Senja ketika daun-daun mulai terkena
guyuran rembulan masih teringat jelas di benakku. Ratih Ika Wijayanti, teman
sekelasmu memberitahukan bahwa aku diterima di Unnes. Seketika aku mencari
bapakku yang akan ke rumah sakit menjemput ibuku yang sedang menemani adikku
yang terbaring. Aku dengan girang memberitahukan bahwa aku lolos. Di perempatan
desa yang sunyi sehabis adzan magrib memecah senandung alam, aku berbicara pada
bapakku.
“
Aku diterima di Unnes, pak” Ucapku
“
Yow is, syukur ” Ucap bapakku datar
Ia
memang sosok yang sangat keras dan sulit dilobi dalam kehidupanku. Pertikaian
sengit dan penuh adu mulut mewarnai pemberian uang 13 juta sebagai uang SPL
saat itu. Bapakku senantiasa menganggapku anak terbodoh dan termalas yang hanya
tahu tim sepakbola PSIS, basket dan bermain bola. Nilai pelajaran IPA ku
tergolong rata-rata dan itu dianggap sangat rendahan. Sering terdengan ucapan
bahwa aku memang anak yang diluar garis kebanggaan. Selain urakan dan tidak
bertanggungjawab juga sikapku yang tak pernah logis membuat bapakku tak pernah
mempercayaiku.
Padahal
aku sudah berikrar pada ibuku bahwa aku ingin menjadi menteri pendidikan.
Pernah aku mengobrol dengan ibukku kala masak di dapur.
“
aku ingin kuliah, Yung! ”
“
iya, mau ambil jurusan apa? ”
“
Ambil olahraga, biar bisa bekerja di klub sepakbola. Kalo ga sastra Indonesia,
kan banyak catatanku dan puisi-puisi”
“
Selain itu lah, wanita apa bisa olah raga terus saat tua. Sastra nanti malah
makin gila. Lah bahasa Indonesia yang penting telaten. Jarang juga penulis dari
jurusan itu kan?”
“
iya si, terus ambil apa ya?”
“
yang di sukai. Aku ya nurut Lin”
“
aku ambil fisika aja ya, Yung?”
“
IPAmu apa apik? Pas-pasan kan? Seneng tok ga cukup? Apa ga mumet lah orang kota
lebih banyak mendalami fisika lah kamu belajar fisika Cuma dari satu buku.
Nanti malah kalah saing. IPS saja paling aman.”
“Lah
ya engga, IPA ku apik Cuma ga bisa hafalan. Nanti kalo di IPS gimana aku
mnghafalkannya”
“
Karepmu, percuma ngandani kowe”
Akhirnya dengan berbagai renungan
aku memilih jurusan pendidikan sejarah. Disamping kata pak guru sejarah SMA ku
bahwa ahli Sejarah adalah guru bangsa namun juga karena mata pelajaran itu
adalah mata pelajaran yang disukai Rifki Angga Firmansyah. Dari seluruh alasan memilih
tempat kuliah dan jurusan adalah alasan yang konyol saat itu. Memilih di Unnes
karena dekat dengan stadion Jatidiri dan jurusan sejarah diambil karena untuk
mengabadikan cinta pertama dengan pembuktian aku menyukai apa yang dia sukai.
Namun mendapatkan restu dan uang
tidaklah mudah dari bapakku. Ia terlanjur tidak mempercayaiku. Antara tidak
mempercayai dan tak tahu sebenarnya masih aku ragukan. Ia tak pernah
mempercayai aku sanggup atau tidak tahu aku sanggup. Percakapan yang lucu namun
mengenaskan terekam dalam ruang ingatan
ini.
“
Lina mau kuliah dimana?” ucap lik-ku
“
Ga kuliah, otaknya rendahan ya ga sanggup”
“
lah bukannya anak njenengan di IPA 1 ? masa ga bisa si?” heran Lik-ku. Di
kalangan masyarakat anak SMA negeri dan di program IPA apalagi IPA 1 merupakan
anak pintar dan pilihan.
