Kini malam telah berakhir ketika aku memulai bercerita pada kalian sebuah kisah, dedauanan yang merindukan embun semakin mulai terobati didinginnya suhu Semarang setelah hujan datang nakal dari senja sampai malam. Sapuan pandang hanya memperlihatkan toko-toko disepanjang jalan tertutup rapat, lampu jalanan padam dan cerewetnya mobil serta motor pun tak seperti biasanya. Celotehan jangkrik dan kawannya pun tak ada. Mungkin jangkrik memang sudah dipindahkan ke taman unnes atau taman serangga. Kini semua memang sudah pada tempatnya secara terkotak-kotak.
Tanpa suara seperti biasa, cahaya lampu dan nyawa kehidupan di sepanjang jalan membuat malam seolah murung. Bintang ada pun hanya merana diabaikan sunyi. Rembulan makin terasingkan diatas genangan embung unnes serta lampu-lampu yang diam tak bekerja. “ konservasi ala unnes sehingga mahasiswa pergi lampu pun mending mati” ucapku dalam hati. Tak hanya itu dan hal ini hal terakhir yang paling membuatku kesal. Nyawa kehidupan entah kemana, toko-toko sedang istrahat membuatku lapar tak terobati dan hanya ada satu toko penjual barang yang dibutuhkan mahasiswa. Beralaskan sandal gunung ini aku melangkah pasti membeli balpoin.
Balpoin yang akan menuliskan sebuah hasil perjuangan. Aku tulis dengan pelan serta penuh kesabaran tugas Evalusai Pembelajaran Sejarah. Dalam tugas ini hanya menghitung validitas, reabilitas , daya beda dan tingkat kesukaran soal. Semua hanya penerapan dasar statistik namun bagiku ini cukup menjemukan. Aku beruntung mengulang mata kuliah ini dan mencoba menikmatinya. Seperti menikmati secangkir kopi pahit. Aku mencoba tak berlaga pandai dan mencari sisi terbaik aku menghadapi semua ini. Dengan semangat tinggi aku sms Akhmad Dwi Afiyadi “ cah semester 3 yang pinter, rajin dan itu akan exsara yang apikan sapa ya?” . pesan pendekku itu untunglah cepat dibalas dikala kebuntuanku mencari pakar makul tersebut. Ia kemudian merekomendasikan Lombok, Budiono serta Riwan. Untuk wanita nikmah. Namun ia lebih menyarankanku untuk menghubungi Ulfah untuk tahu dibagaian wanita siapa yang rajin. Langsung saja aku sms si wanita tangguh itu dan ia merekomendasikan Dita.
Beberapa saat aku mengerjakan ternyata sudah cukup bisa walau memang menguras daya ingatku memahami rumus yang ada. Karena memang aku malas mencatat. Pelan tapi pasti semua hampir bisa aku lakukan walau ingin tetap menghubungi adik tingkatku membantuku. Tapi tak mungkin kemudian aku berani meminta bantuan ketika melihat mereka sibuk mengerjakan tumpukan tugas. “ ah apa ini Cuma rumusan kehidupan yang dibalut angka. Santai” ucapku munafik untuk menenangkan diri.
“ ndess nek dulu aku berjuang membiasakan baca sekarang berjuang membiasakan hitung. Jan susahe rasane” aduanku pada Diyah yang sedang penuh tawa menikmati tulisannya
“ huum ya ndess donge sekalian ngono ora ababil koyo ngono” Diyah mengamini pernyataanku daripada menanggapi lebih nanti obrolan akan panjang lebar.
Aku buka social media ku hanya beruba Facebook dan twitter. Belum punya what s App , BBM apalagi line. Marahnya sosial media memang merubah sendi-sendi penting kehidupan. Kini yang dekat Nampak jauh dan jauh Nampak dekat. Semua orang menjadi redaktur, editor dan reporter sebuah peristiwa. Sosial media menjadi media paling independen diantara media zaman sekarang yang dipolitisir. Dan angin pemilu 2014 pun mengisahkan itu padaku.
Facebook ku buka hanya berisi pemberitahuan ada sebuah catatan yang wajib dibalas komentaranya, agan gasda dan rama ramadhan berkomentar. Aku abaikan mereka dan tetap teliti menghitung validitas tiap soal. Lembaran folio makin menit makin menjemukan karena bersaing dengan bunyi leptop yang menunjukan ada pemberitahuan di facebook. Akhirnya bak facebook memiliki medan magnet yang besar membuat pilihan mata jatuh menatap facebook dan menutup berantakan tugasku.
