklamator banyak wanita dan orator ulung. Ia bersanding bersama Hitler sang Jagal Yahudi saat melakukan pidato. Penuh ambisi dan motivasi serta menghipnotis orang untuk patuh padanya. Sementara aku hanya wanita yang banyak bicara nyaris menjadi tong kosong nyaring bunyinya. Minim intelektual dan tidak bermutu, serta lawan jenis pun tak ada disekelilingku karena aku juga kurang minat pada hal itu walau sempat ada beberapa yang mendekati. Ada M. Hatta dengan hobi baca yang luar biasa sampai ia pulang dari belanda membawa 13 peti buku dan kecintaanya pada buku tak tertanding, ia sosok ekonom dan pemikir yang begitu dingin pada wanita sampai untuk meminang Rahmi pun harus dibantu oleh kawannya Karno, kalau aku bisa menyandingkan ia bagai sosok Anisatur R karena kecintaanya terhadap membaca begitu luar biasa, dan diantara 3 kawanku ini hanya dia yang memiliki kartu perpustakaan daerah dan paling sering ke perpustakaan sekolah kala istrahat. Ada Ki Hajar dewantara, ia sosok pendidik yang bisa mengalahkan sosok Tan Malaka sebagai pendidik di sekolah rakyat. Mungkin bisa jadi aku memaksakan diri ia bagai Ari M, ia begitu cerewet dan lincah sebagai wanita dan ia paling atraktif melebihi diriku namun ia sosok yang cerdas dan rajin. Aku percaya ia paling rajin diantara kami berempat soal sekolah. Dan kini ia lebih paham cara mendidik anak-anak karena ia masuk di jurusan pendidik untuk anak-anak. Ada Mas Mansyur yang agamis dan paling tak populer antara 4 serangkai lainnya. Mungkin posisinya sama seperti Sri wahyuni. Ia sosok diam dan diam namun menjadi penetral ketika ramai itu muncul. Ia sulit aku pahami dan paling sering aku acuhkan namun itulah dia, ia sosok pelengkap yang paling dibutuhkan untuk meng-rem tingkah kami.
4 orang yang berbeda karakter namun menyatu dalam kebersamaan. Itulah indahnya sahabat. Aku Marlina, anak termalas dimanapun berada. Setiap pagi hanya bisa bertanya
“ nis wis ngerjakna PR?”
Anisa selalu bertanya balik “ wis, ko ?”
“ kelalen nembe eling miki neng angkot”
Mungkin Anis bisa jadi jenuh menjawab pertanyaan formalku basa basi penuh tanda aku meminta bantuannya mengerjakan PR. Lain dengan Ari yang pasti rajin namun ia paling rapuh soal perasaan, ia sosok paling tersinggung dan penuh gejolak rasa, bisa jadi ia meniru ababilnya gunung Merapi. Ia kadang lebih banyak curhat tentang kawan di kelas yang kadang kurang pas dengannya dan kadang bercerita tentang cowo, namun kelalaiannya adalah ia salah orang bercerita. Ia bercerita pada diriku yang tidak peka dan tidak berperasaan. Solusipun jauh dari solutif apalagi penuh pencerahan. Namun daripada dia bercerita dengan Anisatur yang hanya datar menjawab mungkin aku menjadi pilihan terpaksa satu-satunya.
Bisa di bilang ini semua menunjukan kami bersatu juga karena tersingkir dari kumpulan lainnya atau bisa jadi itu hanya penilaian konyolku. Apapun itu kami bersatu sampai masa perpisahan tiba, bagai kelompok aneh yang eksis dan penuh kenangan mengukir sejarah. Apapun sedatarnya cerita persahabatan kami namun itu menjadi nilai sejarah yang pernah mengisi waktu. Tak ada kejutan ulang tahun bagi masing-masing, tak ada jalan bareng, liburan bareng, apalagi seperti belanja bersama dengan istilah lain shopping.
Kami tak ada kultur itu, hanya berbagi rasa dan pikiran saja kala waktu lengang di sudut kelas yang berisik serta membosankan. Aku paling heboh tanpa cerita sama juga anisatur namun berbeda dengan Ari dan Sri yang kadang bercerita dan berbagi kisah. Aku paling hanya bercerita tentang Rain dan Anisa bercerita tentang pondokannya. Walau aku tahu ia selalu menyembunyikan identitasnya sebagai anak kiyai kondang.
Sungguh foto kita berempatpun tak ada bahkan komunikasi hanya bisa dengan Ari. Entah bagaimana kabar Sri dan Anisatur. Terakhir kali aku bertemu Anisatur saat pernikahan kawanku, Isroh. Kawan bagaimana kabarmu? Kawan hujan ini membawa air ke siklus awal sama seperti perasaanku kembali ke masa itu. Kabarkan padaku kesuksesan kalian dan beritahu aku bahwa kalian adalah kalian yang ingat dulu. Aku makin terserang rindu pada sahabatku di senja ini. Senja di kala kontrakan Riza anak bahasa Inggris penuh canda tawa.
Senja dengan rokok dan botol miras, keripik singkong dan kopi serta teh. Aku duduk menanti fatihah menunggu meng Copy film sampai beratus episode dan menikmati canda tawa Riza dan Ibnu yang sedang menonton film one peace. Aku hanya diam membayangkan ini juga akan berakhir di suatu waktu. Kini aku hanya bisa menikmati air bening yang konyol dimasukan dalam botol bir dengan kadar alkohol 4,8 v/v dan menikmati tulisan kawasan bebas MEROKOK. Aku terdiam sampai magrib dan kemudian teringat kata-kata fatihah “ mba pernah membayangkan kita berpisah?” aku hanya bisa menjawab “ semua akan berakhir dan menunggu waktu (perpisahan) .”
“ bukan itu mba, kalau tiba-tiba ada miskomunikasi dan jadi musuhan?” ucapnya lugu namun realistis
“ percayalah dik, kita lebih dekat dari saudara dan lebih besar dari keluarga” ucapku dan jargon utama
Jika kau menganggapku tak penting maka aku menganggapku penting, jika kau mengaggapku bukan siapa-siapa maka aku menganggapmu siapa. Jika kau menganggapku musuh maka aku menganggapmu teman dan jika kau menganggapku teman maka aku menganggapmu saudara serta jika kau menganggapku saudara maka aku akan lebih menganggapmu saudara. Itulah aku, marlina salam sahabat dalam jiwa hening humanis yang akan mengajarkan pada mentari bagaimana cara memanusiakan manusia dengan cara manusiawi. Damai untuk bumi dan cinta kasih pada sahabatku yang ada dimanapun.
“ mba ayo makan? “ ucap Fatihah
“ oh dik iya bentar”
Semarang 3 januari 2013
Dalam sentuhan sahabat yang masih ada dihati
Tunggu part paling asik di part IV : bercerita tentang masa di kelas X paling asik dan konyol.
Posting Komentar