Masa PPA
adalah masa awal penuh dengan cerita unik dan menarik. Dimana perubahan tempat
dan gelar baru disandang. Itu seperti melakukan hijrah dengan dua resiko
menjadi buruk atau baik. Di gedung C7 itu suasana hari itu masih dalam kondisi
bulan Ramadhan 2010. Aku duduk didepan bersama Falasifah, Tere dan hanya itu
yang aku ingat.
Kondisi saat
itu penuh sesak karena semua mahasiswa jurusan di FIS ada dalam satu gedung.
Kostum kebanggaan keluguan tetap saja hitam putih dengan dasi dan sepatu
pantofel. Semua harus lengkap untuk penugasan PPA. Kecuali aku, aku memang
otaknya belum mencukupi untuk melaksanakan itu. Banyak penugasan yang tak aku
lakukan saat itu. namun pemburu kesalahan saat itu tidaklah seperti harimau kelaparan
mencari mangsa sehingga aku aman.
Tak ada memori
spesial di gedung itu, beberapa yang aku kenal hanya pembawa acara saat itu
yaitu mas Adi dan sang pengambil gambar yaitu pria berkacamata, lalu aku baru
tahu bahwa itu mas Galih. Dan pria yang mirip pemain film “ Ada apa dengan
cinta” besutan sutradara Rudi Soedjarwo yaitu Arif M Yusuf, sosiologi. Ada pula orang sejarah yang
pertama aku kenal adalah Kaharisma. Dia kakak pendampingku saat itu. sedikit
yang aku kenal saat itu karena memang aku lebih memilih diam dalam kebosanan
dan menikmati kipas angin yang tepat berada di depanku.
Orang sebagai
manusia individu tetap saja memiliki naluri untuk berkelompok-kelompok. Mencari
identitas yang sama untuk menjadi sebuah kelompok. Ketika sudah sampai di ruang
kampus maka persatuan yang ada yang membentuk kelompok bersama adalah kumpulan
dalam panji jurusan. Dan aku masuk dalam jurusan sejarah. Langkah awal tetaplah
mencari siapa kakak tingkat yang bisa ditanya tentang jurusan. Kala itu pasti
tetap Kaharisma. Perawakannya yang putih dan tampan menjadi pusat perhatian
saat itu oleh para maba. Dan hal itu adalah hal yang normal.
Namun orang
sejarah yang pertama paling berkesan bukan Kaharisma. Melainkan Winarso, walau
sebenarnya untuk awal sangat mengecewakan para kumpulan wanita-wanita maba
sejarah. Karena itulah adanya Winarso, sederhana dan tak rupawan namun beraura
bagai bung Tomo yang berpidato mengguncang hati para arek-arek Surabaya pada 10
November 1945. Winarso terlihat lebih
lantang ketika berbicara diantara ketua Hima yang lain, dia orang yang membakar
semangat mahasiswa baru sejarah dalam pidatonya yang singkat. Banyak ucapan
yang ia katakanan namun hal yang paling aku ingat adalah ucapan ia tentang “
Kita harus menjadi seperti bunga teratai, walaupun airnya keruh namun bunganya
tetap indah. apapun kondisi lingkungannya tetap harus menjadi manusia yang
baik” . pidatonya benar-benar membawa rasa kemerdekaan diri di daerah
penjajahan Banaran-Sekaran.
Dengan gaya
khas dan nyentriknya dia berpidato singkat namun tanpa menghilangkan tiap
katanya mencerminkan orang sejarah.
Masa-masa maba
orang tersering muncul adalah memang Winarso. Hingga sebuah buka bersama sampai
kampus merah pun ada orang ini. Belum lagi kemas dan akhirnya Exsara. Buka
bersama yang diadakan Exsara tetap dengan tokoh sentralnya Winarso di ruang 108
saat itu masih teringat jelas. Bagaimana aku dan Kristin serta Limat akhirnya
terjerat masuk Exsara dan menjalar ke beberapa orang disekitar kita. Buka
bersama itu tak hanya sekedar buka bersama namun pintu dari semua rangkaian
panjang sejarah yang akan diciptakan di Exsara. Pintu yang unik dengan sapaan
paling baik menurutku. Kami yang anak manja hanya bisa mengeluh sirup yang tak
manis dan makanan seadanya. Namun hati senang karena menemukan sesuatu hal yang
baru dan pengalam baru. Acara buka bersama hanya berisi
Makan bersama dan pengenalan
biasa, dari pengenalan tokoh Exsara sampai mengenalkan organisasi Exsara. Ada
pula saat itu seingatku pun muncul Riki Kurniawan dengan acara kampus merahnya.
Ditempat itu akhirnya aku menemukan teman sedaerah pertamaku yaitu Ganda
Kuriawan. Ganda dengan kemeja batik warna coklat memaparkan bulletin Exsara (
Bullexs) . Itu menjadi magnet tersendiri dan di buka bersama itu pun mengenal
kakak tingkat yang lain.
Bagiku buka
bersama kala itu adalah hello effect yang diciptakan sempurnah oleh kakak
tingkat Exsara sehingga membuat kesan pada Exsara sangat luar biasa. Namun luar
biasa di sini bukan untuk kondisi organisasi yang hebat namun seperti membawa
jiwa terbakar semangat membela tanah air dengan rasa “ nasionalisme “ yang
selalu di gelorakan oleh para punggawa Exsara saat itu. Berjuang iklas tanpa
pamrih adalah kalimat yang sering muncul ditelingaku ditambah dengan Syaiful
anwar yang sering mengucapkannya.
Setelah itu
muncul Ultah Exsara, diksar dan Musyawarah anggota.
Posting Komentar