Dengan facebook ini aku dapat membut sebuah sejarah merangkai status yang ada dan memadukannya dengan foto sebagai bukti primer dan video serta penandaan yang mengidentifikasikan sebuah bukti interaksi. Bagiku walau itu mengasikan namun aku ingin kembali menggunakan surat biasa. Kembali ke zaman jadul namun kelihatan cool. Nantinya akan aku kirimkan surat cinta tiap bulan untuk kekasihku, sahabatku dan keluargaku. Pastinya ada sensasi menulis kabar berupa rasa dan pikiran serta peristiwa lalu ada sensasi menunggu balasan. Sungguh indah dengan dunia yang sedikit bisa kita pelankan.
Namun rasa syukur pasti tetap muncul ketika ada facebook saat ini. Setidaknya aku bisa tetap mengetahui hukum alam yang terjadi dimuka kawanku, bisa melihat kehidupan mereka, canda tawa dan kisah mereka. Dan facebook menyambungkan tali-tali yang sedari kemarin tak ada sambungannya.
Kini aku ingin kembali pada hari yang ingin aku ingat, hari apa itu? Hari bersama kalian semua kawanku SMA.
GUE MENJADI ANAK BASKET
“ Mar mar oper” nurin berlari kesayap kanan
Langkah kakiku menuju ke tengah lapangan untuk melempar bola oranye itu. Bolapun melambung dengan tepat sasaran. Kemudian Dyah berada dibelakangku. Aku berlari kesayap kiri dan mulai mendekati ring dan langsung ketika bola datang aku pegang dengan erat bola dengan tetap dihimpit oleh tim lawan sehingga ruang gerakku terbatas. Tapi masih ada cela dan aku yakin itu. Aku menukuk sedikit kakiku dan siap melambungkan badanku dan yap . suara ring getar dan masuk, 2 poin berhasil. Masih senja berkutat dengan keringatku. Keringat di lapangan basket SMA N 1 Bobotsari. Hanya ada keramaian dari anak basket dan beberapa kali anak OSIS lewat disamping lapangan yang terbatasi skat tali besi yang dianyam.
Beberapa dari mereka hanya aku kenal Gilang dan Feli namun lambat laun aku mengenal ageng juga karena dia akrab dengan Gilang. Dan mereka adalah artisnya smansaboss, sebut saja Isrotul, Asep dan lainnya. Semuanya adalah sederet nama orang yang paling aku kenal. Kadang anak osis pun suka melihat anak basket sepertiku bermain ria. Aku menyadari menjadi bahan tontonan gratisan di jeda waktu kegiatan mereka. Kadang kala suara mereka aku tunggu namun kadang suara mereka begitu membuyarkan kosentrasiku. Begitulah efek dari pemain berhubungan dengan supporter. Bisa menjadi madu dan racun. Tanpa penyikapan yang bijak membuat tetap bertahan hanya menjadi imajinasi saja.
Dengan seragam basket berwarna putih dan ada corak biru berlengan pendek serta celana pendek membuatku makin merasa keren. Berlari berpacu dengan ketepatan dan kecepatan. Basket membuat adrenalinku makin terpacu dan ketika aku memegang bola basket aku hanya membayangkan sebagai Denny sumargo. Menjadi pria tampan yang gagah dan selalu tampil keren di pertandingan. Ia adalah sosok idolaku yang berasal dari Garuda flexi bandung. Bagi pecinta basket dikalangan wanita pasti Denny sumargo terbaik dari tampang. Ia membintangi banyak iklan produk pria dan iklan kesehatan. Pemain seperti Rony Gunawan dan Andy batam hanya nomer sekian walaupun skill mereka cukup bagus.
Basket memberikan kebahagiaan sendiri bagiku setelah aku tak nyaman di Teather Ling Lung dan ditolak mentah-mentah menjadi anggota osis. Maklum saat oprek aku hanya berniat bolos mapel saja di samping aku memang tidak layak masuk organisasi formal seperti itu. Jiwa yang bebas takkan cocok dalam dunia terkotakkan seperti osis.
