Sepasang
Sandal Jepit
“ Semangat, merupakan sihir untuk
merubah dunia menjadi lebih baik. Aku percaya itu, bahkan ketika raga dan jiwa
masuk dalam ruang gelap sekalipun. Semangat menjadi api yang dapat membakar
benteng ketidakmungkinan. Terus melangkah tanpa menyerah” Ucap penyiar radio di
senja yang mencoba menaklukan siang. Langit masih mendung dan tak menawarkan
sisi romantisme senja sama sekali.
Aku masih melihat negeri ini, negeri
dengan persatuan Indonesia. Bagiku negeri ini hanya bisa disatukan oleh
nasionalisme dan makanan. Bukan disatukan sepakbola, sepakbola menciptakan
skat-skat abadi dan tak mungkin ditembus oleh apapun. Hijau dan biru tak pernah
menyatu sama seperti oranye dan biru. Ketika mereka melebur pun tak bisa
menyatu menjadi merah putih pun kemudian dipertanyakan merah putih versi mana?
Sama seperti partai negeri ini yang multi versi, versi PKB pun ada banyak sama
seperti partai lain. Keanekaragaman apapun hasil perpecahan akan menjemukan.
Berbeda dengan kesaktian nasionalisme dari zaman bangsa ini belum merdeka
nasionalisme tak ada banyak versi, apakah itu nasionalisme versi Karno, hatta
bahkan Aidit sekalipun. Tetap nasionalisme hanya satu. Ya, kawan. Nasionalisme
hanya milik tanah air saja bukan milik individu bahkan golongan.
Cinta memang dapat menyatukan apapun
namun mempertahankannya hanya bisa dilakukan dengan satu hal. Makanan. Dan aku
masih percaya makananlah yang masih dapat menyatukan nusantara selain
nasionalisme. Keanekaragaman tetap menyatukan, sebut saja soto Sokaraja yang
berada di Kudus bahkan soto Kudus yang berada di Sokaraja. Tak pernah menentang
bahkan mengurangi cinta kedaerahan masing-masing. Mereka, para soto itu tetap
makanan bangsa Indonesia. Ada pula sate, sate madura, sate Blora atau sate
daerah manapun tak pernah diperdebatkan mana yang lebih enak, mana yang lebih
benar semuanya sama yaitu sate Indonesia. Itulah persatuan sebenarnya mudah
jika memang indah dan sederhana.
Namun aku bosan terlalu jauh
berbicara persatuan kawan. Di sini ketika menepi dari keramaian. Aku menatap
sendu gedung C2. Ya, konon katanya kita terpecah, konon katanya kita tak
sepaham, konon katanya kita berubah, konon katanya tak seramah dulu. Ya, konon
katanya saja. Apa itu benar? Mungkin itu salah prasangkaku saja. Semua gambaran
itu muncul bukan dari realitas namun dari pandangan manusia yang beraneka
ragam.
Aku mencoba berhenti sejenak menatap
lelangit Mei yang mulai berakhir. Di rumah ini kawan, tercipta keengganan, rasa
kecewa, rasa menjadi pihak bersalah, rasa menjadi pihak yang benar, rasa
dituntut dan menuntut. Semua masalahnya bukan pada realitas namun pandangan.
Semua indah jika dijalani dengan rasa namun sangat pelik jika sebuah putusan
apapun termasuk pandangan ditentukan dengan rasa.
“ Ah dik aku enggan datang karena
lama tak berkontribusi bahkan tak muncul” ucap angin lembut. Aku menepis tanya itu bagai daun kering yang
mencoba menahan laju angin. “ Ah dik, bhkan kau tak pernah tahu kerinduan
mendalam kita disini. Kami tak butuh kontribusimu, bahkan karyamu. Kau tahu
dari awal kita disini bukan untuk berkarya namun untuk persahabatan. Rangkaian
cerita persahabatan itulah karya terbaik yang seharusnya kau sadari. Bahkan
sebuah tawa itu yang lebih berarti dari rangkaian tulisan berlembar-lembar,
diskusi berjam-jam atau bahkan ratusan berkilo-kilo mendaki gunung. Kau lupa
prinsipnya kita adalah persamaan, persahabatan dan persaudaraan? Aku mungkin
yang disini terlalu takut menyapamu karena aku yang merasa mengecewakanmu. Kita
ternyata hanya kurang sapa saja padahal tak ada dusta diantara kita.
