Raport itu menjadi benda otentik sejarah hidupku. Aku akhirnya resmi menjadi siswa IPA. Pergulatan yang panjang dengan orang tua dan protes minim pada guru wali kelas membuatku mengalah pada golongan tua. Aku bagai burung ingin terbang bebas, menikmati masa muda dengan senang-senang, dan hidup tanpa beban. Namun kini aku terkurung di laboratorium biologi, kimia dan diborgol dengan kerumitan rumus. Senyum bebasku terkunci dengan kesunyian kelas. Kelas sering kali hanya terisi manusia penuh keseriusan sekolah, berkutat dengan tugas dan materi. Aku merasa sungguh iri pada anak IPS yang bebas, cablak, dan santai.
Kini aku penganut Albert einstain, memahami relativitas yang diterjemahkan dengan angka. Diterjemahkan dengan rumus dan logika yang sangat berat. Aku duduk di IPA 1, Kelas yang diisi siswa rajin. Aku paling termalas dan paling urakan. Paling sering telat, paling sering tak mengerjakan tugas dan aktif remidi. Aku merasa menjadi noda keindahan anak IPA 1, anak IPA yang terkenal cerdas terdapat wanita senakal aku. Dan aku memang rendah diri masuk IPA sehingga tak nyaman. Aku merasa tak sanggup dan tak ada ketertarikan mendalam. Memang kadang aku suka mencangkok tanaman, menanam dan bahkan membuat zat warna serta penguat warna dari air seni.
Andai aku di bangku IPS mungkin aku akan menterjemahkan relativitas einstain dengan peristiwa, dengan sikap manusia dan kehidupan ekonomi yang tak pernah tetap. Dan itulah hidup, penuh relative dan jika tak relative maka kita telah mengalami kematian. Aku berusaha tetap bertahan dengan kelas dan suasana yang semakin mematikan langkahku. Mencoba bersyukur namun merasa tersungkur mencoba bangga namun aku sebenarnya merana. Aku heran mengapa semua ingin masuk IPA dan aku kekeh ingin IPS? Awal aku masuk IPA memang tak hanya harus beradaptasi dengan kelas namun dengan realita yang muncul bagai bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Inilah relativitas yang aku rasakan, ketika benda jatuh pasti selalu kebawah namun karena ini dunia relative maka jatuh hati akan melayang terbang ke angkasa. Awal jatuh hati pada pria itu ketika akhir kelas XD. Ia terlihat tenang dan pendiam serta sipit. Ia hadir sekilas dipandanganku. Apapun pembelaanku entah suka atau sekadar ngfans, bahkan cinta bagiku sama saja. Aku tak dapat memunafikkan rasa jatuh hati pada pria itu.
Dan pria itu walau aku tak dapatkan hatinya namun ia menolongku di masa depan. Masa setelah SMA berlalu. Masa di mana aku hampir lupa pernah menyukainya. Masa itu masa aku duduk di semester 3.
Aku duduk di tempat istimewa itu. Menatap gelap di sudut kampus. Sesekali daun berguguran terabaikan oleh angin. Aku duduk di PKM FIS. Student Center fakultas ilmu sosial. Tempat kumuh, dekil dan taka da kerapian. Namun tempat itu nyaman bagiku, disana aku belajar tentang computer, wi fi, tentang kesederhanaan, perjuangan dan persahabatan. Aku hampir seperti wanita PKM seorang diri. Tempat yang di anggap kumpulan para PKI itu tetap menjadi bagian penting yang membentuk aku sebagai mahasiswa. Aku menanti para staf dan kawanku. Malam rabu adalah waktunya diskusi rutin BEM FIS. Gojekan rabuan adalah brand dari diskusi.
Suasana lorong C7 masih sepi. Satu jalur masuk fakultas ditutup. Karpet dan tikar di gelar dengan rapi. Aku diam mengamati apa yang harus terjadi. Kini diskusi tentang kenaikan harga BBM. Pelan namun pasti satu persatu dari berbagai fakultas sampai dan aku berjabat tangan dengan mereka. Ada kawan lama dan teman baru. Semua aku nikmati dengan asik.
Ketika aku sedang sibuk menyambut tamu lalu tak aku duga, ada wajah yang tertanggap cahaya datang diantara hiruk pikuk acara diskusi. Ia diantara wanita-wanita berkerudung besar. Aku berjalan menuju dirinya dan duduk mencoba menyingkirkan wanita di sampingnya. Aku coba mengecek apakah dia benar orang yang aku kenal. Aku kemudian memanggil adik tingkatku.
“ dek, sampun presensi sedoyo?”
“ dah mba”
“ aku lihat nggih?”