Kala magrib akan datang barulah aku sampai di rumahku. Suasana rumah tetap hening dan jarang orang. Ibu kadang sedang di masjid dekat rumahku. Ia satu-satunya sosok yang paling bersahabat denganku kala di rumah. Ia menjadi orang paling sabar menghadapi dinginnya sikapku. Ketika aku pulang pasti suara itu muncul. “ taro sepatu di rak” atau “ mandi dulu sana” atau “ ada gorengan itu” , semuanya paling aku rindukan. Piring pun sudah terisi nasi dan sayur serta gorengan. Gorengan adalah makanan wajib dirumah pertama dan yang kedua adalah sambal. Ketika makan sedang makan selalu ditanya “ menang basketnya?” atau “ bagaimana futsalnya?” atau “ telat ga tadi pagi?” itulah ibu. Dan kala selesai makan “ jangan lupa shalat” atau “ istrahat jangan terlalu banyak kegiatan” atau “ kalau pegal-pegal cepet-cepet masukan garam dalam air hangat untuk mandi setelah itu minum air hangat juga”. Dan dari rangkaian obrolan itu aku hanya berkata “ ya “ dan “ ya” entah aku mengerjakannya atau tidak. Dirumah aku hanya sering banyak diam dan kadang menonton TV selebihnya bermain dan bermain.
Tak pernah ada tuntutan dari orang tua untukku. Pribadiku yang acuh pun sudah cukup membingungkan mereka. Mereka yang selalu memulai obrolan dan aku diam “ tadi PSIS menang?” atau “ bulutangkis Indonesia menang”. Sampai orang tuaku bingung memiliki anak yang ansosial sepertiku, tak mau bergaul dan hanya suka bermain olah raga saja. Ya, semua itu karena memang aku terbiasa dari dulu hanya bersama satu orang itu. Dan ketika orang itu tak ada maka aku tak bisa berhubungan secara biasa dengan orang. Hanya bercakap-cakappun hanya basa basi walau kadang ucapanku yang bisa dimata mereka lucu padahal aku dingin menanggapinya. Itulah sisi gelapku yang memang apa adanya. Lebih suka menyepi daripada ramai, lebih suka sendiri daripada bersama-sama. Aku lihat pribadiku yang ini adalah orang yang kehilangan sebagian hidupnya. Dan itu wajar terjadi ketika sebuah tumpuan itu hilang.
Sikap dingin dan selalu suka sendiri akhirnya membawaku akrab dengan elani. Elani adalah anak yang duduk tepat di sebelahku. Ia duduk bersama munawaroh. Ia remaja yang cerdas, rajin dan sangat mencintai Ibunya. Segala cerita dan bertukar pikiran lebih banyak padanya. Ia dapat memahami diriku ini dan kamipun Nampak memang akrab padahal ia sosok dianggap pelit memberikan jawaban dan egois tinggi. Namun bagiku tidak sama sekali, ia adalah malaikat berjubah setan. Ia lebih berpikir panjang daripada kawan-kawanku. Sebut saja soal memberi dan menerima contekan, soal itu adalah hal yang tidak bisa di tolerir. “ ketika aku memberikan jawabanku mereka akan malas dan tergantung padaku. Aku akan membodohkan mereka kalau seperti itu dan jika menerima contekan sama saja aku berbohong pada diriku” inti ucapannya seperti itu.
Keakrabanku dengan Elani juga mungkin karena senasib tak handal dalam medan mata pelajaran bahasa arab.
BAHASA ARAB DAN KEKONYOLAN SMA
Kelas X D masih bising dengan suara-suara kegembiraan ala siswa putih abu-abu. Kebisingan di jam kosong sekolah maupun istirahat. Semuanya Nampak tak sedikitpun ada beban hidup apa lagi beban mata pelajaran. Semua dibuat asik seperti hari libur sedang piknik. Kadang kala gilang ramadhan melakukan pentas music dadakan dan harus dibuat kacau oleh diriku. Kadang aku sangat malas menikmati suara Gilang yang terlalu dibuat-buat sehingga aku sindir dengan nyanyian ancur versiku dari salah lirik dan salah nada. Itu sebuah teknik bernyanyi dari hati, apa kata hati dan nada hati diluapkan, tak berpatokan dengan lagu sebenarnya. Aku menyadari banyak tawa yang sebenarnya bukan karena suaraku bagus namun kekonyolanku sangat menghibur orang. Aku suka saja dengan semua itu. Mungkin aku kelihatan tak punya otak sama sekali namun aku sangat menyehatkan otak-otak kawanku. Dan mungkin sedikit menyebalkan bagi Gilang yang jiwa dan raganya bak diva Titi DJ, suara teknik tinggi dan body semok.
“ persetan kata tetangga” mungkin kata itu yang pas untuk sikap anak sekelas. Kami tidak memperdulikan kelas sebelah bahkan kelas di depan kami sedang melakukan apa. Semua Nampak seperti dalam klub malam bahkan diskotik. Menganggap dunia luar tak mendengar dentuman musik bahkan teriakan kami semua. Dinding kelas memang tak kedap suara namun hati kami semua sepertinya merasakan itu.
