Pandangan tidak hanya soal bagaimana melihat doi dan menundukan kepala dengan pipi meronaku yang aku tutupi dibalik kerudungku. ini bercerita tentang senja saat melihat dirinya berjalan menuju kampus C2. Dia mendekat dan kemudian menyapaku " hai dik marlin" lalu aku hanya menganggukan kepala dan pergi. hatiku berdebar tidak karuan dan aku rasa kala itu sebagai seorang muslim harus menjaga pandanganku padanya. Namun seiring waktu berjalan aku memahami menjaga pandangan bukan sekedar memalingkan muka atau menundukan kepala saat menatapnya namun bagaimana mengolah pandanganku terhadapnya, tidak ada yang salah dengan pria ganteng ataupun wanita cantik. tidak ada dosa tentang keindahan. yang salah hanyalah prasangka kita pada orang itu, perasaan kita yang menempatkan subjek di luar diri kita. namun kala itu aku gelisah berpikir posisi apa yang harus aku berikan pada pria setampan dia. Ia adalah bagian dari substansi semesta yang begitu menggairahkan segala bagian tubuhku hingga pikiranku serta perasaanku.
menjaga pandangan bukan berarti aku menghilangkan diri didepan dirinya, menjadi diri yang tidak menarik, menjadi sesuatu yang tak terlihat walau ada didepannya. namun menjaga pandangan lebih pada memandang diri kita yang lemah. memandang diri ini yang jauh dari kekuasaan.
begitulah menjaga pandangan pada diri kita sendiri dan menjaga pandangan pada diri orang lain. agar nantinya kita menjaga prasangka, nilai seseorang dan harga dari kemanusiaan seseorang.
aku pernah menjaga pandanganku pada pria itu, pria yang ingin aku tempatkan sebagai anugerah semesta yang indah dan doa semoga saja mengiringi kita gelombang kehidupan kita.
Penuh cinta, perdamaian dan dalam harmoni.
Posting Komentar