“iya”
Dan Kemudian memang benar ada namanya. Aku kemudian pura-pura menyapa dirinya. Pria yang tepat di depanku.
“ mas, sampun presensi?”
“ dah mba” ucapnya tanpa mengenalku
“ Mas Dicky ya?”
“iya”
“enyong adik kelasmu mas pas SMA”
“Apa iya, kayane ganu ko sing cokan karo okta ya?”
“iya mas, aku kan sekelas kambi okta”
“oh iya, tapi kayane ganu ko ora kudungan?”
“huum mas, ganu aku kan setim basket karo ko”
“owh ya, saiki ko neng jurusan apa?’
“ aku Marlina mas, jurusan sejarah FIS”
“ owalah pak Yuwono. Mlebu BEM apa DPM?
“aku teko wae neng kena mas. Pak ketua DPM FIK saiki ya hehhehe”
“ iya, lah kowh neng apa. Engko dadi koordinasi ne gampang”
“ aku neng BEM mas, anak buahmu ndi?”
‘iki wadon-wadon kabeh”
“hehe ora masalah, lah okta saiki neng di?”
“ neng Jogja Mar, dolan kapan-kapan…”
“iya mas, yow wis yow aku nganah disit. Ana tamu maning si”
“oh ya, “
“ engko aku hub panjenengan lah ya lewat sms”
Aku bersama dirinya hanya sekilas namun sungguh membuatku sumringah. Aku kemudian menghubunginya kembali hanya lewat sms untuk ikut sebuah aksi. Aksi kecil yang berari dalam perjalanan kuliahku.
Senja itu masih terekam jelas di benakku. Senja penuh kegelisahan, kecamuk dan ketakutan. Aku diiringi berbagai kisah yang pilu sebelum senja itu datang. Malam sebelumnya PD 3 pun sudah menghampiri ke PKM mencoba memperingatkanku, ada pula sebelum semuanya aku di ingatkan oleh dia sahabatku wiwin dan adit. Aku mencoba tenang dan tenang serta menenangkan yang lain. Kala itu hampir aku gila menyusun semuanya. Ada masa, ada teater, ada penduduk dan banyak yang harus aku pikirkan. Aku hampir gila jika saja taka da kawanku yang menguatkan. Dari kejauhan ada Diyah, hafzah dan Furi. Didekatku ada teman-teman BEM. Tak bisa aku bayangkan bahwa memang ekspresi ini mahal harganya. Aku hampir menjadi wanita rapuh tanpa kekuatan.
Masa cukup sedikit kala itu, sekitar 100 orang. Namun tak ada dari fakultas lain. Aku murung mencekam hanya dalam hati, wajahku wajib tetap dingin dan tegar. Semua hampir siap dan genderang akustik pun mulai siap tampil dengan wajah teman-teman di lumuri cat. Aku diam di lapangan samping dekanat fis itu. Itu pengalaman pertamaku dan aku merasa itu tak semudah yang aku bayangkan.
Dalam pucuk gundahku. Gerombolan pria bersarung datang, mereka begitu nyentik dan berbeda. Aku sapa dia kembali
“ mas Diky….”ucapku girang sambil berjabat tangan dengan mereka
“makasih mas sudah datang” ucapku lagi
“ iya, mar… entar doa dimana?”
“ gini mas nanti kita konvoi dulu yak… baru ada doa nya”
“lah gapapa. Bagus malah mas. Maaf dah merepotkan”
Lalu aku sedikit menjauh dari gerombolan itu dan aksipun langsung dimulai. Semua dijaga ketat baik polisi maupun birokrat kampus. Aku akan bertanggung jawab akan semua ini jika ada sesuatu. Dan memang sulit aku pungkiri bahwa aku bagai penjahat yang menjadi buronan.
Disaat itu aku tak memikirkan sama sekali modus yang harus aku lakukan pada dirinya hanya saja kemudian ketika semua acara selesai. Aku hanya bisa mengulurkan tangan pada pria itu dan mengucapkan “ terima kasih mas diky” dan ia menjawab “ga menyangka Mar, nek ngene aku bawa orang yang banyak”. “ iya mas, maaf juga pemberitahuannya hanya lewat sms”
Dan itulah kisah terakhir aku bertemu dengannya. Tetap terekam jelas di benakku sama ketika saat SMA dulu.
Saat hanya bisa melihatnya kala masuk kelasku dan mencari kawanku sekaligus pacarnya. Pria di lapangan basket itu. Dan cinta kadang tak harus berbalas cinta tapi hal yang lebih pas dibutuhkan oleh diri sendiri. dan ia lebih pas menjadi masa dalam kegiatanku. Salam damai masa lalu
Posting Komentar