Tak hanya keasikan bernyanyi bahkan sok acting. Yang membuat kami seolah menjadi banci tampil disiang bolong dalam khayalan namun kadang hanya bercerita tentang asmara dan pertandingan sepakbola. Asmara kurang terlalu menjadi minat untuk dibahas, semua sudah apik aku simpan dalam catatan sederhana. Berbeda dengan pertandingan sepak bola. Seorang Diyah sering kali sangat bersitegang dengan Jeffry. Aku kadang hanya diam tanpa tahu apa yang diperdebatkan MU dan Chelsea. Kadang Liverpool atau bahkan persija dan tim lainnya. Aku menyukai Chelsea namun tak fanatic seperti kawanku. Ini membuat aku lebih di blok jeffry bukan Diyah. Namun untuk lokal jelas-jelas aku adalah musuh terbesar dari Diyah karena aku adalah orang yang sangat membenci persija dan bahkan Bambang Pamungkas. Untuk tim lokal hanya PSIS Semarang dan Persib Bandung.
Cerewetnya kami ketika berbicara tentang bola berasa sedang menonton sepak bola dan kami pengisi suara dalam pertandingan. Bisa dikatakan 90 menit non stop dalam berkicau. Namun pertentangan sepak bola hanya sebuah hiburan yang menjadi bumbu tersendiri.
Siang dengan terik matahari masuk menembus kaca-kaca kelas itu kini berubah menjadi bisingan seperti pengajian atau sedang menghafal Ayat suci. Namun ini bukan sedang melakukan pertaubatan jamaah atau bahkan alim mendadak. Kami tetap dibawah komando raja gossip Gilang tak mungkin melakukan khilafan seperti itu. Ini adalah masa dimana kami bersiap untuk ujian berbincang dalam bahasa arab. Sebuah mata pelajaran yang sangat membosankan bagiku yang tak suka dengan kerumitan bahasa orang. Aku berpasangan dengan faiz, dia pria bertubuh kecil dan cukup cerdas di kelas XD. Dan aku dapati realita bahwa ayat Yasin pun dia hafal. Tiap jumat ketika giliran membaca yasin rutin dia tak pernah membawa surat Yasin namun sudah mengucapkannya tanpa kesulitan yang berarti. Memahami peta kemampuan dia, rasa santai dalam pundak beban ku. Aku yang bodoh pasti akan mendapatkan bantuan. Kami hanya berlatih beberapa menit sebelum mata pelajaran di mulai.
“ iz, engko urut ya. Aku lola ngartiknane”
“ ya mar. santai”
Itu adalah kesepakatan yang kami buat untuk memudahkan semuanya. Aku kadang malas menghafalkan arti-arti dan aturan berbelit. Kami berdua berada di presensi pertengahan sehingga cukup menunggu lama. Semua melakukan pergiliran dengan apik dan lancar. Dan akhirnya guru kami memanggil nama Muhammad Faiz. Aku dengan santai maju didepan. Beberapa dialog berlangsung dengan apik walau aksen arab tak sebaik orang arab karena memang aku jawa tulen. Faiz yang mendapat giliran selalu bertanya dahulu padaku. Ia menjadi patokanku dalam perjalanan dialog aneh ini.
“Ahlan wa sahlan”,” ahlan bi” “ min aina anta?” dan semuanya sungguh aku pun lupa semua itu namun tiba aku merasa ada kesalahan, aku tertegun dan memikirkan apa yang terjadi. Guru kami menyembunyikan senyumnya yang sebenarnya ingin dia lepas. Dan faiz pun memberi kode ada yang janggal. Aku tersadar saat itu bahwa aku ditanya berapa umurku namun kemudian aku menjawab “min pagerandong” atau diterjemahkan “di Pagerandong” . faiz tidak melakukan pertanyaan dengan urut. Dan aku pun sontak ditertawai oleh orang-orang dikelas itu yang memperhatikan obrolan kita berdua.
Hal memalukan itu semakin membuatku malas dan sadar diri tak bisa berbahasa arab. Sehabis ujian, aku yang bodoh hanya bisa melakukan aksi protes pada Faiz dan dia hanya berucap bahwa dirinya orang pelupa. Sehingga memang kami pasangan yang aneh, orang bodoh dan pelupa bersatu adalah konsep komedi mengocok perut.