“ Ah dik aku kecewa sekarang kaya
gini!” ucap angin menamparku. Aku tersenyum perih mendengar itu “ aku tak tahu
banyak namun dari awal aku mengenal tempat ini ya apa adanya, tak bisa menjawab
harapan karena harapan itu adalah setiap nafas yang mau bersama bukan harapan
apapun.tempat ini kadang menjadi pelipur lara kawan ketika dunia tak sesuai
harapan. Masihkan masih berharap dari tempat ini? Ya, tak ada karena harapan
itu dirimu sendiri bukan tempat ini. Ada orang yang dulu didorong terdepan
namun sekarang bagai orang terdorong ke jurang. Lebih menahan kecewa yang
mendorong atau yang terdorong? Bukankah kecewa hanya sebuah kesulitan
menterjemahkan aksi nyatamu bukan aksi orang lain.
Ada yang menjadi pihak bersalah dan
disalahkan. “ Ah dik, aku merasa salah sampai seperti ini?” atau “ ah dik
seharusnya kaya gini, gitu, giti, gito dst” Aku pun tertawa lepas sembari
bertanya “ dik tahu yang namanya Anjing?”
Lalu
angin menjawab “ niki dik cermin?”
Aku
tersenyum dan sedikit air mata di sekitar mata. Hal yang menggelikan dan hanya
ucapku ini sedikit tak sopan : “ Hanya seperti inikah tegur sapa paling
romantis yang kalian bisa? Bukan salah menyalahkan itu hanya bentuk perhatian
namun perhatian kaum rendahan. Orang yang menyalahkan itu hanya mendeskripsikan
keadaan yang dilihat, hanya analisis yang tajamnya buta seperti keris empu
tantular, membunuh banyak nyawa. Tak akan memperbaiki keadaan. Disalahkan pada
orang yang tak menengenal sama saja menanggapi turis asing yang memaki-maki
kenapa laki-laki bangsa ini memakai sarung. Tak saling mengenal namun
berkelahi, ya intinya bukan rumusan salah menyalahkan namun rumusan tak saling
mengenal. Mentalnya tetap sama, lebih mudah melihat dan berkomentar daripada
melangkah bersama dan merasakan perihnya keadaan.
Mungkin
aku menulis inipun menjadi pihak sok benar. Ya, aku salah dilain sisi atas
segala kelalaianku, segala kekuranganku, segala ketidakhadiranku.
Terinjak-injak karena ketidakberdayaan bukan karena ketidakmauan menjadi lebih
baik memang menyakitkan. Itu seperti sudah menggadaikan diri dan diri tak bisa
menebusnya ke pegadaian. Mengatasi masalahpun dipermasalahkan. Ketidakmampuanku
pun sering di cemooh jelas ketika adikku menjadi malu memiliki kakak sepertiku.
Dia anak lugu itu ditertawakan kawan-kawannya, padahal kawan-kawannya hanya
robot berdaging. Saya memang tak mampu menjadi orang seperti pada umumnya dan
itu menjadi sangat menjijikan di beberapa orang. Hanya modal percaya bahwa pria
yang menertawakan itu suatu saat mengajariku pakai rok karena mereka sering
menjadi lebih rewel daripada wanita. Dan yang wanita akan mengajariku cara
angkat besi, maklum mereka tak punya rasa hanya modal otot untuk berbicara. Hai
kamu, iya kamu ... tersindirkan? Ah aku tak berniat menyindir hanya contoh
saja, bahwa jangan sekali-kali menjadi sok benar karena pasti disalahkan dan
jangan menjadi pihak paling benar karena belum tentu kita benar menjadi yang
paling.
Yang
muda merasa dituntut didepan sidang pidana khasus pencucian karakter, lebih
kejam dari pencucian uang.
Lanjutaan ke catatan selanjutnya
Posting Komentar