Senja ini masih menunggu antares bersinar di angkasa. Tiba-tiba aku terdiam melihat seorang gadis cilik bermain sendiri dipematang sawah, potongan rambut bob dan dengan warna hitam pekat membuat gadis itu nampak kalem. Kulit yang hitam langsat ala anak desa begitu membuatnya nampak eksotis. Aku mengikuti gadis itu dan memperhatikannya, ia masuk dalam rumah dan bertemu ibu yang menyapanya dengan ramah. Ia kemudian belajar dengan buku-buku Sdnya yang kusut. Hampir setiap hari ia membaca dan belajar, dia berhasrat suatu saat akan menjadi seorang Asoka, wanita dalam drama asia yang berperan menjadi penyiar berita. Aku mengamatinya terus, sampai mataku tak berkedip.
Tiba-tiba aku melihat ia menjadi gadis dibawah hujan sepulang sekolah. Ia sendiri dan menangis disenja itu. Aku melihatnya dibalik rindangnya pohon kala itu. Ingin aku memberikan payungku ini, ingin aku usap air mata dibalik hujan senja itu. Namun aku tak bisa dan tak ada kesanggupan. Dia kurus dan begitu diam. Tapi ternyata ketika aku perhatikan lagi ia begitu periang bermain basket dan sepakbola. Aku melihatnya tersenyum melihatnya. Dia bersama seorang pria rupawan. Mereka nampaknya sedang terkena panah dewa amor. Mereka nampak bahagia dan tidak dapat terpisahkan. Aku makin menatap mereka, di kelas mereka selalu membuat onar dan bahkan membuat guru menangis. Sungguh menggemaskan mereka.
Gadis itu kemudian tumbuh dan berada di SMA, aku lihat dia sedang bermain basket. Ia begitu paling semangat diantara semuanya. Namun ia tetap saja suka sendiri. Kadang aku melihatnya sedang berangkat sendiri melewati pematang sawah, kadang pula aku melihat dia sendiri pulang menunggu angkutan desa. Dia selalu sendiri dan ingin aku temani. Ia suka sekali akan rumus fisika bahkan pelajaran bahasa Indonesia. ia sering kali bercanda dengan kawannya dan menjadi tokoh yang ditanggap untuk bernyanyi dan menari. Segalanya ada pada dirinya sangat ekpresif dan berlebihan. Ia menjadi pusat perhatian kawan-kawannya, ia memang paling aneh. Aku menintipnya dari balik jendela kelas. Semua nampak sedang mengerjakan rumus namun dia malah menggambar, dia juga aneh ketika berbicara dan bahkan tertawa. Namun semuanya tak mengalangi kawannya untuk bersama dia.
Beberapa hari kemudian, ia menjadi orang diantara krumunan pendemo, kadang juga aku melihat dia pagi hari dikucingan berdiskusi. Sempat pula aku melihat dia sendiri di gasebo. Ia dengan style baju anehnya dan semaunya tanda ia menganut paham yang sebenarnya mempertentangkan segala penindasan termasuk penindasan dari pandangan normal. Ia begitu menggila dan menerjang apa saja. Ia kadang mengamati gunung dengan hikmat dan lautan dengan syukur. Ia nampak begitu senang dan tak kenal lelah. Walau dari balik kamar dia sering kali menangis. Sungguh aku ingin memeluknya dan menemani dia untuk bersamaku menikmati dunia. Tapi sayang tak ada kesempatan. Lalu aku mengikutinya berpetualangan kepenjuru Indonesia. ia nampak menjadi berbeda dan lebih liar. Aku semakin salut padanya. Aku mendekat namun kakiku tiba-tiba terhenti. Ia menangis di sinar yang redup. Menangis dan terus menangis. Akhirnya aku beranikan diri untuk mendekatinya.
“ hai....” sapaku lebut
“iya...”jawabnya sambil tersedu
“kenapa?” tanyaku
“aku menangis karena semuanya akan lenyap. Dan aku merindukan masa lalu . kau siapa?”
“ aku masa depanmu nak. Jangan menangis lagi, tak ada yang perlu kau tangisi semua proses adalah yang terbaik. Kini masa depanmu adalah kamu dengan jalan hidupmu, selamat berreovolusi ya J”
“ iya aku merindukan masa depan kok dan menjadikan semuanya kenangan”
Aku menyapanya dengan memeluknya mesra. Baju panjangku dan kerudungku basa akan tangisanya. Aku terus membelainya dan menenangkan dia. Semoga saja semua akan menyatu dalam cerita.

Posting Komentar