Tak hanya ketika ujian lisan saja aku konyol. Kala ujian tertulis pun demikian, aku dan jeffry kali ini bersatu bukan karena sepak bola namun sangking tak memahami baik soal maupun jawabannya. Kami seperti melakukan koalisi politik saat ujian. Partaiku adalah partai bodo bahasa arab, partai Jeffery mewakili partai pemalas, dan juga ada partai bahasa arab tak bernuansa Kristen dari Elani. Kami bertiga bersatu dalam suara kali ini. kami menggalang persatuan dengan yang lain seperti Gilang posisi duduknya ada dibelakang. Tiga partai elani, Jeffry dan aku adalah partai dengan posisi didepan dan berhadapan langsung dengan sang penjaga ujian. Aku menjadi partai dengan strategi bertahan karena tak dapat berkutik berada dalam kurungan partai jeffry dan elani. Aku berada di pojok kiri terdepan. Elani dan Jeffry adalah distributor yang akan menyelamatkan nilaiku. Disampingku adalah kakak tingkat yang Nampak sedikit bersimpati akan nasibku. Namun dia pun adalah kakak tingkat yang tak paham bahasa arab. Jadi tak dapat membantu. Sistem ujian dengan cara duduk bersama kakak tingkatan tak membantu banyak hal. Malah kadang anehnya kakak tingkat meminta saranku dalam mata pelajaran geografi, sosiologi dan bahasa Indonesia.
Aku merasa seperti maling menanti kesempatan untuk melakukan operasi pencurian. Kesempatan adalah modal utama melakukan kriminalitas. Jeffry sudah mendapatkan semua jawaban dan tinggal aku mengcopy paste saja. Aku memberikan kode isyarat untuk meminta bantuan seperti batuk dan suara lainnya atau bahkan memanggilnya langsung. Perjuangan dengan susah payah sembari menganalisis suasana kelas akhirnya tercipta kesempatan. Aku langsung saja dengan lahap meniru semua jawabannya tanpa berpikir apalagi mempertimbangkan jawaban apakah benar atau tidak. Sungguh otak ini sudah bagai dengkul yang tumpul.
Sangking konyolnya aku , ketika pengawas lengah langsung saja aku berdiri agar dapat melihat jawaban jeffry dengan jelas. Beberapa kali berdiri pengawas tak dapat mendeteksi namun akhirnya dia menyadari tindakanku. Semua karena gelak tawa aneh dari peserta ujian melihat tingkahku. “ mereka tertawa diatas penderitaanku” ucapku dalam hati. Akhirnya aku menjadi pusat perhatian pengawas dan tak dapat berkutik.
Kekonyolan tak dapat dimonopoli oleh diriku saja. Gilang pun pasti mengalaminya namun tak dapat dideteksi oleh diriku dan Diyah bahkan yang lain. Memiliki sifat konyol tersendiri.
Kekonyolan menujukan sebuah kebodohan itu indah daripada kepandaian yang menjerumuskan orang. Semua bisa tertawa dengan lepas dan bodoh pun bermanfaat jika dipahami bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berbagi. Apa adanya diri kita akan membentuk kekayaan kehidupan sendiri.
Kelas XD semua akan berakhir dengan gejala adanya uas ke 2. Segala awal dengan adaptasi dan kegemaran serta kekonyolan akan menjadi cerita persahabatan tersendiri. Semuanya alamiah bahwa ada pertemuan yang tak disengaja dan perpisahan yang tak terduga. Dalam akhir masa kelas X selalu dihadapkan dengan penjurusan yang dipilih. Aku dengan mantap dan yakin memilih IPS dan kompak dengan Gilang. IPS lebih bebas dan mengasikkan bagiku. Dan dimata pelajaran sosiologi pun sungguh memuaskan bersama geografi walau untuk sejarah sangat rendah seperti nilai kimia. Kini tak ada lagi keramaian itu, tinggal cerita kau dimana dan kau memilih apa. Semua setelah mengambil raport itu menemukan jawaban yang pasti.
Aku sms jeffry, diyah, gilang dan ari musodah serta kawan lainnya. Kebanyakan di IPS dan sudah dapat ditebak langsung dari karakter penghuni kelas X. Diyah dan Jeffry diposisi menjadi anak IPA dan gilang, Ari M, Sri W, Anissa masuk IPS. Lalu aku bagaimana? Aku masih diberikan tawaran untuk berpikir. Nasib belumlah jelas dan belum ada kepastian seperti yang lain. Hingga butuh bertemu Ibu Mela sebagai wali kelas. Lantas aku memilih mana? Tunggu catatan part berikutnya.
Posting Komentar