Sejarah hanya bisa direbut oleh para pemberani dan berakal
Home » kehidupan » Menapak Talang (KKN )
Menapak Talang (KKN )
Malam pertama di desa Pegirikan kecamatan Talang, Tegal. Aku bercerita tentang kenikmatian hembusan dari putaran kipas angin yang mencoba menyingkirkan panas di posko KKN. Bersama kawan-kawan baru dari PGSD tegal dan PJKR . PGSD terdiri dari 7 orang dengan 3 pria dan 4 wanita, sementara PJKR terdapat 2 orang, pria dan wanita. Dan jelas aku masih sendiri menatap kondisi baru ini. Aku dengan jejak dari jurusan sejarah. Beberapa anak asik menonton TV, SMSan bahkan telpun dan tidur, aku memang beda sendiri dengan kegiatanku menulis. Ini satu-satunya hiburanku karena tak punya akses dengan kawanku melalui sosial media bahkan tak punya alat komunikasi. Perjalanan aku duduk di mala mini berawal dari pagi buta. Ketika daun-daun Unnes turun perlahan akibat kemarau dan tanah yang semakin hari tak bisa menyimpan air. Kini kampus konservasi tak bermakna apapun untuk ketersediaan air bagi masyarakat sekitar.
Pagi buta, aku di antarkan adik tingkatku Bahol pukul 06.00 WIB. Aku cukup merepotkan sejak satu minggu yang lalu. Selain numpang aku pun meminjam banyak hal darinya. Dan aku menutup kerepotannya dengan memintanya mengantarkanku ke gerbang utama UNNES. Tempat yang telah di tentukan oleh pihak pusat KKN Unnes.
Perjalanan dari Semarang menuju Tegal lancar. Dengan hati yang menyentuh memori masa silam kala petualangan di pantura. Aku merasa ngilu akan proses yang telah aku tentukan sendiri. Masa belajar banyak hal dengan pengorbanan yang tak sedikit. Aku bahagia bukan karena hasil yang aku capai namun lebih pada janji tuhan pada umatnya yang tak pernah di ingkariNya.
Bus pariwisata yang menjadi armada Unnes berhasil mengantarkan rombongan Unnes di kecamatan Talang pukul 11.30 WIB. Dalam bus itu aku bersama Iza, Fitri dan Teteh serta mahasiswa sejarah yang lain dan sisanya mahasiswa dari FIK. Aku merupakan mahasiswa senior satu-satunya di rombongan kecamatan Talang. Namun untunglah adik tingkatku begitu hangat bersamaku dan aku merasa tak sendiri.
Di kantor kecamatan talang menjadi tempat reuni dadakan lulusan SMANSABOZ (SMA N 1 Bobotsari ) . Ada Ginanjar yang ternyata satu posdaya dengan ku,ada Santoso yang sama-sama telat denganku. Sungguh di sisi ini saya hanya tertawa akan ketelatanku dalam bidang akademik. Orang menganggapnya sebuah penderitaan padahal semua adalah strategi yang sudah aku rancang dengan ciamiknya.
Reuni berlangsung singkat dengan tawa lepas. Lalu menuju pencarian mahasiswa KKN yang belum pernah aku temui. Nino ( PGSD,2011), pemuda asal Pemalang menjadi koordinator desa, atau disingkat kormades. Kami dijemput oleh kepala desa Pegirikan, Achmad Soleh. Perawakannya sudah tua dan gemuk serta penuh brengos. Aku satu mobil dengan beliau menuju warung sate dekat desa pegirikan. Kalau tak salah itu daerah bernama Babatan. Apalah itu yang aku ingat hanya makan karena sedari pagi perutku tak kunjung terisi apapun karena telah bangun pagi.
Sesampainya di desa Pegirikan kemudian aku hanya mandi dan mandi lagi. Suhu di tempat ini sekitar 38 derajat C kata bu kades, hajah Umi . Aku dan rombongan mahasiswa posdaya Pegirikan baru saja menuju rumahnya. Kala itu langit begitu cerah dengan rembulan yang mulai penuh. Aku berjalan dengan banyak pikiran diangan tentang program apa yang akan aku persembahkan untuk masyarakat dalam waktu yang singkat. Sebelumnya kami menuju rumah dengan arsitektur perpaduan Jawa dan Belanda. Rumah itu merupakan warisan turun temurun keluarga pak RT. Kami disana hanya untuk melaporkan keberadaan kami. Suasana rumahnya aku cukup suka. Sunyi dan penuh makna sejarah.
Kemudian langkah dilanjutkan dengan jalan kaki menuju rumah kepala desa. Kami disambut dengan makanan dari Mekkah. Maklum ibu Umi baru selesai menunaikan ibadah Haji. Kami bersilaturahmi dan mendapatkan pengalaman yang cukup bermakna. Sosok wanita yang tak aku sangkat ia adalah wanita revolusioner desa. Aku melihatnya bagai seorang Dewi Sartika yang memberikan pendidikan pada kaum wanita terutama ibu-ibu. “ saya hanya ingin ibu-ibu lebih cerdas sehingga benar mengatur keluarga “ ucap Ibu Umi. Hal itu sama ensensi niat yang dilontarkan oleh Dewi sartika pada masa perjuangannya mendirikan kautamaan istri. Pembawaanya yang cukup humoris dan hiperaktif sehingga aku terpukau. Aku berniat besok mencuri ilmu dari dia. Dan berharap aku bisa mendoktrin ia untuk membuat perkumpulan bernama “kautamaan Istri Pegirikan” . Dengan itu aku yakin keluarga secara pendidikan lebih berkualitas sehingga pada akhirnya akan muncul kecerdasan kehidupan bangsa.
Demi cinta pada semesta semoga gelombang kebaikan menuju tempat terpuji
Dari malam dengan keheningan di desa Pegirikan Tegal
( 4 November 2014 )
Posting Komentar