“
Lah apa iya? Anakku itu ga pernah yang namanya belajar. Pulang sekolah kalo ga
basketan ya futsal. Malam nonton bola sampai pagi. Ga jelas”
“
Daftar saja siapa tahu berubah anak njenengan kang”
“
wis diterima di Unnes kok, tapi males mbahasnya. “
“
wah bagus itu. Anakku saja ga lolos malah diterimanya di Undip bukan keguruan”
“
Masa? Bukane anake njenengan rajin banget, ga pernah keluar rumah?”
“
Iya tapi nasib orang kan beda si kang”
Anak lik ku mendaftar di UNNES
jurusan matematika dan saingan mata pelajaran itu memang banyak, berbeda dengan
minat anak yang ke sejarah. Kedua orang itu tak tahu sebenarnya yang terjadi.
Karena hal tersebut ayahku sedikit mempertimbangkan langkah selanjutnya. Namun
tetap belum bisa menerima diriku. Hingga akhirnya tugas akhir melukis membuat
hati bapakku luluh.
Rain, adalah idola sepanjang masa
dalam kehidupanku. Ia tak hanya menyihirku menjadi manusia paling semangat
namun juga paling mau berjuang dan tak akan patah sedikitpun. Setiap tugas
membuat sketsa wajah dan melukis manusia aku selalu menggambar Rain. Sampai pak
Hamid, guru menggambar kala di SMA N 1 Bobotsari terheran dan bosan sendiri.
“
Marl itu siapa yang digambar?”
“
Rain pak hehehehe”
“
kok Rain terus. Gantilah, pemain sepakbola kan ga apa-apa. “
“
Ga pak pokoknya Rain. Dia kan mau wanmil pak nanti aku rindukan hehheh”
Tugas akhir sebuah pameran lukis aku
pun menggambar Rain. Aku melukis rain di ukuran kertas dua kali besar ukuran
kertas A3. Jika kertas manila dibagi 2 maka itu ukurannya hampir setara dengan
dua kali A3. Aku melukis 3 hari tak berhenti-henti dan membuat serta membingkai
lukisan itu sendiri. Kala itu sampai jam 2 pagi aku masih mengerjakan itu
semua. Memotong kayu sampai memakunya. Karena berisik akhirnya bapakku
terbangun dan membentak “ berisik banget, lanjutkan besok saja.memaku saja
tidak bisa kapan mau selesainya?” Dengan santai kemudian aku diam dan keluar
rumah dan mengerjakan itu semua di luar rumah.
Sampai subuh kiranya, belumlah
selesai. Ibu yang iba kemudian menghampiriku dan menawarkan bantuan.
“
sini Lin, aku saja”
“
Ga, usah!!!! Ga penting ! ”
Menggunakan paku bekas yang aku
cari-cari di tembok rumah dan kayu yang sebenarnya kurang bagus juga menambah
kengenasanku dengan palu untuk menancapkan paku taka da sehingga menggunakan
batu. Sungguh aku seperti mempraktekan kehidupan manusia purba saat itu. Semua
bercampur menjadi satu antara kecewa, letih dan putus harapan. Kawan sumringah
terdaftar aku harus merana menolak daftarku masuk Unnes. Pupus harapan menonton
PSIS live, tak ada kata mahasiswa bahkan mungkin nasibku hanya menjadi juragan
desa dan tak menghirup udara kota. Alami dengan gemericik air dan jangkrik yang
memainkan musik dan para daun-daun menari-nari terkena angin. Malang!! Aku
makhluk paling merana diantara pesta serangga yang meriah.
Hasil usahaku sampai tangan lecet-lecet dan
diamku menjadi senjata aku melawan bapakku. Ia merasa diabaikan olehku dan aku
terlalu keras kepala. Ia agak takut aku benar-benar tak menyapanya lagi. Hal
itu aku tahu dari ibuku. Hingga dua hari kemudian, ia memberikanku uang 13 juta
untuk kuliah. Akhirnya aku resmi tercatat menjadi mahasiswa Unnes.
Posting Komentar